My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Rela Terluka



Flash back on


Terlihat seorang anak laki-laki dan perempuan sedang asik bermain di taman belakang. Ya dia adalah Lyza saat berusia 7 tahun bersama Langga yang berusia 4 tahun.


Saat sedang asik bermain, tiba-tiba suara menggelar dari seseorang menghentikan acara main mereka.


" Langga! Apa yang kau lakukan dengan anak sialan ini! ". Ibu tiri Lyza datang mengganggu kesenangan kedua bocah itu.


" Mommy... Jangan marah, Langga cuman main dengan kak Za ". Tutur Langga dengan wajah polos.


Clara, nama ibu tiri Lyza dan ibu kandung Langga. Clara menarik tangan Langga kasar. " Mom sudah bilang jangan main dengan anak sialan ini ". Bentak Clara.


" Mommy.. jangan kasar dengan Lang... ". Lyza berdiri dan memegang tangan Clara.


Clara menghempaskan tubuh mungil Lyza. " Jangan sentuh aku. Mommy sudah pernah bilang agar jangan dekat-dekat dengan Langga ".


" Mommy.. hiks ... ". Langga menangis.


" Ck ini kenapa huh! ". Suami Clara datang dari arah dalam.


" Su... Suamiku, tidak apa-apa. Cuman Lyza bikin masalah lagi ". Clara nampak gugup. Ia tidak mau sampai sang suami menyakiti Langga lagi. Apalagi memang tidak ada hubungan darah di antara kedua orang anak itu dengan Suami Clara.


Suami Clara atau Max, melihat Langga yang menangis, dan juga kepala Lyza yang memerah akibat benturan tadi. " Masuk! ". Titah Max


Clara hendak masuk sembari memegang tangan Langga. " Tinggalkan Langga disini. Clara masuk kamu ". Ujar dingin Max


" Ta.. tapi .. ". Nyali Clara seketika menciut melihat tatapan tajam sang suami. Sudah dipastikan anaknya akan menjadi korban lagi disini. Ia tidak masalah jika Lyza yang di pukul, tapi jika Langga ikut terlibat Clara jadi tak tega.


" Kalian berdua lagi!!! ". Bentak Max. Ia hendak memukul Langga, namun Lyza langsung pasang badan. Alhasil, Lyza lah yang kena gampar.


" Kakak , hikss... Hiks.. ". Pekik Langga


" Daddy... Ja.. jangan pukul Langga, biar Lyza saja yang di pukul ". Lirih Lyza menahan sakit di wajahnya.


Setelah Max meluapkan kekesalannya, ia segera masuk.


" Hiks.. kak Za, im sorry... ". Langga menangis tersedu-sedu melihat wajah Lyza yang bengkak.


Lyza tersenyum. Rasa pukulan yang di berikan sang ayah tiri memang sakit, namun Lyza tidak ingin menangis, tidak ingin terlihat lemah di depan sang adik. " It's okay... Aku baik-baik saja. Sudah berhentilah menangis ". Ucap Lyza lembut.


Langga malah semakin kencang menangisnya. Memang bukan dia yang di pukul, tapi melihat sang kakak yang selalu terluka karena melindungi dirinya, membuat Langga menjadi sakit hati.


Langga memegang pipi memar Lyza, ia mengusap-usap nya. Wajah Lyza yang putih bak salju, membuat luka tersebut nampak merah. " Huaaaa ini pasti sakit... ".


Lyza Terkekeh. " Ini tidak apa-apa ".


Sebenarnya Max tidak sudi menampung Lyza yang bukan darah dagingnya dan juga bukan darah daging sang istri. Tapi karena Lyza keturunan langsung dari keluarga Aran, membuat Max harus menampung Lyza agar ia tetap di hormati. Max tidak rela jika Lyza sampai pergi dari Mansion nya.


Namun suatu hari, tuan Aran datang ke mansion Max untuk mengambil Lyza. Awalnya Max menolak, namun siapa sih yang bisa menolak seorang tuan Aran. Seorang ketua mafia insyaf seperti nya. Walaupun is sudah insyaf, tuan Aran tetap menakutkan.


Lyza yang mengetahui sang kakek datang menjemputnya, sangat bahagia. Dirinya akan keluar dari neraka mewah yang selama ini membelenggunya.


Lyza sudah akan masuk kedalam mobil, namun suara Langga membuat langkah Lyza terhenti. Ia sempat melupakan sang adik karena terlalu senang.


" Kak Za mau pergi? ". Tanya Langga dengan mata berkaca-kaca.


" Iya kakak mau pergi, tapi kakak janji kakak pasti akan datang membawa mu bersama kakak ". Ucap Lyza penuh yakin. Lyza tidak terlalu khawatir meninggalkan Langga sendiri Mansion ini. Sebab Clara masih ada di sana yang pasti akan selalu melindungi Langga. Jika nanti saatnya tiba, Lyza akan kembali dan membawa Langga bersama nya.


" Hua... Lang mau ikut... Hiks.. ". Bocah berusia 4 tahun itu menangis histeris.


" Lang...jangan nangis oke?! Kakak janji akan datang kembali ke sini untuk membawa mu bersama kakak ".


Langga berhenti menangis. " Janji? ". Menaikkan jari kelingking nya.


Lyza tersenyum. " Iya janji ". Menautkan jari kelingking nya dengan jari Langga.


" Ingat! Kamu harus menuruti perkataan mommy Clara dan Daddy Max, agar mereka tidak memukul mu, okey?! ".


Langga mengangguk. " Yaudah kakak pergi yah ". Lagi-lagi Langga hanya mengangguk.


Lyza pun naik ke dalam mobil, dan melambaikan tangannya dari balik jendela mobil. Terlihat Langga juga membalas lambaian tangannya.


Jauh dari perkiraan Lyza. Kini Langga lah yang menjadi samsak bagi Max yang stres karena Lyza pergi dari mansion nya.


Tiap hari Langga menunggu Lyza di depan pagar, berharap agar Lyza segera datang menjemputnya. Namun sayang, bulan demi bulan berlalu, bahkan sampai 2 tahun lamanya Langga mencoba untuk bertahan, mencoba untuk menunggu Lyza namun tak kunjung datang.


Langga mulai bosan, ia mulai meragu. Apa mungkin sang kakak melupakan nya?.


Dan hal itu membuat Clara mengambil kesempatan untuk mencuci otak polos sang anak. Clara mengatakan hal yang tidak-tidak pada Langga yang masih polos itu. Apalagi Lyza sempat berpesan pada Langga agar mengikuti semua perkataan sang mommy dan daddy.


Flash back off


" Lang ... Maafin kakak ". Lirih Lyza. Ia tidak sanggup untuk menyakiti sang adik sekarang. Dulu memang ia tidak Masalah, namun sekarang Lyza menjadi tidak tega.


" Tch. Ketua mafia seperti mu meminta maaf? Hahahah your kidding? ". Tertawa mengejek.


Lyza menghela nafas. Ia tau dirinya salah, seharusnya waktu itu Lyza membawaa serta Langga bersamanya. Bukan malah meninggalkan nya dan seakan percaya pada Clara, sang ibu tiri. " aku tau pasti sangat sulit untuk memaafkan ku. Aku juga punya masalah yang tidak bisa di katakan ". Ujar Lyza


Langga tersenyum miring. Di dalam hatinya ia tidak tega melihat sang kakak dengan wajah memelas seperti itu. Namun rasa benci di dalam hatinya masih lebih besar daripada rasa sayangnya. " Masalah? Heh! Aku yang salah karena terlalu berharap ". Rasa sesak di dada Langga kembali menyeruak saat mengingat bagaimana sang ayah tiri memukulnya.


" Maafkan aku... Ingat! Kakak pernah ingin menjemput mu, cuman Daddy Max malah menyerang kakak dan bawahan kakak. Waktu itu, kakak kira kamu yang menyerang kakak. Maaf... Seharusnya waktu itu kakak tidak langsung mengambil kesimpulan ". Lyza menunduk.


Langga terdiam, memang Max pernah mengatakan bahwa Lyza datang menyerang untuk membunuh Langga. Tapi jika memang benar apa yang di katakan Lyza, maka Max lah yang berbohong disini.


" Apa yang harus kakak lakukan agar kamu bersedia memaafkan kakak ". Menegakkan kepalanya, dan memasang wajah memelas.


'ah! Bodoh! Aku bodoh! Kenapa aku baru ingat, jika daddy Max selalu berbohong padaku. Kenapa aku malah menyalahkan kakak saat aku di pukul, seharusnya aku yang melindungi kakak, bukan malah menghakimi kakak karena tidak melindungi ku lagi '. Entah Langga dapat pencerahan atau memang ketulusan plus acting Lyza Memang setingkat dewa, sehingga membuat Langga sadar. Tapi yang pasti Langga memang polos seperti sang kakak.


Lyza dan Sean terkejut. 'berhasil'. Batin Lyza.


Lyza mulai mendekati Langga. Langga juga ingin mendekati Lyza. Rasa rindu di diri Langga tak dapat ia bendung.


Saat Lyza ingin lebih mendekat, tiba-tiba.


Dor....


Satu peluru berhasil keluar dari salah satu anak buah Langga.


" Kakak.. ". Pekik Langga


" Bos ".


" Pak ustadz ". Pekik Lyza. Air matanya seketika keluar.


Suara deru mobil yang berdatangan membuat suasana yang tadi hening menjadi berisik.


Sean hendak mendekati Lyza, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Egi.


" Sean ".


Sean berbalik. " Egi! Kenapa kamu bisa ada disini? ".


" Aku disini...___ Ares!!!! ". Egi langsung maju saat melihat Ares yang tepar di pangkuan Lyza yang sedang menangis


" Hiks.. pak ustadz.. pak ustadz bangun.. hiks.. bodoh! Hiks.. ". Ya yang menjadi tameng untuk Lyza tadi adalah Ares.


Saat peluru hendak mengenai Lyza, Entah datang dari mana. Ares memeluk Lyza dan melindunginya dari serangan peluru tersebut.


" Syu... Kur.. lah ... Ka.. uhuk ka.. mu.. ba.. baik sa.. ja ". Ucap Ares tertatih-tatih.


Lyza menggeleng. " Tidak.. hiks.. jangan bicara dulu hiks.. ".


Setelah mengatakan nya, Ares pun pingsan.


" Ahkk tidak.. pak ustadz bangun.. hiks.. siapapun tolong ".


Dan saat Lyza meminta tolong, tiba-tiba suara Egi datang. Sontak Lyza menatap Egi yang berlari menghampiri mereka.


" Yam.. tolong hiks.. pak ustadz.. pak ustadz terlalu bodoh melindungi aku hiks... ". Ucap Lyza tergugu.


Egi sempat terdiam mendengar penuturan Lyza. Setidaknya katakanlah namanya bukan sih ayam. Namun Egi tidak mempunyai niat untuk melawan lagi. Dengan segera Egi mengangkat Ares, sendiri. Sungguh Egi benar-benar kuat mengangkat tubuh Ares sendiri.


Sedangkan Sean membantu Lyza berdiri. Sean memapah Lyza masuk kedalam mobil. Sedangkan Langga telah di amankan oleh orang-orang yang datang bersama Egi, entah apa yang akan menanti Langga kedepannya.


" Hiks... Pak Ustadz... ". Untuk pertama kalinya Sean melihat Lyza menangis sampai tersedu-sedu seperti itu. Waktu tuan Aran meninggal, Lyza tak sampai menangis seperti ini.


Lyza memangku kepala Ares di bangku belakang, sedangkan Egi dan Sean berada di bangku depan. Saat ini Sean lah yang menyetir, agar cepat sampai ke rumah sakit terdekat.


Tak sampai beberapa lama...


Mobil sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Egi langsung berlari membuka pintu belakang dan menggendong tubuh Ares. Lyza berlari keluar sembari berteriak-teriak memanggil dokter dan suster.


Setelah suster dan dokter datang membawa brankas, Egi langsung menaruh Ares di atas brankas Tersebut.


Mereka bertiga mengikuti langkah perawat dan dokter yang membawa Ares.


" Mohon pihak keluarga tunggu disini ". Ucap salah satu perawat saat Ares akan di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat atau UGD, saat melihat Lyza yang ingin ikut masuk kedalam.


" Jangan halangi aku! Dia suamiku! ". Bentak Lyza dengan air mata yang terus mengalir.


" Maaf nona... Tapi ini sudah peraturan rumah sakit, saya harap anda mematuhi peraturan nya ". Perawat itu menjawab dengan tenang. Hal seperti ini kerap kali ia rasakan.


" Bos.. tenang dulu bos. Kita percayakan sama dokter dan perawat disini ". Sean angkat bicara. Sebenarnya ia tidak tega melihat sang young ms lemah seperti itu.


" Iya nyonya Lyza... Sebaiknya anda duduk dulu, tenangkan diri anda. In Syaa Allah.. semuanya akan baik-baik saja ". Egi menimpali.


Lyza akhirnya pasrah, ia duduk di bangku tunggu depan ruang UGD. Lyza tergugu, ia menangis dalam diam. Hatinya remuk saat mengingat banyaknya darah yang keluar dari balik punggung sang suami.


Hal yang pertama kali di rasakan oleh Lyza. Dulu dengan sangat tak berperasaan Lyza menyiksa musuh-musuh nya. Tak ada rasa iba saat melihat darah yang keluar dari sekujur tubuh mereka. Lyza hanya melihat jijik kepada keluarga musuh-musuh nya saat memohon ampun kepada-nya. Namun, sekarang saat keadaan di putar 180 derajat, sungguh Lyza tak mampu untuk menjalani nya.


Apa ini yang dirasakan keluarga musuh-musuh nya, saat melihat orang yang di sayang di siksa di depan mata mereka sendiri? Kenapa sesakit ini? Dan kenapa Lyza baru menyadari rasa sakit ini sekarang? Dosa nya terlalu banyak.


'apa ini karma atas apa yang telah aku lakukan. Tapi kenapa harus pak ustadz yang merasakan sakitnya'. Batin Lyza.


Lyza menangkup wajahnya yang masih menangis. Pakaian Lyza penuh dengan darah yang keluar dari punggung Ares.


Egi dan Sean yang melihatnya tak tahu harus apa.


Sampai akhirnya ayah, ibu dan Ara datang dengan wajah panik. Sontak saja ketiga orang itu langsung berdiri.


Wajah Lyza berubah pucat. Bagaimana jika dirinya yang di slaahkan disini? Tidak! Dia memang patut disalah kan! Lyza terima jika harus di suruh pisah dengan Ares, asalkan Ares bisa selamat. Lyza rela dibenci oleh keluarga Ares asal Lyza masih bisa menemani Ares sampai benar-benar sembuh. Dan Lyza yakin bahwa Ares pasti sembuh.


Lyza menunduk. Suara langkah kaki yang terburu-buru itu kian mendekat. Membuat Lyza yang tadi yakin dengan keputusan nya jika memang dia harus cerai dengan Ares menjadi goyah.


Lyza tidak mau! Ia mencintai Ares!


Eh!


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya agar othor tambah semangat nulis nya ✌️


wah ada yang mulai sadar sama perasaan nya nih🤭