
Ares datang menjemput Lyza dan Fatih pulang. Memang masih siang, tapi itu adalah salah satu persyaratan jika Lyza memang mau ke restoran, harus pulang sebelum jam 2.
Dan disinilah sekarang Ares, ia masuk kedalam restoran dan langsung menuju ke ruangan sang istri
Tok.. tok.. tok..
Ares mengetuk pintu sebelum ia membukanya sendiri. " Assalamu'alaikum." Salam Ares. Ia melihat Lyza tengah mengobrol dengan seorang wanita mungil dengan penampilan yang sedikit amburadul
" Wa'alaikum salam. Eh! Kenapa hubby datang di jam segini?." Ia berdiri lalu menyalami tangan sang suami sembari memberikan pertanyaan
Ares mengecup dahi Lyza " Sayang, kamu lupa dengan persyaratan agar kamu bisa kembali ke restoran." Ia bahkan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Lyza melihat jam dinding, ia menepuk jidatnya " Astaga sudah jam segini rupanya."
Ares Terkekeh, ia sangat suka melihat wajah kebingungan sang istri.
Sedangkan Re, ia tidak asing lagi dengan pria di depannya ini. Re sudah mencari semua informasi tentang sang bos, tak terkecuali mengenai suaminya.
Ia hanya berdiri melihat kemesraan yang di tebarkan sang bos. Melihat mereka berdua serasa mempunyai dunianya sendiri.
Fatih menarik-narik celana Re. " Nanti aunty Le akan telbiasa." Ucap Fatih sedikit berbisik. Ia sudah kenyang dengan adegan mesra ayah dan ibunya
Re melihat Fatih lalu ia tersenyum. Di usapnya kepala Fatih. 'sampai kapan mereka akan bermesraan' monolog Re melihat bosnya yang seperti melupakan keberadaan nya dengan Fatih
" Oh yah by. Kenalkan dia Renata, sekarang dia jadi asisten pribadi aku." Ucap Lyza merangkul Re
Ares tersenyum, ia tidak ingin banyak berkomentar. Ares tahu sang istri pasti tidak akan membiarkan orangnya tidak kompeten. " Salam Kenal Renata." Ucap Ares mengatupkan tangannya di depan dada
Re sedikit membungkuk " Salam kenal tuan Ares. Saya Renata, anda bisa memanggil saya dengan sebutan Re." Ujarnya kemudian kembali menegapkan badan
" Jadi aunty Le akan belsama kami telus 'kan abi?." Tanya Fatih. Sepertinya ia sudah sangat menyukai Re. Entah di bagian mananya
" Iya, karena sekarang Re sudah jadi asisten uma." Jawab Ares
" Hole..." Memeluk kaki Re, sedangkan yang di peluk bergeming dan hanya mengelus kepala Fatih
Ares dan Lyza tersenyum. Nanti Ares akan mencari penjelasan dari istrinya siapa Re sebenarnya dan kenapa sang istri memilihnya menjadi asisten.
" Baiklah ayo kita pulang." Ajak Ares, ia langsung memegang tangan Lyza.
" Ayo Re, kamu mampir dulu ke rumah ku. Bagaimana?."
Wajah Re berbinar " Baik bos." Ucapnya dengan antusias. Dibalik wajahnya yang sayu karena tidak pernah perawatan, bisa terlihat jelas wajah semangat nya
Fatih memegang tangan Re dan berjalan di belakang ayah dan juga ibunya. Saat keluar dari ruangan tersebut, nampak Egi yang melakukan aktivitas biasanya saat ia datang ke restoran Lyza. Ya apalagi, ia sedang menggombal beberapa karyawan wanita di sana.
" Gi, kita pulang." Memegang pundak Egi
" Oh oke Res. Bay.. bay.. bidadari surga yang semoga menjadi jodohku. " Ucapnya berdramatis
Para karyawan wanita yang di tujukan hanya tersenyum malu-malu. Siapa yang tidak akan kesemsem saat di goda dan di gombal pria mapan dan tampan seperti Egi, walaupun sifatnya sedikit nyentrik.
" Ck kalian seharusnya tidak perlu senyum malu-malu seperti itu, apalagi kalau Hanya di beri gombalan dari orang seperti Egi." Ujar Lyza. Ia merasa resah setiap Egi datang pasti ia selalu menggoda para pekerja wanita
" Ah.. nyonya anda keterlaluan. Hatiku sakit loh." Memegang dadanya. Lagi-lagi ia berdramatis
" Sudah.. sudah.. ayo kita pulang." Ares menengahi. Mereka pun keluar dari restoran.
" Uncle Egi lebay." Gumam Fatih yang hanya bisa di dengar oleh Re yang sedang memegang tangan nya.
'iya kau benar bos muda. Orang seperti dia memang lebay dan alay' ucapnya dalam hati
Saat sampai di parkiran, mereka semua masuk kedalam mobil. Pertama-tama Re membukakan pintu mobil untuk Lyza, walau bagaimanapun Ia tetap menghargai dan menghormati Lyza.
Walaupun canggung Lyza tetap masuk kedalam mobil bersama dengan Ares dan Fatih di belakang. Sedangkan Egi sudah lebih dulu duduk tenang di balik kemudi.
Re juga ikut masuk dan duduk di kursi depan samping Egi. " Eh! Kenapa orang ini masuk." Kejut Egi, ia mengira Re hanya pelanggan Lyza. Ya dia sudah biasa melihat pelanggan Lyza yang bermacam-macam orang
" Jaga mulut mu!." Ucap Re dengan wajah dingin
" Nyonya apa anda mengenal gembel ini?." Ia tidak menggubris Re.
" Iya, aku mengenal nya. Dia orang ku."
" Gi, dia sekarang asisten Istri ku. Dan mulut mu juga harus lebih sopan!." Tegas Ares
" What!! Orang yang seperti gembel ini!." Pekik Egi
" Bos apa saya bisa melubangi kepala pria sialan ini." Ucap Re dengan datar
" Woi.. woi.. woi.. sorry aku hanya bercanda." Mengangkat tangannya setinggi dada. "Kenapa semua orang nyonya Lyza pasti selalu mengancam akan melubangi kepala ku sih". Gumam Egi. Ia tiba-tiba rindu dengan Zean yang sama sekali tidak pernah mengancamnya
Akhirnya Egi pun diam dan menjalankan mobil pulang ke kediaman.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai. Egi segera memarkirkan mobil tepat di depan pintu. Setelahnya mereka semua pun keluar dari dalam mobil
" Aunty Le akan tinggal disini 'kan." Memegang celana Re
" Ah! Tidak bos muda, saya akan tinggal di apartemen saya sendiri." Ucap Re. Ia melihat rumah dua tinggat di depannya ini
" Bukannya rumah ini terlalu kecil bos. Mansion anda lebih besar dari rumah sekecil ini." Ucap Re. Biasa orang kaya yang selalu melihat mansion besar, jadi saat melihat rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar ia merasa aneh. Padahal rumah itu adalah yang terbesar di kompleks ini.
" Wah.. sombong, dasar horang kaya." Sindir Egi
" Sudah.. sudah.. kalau kalian ingin berantam, silahkan lanjutkan." Ucap Ares dan lalu menuntun istrinya masuk kedalam rumah. Ia tidak tersinggung dengan perkataan ceplos Re, karena ia tahu rata-rata bawahan Lyza kecuali Zean semuanya memang ceplas-ceplos dan sedikit kurang ajar. Ares bisa memaklumi hal itu
" Oh yah dan juga mulai besok kamu sudah harus bekerja dengan ku, lalu pakaianmu ganti dengan yang lebih bagus, buat wajah mu lebih fresh." Lanjut Lyza. Re melihat penampilan nya dari atas sampai ke bawah. Jujur saja ia jadi merasa malu saat ini. Re lagi-lagi mengangguk
" Tanyakan pada Egi jika ada yang tidak kamu mengerti." Ucap lagi Lyza, namun kali ini Re hanya diam. Ia tidak mengangguk atau pun menolaknya. Satu hal yang tidak akan di lakukan Re di Dunia ini, yaitu membantah Ucapan sang bos, apapun itu.
" Gi, ajari Re apa saja yang harus dia lakukan." Titah Ares
" Baik bos." Sungguh rasanya ia berat mengiyakan. Apalagi kalau harus mengajari wanita yang menurutnya seperti gembel ini, namun mau bagaimana pun ini adalah perintah langsung dari atasan
Setelah memberikan perintah kedua pasutri itu melangkah meninggalkan mereka dan masuk kedalam kamar.
" Aunty Le ayo kita duduk." Menarik tangan Re dan duduk di sofa. Egi mengikuti dari belakang
" Dulu aunty Le kerlja apa?." Tanya Fatih
" Saya seorang hacker bos muda. Kalau di tanya pekerjaan yang saya lakukan, saya yang selama ini mengecoh para polisi atau mematikan cctv dan juga kemampuan saya juga dapat mencari informasi seseorang sedetail-detailnya." Ia mengatakan dengan jujur semua yang memang ia lakukan selama ini
" Wah... Hebat.. Fatih juga mau jadi hacel." Seru Fatih bersemangat. Bocah 3 stengah tahun itu terlihat sangat tertarik dengan cerita Re
" Hacker! Bukan hacel." Sindir Egi dengan tatapan dan senyuman mengejek
" Ha.. hac.. hac .. hacel..." Ia mencoba lagi namun tetap tidak bisa.
" Hahahah belum bisa mengatakan nya dengan benar, tapi sudah sombong ingin mempelajari nya."
Fatih berdecak " itu ulusan Fatih, bukan ulusan uncle Egi."
" Iya itu benar, dasar oral." Ketus Re
" Oral?."
" Iya. Orang alay."
" Cih alay-alay begini aku banyak yang mau." Menarik sudut bibirnya lalu tersenyum sombong
" Heh! Memangnya sekarang kau sudah punya kekasih?." Tantang Re " aku yakin tidak ada." Tersenyum sinis
Egi mencebik, benar apa yang di katakan Re. Ia masih jomblo Sampai sekarang " Kau sangat sombong seperti itu. Memangnya kau juga sudah punya kekasih."
" Aku tidak memerlukan hal seperti itu. Buang-buang waktu." Ketus Re
" Uncle Egi jangan ganggu aunty Le." Bela Fatih. Ia bisa melihat raut wajah Re yang tidak suka di tanya mengenai percintaan
" Sepertinya kau sangat menyukai wanita ini."
" Tentu saja. Aunty Le 'kan sangat cantik." Ujar Fatih bersemangat. Re yang mendengarnya melongo, bagaimana bisa seorang anak kecil mengatakan dirinya cantik? Padahal ia sendiri tidak percaya diri akan wajahnya, coba lihat sekarang! Ia bahkan tidak pernah mencuci muka kecuali saat mandi
" Cantik?." Gumam Egi. 'cantik dari mananya'. Ia melihat Re. Jujur saja wajah Re tidak begitu kentara sebab tidak pernah di poles sesuatu, bahkan Egi bisa tahu kalau Re memang tidak terlalu memusingkan penampilan nya.
" Apa menurut bos muda, saya cantik?." Tanya Re sedikit tidak percaya
" Hmm menulut Fatih aunty Le sangat cantik. Walaupun uma lebih cantik." Ucap Fatih
Re tersenyum senang, ia tidak marah saat di bandingkan dengan sang bos. Ia sadar diri akan penampilan nya sendiri.
Egi bisa melihat ketidak percayaan diri dari Re. Ia menelisik wajah Re, jujur saja Re memang cantik seandainya ia merawat diri. Bibirnya yang tipis dan mata nya yang bulat, hanya saja terdapat kantung mata dan mata panda di sana. Egi tidak bisa tahan dengan seseorang yang tidka percaya diri dengan penampilannya, apalagi jika itu seorang wanita. Karena satu hal yanga pasti Egi percaya, semua wanita di dunia ini cantik tidak ada yang tampan. Ya iyalah...
" Hmm karena besok adalah hari pertama mu Bekerja, bagaimana kalau pertama-tama kamu perbaiki penampilan mu. Kamu tidak ingin mempermalukan nyonya Lyza 'kan." Ujar Egi
Re terdiam, ia membenarkan perkataan Egi. " Baiklah. Tapi, apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?." Ia sungguh tidak pernah bersentuhan dengan alat-alat kecantikan wanita
Egi tersenyum licik " Ikut aku. Kita ubah penampilan mu."
.........
" Pelan-pelan sayang." Mendudukkan Lyza di atas kasur. Ia ikut duduk di samping sang istri. " Haiss seharusnya kamu pakai kursi roda lagi sayang." Ia tetap tidak setuju Lyza melepas kursi roda nya
" Lebih bagus pakai kaki by. Lagipula pasti repot kalau harus pakai kursi roda lagi." Ia membayangkan betapa merepotkan nya hal itu
" Hmm aku tetap kurang suka sayang."
Lyza mengehela nafas pelan " By, kamu tau kamu terlalu berlebihan. Apa kamu tidak lihat Zean dan Ara. Zean bahkan tidak seperti ini dulu." Ucap Lyza
" Walau begitu, aku tetap khawatir sayang." Menatap Lyza dengan tatapan sendu. Lyza bisa mengerti kekhawatiran sang suami, mungkin Ares ingin memanjangkan Lyza saat kehamilan kaduanya ini. Ingat! Lyza hamil pertama di dalam rutan
" Oh yah bicara tentang Zean dan Ara. Sebentar lagi Ara akan lahiran 'kan." Mengalihkan pembicaraan
" Hmm sekitar seminggu lagi kata dokter."
" Wah.. aku sudah tidak sabar, pasti bayinya akan lucu. Apalagi seorang putri." Ia kembali membayangkan saat Fatih masih bayi dulu
" Hm semoga lahirnya sehat dan lancar."
" Aamiin... Aku juga berharap agar anak kita lahir dengan sehat dan selamat." Ucap Lyza
" Aamiin." Timpal Ares
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️