My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Berdamai dengan masa lalu



Lyza tidak mau! Ia mencintai Ares!


Eh!


Lyza terdiam, apa benar dia mencintai Ares. Perasaan takut kehilangan ini, perasaan ingin di sayangi ini! Apakah cinta?


Namun lamunannya buyar saat suara seseorang mengagetkannya. Oh.. apa Lyza benar-benar akan di depak menjadi istri Ares.


Lyza menunduk, sampai....


Srekk...


Ibu langsung memeluk tubuh Lyza. " Tenang yah... In Syaa Allah.. Ares pasti baik-baik saja. Kita hanya harus berdoa ". Lirih ibu memeluk Lyza sembari menangis.


Lyza terdiam, tak lama kemudian ia membalas pelukan ibu dengan erat. Air matanya yang sempat berhenti, kini kembali keluar.


" Huaaa.... ibunya ustadz... Aku minta maaf hiks.. hiks.. karena aku.. ".


" Hussst jangan menangis lagi. Ini bukan salah mu, ini cobaan untuk kalian berdua. Yang tabah yah ". Menuntun Lyza untuk duduk.


Ayah tengah berbicara serius dengan Egi dan Sean, sedangkan Ara duduk di samping kakak ipar untuk menguatkan nya. Mereka juga sedih, namun mereka tidak ingin terlihat lemah di mata sang menantu.


Jika mereka terlihat lemah, pasti Lyza akan merasa bersalah yang lebih besar.


" Sean.. ada yang ingin aku katakan. Sebenarnya tadi aku ingin mengatakan nya padamu, tapi sepertinya waktunya tidak pas, jadi.. ". Egi mulai membuka suara saat Keluarga Ares datang.


Egi sengaja menjauh sedikit dari Lyza dan keluarga Ares. Berita ini, Egi tidak mau kalau sampai Lyza mengetahui nya. Karena pasti akan semakin membuat Lyza sakit hati dan merasa bersalah.


" Apa? ".


Egi menarik nafas. " Zean... Dia juga dirawat di rumah sakit ini ". Ucap Egi menatap mata Sean


" A.. apa? Dirawat?! ".


" Iya, anak buahku menemukan Zean dan beberapa anak buah nya terluka di markas mu, dan ada banyak mayat juga ". Menjelaskan.


" Di ruangan mana Zean di rawat ". Suara Sean parau. Ia menahan tangis.


Egi pun mengatakan nya. Setelah mendapat jawaban, Sean langsung berlari menuju ruangan yang merawat Zean.


" Jadi bagaimana? ". Ayah terlihat berbicara dengan seseorang pria yang tadi sempat datang di lokasi kejadian untuk membantu Ares.


" Saya sudah menangkap pria yang bernama Langga tuan. Sepertinya dia yang menjadi dalang disini ".


" Tahan pria itu. Jangan apa-apa 'kan dia. Nanti aku beri instruksi ". Ayah tau siapa Langga itu. Ya dia adalah adik tiri dari sang menantu. Masalah ini akan di selesaikan langsung oleh Lyza. Ayah tidak ingin sampai tali persaudaraan Lyza dan Langga kembali putus karena masalah ini.


Setelah mengatakan nya, pria tersebut pun pamit pergi. Ayah menghampiri ketiga wanita yang berharga dalam hidup nya itu.


" Assalamu'alaikum ". Ujar Ayah


Ibu, Ara dan Lyza mendongak melihat ayah. " Wa'alaikum salam ". Jawab ketiganya.


Ibu, Ara dan ayah terkejut mendengar dan melihat Lyza menjawab. Namun mereka tidak ingin menunjukkan kesenangan mereka terlebih dahulu, sebelum Ares usai di operasi dan di katakan sembuh.


Ayah tersenyum " Bu.. Ara.. Lyza ayo kita Sholat lebih dulu, nanti kita kembali ke sini ".


Lyza terdiam. Ia memang hafal gerakan sholat karena selalu memperhatikan Ares saat Sholat. Lyza juga hafal Beberapa surat pendek dan juga Al-Fatihah karena selalu mendengarkan Ares membacanya.


Tapi, apa dia pantas melakukan nya? Orang sekotor dia? Orang yang tidak pernah mengenal tuhan, tiba-tiba ingin menyembahnya hanya karena ingin minta tolong? Apa dia pantas? Pikir Lyza.


Ibu tersenyum melihat Lyza yang sedikit bingung. Seperti mengetahui apa yang di pikirkan Lyza. " Nak.. Allah sangat suka jika seorang hamba-nya memohon padanya saat seorang hamba-nya tersakiti, atau ingin meminta sesuatu ". Tutur ibu lembut.


Lyza melihat Ibu. " Tapi bu.. dosa ku sudah sangat banyak. Hiks.. apa aku pantas hiks.. ". Tangis Lyza kembali luruh.


" Orang yang paling baik itu, adalah orang yang sadar akan kesalahannya dan berniat untuk berubah. Tidak ada yang tak pantas, semua orang pantas asal mereka bersungguh-sungguh untuk berubah ". Jelas ibu.


Mendengar penjelasan Ibu, Lyza akhirnya mengangguk dan ikut Sholat bersama keluarga Ares.


" Tapi sebelum itu, kamu ganti baju dulu yah ".


Lyza melihat bajunya yang di penuhi darah dari punggung Ares. Rasa sesak itu kembali menghantam ulu hati Lyza.


" Baik bu ". Ucap Lyza.


Ara memberikan Lyza gamis yang selalu ia sediakan di dalam mobil, setelah Lyza memakainya, mereka pun menuju ke mushola di rumah sakit tersebut.


Ara mengajari Lyza berudhu, doa nya. Sampai akhirnya mereka pun sholat dengan di imam mi ayah. Lyza sempat tertegun melihat wajah Ara yang cantik, tidak seperti yang ada di pikirannya.


Setiap sujud Lyza merasakan ketenangan. Rasanya air matanya ingin turun, namun sebisa mungkin Lyza menahannya.


Kemana saja Lyza selama ini? Kenapa dia sampai melupakan Tuhan?


setelah sholat Lyza pun berdoa 'Ya Allah... Hamba mu yang hina ini bersujud pada-mu. Hamba mohon ya Allah selamatkan lah suamiku, dia terlalu baik untuk mendapatkan cobaan seperti ini. Aamiin..'. Lyza yang memang bukanlah seorang yang puitis dan pandai berkata-kata hanya bisa mengatakan hal itu. Walau begitu, air mata nya tetap luruh tak terbendung.


Ada rasa tenang setelah mengadu kepada yang maha kuasa. Lyza membuka kerudungnya, rupanya keluarga Ares sudah menunggu di depan mushola rumah sakit.


Ibu tersenyum melihat Lyza keluar. " Bagaimana? ". Tanya ibu tersenyum dengan tatapan seduh.


" Rasanya sudah tenang bu ".


" Alhamdulillah.. ".


Mereka pun kembali ke ruangan Ares di operasi.


Tak lama setelah mereka kembali duduk, lampu merah yang ada di atas pintu ruangan pun mati, yang menandakan operasi telah usai.


Dokter keluar. Sontak ke empat orang itu berdiri.


" Bagaimana dok keaadan anak saya ". Ibu lebih dulu bertanya ala-ala sinetron.


" Alhamdulillah... Tuan muda sudah melewati masa kritis. Kita tunggu tuan muda untuk bangun. Tapi jika tuan muda tidak bangun sampai tiga hari ". Dokter menjeda perkataan nya. Ia menghirup nafas. " Dengan berat hati kami katakan, kalau tuan muda akan koma ". Lanjut sang dokter


.........


Keesokan harinya...


Lyza hendak masuk kedalaam ruangan Ares. Sebelum Ares di katakan sembuh atau mungkin koma. Ares belum bisa di pindahkan ke ruang perawatan.


Suara seseorang menghentikan langkah Lyza. " Astaga Zean ... Kenapa kamu ada disini. Bagaimana luka mu? Jangan berjalan dulu ". Rupanya Zean yang datang. Kemarin saat Lyza mengetahui Zean masuk rumah sakit, rasa bersalah Lyza kian membesar.


Zean tersenyum tipis melihat wajah panik sang young ms. " Saya tidak apa-apa nyonya... Tapi ada yang ingin saya sampaikan ". Wajah Zean berubah serius.


Lyza pun menanggapi nya dengan tatapan serius. " Ada apa? ".


" Langga... Kami belum bisa menangani Langga tanpa seizin anda ".


'astaga.. aku sempat lupa dengan adik kecilku yang sudah insyaf itu'. Tidak sadar diri. " Jangan apa-apa 'kan, Langga. Biar aku yang mengurus nya ".


" Baiklah nyonya.. ayo kita ke markas ". Lyza mengangguk. Ia melihat ke arah jendela ruangan Ares.


'aku pergi dulu pak ustadz.. nanti aku kembali lagi. Assalamu'alaikum'.


Lyza pun berjalan mengikuti Zean.


Di parkiran


" Zean.. apa kau yakin bisa menyetir? Dan kemana Sean? ".


" Saya yakin nyonya. Dan untuk Sean, dia sedang ada di markas menunggu anda ". Membuka pintu mobil belakang.


" Haiss.. kenapa kamu yang datang, seharusnya biarkan Sean yang datang ". Masuk kedalam mobil.


Zean lagi-lagi tersenyum tipis. Tidak biasanya sang young ms mengkhawatirkan nya. Dulu, Lyza tidak terlalu peduli pada Zean maupun Sean kalau hanya untuk luka kecil. Lyza baru akan sedikit khawatir jika Sean ataupun Zean sudah sekarat.


Zean masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju markas.


Tak lama kemudian mereka pun Sampai. Namun bukan di markas yang di maksud Lyza.


Lyza turun di bukakan pintu oleh Zean. " Ini dimana? ". Melihat bangunan tua yang ada didepannya. Walaupun terlihat tua, namun bisa dibilang masih kokoh dan juga indah.


" Ini markas salah satu ketua mafia di bawah naungan keluarga Warrent nyonya ".


Lyza menoleh ke arah Zean. Ia menyerngitkan dahinya. " Kenapa kamu membawa ku kesini? ".


" Disini Langga di tahan nyonya. Ayo kita masuk ".


Lyza dan Zean pun masuk.


...***...


Sekarang di depan pintu ini, kini berdiri Lyza, Zean, Sean dan seorang pria yang entah siapa.


" Nyonya Muda... Di dalam ada Langga yang tersangka dari kasus penembakan kepada tuan muda ". Pria tersebut membuka suara.


" Siapa kamu? ".


" Ah! Perkenalkan saya Rin. Ketua mafia dari kelompok Wallet. Kelompok mafia yang berada di naungan keluarga Warrent ".


Lyza sedikit terkejut. Ia tahu nama kelompok tersebut. Kelompok mafia yang sangat hebat, bahkan Lyza tak ingin berurusan dengan mereka. Apalagi ketua mafia nya seorang pria muda. Mana tampan lagi. Tapi...


eitttssss suami Lyza lebih tampan. pikir Lyza


" Silahkan masuk nyonya ". Rin membuka pintu di depannya.


Lyza pun masuk kedalam. " Biar aku sendiri, kalian tunggu saja disini ".


" Tapi bos.. ". Suara Sean menggantung, karena Lyza menaikkan satu tangannya agar Sean diam. Tanpa berkata-kata lagi Lyza pun masuk kedalam. Dan langsung menutup pintu.


Lyza melihat Langga yang ada di atas kursi. Tangannya di ikat di belakang kursi. Saat mendengar suara pintu terbuka, Langga mendongak. Ia melihat Lyza yang sedang jalan ke arahnya.


" Kakak.. ". Lirih Langga. Ia tersenyum getir. Pasti sang kakak membencinya. Seandainya Langga tidak melakukan penyerangan tersebut, suami sang kakak tidak akan kena tembak.


Suami? Heh! Langga sama sekali tidak menyangka kalau Lyza akan menikah.


Lyza dudu di depan kursi Langga, ia melepas ikatan di tangan Langga. " Lang... Apa kamu tidak apa-apa? ". Perkataan Lyza sontak membuat Langga mendongak melihat Lyza. Ia tidak percaya, sang kakak nya masih bisa berkata seperti itu.


" Kakak.. a.. apa kau tidak marah pada ku? Apa kakak tidak dendam pada ku? ".


Lyza tersenyum. " Kata pak ustadz, kita tidak boleh dendam sama sesama manusia. Apalagi kamu itu adikku. Dan aku yakin, bukan kamu yang menyuruh orang itu menembak pak ustadz kan ". Tutur Lyza. Waw sungguh perubahan yang tidak main-main.


" Hiks.. hiks.. Kakak... Maafkan aku.. hiks seharusnya aku tidak menyerang mu ". Langga menangis tersedu-sedu.


Lyza mengelus rambut Langga. " Kakak yang seharusnya minta maaf. Pasti sulit yah waktu kakak ninggalin kamu ".


" Hua.. kakak ". Memeluk Lyza. " Maafkan aku hiks.. hiks.. ".


Lyza membalas pelukan Langga. Ia mengelus rambut Langga sayang. " Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah disini. Semuanya sudah ada di takdir kita masing-masing ". Tutur Lyza lembut. Lyza yang dulu yang di kenal oleh Langga memang seperti ini, tidak ada yang berubah. Langga tidak tau saja perjuangan dan sesakit apa yang di rasakan oleh Lyza selama ini.


" Apa kakak akan menghukum ku? ". Melepas pelukannya


" Hahaha kalau itu mau mu, baiklah kakak akan menghukum mu ".


" Hei.. aku hanya bercanda. Tapi aku mau meminta maaf pada kakak ipar ku ". Tatapan Langha berubah sendu.


Lyza tersenyum haru. " Tapi kamu harus mandi dulu. Tidak mungkin aku mengizinkan mu bertemu dengan nya dengan keadaan kotor seperti ini ".


" Siap ". Mengangkat tangannya bergaya hormat.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga agar othor tambah semangat nulis nya ✌️