My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Pelukan hangat



Fahmi yang tidak sengaja mendengar semua penuturan Ares hanya bisa menghela nafas. Ia mengusap dadanya yang sedikit sesak dan berlalu pergi dari masjid. Sepertinya ia harus mengubur dalam-dalam perasaan yang terlanjur tumbuh ini.


Memantapkan hati, ia sudah tidak akan menggangu Lyza. Apalagi kemungkinan besar suaminya akan membawa Lyza kembali pulang. Dilihat dari mata Ares yang sangat mencintai sang istri, membuat Fahmi hanya bisa tersenyum getir.


Mungkin memang bukan jodoh. " Dasar! Jodoh memang tidak akan kemana." Ia seakan termakan perkataan nya sendiri.


" Semoga mas Ahmad dan ustadzah Lyza bisa berbaikan kembali dan meluruskan kesalahpahaman. Aamiin." Ia hanya bisa mendoakan sang pujaan hati agar bahagia dengan jodohnya.


Di saat Fahmi yang harus kecewa dan mengubur dalam-dalam perasaannya yang sudah terlanjur tumbuh, lain lagi dengan Ares yang kini tak bisa membendung perasaan senangnya.


Ares sudah tidak sabar bertemu sang istri, ia bahkan tidak menyadari kalau abi dan Taufik mengikuti dari belakang. Ia terlampau senang akan bertemu istrinya setelah sekian lama.


Tak beda jauh dengan sang ayah, Fatih juga tidak sabar bertemu dengan ibunya. Ia pasrah saat di gendong oleh sang ayah.


Sedangkan dua orang di belakang lagi-lagi hanya mengulum senyum melihat tingkah kedua orang di depannya.


Rumah yang di tuju telah terlihat. Ares tiba-tiba dilanda kegugupan, ia tidak siap mendengar jawaban Lyza kenapa tega meninggalkan nya. Dan tak pulang ke rumah.


Bagaimana kalau sang istri memang sudah tidak ingin bersama dengannya? Apa yang harus Ares lakukan. Hingga ia sudah sampai di depan pintu. Keringat nya membasahi dahi, lagi-lagi ia harus di buat gugup.


" Abi kenapa?." Tanya Fatih yang melihat ayahnya hanya diam dan tidak mengetuk pintu.


Bukannya tadi sang ayah sangat bersemangat akan bertemu sang ibu? Tapi kenapa sekarang malah diam saja.


" Ada apa Ahmad?." Tanya abi Soumad di belakang Ares.


Sontak Ares berbalil melihat sumber suara. " Eh! Sudah dari tadi disini?." Kejut Ares, ia sama sekali tidak menyadari keberadaan kedua orang itu di belakangnya.


Taufik tertawa pelan. Segugup itukah pria di depannya ini sampai menganggap mereka hantu yang datang begitu saja? " Kami sudah dari tadi di belakang mu. Ada apa? Kenapa tidak mengetuk?."


" Hmmm." Ares tidak tahu harus menjawab apa.


Abi Soumad tersenyum melihat nya. Ia melangkah mendekati Ares. " Jangan gugup, di balik pintu itu tidak ada hantu." Menepuk pundak Ares. Ares hanya tersenyum menanggapi.


Taufik kemudian mengetuk pintu itu. Tak lama kemudian Umi Sarah membuka pintu nya.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu." Salam empat pria di depan pintu. Ares sedikit lega saat bukan sang istri yang membukanya. Ia tidak tahu harus apa nanti bertemu dengan Lyza.


" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu. Ayo masuk." Ajak Umi Sarah. Mereka kemudian masuk dan duduk di sofa.


Terlihat Ares semakin gelisah. " Santai saja, Lyza tidak akan langsung memakanmu." Taufik tergelak sendiri mengatakan nya.


" Aduh kok aku tiba-tiba gugup yah."


" Ahhahah tenang saja Abi. Fatih akan selalu belsama abi." Menyemangati Ares. Ares tersenyum lalu mengelus kepala Fatih.


" Umi, panggil Lyza dulu." Ucap abi Soumad kepada umi Sarah yang hendak ke dapur membuat minuman.


" Memangnya kenapa dengan Lyza?." Tanya Umi Sarah bingung.


" Begini umi..." Ares pun menceritakan semuanya, persis dengan apa yang di katakan kepada Taufik dan juga Abi Soumad.


Umi terkejut mendengarnya. " Alhamdulillah.... Tapi, apa kamu punya dua istri, Ahmad?." Tanya Umi Sarah


Taufik yang mendengarnya lagi-lagi menahan tawa, sedangkan Abi Soumad hanya geleng-geleng kepala.


" Astaghfirullah.... Itu tidak mungkin umi. Fitnah dari mana itu." Sekali lagi Ares tidak terima di tuduh seperti itu.


Umi hanya mengulum senyum, berarti selama ini Lyza hanya salah paham saja. Seperti apa yang di duga umi selama ini.


" Baiklah umi panggil Lyza dulu." Hendak pergi dari sana.


" Tunggu umi." Ares menghentikan langkah umi Sarah. " Jangan katakan pada Lyza kalau aku yang datang." Ucap Ares, ia tidak ingin Lyza menghindar. Umi Sarah hanya mengangguk dan pergi memanggil Lyza.


Dalam hati Fatih, ia sudah tidak sabar bertemu dengan sang ibu. Selama ini ia hanya melihat fotonya saja dan mendengar tentang ibunya dari ayah atau orang-orang terdekat nya.


Tak lama kemudian umi Sarah datang sendiri. Ia duduk di samping abi Soumad. " Tunggu ya, Lyza sedang membuat minuman." Ucap Umi Sarah, Ares hanya mengangguk.


Sebenarnya Lyza memang berniat keluar untuk memberikan minuman pada tamu umi Sarah dan abi Soumad. Yang ia tahu, tamu itu adalah ustadz yang tadi membawa ceramah di masjid, yaitu ustadz Ahmad. Lyza tidak tahu kalau itu suaminya sendiri.


" Aku yang bawa minum nya ya kak. Kakak bawa cemilannya saja." Menunjuk nampan berisi cemilan dengan dagu. kedua tangannya sudah memegang nampan.


" Hati-hati itu panas."


" Siap! " Nurul pergi ke ruang tamu terlebih dahulu membawa minuman. Sedangkan Lyza, ia kembali menambah beberapa cemilan di nampan itu. Setelahnya ia juga menyusul Nurul.


Hanya beberapa menit mereka menunggu dengan diiringi obrolan-obrolan yang ringan. Mereka juga menceritakan bagaimana sampai mereka menemukan Lyza. mendengar cerita dari abi Soumad, Jantung Ares dibuat kembali marathon. Ia sudah tidak sabar bertemu sang istri, namun ia juga gugup. Apalagi saat melihat sosok bayangan dari dapur membawa sebuah nampan.


Deg.. deg.. deg..


Masih bayangan, hiangga...


Huffhhh


Ares menghela nafas, rupanya Nurul yang datang membawa minuman. " Eh! Lyza kemana?." Tanya umi Sarah


Nurul meletakkan nampan berisi minuman itu di atas meja dan membagikannya satu per satu. " Masih di dalam, kak Lyza sedang ambil cemilan." Katanya. Ia ikut duduk di samping Taufik.


" Kopinya diminum dulu." Ucap Abi Soumad. Ia tahu kalau sekarang Ares sedang gugup. Ares menyeruput kopi itu lalu menaruhnya kembali. Setidaknya untuk pembangkit semangat.


" Hai bang Ahmad. Kabarnya bagaimana?." Tanya Nurul. Ia memang orang yang luwes


" Alhamdulillah baik." Jawab Ares seadanya. Ia terlalu gugup untuk sekedar berbasa-basi.


Mata Nurul melihat Ke arah Fatih. " Hai Fatih, kita ketemu lagi." Melambai ke arah Fatih. Nurul memang sempat bertemu dengan Fatih tadi di masjid.


" Hai aunty." Balas Fatih. Nurul memperhatikan wajah Fatih.


'matanya mirip kak Lyza' batinnya. Tak lama kemudian.


Tap.. tap.. tap..


Suara langkah kaki yang hampir tak terdengar itu, dapat dengan jelas Ares dengar. Jantung nya kembali marathon.


Lyza yang sudah selesai merapikan cemilan di nampan segera membawanya ke ruang tamu. Ia dengan jalan yang hati-hati membawa nampan itu.


Tap.. tap.. tap..


Bisa terdengar sayup-sayup suara Nurul yang sedang berbicara dengan seorang anak kecil.


Setelah beberapa langkah Lyza berjalan. Ia mendadak kaku. Langkah nya terhenti, dadanya serasa sesak. Deg.. deg.. deg..


" Hubby." Ucap Lyza membuat semua orang disana menoleh kearah nya.


Sedangkan Lyza, ia mencoba untuk tenang. Dengan santai ia kembali berjalan dan menaruh nampan yang berisi cemilan itu ke atas meja. Ia hendak berdiri namun...


" Uma..." Gumam Fatih, ia berlari menghampiri Lyza dan langsung memeluk Lyza yang sedang duduk berjongkok saat itu. " Uma..."


Deg...


Lyza diam membeku. " Fa... Fatih." Bibirnya bergetar. Anak yang dulu ia lahirkan di dalam rutan dibantu beberapa teman dan juga penjaga, kini sudah tumbuh besar seperti ini.


" Fatih... Ini kamu nak." Tanya Lyza lembut membalas pelukan Fatih.


Fatih mengangguk cepat. " Iya, hiks.. hiks.. uma. Jangan tinggalkan Fatih lagi hiks ...." Air mata Fatih yang sedari dulu ia tahan akhirnya tumpah.


Lyza tak tahan melihat air mata sang putra, ia juga ikut menangis. Kerinduan yang selama ini dia tahan akhirnya meluap. Mereka yang melihat nya dibuat terharu dan tak sadar air mata mereka ikut menetes, kecuali Nurul yang sama sekali tida tahu apa-apa ia malah kaget dibuatnya.


Ares hanya diam, ia juga ingin memeluk sang istri namun dirinya mencoba menahan.


Hingga cukup lama mereka berpelukan, Fatih berinisiatif melerai pelukannya. " Uma..." Lirih Fatih


" Iya sayang." Mencium seluruh wajah Anaknya


" Abi..." Beralih melihat Ares. Lyza mendongak dan melihat Ares, terdapat tatapan kerinduan yang mendalam di mata Ares. Sama, Lyza juga sangat rindu dengan sang suami.


" Lyza... Sayang..." Lirih Ares


Umi Sarah yang mengerti akan situasi, langsung memboyong mereka semua kecuali Ares dan Lyza ke dalam. Umi Sarah ingin memberikan waktu untuk keduanya agar menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.


Kini tinggallah kedua pasutri itu. Lyza berdiri sedangkan Ares melangkah mendekati Lyza. " Sayang, apa kamu tidak rindu dengan suami mu ini hmm?."


Sangat! Lyza sangat merindukan suami nya, namun saat mengingat Ares telah menikah kembali membuat Lyza enggan menjawabnya. Lyza hanya diam, membuat Ares semakin dirundung kesalahan.


" Sayang..." Ia ingin kembali mendekat mengikis jarak di antara mereka.


" Mundur... " Lyza mengangkat kedua tangannya setinggi dada


Deg...


Mendapat penolakan seperti itu membuat dada Ares semakin sakit. Bahkan Lyza sama sekali tidak menatap nya. " Sayang... Jangan seperti ini. Katakan, ada apa? Apa yang salah denganku?." Tanya Ares


Air mata Lyza kembali menggenang. " Tidak ada yang perlu kita bicarakan pak ustadz." Ia mencoba bersikap dingin walaupun air matanya luruh begitu saja.


" Jangan seperti ini! Katakan padaku ada apa. Tolong, jangan tinggalkan aku lagi... " Suara Ares terdengar serak. Air matanya luruh melihat penolakan sang istri.


Sontak Lyza mendongak, ia tidak sanggup melihat suaminya menangis. " Jangan menangis, aku mohon." Lirih Lyza.


Ares menghapus kasar air matanya, ia semakin mendekati Lyza. Ia memegang kedua pundak Lyza. " Katakan sayang, ada apa hmm?." Tanya lembut.


Lyza sudah tidak tahan, ia meremaas baju kokoh di bagian depan dada Ares. " Aku mohon by, jangan seperti ini. Aku tidak mau tergoda lagi." Ia menangis


" Apa maksud mu sayang.. kamu Istri ku, tidak salah jika kamu tergoda dengan suami mu sendiri." Masih memegang pundak Lyza


" Hiks... Hiks.. tapi kamu hiks.. sudah punya istri lagi. Pulanglah Istri mu menunggu mu__"


" Tunggu! Menikah kembali? Siapa? Aku? Tidak! Aku tidak mungkin menikah kembali." Ares segera menepis tuduhan Lyza. Ia menggeleng keras.


Kenapa sih dari tadi mereka selalu menuduh Ares menikah kembali? Pikir Ares


Sontak Lyza mendongak. " Apa maksud mu? Kamu ingin membuang istri baru mu karena bertemu dengan istri lama?." Lyza sama sekali tidak percaya dengan perkataan nya sendiri


" Tunggu sayang! Siapa yang bilang aku menikah kembali? Kamu salah paham sayang. Tidak ada yang menikah kembali. Aku tidak mungkin mengkhianati mu." Masih meyakinkan Lyza


" Jangan bohong by, aku melihat nya dengan mata kepala ku sendiri. Kamu merangkul seorang wanita yang tidak aku ketahui siapa." Kekeuh Lyza. Walaupun dalam hati ia senang saat mendengar Ares tidak mengkhianati nya


" Tunggu! Dimana kamu melihat merangkul seorang wanita? Dan kapan tepatnya?." Ia menyerngitkan dahinya bingung. Sejak kapan dirinya bertindak sejauh itu? Bahkan untuk tersenyum dengan seorang wanita yang bukan mahramnya saja, dia sudah tidak berani melakukan nya.


" Di depan rumah, sekitar dua Minggu yang lalu" Ucap polos Lyza menatap Ares.


Ares terlihat berfikir, ia mengingat-ingat kejadian dua Minggu yang lalu. " Ah! Pfff." Sungguh Ares ingin tertawa


Lyza kesal. " Apa yang lucu."


Ares terkekeh. " Itu sepupu aku sayang, namanya Desi. Waktu kita menikah ia tidak sempat datang. Dan siapa yang tidak ingin mengadakan resepsi Waktu itu, hmm?." Membelai wajah Lyza


" Jadi, kamu tidak menikah kembali?." Syok Lyza, namun ada rasa yang amat senang dalam hati. Sebisa mungkin ia menahan senyumnya


" Iyalah, aku tidak mungkin menikah kembali." Mencium dahi Lyza


" Huaa... Hiks... Hiks.. " berhambur memeluk Ares. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Ares. " Aku kira kamu meninggalkan aku hiks.." suaranya tertelan dalam tangisan dan pelukan.


Ares membalas pelukan sang istri dan memberikan kecupan bertubi-tubi di kepala Lyza Yang tertutupi hijab.


Setelah menangis cukup lama. Lyza menarik dirinya, namun tangannya masih melingkar di pinggang sang suami.


" Yah... Baju ku jadi basah. Ini air mata atau ingus nih?." Menggoda Lyza. Lyza berenggut, ia malah mengusel-usel hidungnya yang penuh ingus di baju sang suami


" Itu baru ingus." Katanya, ia masih tidak ingin melepaskan pelukannya.


Ares hanya terkekeh. Ia sama sekali tidak marah dengan perbuatan Lyza, malah dirinya gemas melihat Tingkah sang istri.


" Oh iya, tentang Fatih! Kenapa kamu tidak memberitahu 'kan nya pada ku hmm?." Ia mencoba bertanya selembut mungkin, tangannya juga masih setia memeluk tubuh istrinya


" Hmm aku tidak ingin merepotkan mu, lagi pula aku bisa melakukan nya. Bukan."


Ares menghembuskan nafas kasar. Ia menangkup wajah Lyza dan memberikan kecupan di seluruh wajah sang istri tanpa celah. Terakhir ia sedikit melumaat bibir mungil yang selalu dirindukan nya. Hanya sebentar, ingat! Ini rumah orang.


" Seharusnya kamu katakan saja." Masih menangkup wajah Istrinya. Ares kembali menenggelamkan tubuh Lyza kedalam pelukannya.


" Oh yah by, sih ayam. Eh! Egi tidak datang bersama mu? Biasanya dia selalu mengekor." Tanya Lyza dalam pelukan hangat sang suami


Ares menepuk jidatnya. " Aku lupa! Egi masih aku suruh mencari keberadaan mu, kamu sih pergi tidak bilang-bilang." Mencubit pipi Lyza.


Ares merogoh kantongnya dan mengambil benda pipih persegi panjang disana. Ia mulai menghubungi Egi. Untuk menyudahi pencarian.


.


.


TBC


Akhirnya ketemu😌 senang tuh Ares


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️