
Yah jika Fatih sudah fasih mengatakan huruf R, maka tidak ada lagi alasan untuk menjahili nya. Pikir Sean, Egi dan Desi.
Desi tersenyum jahil. " Wah, kamu sudah bisa mengatakan R Fatih? Hebat, padahal baru di tinggal satu hari." Seru Desi berniat menjahili keponakannya.
" Tentu saja. Fatih 'kan memang hebat. Iya 'kan uma?."
Lyza tersenyum, ia mengusap kepala sang putra. " Tentu sayang, kamu yang paling hebat."
" Tapi, sejak kapan kamu bisa lancar mengatakan nya Fatih?." Tanya Egi, ia juga ingin menjahili Fatih
" Emm sudah lama, uncle saja yang tidak sadar." Ucapnya masih dengan percaya diri
" Benarkah?." Sean pun ikut. Kalau begini tidak akan ada yang bisa menghentikan ketiga orang ini.
" Tentu saja." Melipat tangannya di dada
" Ho? Coba kamu bilang. Ular lari lurus melingkar-lingkar di atas pagar sambil makan agar-agar, coba katakan." Tantang Sean
" Memangnya kamu bisa Fatih?." Desi sekali lagi tak ingin ketinggalan
" Tentu saja."
" Lakukan lah." Ujar Egi
Fatih mengambil nafas. " Ular lari lurus melingkar-lingkal di atas pagal sambil makan agal-agal... Eh!." Ia baru sadar
" Agal?." Goda Egi, mereka semua tertawa melihat Fatih yang berhasil di jahili lagi.
Pipi Fatih memanas, ia memeluk Lyza yang ada disampingnya. " Uma, mereka menjahili ku lagi." Adunya. Lyza tertawa dan mengelus kepala Fatih.
" Jadi diri sendiri itu lebih baik sayang." Tutur Lyza lembut.
Fatih mendongak melihat Lyza. " Tapi aku ingin telihat kelen di mata uma." Rengeknya
" Kamu sudah keren kok." Ucap Lyza memberikan pengertian. 'pantas saja ada yang aneh saat dia mengatakan R. Jadi di paksa toh'
" Sudah.. sudah.. kamu sudah keren kok. Lepaskan Uma, biar uma bisa istirahat." Ujar Ares. Fatih menurut dan melepas pelukannya
.........
Lyza duduk di atas ranjang sembari menyandarkan punggungnya di pan ranjang. Ia memainkan ponselnya yang bisa di bilang sudah jarang ia pegang.
Ceklek..
Lyza Melihat ke sumber suara. " Belum tidur sayang?." Tanya Ares basa-basi. Ia duduk di samping sang istri
Lyza menaruh ponselnya di atas nakas. " Belum, aku menunggu mu. Apa semua nya sudah pulang?." Tanya Lyza
" Iya. Bahkan Fatih juga ikut di bawa mereka." Ujar Ares, dengan senyuman menyeringai
" Tu.. tunggu.. by, kamu benar-benar melakukan nya?." Ia sama sekali tidak menyangka suaminya akan melakukan hal sejauh itu. Padahal Lyza masih rindu dengan sang putra
" Aku sudah bilang 'kan tadi. Jadi, selamat makan..." Ares langsung mencium Lyza. Ia pelan-pelan melumaatnya. Rasa yang sangat ia rindukan.
Lyza tidak menolak. Ia menerima dan membalas lumataan lembut dari sang suami. Pelan-pelan Ares merebahkan tubuh Lyza, ia kemudian menindih nya.
Ares memperhatikan wajah cantik sang istri. Wajah yang memerah menahan gairah dan juga Malu. Wajah yang sangat ia rindukan selama ini. Ares mengecup kening Lyza perlahan, lalu turun ke kedua matanya, lalu turun lagi ke hidung Lyza dan terakhir ke bibir Lyza. Seperti biasa, Ares tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, ia pasti akan melumaat pelan bibir yang sangat ia rindukan ini.
Lyza juga tak kalah dengan Ares. Ia menikmati dan membalas semua sentuhan dan lumataan yang di berikan oleh Ares. Ia sangat suka melihat wajah suaminya dari bawah seperti saat ini. Wajah yang memerah menahan gairah, dan tatapan tajam bak akan memangsanya. Namun tak ada nafsu disana, yang ada hanya tatapan mendamba, seakan Lyza tubuhnya sangat langka dan berharga di mata Ares.
Foreplay mulai di lakukan Ares. Sentuhan lembut yang Ares berikan pada Lyza lagi-lagi membuat Lyza semakin jatuh cinta kepada sang suami. Ares menyentuh Lyza bak seperti permata yang rapuh. Sangat lembut dan halus.
Keduanya sudah sama-sama polos. Setelah melakukan foreplay yang cukup membangkitkan gairah keduanya. Ares kemudian masuk ke inti permainan.
Lenguhaan dan desahaan mulai memenuhi kamar itu, sekali lagi Ranjang beserta teman-temannya harus menjadi saksi bisu dari luapan cinta kedua orang ini. Merasakan Namun tak bisa melihat, sungguh dunia sangat kejam pada ranjang itu. Harus berapa kali ia melihat nya agar dunia puas dengan penyiksaan ini.
Ares benar-benar menggempur Lyza malam ini, ia melakukan nya berkali-kali dan mengeluarkan nya di dalam, berharap semoga adik Fatih menyusul.
Permainan panas mereka di tutup dengan erangan panjang dari kedua nya. Mereka telah mencapai puncak kenikmatan dunia beberapa kali. Ares mencium dahi Lyza. " Terima kasih, sayang." Hal yang selalu ia ucapkan setelah melakukan nya, lalu melepas pusaka nya dan ambruk di sisi sang istri.
Lyza tersenyum dan hanya mengangguk. Ia sudah terlalu lelah di gempur habis-habisan oleh sang suami. Mereka benar-benar meluapkan rasa rindu yang amat ini kedalam adegan ranjang nya.
.........
Jika mengatakan apakah iblis itu ada atau tidak? Maka iblis yang sebenarnya adalah manusia itu sendiri. Mereka mencemooh tanpa Melihat fakta, asal mereka terhibur itu sudah cukup.
Memandang sebelah mata, itulah ciri khas dari manusia. Nafsu yang tak akan puas itulah yang membuatnya menarik.
Namun ada kalanya juga seseorang akan berubah, bukan karena orang lain namun karena dirinya sendiri, untuk jadi lebih baik agar bisa bersanding dengan seseorang yang disayanginya.
Pagi menyingsing, perlahan Lyza membuka matanya perlahan demi perlahan. Ia mengerjap beberapa kali. Mentari yang masuk dari balik celah-celah jendela menyinari wajah seseorang yang sedang tertidur di samping nya.
Lyza tersenyum hangat. Wajah sang suami yang terkena cahaya dari celah-celah jendela membuat nya menjadi semakin tampan.
Di usapnya wajah sang suami. Wajah yang sangat tampan. " Hmm kenapa bisa ada orang setampan ini." Gumamnya.
Lyza gemas dan mengecup seluruh wajah Ares. " Hmmm sayang, kamu sudah bangun." Kecupan Lyza membuat Ares terbangun. Suara serak basah dan berat itu semakin membuatnya seksi di mata Lyza
" Bangun by, kamu tidak ingin pergi bekerja?." Mencium sekilas bibir sang suami.
Ares membuka matanya lebar. Ia tersenyum " jangan menggodaku sayang." Menarik tubuh Lyza ke dekapannya.
" By, ayo bangun." Ia hendak bangun. Tubuhnya memang sudah tidak polos, hanya di baluti dengan pakaian dalam.
" Tunggu sayang." Ares Bangun hanya dengan menggunakan bokser. Ia melilitkan selimut ke tubuh Lyza lalu menggendong nya ala bridal style.
" Tidak.. tidak... Masih sakit 'kan." Ujar Ares. Ia ingat bagaimana saat penyatuan mereka tadi malam, sang istri memekik kesakitan bagaikan anak perawan yang baru pertama kali melakukan nya. Mungkin karena sudah lama Lyza tidak melakukan nya, rasanya sangat sempit.
" Tapi by.."
" Nurut saja sayang, kamu juga pernah janji untuk aku gendong 'kan. Ingat? Waktu pertama kali kita melakukan nya." Menaruh Lyza di bathtub
" Eh?! Memangnya ada by? Aku tidak ingat."
Ares berdecak. Kalau seperti ini sama saja jika hanya dirinya yang mengingat dan menginginkan nya. Ares mengisis bathub itu.
" By.. selimut nya jadi basah." Kejut Lyza. Air nya tidak langsung mengenai kulit karena selimut tebal yang menghalangi
Ares melepas selimut yang digunakan sang istri dan meletakkan nya di keranjang baju kotor di ujung kamar mandi itu. Lalu ia turun ke dalam bathtub tepatnya di belakang Lyza
" By..."
" Kita mandi bersama sayang. Sudah lama kita tidak saling menggosok punggung." Katanya sembari tersenyum menyeringai
Lyza tersenyum. " Baiklah."
Setelah acara mandi yang memang benar-benar Hanya mandi tanpa ada adegan panas. Ares tak suka melakukannya di dalam kamar mandi, karena hal itu memang tidak di perbolehkan.
Ares kembali menggendong Lyza keluar, mereka menuju walk in closet untuk memakai baju. Setelahnya....
" Kamu tidak kerja by?." Tanya Lyza. Mereka turun ke bawah, ia heran melihat Ares yang menggunakan pakaian santai
" Tidak. Mungkin besok atau lusa." Katanya sembari merangkul pundak sang istri.
Lyza berhenti " kenapa by?." Tanya nya heran. Ares kemudian menarik Lyza untuk melanjutkan turun dari tangga
" Tidak apa-apa, aku ingin menghabiskan waktu ku dengan istri tercinta. Tidak salah 'kan?." Mengedipkan sebelah matanya
Wajah Lyza langsung memerah. " Hmm gombal terus. Sudah ah! Aku mau membuat sarapan." Melepas rangkulan tangan sang suami. Ia pun menuju ke dapur.
Entah apa yang telah terjadi pada suaminya, bagaimana bisa ia selalu mengatakan hal manis yang pasti membuat nya salah tingkah.
Hufffhhh
Ia kemudian mulai berkutat dengan alat dapur. " Mau aku bantu sayang?." Tanya Ares yang sudah Ada di belakangnya.
Untung saja kali ini Lyza menajamkan instingnya, jadi dia bisa tahu saat Ares datang " Tidak perlu by. Kamu duduk saja." Katanya tanpa melihat Ares
Ares menurut dan duduk di kursi bar dapur. Ia memperhatikan Lyza yang sedang serius membuat nasi goreng. Rambut Lyza yang sudah terlalu panjang ia cetak ke atas.
" Sayang kamu cantik dengan rambut panjang mu." Seru Ares berpangku tangan
" By. Berhenti mengatakan hal yang manis-manis." Lyza tidak ingin melihat Ares yang pasti akan selalu menggombal nya
" Hee tapi itu kenyataan. Apalagi leher jenjang mu, itu sangat mulus sayang. seharusnya aku beri lebih banyak tanda di sana tadi malam." Katanya lagi sambil berpangku tangan
Blush...
Lyza mengatur pernafasan nya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. " Ehem..." Ia berbalik melihat sang suami. " Oh yah by, kapan Fatih akan pulang?." Mencoba mengalihkan pembicaraan
" Katanya nanti sore." Kata Ares. Lyza hanya manggut-manggut sembari ber-oh ria
Lalu lanjut memasak. Tiba-tiba cetakannya lepas dan rambutnya langsung terurai lagi. Bagaikan di slow motion, Ares yang melihatnya sungguh terpesona, rasanya semua menjadi lambat. Ia langsung bangkit
Sedangkan Lyza malah menggerutu karena sanggulan nya lepas, ia hendak menyanggul rambutnya lagi. Namun " ahkk by..." Ares sudah di belakang Lyza.
Ares yang sudah tidak tahan melangkah ke belakang Lyza. Ia memeluk Lyza dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di tengkuk Lyza. " Kamu wangi sayang." Katanya sembari mengecup pelan leher Lyza
" Hmm by... Aku masih masak." Ia menggeliat, sekali lagi Ares membangkitkan gairah nya
" Satu kali saja yah." Bisik Ares di tengkuk Lyza. Belum sempat Lyza menjawab Area sudah menyingkap daster selutu yang di gunakan Lyza ke atas pinggang nya
" By.. tunggu dulu." Ia masih mencoba menahan, walaupun gairahnya sudah bangkit.
Ares tidak mengindahkan perkataan Lyza. Ia membungkam bibir Lyza dengan melumaatnya. Lyza tak bisa menahan dan akhirnya terlena.
Ares kemudian melepas celananya dan menusuk Lyza dari belakang. Pergulatan panas di dapur pun tak bisa terelakkan. Untung saja waktu itu kompor sudah di matikan.
.........
Lyza masih memasang wajah jutek nya. Ia kesal dengan sang suami yang menganggu nya memasak dan ia juga kesal dengan dirinya sendiri yang malah menikmati hal itu.
Sedangkan tersangkanya malah senyum-senyum sendiri. Ia merasa menang tadi. " Jangan cemberut terus sayang." Ucap Ares pada Lyza yang sedang menyusun menu sarapan di atas meja. Sedangkan ia sedang duduk di meja makan
Lyza duduk di depan Ares. " Kamu sih. Sudah tahu aku sedang masak." Mengambilkan nasi goreng kedalam piring dan memberikan nya kepada sang suami.
Ares menerimanya dengan tersenyum. " Tapi kamu menikmati nya juga 'kan."
Lyza berdecak. Iyya dia sangat menikmati nya. Melakukan hal itu di dapur membuat birahi tak dapat ia tahan dan akhirnya terlena.
Mereka pun makan dengan khidmat. Walaupun Ares sudah sarapan menu yang lebih dari ini tadi. Hal gila yang Ares lakukan seumur hidupnya, bisa-bisa nya ia tidak bisa menahan gairah saat melihat sang istri.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️