
Ares menarik tangan Lyza masuk kedalam, sebelum mendengar perkataan Sean yang pasti tidak akan ada habisnya.
" lepaskan aku ". Seru Lyza, namun tak di gubris oleh Ares.
" Hei.. pak ustadz ". Sean hendak mengejarnya, namun Egi langsung Pasang badan.
" Tidak perlu di Kejar, biar mereka selesaikan masalah mereka sendiri ". Ujar Egi
" Tapi.. ".
" Jangan khawatir, Ares tidak akan melukai nyonya kalian ". Egi mencoba memberikan pengertian
" Ta.. ".
" Hentikan Sean, benar apa yang dikatakan Egi, biar nyonya melesaikan masalah nya sendiri ". Timpal Zean. Ia sependapat dengan Egi, lagipula Lyza juga butuh masalah seperti itu agar bisa lebih dewasa.
" Hmm baiklah, tapi memang nya Kenapa pak ustadz marah-marah seperti itu? ". Perkataan nya kali ini menandakan kalau ia tidak tahu apa masalah yang sedang terjadi.
Tapi, kenapa ia malah ingin membela Lyza tadi? Tentu karena Sean tidak ingin sang young ms di marahi. Siapapun yang salah, young ms nya tetap tak akan pernah salah.
" Haisss tentu karena kalian membawa istrinya tanpa izin. Apalagi kalian membawanya ke pelelangan ". Geleng-geleng kepala.
" Eh!? Kamu tahu kami pergi ke pelelangan? ".
" Iyalah, kan kalian ke pelelangan ilegal yang di sponsori oleh salah satu ketua mafia di bawah naungan keluarga Warrent ".
" A..__ ". Belum sempat Sean melanjutkan perkataannya, Zean sudah memotong
" Apa!!! ". Rupanya Zean juga ikut Terkejut. " Apa? Jangan bercanda ".
" Aku tidak bercanda. Hal itu memang sudah sering terjadi, kami sedang ingin memberantas dan membersihkan orang-orang yang selalu bikin rusuh seperti ini ".
" Ya ampun... Aku sama sekali tidak menyangka ". Kalau seandainya Zean tahu, pasti ia tidak akan membiarkan Lyza pergi.
" Hei.. sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Warrent? Memangnya kenapa dengan keluarga Warrent? ". Sahut Sean.
Zean dan Egi melihat malas ke arah Sean. Memang seperti itu kehidupan seorang anti sosial, suka bikin kesal.
Sedangkan di sisi lain...
Ares terus menarik tangan Lyza hingga mereka sampai ke dalam kamar. Sepanjang jalan Lyza sama sekali tidak melawan, entahlah ada rasa takut saat melihat tatapan dingin bin datar dari sang suami, padahal selama ini ia tidak pernah merasakan perasaan ini.
Setelah masuk kedalam kamar, Lyza menghempaskan tangan Ares. " Kamu Kenapa sih? ". Tanya Lyza ragu-ragu
" Dari mana kamu? ". Tanyanya dengan wajah datar.
" Bukan urusanmu ". Ketus Lyza
" Haisss kamu ingat kan perjanjian kita saat akan menikah, syarat yang pernah aku berikan pada mu ".
Lyza tersenyum tipis, ia sudah menyiapkan jawaban jika Ares menanyakan tentang syarat itu. " Iya aku masih ingat ".
" Jadi, kenapa kamu melanggar? ".
" Hei... Halo... Aku tidak melanggar yah. Aku hanya dilarang untuk melakukan transaksi ilegal. Dan tadi aku cuman ke pelelangan ". Lyza merasa ia tidak salah.
Ares membuang nafas pelan. " Lyza, kau tau makna transaksi kan? ". Lyza mengangguk. " Saat kamu ingin membayar barang lelang yang kamu menang kan, kamu pasti melakukan transaksi. Jadi, kamu mengerti sekarang? ". Menjelaskan secara pelan-pelan.
Lyza terdiam. 'ahh benar juga, bodoh!!'. Maki Lyza. 'pasti dia menganggap ku pengecut'. Saat Lyza masih asik dalam pemikirannya, tiba-tiba..
Ares memeluk Lyza erat. " Apa yang kau..__ ".
" Seharusnya kamu minta izin dulu kalau mau pergi, bagaimana jika terjadi apa-apa pada mu? Kau benar-benar membuatku khawatir ". Lirih Ares.
Lagi, Lyza dibuat terdiam dengan perkataan Ares. Ada perasaan hangat yang menjalar ke setiap inci tubuhnya. 'perasaan apa ini?'. Sensasi yang tidak pernah di rasakan sebelumnya oleh Lyza.
Lyza membalas pelukan Ares, hal yang membuatnya merasa aman, damai dan tenang.
" Bagaimana kau tau aku pergi ke pelelangan? ". Lyza mendongak melihat Ares.
" Hmm dari anak buah ku ". Melihat kebawah, tepat nya di mata Lyza.
" Hah? Anak buah? Memangnya seorang ustadz butuh anak buah? ". Apa kalau sedang berceramah harus di temani anak buah? Pikir Lyza
Ares terkekeh. " Haha entahlah ".
" Ingat! Jangan ulangi lagi! ". Kembali memperingati.
" Hmm aku tahu ". Berlalu masuk kedalam kamar mandi.
.........
Sudah hampir 5 hari Lyza dan Ares menikah. Selama mereka menikah tak ada masalah yang terlalu besar melanda. Kehidupan Lyza juga bisa dibilang normal, walaupun hari-harinya ia lalui dengan santai-santai dirumah.
Ares juga mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga, seorang ibu paruh baya. Hanya untuk membersihkan rumah, sedangkan untuk memasak biasa dilakukan oleh Ares ataupun Lyza. Oh..jangan salah, Lyza juga bisa masak.
Hubungan Ares dan Lyza, bisa dibilang sudah lebih dekat dari sebelumnya. Saat tidur tak lagi saling punggung-punggungan. Walaupun tidak berpelukan juga. Yah kalo soal MP masih belum, masih di usahakan.
Lyza juga sedikit demi sedikit sudah berubah, dulu nya yang sangat kasar kepada sang suami, sekarang sudah tidak terlalu. Malah lebih kalem.
Hari ini, hari pertama Ares kembali bekerja di kantor. Ares hanya cuti selama lima hari, walaupun begitu ia tetap bekerja di rumah. Kadang-kadang juga Ares ke pesantren ataupun masjid-masjid untuk mengisi ceramah atau memberikan pelajaran.
Biasanya Ares akan menawarkan Lyza untuk ikut, namun yah.. Lyza malah menjawab.
" Tidak perlu, aku tidak tertarik ". Kata Lyza. Tapi, tidak membuat Ares menyerah untuk mengajak nya. Pasti saat Ares akan pergi, selalu saja ia mengajak Lyza walaupun Ujung-ujungnya yang di dapat hanya penolakan.
Ares sudah rapi dengan stelan jas dan dasi nya, sedangkan Lyza masih menjadi gundukan selimut. " Eughhh ". Lenguhan Lyza Terdengar, sayup-sayup matanya ia buka. Dikedip-kedipkan matanya untuk membiasakan dengan cahaya kamar.
Setelah matanya terbuka lebar, hal pertama yang ia lihat adalah sang suami yang sangat tampan dengan balutan jasnya, yang sedang menelpon seseorang hingga tak sadar ada yang memperhatikan nya.
'tampan nya'. Monolog Lyza dalam batin. Ia duduk dan bersandar di pan ranjang. 'dia mau kemana? Apa hari ini dia mau ke pesantren?, Tapi kenapa harus pake jas segala?!'.
Ares berbalik. " Kamu sudah bangun? Selamat pagi ". Mendekati Lyza.
" Hmm pagi, kamu mau kemana? ". Tanya Lyza.
" Mau kerja ". Duduk di depan Lyza
" Kenapa harus pake jas? Memangnya di pesantren harus pake jas? Bukannya selama ini kamu cuman pakai baju kokoh yah ". Tanya panjang lebar Lyza.
Yang membuat Ares mengulum senyum, itu artinya Lyza sudah memperhatikan nya.
" Ah! Aku ingat, kamu belum tau pekerjaan ku yang sebenarnya kan ".
" Pekerjaan mu yang sebenarnya? Maksudnya? Memangnya kamu punya banyak pekerjaan? ". Orang apa yang bisa bekerja lebih dari satu pekerjaan, pikir Lyza
Ares Terkekeh kecil. Ia mengusap kepala Lyza. " Hmm aku mau ke kantor ".
" Kantor? Haisss langsung to the point saja ". Sudah tidak sabar. Kalau ini Lyza yang dulu, pasti mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kasar tanpa filter. Namun sekarang sudah tidak lagi, apalagi kalau bersama Ares.
Ares tersenyum. Ia sangat bangga melihat perubahan karakter Lyza. Walaupun Lyza masih enggan untuk di ajak ibadah ataupun ke masjid. Namun Ares bisa tahu kalau selama ini Lyza diam-diam memperhatikan Ares jika sedang sholat ataupun mengaji. Bahkan sampai sholat di sepertiga malam pun, Lyza tak pernah absen memperhatikan sang suami.
" Tapi apa kamu akan percaya kalo aku bilang, aku seorang CEO ". Ingin menguji kepercayaan Lyza, walaupun pertanyaan nya sedikit ekstrem. Siapa sih yang akan menyangka, ustadz Ahmad seorang CEO.
Terlihat Lyza sedikit berfikir. " Iya aku percaya ". Ucapnya santai
Ares Terkejut. " Aku tidak salah dengar? Kenapa kamu langsung percaya saja? Bisa jadikan aku berbohong ".
Sebenarnya Lyza juga sedikit bingung, kenapa ia bisa percaya begitu saja dengan perkataan Ares. Lyza menggeleng. " Karena pak ustadz kan tidak pernah berbohong ". Yah selama mengenal Ares, Lyza bisa tahu apa yang selalu dikatakan Ares benar adanya. Namun memang masih menjadi tanda tanya kenapa Lyza bisa percaya begitu saja. Apa mungkin karena ikatan suami istri?
Lagi-lagi Ares Terkekeh, rasanya menyenangkan ada yang mempercayai kita sepenuhnya seperti ini. " Alhamdulillah.. kalau kamu percaya ". Melihat jam tangannya. " Aku pergi dulu, mungkin pulang nya tidak seperti biasa saat ke pesantren ". Ujar Ares
" Baiklah... Sudah sana pergi ".
" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu ". Salam Ares
" Wa'alaikum salam ". Jawab Lyza, lancar. Ia sudah berlatih mengatakan nya. Sebenarnya Lyza heran kenapa dirinya sangat suka mempelajari tentang agama yang tertera di KTP nya. Apalagi saat melihat sang suami Melakukan hal-hal yang berhubungan dengan agama nya.
Seperti biasa, Ares Menyodorkan tangan kanannya. Kalau hal ini, Lyza masih tidak terima jika harus mencium tangan Ares, ia merasa di rendahkan.
Karena tangan Ares tak kunjung di salam, Ares memilih mengecup dahi Lyza. " Gantinya ". Bisik Ares dan berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Lyza yang jantung lagi-lagi marathon, apalagi akhir-akhir ini saat ia bersama Ares.
" Aku harus periksa ke dokter jantung ". Memegang jantung nya yang berdegup kencang
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya