My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Ustadzah Lyza



" Assalamu'alaikum." Salam Ares saat masuk rumah sembari merangkul seorang wanita yang sedang susah berjalan.


" Wa'alaikum salam." Salam ibu. Ares mencium tangan ibu di ikuti oleh wanita di samping Ares dan juga Fatih yang masih berusia 3 tahun itu.


" Astaghfirullah kamu tidak apa-apa Desi?." Tanya ibu khawatir


" Cuman keseleo bu, nanti juga sembuh sendiri."


" Lagian aunty Esi lali-lali tidak jelas nek, jadinya dia jatuh deh." Cerosos Fatih dengan gaya cadel nya.


Ares dan ibu Terkekeh melihatnya, sedangkan yang di bicarakan cemberut.


" Ishh ini keponakan aunty kok ganteng nya sama tengil nya tidak beda jauh." Ucap Desi menahan kesal


" Tapi, memang benal 'kan. Sudah besal tapi masih lali-lali milip anak kecil." balasnya, membuat ketiga orang itu gemas mendengar cara bicara Fatih yang lucu.


" Lari, bukan lali." Sindir Desi


" Sudah.. sudah.. ayo Res bawa adikmu masuk. Kasian berdiri terus."


" Iya Bu." Ares pun melangkah sembari memapah Desi. Yah Desi adalah anak dari saudara ibu, jadi Desi merupakan sepupu yang masih mahram untuk nya.


Ibu segera menggendong Fatih mengikuti langkah Ares di depan.


" Pelan-pelan bang."


" Iya.. iya.. benar apa yang di bilang Fatih, jangan lari-lari seperti anak kecil. Kalau jatuh 'kan, kamu yang sakit aku yang repot." Omel Ares


" Iya.. iya.. maaf deh." Ucapnya cemberut " anak sama ayah sama-sama saja." Gumamnya. Ares yang mendengar hanya geleng-geleng kepala.


Saat sudah sampai, rupanya disana ada Ayah, Ara dan juga Zean. " Assalamu'alaikum." Salam Ares dan juga Desi


" Astaghfirullah, des kamu baik-baik saja?." Tanya Ara. Ia ingin berdiri menghampiri Desi namun di tahan sama suaminya.


" Kamu sedang hamil Ra, jangan lupa itu." Suaranya penuh penekanan. Sudah 4 tahun pernikahan mereka, namun baru kali ini Ara mendapatkan amanah hamil.


Selama itu Zean selalu menguatkan Ara dan juga mendukung nya agar Ara tidak down. Zean juga selalu berkata agar tidak buru-buru, ia juga tidak ingin membebani Ara. Selama hampir 5 tahun mereka bersabar, akhirnya Tuhan memberikan mereka momongan juga. Usia kehamilan Ara baru memasuki 9 Minggu, masih sangat muda dan lemah. Zean tidak ingin sampai Ara kenapa-napa.


Mereka yang melihat keposesifan Zean mengulum senyum. Kesabaran mereka membuahkan hasil.


" Iya Ara, biar aku saja yang kesana. Kamu sedang hamil muda." Akhirnya Ara pasrah dan menuruti perkataan sang suami.


Dengan perlahan Ares mendudukkan Desi di samping Ara, lalu ia juga ikut duduk di samping Fatih beserta ibu.


" Oh yah Res, tadi kamu dari rutan?." Tanya ayah terang-terangan. Ares memang tidak merahasiakan identitas sesungguhnya Lyza kepada Fatih. Ares ingin agar Fatih menerima apa adanya Lyza dan juga ia ingin Fatih mengetahui kehebatan dan perjuangan sang istri.


Ares dan Fatih mengangguk. " Tapi cuman liat dali jauh saja kek." Fatih yang menjawab


" Iya kami cuman lihat dari jauh. Lagi pula Lyza juga masih tidak mau di kunjungi." Timpal Ares, ada rasa sedih dan sesal dalam nada bicaranya


" Jangan sedih abi, tinggal enam bulan lagi kok." Menepuk paha sang ayah. Selama ini Fatih lah yang selalu memberikan semangat untuk Ares.


Bukan Fatih tidak rindu dengan sosok sang ibu, tapi ia mencoba untuk memgerti akan situasi. Selama ini Fatih terkadang tidak sengaja mendapati sang ayah sedang menangis menatap foto sang ibu. Bahkan Fatih sendiri tidak bisa tidur jika tidak memeluk foto ibunya.


Ares mengelus kepala Fatih. Ia tahu Fatih selama ini hanya menguatkan nya tadi dirinya sendiri juga rapuh. Fatih di buat dewas dengan keadaan, dan Ares tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya pasrah kepada pemilik alam semesta ini.


" Iya, kita sama-sama sabar yah." Tersenyum hangat dan dibalas dengan deretan gigi oleh Fatih.


" Oh yah Ara. Tadi kamu dari pemeriksaan 'kan, jadi bagaimana?." Tanya Ares melihat adiknya


" Alhamdulillah baik bang." Mengusap perut nya yang sudah terlihat sedikit besar


" Laki-laki atau perempuan?." Tanya ibu


Ara dan Zean saling tatap lalu tersenyum hangat. " Alhamdulillah, putri bu." Mengusap perut sang istri. Doa dan kesabaran kedua pasutri itu sekarang membuahkan hasil.


" Alhamdulillah.... Semoga sehat selalu."


" Aamiin."


.........


Lyza di persilahkan masuk kedalam sebuah rumah. Rupanya keluarga yang membawanya adalah pemilik sebuah pesantren. Pesantren An-Nur namanya.


" Ayo kak kita masuk." Ajak Nurul


" Ah! I.. iya." Entah mengapa namun Lyza masih canggung dengan keadaan


" Jangan sungkan nak, ayo masuk." Umi yang tadinya sudah masuk kembali keluar


" Umi yakin? Umi tidak berfikir saya orang jahat?."


" Tidak. Ayo masuk, kamu juga harus mengajar anak-anak mengaji loh. Itu janjimu." Abi tiba-tiba keluar dari rumah itu. Sedangkan Taufik beserta istrinya telah kembali ke rumahnya, namun masih berada di dalam kawasan pesantren.


" Baiklah... Assalamu'alaikum." Salam Lyza saat masuk kedalam rumah


" Wa'alaikum salam." Jawab Nurul di belakang Lyza dengan sedikit terkikik.


" Ayo kak aku perlihatkan kamar kakak." Menarik tangan Lyza. Dan Lyza hanya menurut " ini kamar kakak, terus di sebelah nya ada kamar ku. Kita bisa bercerita dan berbagai cerita." Semangat yang melebihi semangat 45


" Benar aku pakai kamar ini?." Lyza mengira dia akan tidur di gudang atau kamar Pembantu.


" Iyalah kak. Ini bekas kamar bang Thalib." Ada raut kesedihan di wajah Nurul


" Eh! Kalau begitu tidak usah, biar aku tidur di gudang saja." Bagaimana jika pemiliknya datang? Tidak mungkin pemiliknya yang harus mengalah


" Pakai saja kak. Bang Thalib sudah di panggil Allah SWT." Lirih Nurul


" Innalilahi wa innailaihi rojiun." Ada rasa bersalah Lyza sempat memikirkan yang aneh-aneh. " Maaf yah Nurul, bukan aku bermaksud untuk mengungkitnya lagi."


Nurul menggeleng. " Tidak apa-apa kak, sebagai balasan nya. Kakak harus mau tidur disini yah."


Lyza menghembuskan nafas pelan. " Baiklah." Ia pasrah.


Setelah berbincang-bincang dengan Nurul, akhirnya Lyza pun masuk kedalam kamar itu. Ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. " Wah .. wajah ku benar-benar kusam." Untuk pertama kalinya lagi Lyza bisa melihat pantulan wajah


Ia mendesaah " Sudahlah, nanti juga bisa perawatan kembali." Setelah bersiap-siap Lyza keluar dari kamar yang sekarang menjadi kamarnya. Ia menuju ke arah sumber bau dan suara yang menurutnya sangat enak.


Dan benar saja sumber nya berada di dapur. Disana terlihat umi sedang memasak. " Assalamu'alaikum Umi."


Umi berbalik. " Wa'alaikum salam." Jawabnya " wah... Kamu benar-benar cantik nak." Wajah Lyza yang cerah dan segar setelah mandi membuat nya semakin cantik


Lyza hanya tersenyum. " Umi juga cantik." Balasnya. " Oh yah mau aku bantu umi?." Melihat bahan masakan di meja dapur


" Kamu bisa masak?."


" Alhamdulillah bisa sedikit umi. Dulu sebelum masuk ke dalam rutan, aku yang selalu memasak untuk suamiku. Dan katanya masakan ku sangat enak, entah dia bohong atau tidak." Lyza Terkekeh hanya dengan mengingat nya


" Iya dia pria yang sangat baik." Lirih Lyza 'sangking baiknya, aku tidak cocok bersanding dengannya.' batinnya, wajah Lyza berubah sendu.


Umi yang menyadari perubahan atmosfer di sekitar segera mengalihkan pembicaraan. " Ayo kita masak, sebentar lagi jam makan malam tiba. Katanya mau bantu umi."


Lyza tersenyum lebar. " Iya dong umi. Biar Lyza memperlihatkan kemampuan memasak ku yang setara dengan koki-koki hebat di luar sana."


" Baiklah biar umi yang jadi jurinya." Dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama sembari memasak.


" Wisss aku tidak di ajak ikut masuk yah." Nurul tiba-tiba datang dan menghentikan tawa kedua orang itu


" Ayo kalau begitu." Ajak Lyza


" Memangnya kamu bisa masak Nurul?." Sindir umi, sengaja menggoda sang anak


Nurul mencebik, ia memonyongkan bibirnya. " Kalau berusaha aku juga bisa." Lirihnya. " Kak Lyza bisa masak?."


" Iya dong." Lyza heran sendiri dengan isi keluarga di rumah ini. Apa mereka tidak bisa percaya kalau dirinya juga bisa masak? Ah.. semoga abi tidak ikut-ikutan bertanya seperti mereka. Pikir Lyza


" Assalamu'alaikum." Salam Abi yang membuat ketiga wanita disana menghentikan pembicaraan nya dan beralih melihat abi


" Wa'alaikum salam." Jawab mereka


" Hmm ada apa ini rame-rame?."


" Itu abi, anak mu. Katanya dia bisa masak kalau berusaha." Umi menunjuk Nurul dengan dagunya yang masih ada di pintu masuk di samping abi


" Heh? Benarkah?." Abi cukup terkejut mendengarnya


" Katanya sih Abi. Mungkin dia tidak mau kalah dengan Lyza yang bisa masak." Lyza hanya tersenyum mendengar namanya di bawa-bawa.


" Kamu bisa masak Lyza?." Tanya Abi. Pertanyaan yang sudah di duga akan keluar


" Alhamdulillah bisa sedikit abi." Tersenyum hangat


" Wah abi sudah tidak sabar mencoba nya."


" Nurul juga sudah tidak sabar. Kalau begitu Nurul sama Abi masuk dulu yah, semangat masaknya." Merangkul lengan abi dan membawanya keluar.


Mereka hanya geleng-geleng melihat tingkah Nurul. Setelah acara memasak selesai mereka pun akhirnya makan. Benar adanya, masakan Lyza sangat cocok di lidah mereka. Tidak henti-hentinya mereka memuji masakan Lyza


.........


Sudah hampir dua Minggu Lyza tinggal di rumah abi Soumad dan juga umi Sarah. Hari-hari Lyza di isi dengan pengajian-pengajian yang terkadang di adakan di pesantren. Lyza juga mengajar anak-anak mengaji, anak-anak yang umurnya baru sekitar 4-9 tahun.


Ia sangat menikmati kesehariannya yang membuat dirinya semakin dekat dengan tuhan. Apalagi melihat anak-anak menjadikan pengobat rindu dengan sang anak.


" Assalamu'alaikum Ustadzah." Salam anak-anak yang baru saja selesai mengaji. Mereka mencium tangan Lyza.


Lyza tersenyum. " Wa'alaikum salam... hati-hati dijalan. Jangan lari-lari yah." Tutur Lyza


" Baik Ustadzah." Baru juga di katakan jangan lari-lari, mereka sudah ngacir sana-sini.


Bruk...


" Astaghfirullah... Kamu tidak apa-apa Fatimah?." Lyza berlari menghampiri Salah satu muridnya yang tadi lari-lari. Ia segera membantu Fatimah berdiri.


" Huaaa... Sakit ustadzah.. hiks.. hiks.. ". Dari balik roknya terlihat ada darah. Ia terjatuh karena tersandung rok nya sendiri.


" Astaghfirullah, kamu berdarah sayang... " Ia segera memeluk Fatimah. " Cup.. cup.. cup.. sudah jangan nangis lagi yah."


Lambat laun tangisan Fatimah mereda. " Sakit ustadzah." Wajahnya sudah penuh dengan air mata


" Iya.. iya.. kita obati dulu yuk." Fatimah mengangguk. Saat akan berdiri dan membawa Fatimah dari sana tiba-tiba..


" Assalamu'alaikum Ustadzah Lyza... Eh! Fatimah juga." Seorang pria yang umurnya sekitar sama dengan Ares datang.


" Wa'alaikum salam ustadz Fahmi." Jawab Lyza.


" Eh! Fatimah nya kenapa?." Tanya Ustadz Fahmi berjongkok mensejajarkan tinggi nya dengan Fatimah


" Sudah jatuh ustadz, ini mau di bawa buat di obati." Tutur Lyza lembut dan terdengar mendayu-dayu di telinga ustadz Fahmi


" Innalilahi... Ayo biar saya bantu." Menggendong Fatimah. " Dimana ustadzah?."


" Oh di uks saja ustadz." Ustadz Fahmi mengangguk, mereka bertiga pun beriringan ke uks di pesantren itu.


Sesampai nya disana, Lyza segera mengobati luka di lutut Fatimah yang lecet. " Tahan yah sayang. Kalau sakit bilang." Ucap Lyza lembut sembari memberikan antiseptik ke luka Fatimah


" Isshhh perih ustadzah." Ia terlihat akan menangis lagi


" Tahan sayang, sebentar lagi juga tidak akan perih. Fatimah 'kan anak yang kuat. Iya 'kan?." Mencoba menghibur Fatimah


" Iya aku anak yang kuat." Dan benar saja, Fatimah menahan perih itu tanpa menangis.


Ustadz Fahmi hanya melihat kedua orang itu. Tidak! Lebih tepatnya, pria yang tak kalah tampannya itu memperhatikan Lyza sedari tadi. Kelembutan Lyza, kecantikan Lyza yang tidak bisa di tutupi. Membuat jantung nya selalu berdetak.


'Astaghfirullah, istighfar Fahmi'. Mengusap wajah nya kasar. Ia tertarik dengan Lyza sejak pertama kali bertemu. Niatnya ingin langsung meminang Lyza, namun saat mengetahui Lyza sudah bersuami membuat Fahmi harus mengubur dalam-dalam perasaannya.


Tapi, saat mengetahui Lyza di madu dan dia kabur dari sang suami. Membuat Fahmi merasa mempunyai kesempatan lagi.


Setelah mengobati luka Fatimah. Lyza pun membawa Fatimah pulang bersama dengan Fahmi.


Di perjalanan pulang setelah membawa Fatimah. Lyza berjalan di belakang Fahmi, ia tidak ingin sampai menimbulkan fitnah dan juga rumor yang tidak jelas.


" Oh yah ustadzah." Ucap Fahmi yang ada di depan Lyza


" Iya ustadz? Kenapa?." Tanya Lyza


" Bagaimana? Apa kamu sudah bersedia?." Tanya Fahmi. Ia sudah mengatakan niatnya pada Lyza, bahkan pada abi Soumad dan juga umi Sarah.


Lyza terdiam. Ia masih tidak bisa menerima perasaan Fahmi begitu saja, dirinya masih seorang istri dari seorang pria. Ia juga masih sangat mencintai Ares. " Maaf Ustadz seperti nya masih belum bisa." Bahkan Lyza heran sendiri, bagaimana bisa seorang ustadz muda yang tampan nya paripurna bisa-bisa menyukai dirinya?


Terdengar helaan nafas pelan dari mulut Fahmi. " Baiklah tidak apa-apa, santai saja."


" Mending ustadz cari yang lain saja. Masih banyak di luar sana perempuan yang mau sama ustadz dan lebih baik dari saya. Saya juga tidak ingin memberikan harapan palsu pada ustadz." Jelas Lyza. Ia sudah beberapa kali dengan jelas menolak, namun Fahmi seperti tidak mengindahkan


" Kalau jodoh, tidak ada yang tahu ustadzah." Seru Fahmi. Dan keadaan menjadi hening. Mereka tidak berbicara lagi.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️