My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Kehidupan baru



Hari ini Ares tidak pergi kantor, ia lebih memilih menemani sang buah hati serta belajar menjaga dan merawat Fatih. Bi Ija terkadang yang membantu Ares dan mengajarkan Ares bagaimana cara menjaga seorang bayi.


" Tuan. Nyonya besar dan tuan besar datang." Mang Asep datang melapor.


Ares yang saat ini sedang asik bermain dengan Fatih menengadah melihat mang Asep. " Suruh masuk saja mang." Ucapnya. Ares memang sudah memberitahu ibu dan ayahnya mengenai keberadaan Fatih, pagi tadi.


" Cepat juga mereka datang." Ucapnya dan lanjut bermain dengan Fatih.


" Assalamualaikum." Ares mendongak


" Wa'alaikum salam." Jawabnya. Ia berdiri sembari menggendong Fatih. Ares mencium tangan Ibu dan juga ayah.


" Eh! Wah kalian semua datang." Ia sungguh tidak menyangka semuanya akan datang. Bahkan Sean dan Zean juga datang.


" Ini..." Ibu bersuara, tangannya gatal ingin menggendong Fatih.


Ares tersenyum. " Anak Ares dan Lyza bu." Jawab Ares tenang. Ia tersenyum getir dalam hati, seandainya ada sang istri disini pasti hal ini akan di sambut lebih bahagia lagi.


Semua orang disana tak dapat berkata-kata lagi mendengar penuturan Ares. Mereka tidak percaya akan hal ini. Bagaimana keadaan Lyz sat hamil? Dan bagaimana keadaan nya setelah melahirkan? Kekhawatiran dan pertanyaan seperti itu membentur kepala mereka.


Ibu mengambil Fatih yang ada di gendongan Ares. " Sangat mirip..." Bibir ibu bergetar, ia tak kuat untuk tidak menangis. Ia memikirkan bagaimana nasib menantunya yang harus hamil dan melahirkan di rutan tanpa ada mereka disana yang menemani.


Ara juga ikut menangis, ia tidak menyangka mental kakak iparnya sangat kuat. Bukan hanya kakak iparnya namun sang abang juga seperti nya harus kuat mental.


Tiba-tiba... Oek... Oek... Oek...


" Eh! Sepertinya cucu nenek lapar."


" Ini ada susunya bu, ayo sini duduk dulu jangan berdiri terus." Mengalihkan pembicaraan. Ares tidak ingin sampai ia menangis juga disini


Mereka pun duduk di karpet lantai yang berbulu. Ibu yang memberikan susu kepada Fatih menggunakan botol susu yang sudah di isi susu asi Lyza.


Benar, wajah Fatih gabungan antara Ares dan juga Lyza. Walaupun gen Ares sepertinya lebih mendominasi.


Ares menceritakan semuanya saat ia pergi ke lapas untuk mengambil Fatih, sampai bagaimana ia merawat Fatih tadi malam. Sungguh lingkaran hitam di bawah mata Ares terlihat jelas.


" Oh pantas saja abang jadi panda." Goda Ara


" Yah abang juga harus berusaha untuk merawat Fatih."


" Yakin tidak mau pakai baby sitter?." Tanya ibu memastikan


Ares menggeleng pelan sembari tersenyum. " Tidak usah bu. Biar Ares sendiri yang rawat Fatih. Nanti kalau Lyz tanya, setidaknya Ares bis menceritakan bagaimana Fatih tumbuh." Mereka hanya manggut-manggut.


.........


4 tahun kemudian


Untuk pertama kalinya lagi ia Melangkah 'kan kakinya di luar ruangan, Lyza menghirup aroma kebebasan yang akhirnya di tunggu-tunggu selama ini. Lyza mendapatkan keringanan dari masa hukumannya yang tadi 5 tahun di potong menjadi 4 tahun 6 bulan. Setidaknya lebih cepat 6 bulan.


" Selamat nona, anda sudah bebas." Ucap seorang penjaga yang mengantar Lyza


Lyza tersenyum. " Alhamdulillah pak.. oh yah, tolong jangan beritahu suamiku tentang kebebasan ku ini."


Penjaga itu mengerutkan keningnya. " Kenapa nona?." Bukannya seharusnya akan lebih menyenangkan jika ada yang menyambut saat kita bebas?


" Tidak apa-apa pak, cuman untuk kejutan." Kata Lyza.


Sebenarnya itu bohong, selama ini Lyza selalu menyuruh Ares agar menikah kembali. Walaupun Lyza tidak tahu, apakah Ares benar-benar kembali menikah atau tidak, namun Lyza ingin memastikan hal itu terlebih dahulu. Ia tidak ingin menjadi pengganggu rumah tangga baru Ares.


Penjaga itu hanya manggut-manggut. Lalu memberikan Lyza uang berwarna hijau. " Pakai untuk transportasi nona." Ucapnya sembari tersenyum


" Eh! Benar nih pak?." Dengan senang hati Lyza menerimanya.


" Iya nona, anda juga tidak punya uang 'kan sekarang." Tebak penjaga itu


Lyza Terkekeh lalu mengambil uang itu. " Iya pak, terima kasih loh pak."


" Sama-sama nona."


" Jangan panggil nona pak, panggil nama saja." Rasanya canggung Lyza di panggil seperti itu. Saat di dalam rutan, teman-teman Lyza tidak semuanya memanggil Lyza dengan namanya. Karena itu sekarang, Lyza malah terbiasa saat di panggil nama dari pada nona seperti dulu.


" Eh! Neng saja, bagaimana?."


" Terserah bapak. Yaudah aku permisi pak, Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam." Setelah mendapatkan jawaban, Lyza pun berbalil meninggalkan tempat itu.


Ia ingin mencari angkutan umum. Wajah Lyza yang sudah tidak terawat, membuat banyak noda hitam dan kusam dimana-mana. Bajunya yang cuman baju seadanya, dan tak lupa tas serta sendal jepit. Ia tidak seperti nona muda atau pun ketua mafia sekarang.


Setelah mendapatkan angkutan umum, Lyza pun masuk kedalam. Di dalam cuman ada tiga orang. Seorang ibu-ibu beserta anaknya dan juga mahasiswa. Lyza duduk di dekat pintu agar cepat keluar. Angkutan umum itu pun jalan.


" Neng." Panggil ibu-ibu itu yang mempunyai badan sedikit gempal.


Lyza menoleh. " Iya bu?."


" Mau kemana neng?." Tanyanya, ia melihat tas yang ada di pangkuan Lyza


" Mau pulang Bu." Jawab Lyza sembari tersenyum. " Ibu sendiri, mau kemana Bu?."


" Sama, mau pulang juga. Dari pasar." Katanya dengan senyuman. " Neng cantik loh kalau perawatan." Ucap tiba-tiba sang ibu. Iyya dari tadi ibu-ibu itu memperhatikan Lyza.


Lyza mempunyai kulit yang putih mulus, walaupun tangan yang dulu lembut dan halus kini berubah kasar. Wajahnya juga ada beberapa noda hitam serta bintik-bintik di dahinya. Namun Lyza tetap cantik walaupun tidak secantik dulu.


Lyza cuman tertawa menanggapi. " Biaya perawatan mahal bu, saya tidak punya uang." Ucap Lyza. Saat di rutan akhirnya ia mengetahui kalau biaya perawatan itu mahal, selama ini ia cuman terima jadi dari Zean.


Lyza melihat anak kecil yang sedang tertidur di samping ibu-ibu itu, mungkin umurnya sekitar 7 tahun. 'Fatih, bagaimana kabar mu nak.' monolog Lyza. Ia sangat rindu dengan anaknya dan juga suaminya.


Tak lama kemudian angkutan umum itu berhenti, Lyza pun turun dan membayarnya. Setelahnya ia pun masuk kedalam kompleks perumahan yang sangat mewah itu. Keadaan Lyza yang apa adanya sama sekali tidak mirip seorang nyonya kaya, dia malah seperti seorang pembantu.


Dengan menenteng tasnya, Lyza terus berjalan melewati beberapa rumah yang cukup besar. Jantung nya sudah Maraton dari tadi, ia tidak sabar bertemu sang suami dan juga anaknya. Namun mengingat kemungkinan Ares sudah menikah Kembali membuat Lyza tak berani menampakkan kakinya.


" Tidak Lyza! Kau seorang mantan ketua mafia! Ayo beranilah, kalau memang tidak sesuai ekspektasi tenang saja!." Ucapnya memberi semangat pada dirinya.


Tak lama kelurlah Ares sembari menggendong seorang anak kecil. " Hubby, Fatih.. iyya itu pasti Fatih." Lyza sudah tak tahan, ia hendak menemui dua orang tersayangnya. Namun langkahnya berhenti.


Deg...


Refleks ia mundur. Air matanya berlinang begitu saja. Ada rasa sesak di dadanya. Apalagi melihat senyuman sang suami kepada seorang wanita berhijab itu membuat Lyza semakin tidak berani melangkah.


Lyza segera berbalik dan pergi dari sana. Hatinya sakit melihat kebahagiaan itu. Dimana suami tercintanya merangkul seorang wanita berhijab dengan senyuman, anaknya yang juga tak kalah ceria nya. Lyza tidak ingin merusak kebahagiaan itu.


Wanita itu bukan Ara, Lyza tahu itu. Sebab wanita itu tidak memakai cadar. Tinggi badan wanita yang bersama suaminya tadi juga lebih tinggi di bandingkan Ara atau pun ibu. Hanya satu kesimpulan Lyza kini, Ares benar-benar sudah menikah kembali.


Ia menghapus kasae air matanya. Lyza duduk termenung di sebuah taman. Ia memandangi danau buatan di depan. " Jangan menangis! Bukannya aku yang menginginkan agar Ares menikah kembali! Ayo Lyza kamu harus kuat!." Walaupun ia berbicara seperti itu, namun air matanya tak bisa berhenti turun.


Hari juga semakin gelap. Lyza berdiri dari tempat duduk, ia ingin mencari tempat untuk menginap malam ini. " Apa aku harus kembali ke mansion ku?." Gumamnya.


" Tidak! Ada banyak kenangan buruk disana! Aku juga tidak ingin sampai Ares dan semuanya tahu kalau aku sudah keluar lebih cepat." Final nya


Lyza terus jalan tanpa tahu arah. Setidaknya ia butuh tempat berteduh untuk malam ini, ia akan mencari pekerjaan yang halal keesokan nya. Walaupun itu tak gampang.


" Aduh, lemas nya. Apa mungkin gara-gara aku tidak makan dari tadi pagi." Karena menangis berlebihan membuat Lyza kelelahan.


Ia tidak menyangka kalau sekarang dirinya sudah ada di tengah jalan. Untung saja jalanan sedang lenggang. Sampai...


Suara klakson mobil menyadarkan Lyza. Ia langsung menghempaskan tubuhnya keluar dari jalan raya itu. Hampir saja ia tertabrak.


Mobil yang tadi berklakson berhenti. Salah seorang pria keluar dari sana. " Anda baik-baik saja?." Tanyanya


Lyza berdiri. " Alhamdulillah saya baik-baik saja." Jawab Lyza seadanya.


" Astaghfirullah, kamu berdarah nak. Ayo masuk dulu kita obati lukamu." Seorang wanita paruh baya dengan hijab panjang nya menghampiri Lyza


Lyza melihat sikunya, benar disana ada darah. Ia sama sekali tidak menyadari nya. " Tidak apa-apa bu, nanti juga lukanya sembuh sendiri."


" Jangan seperti itu, ayo masuk. Nanti lukamu infeksi." Ujar pria itu.


Karena keadaan yang memaksa akhirnya Lyza menurut. Ia mengambil tasnya dan ikut masuk kedalam mobil. Ia sedikit terkejut, rupanya ada banyak orang di sana.


Pria yang tadi menghampiri nya duduk di bangku kemudi dan di sebelah nya ada seorang wanita berhijab panjang, itu adalah Istri nya. Sedangkan di belakang seorang pria paruh baya dan juga wanita paruh baya yang tadi memaksanya naik. Dan di bangku paling belakang seorang wanita yang mungkin lebih muda dari Lyza memakai hijab panjang juga, Lyza duduk di sampingnya.


" Maaf yah nak, kami tidak sengaja." Ujar ibu itu saat mobil sudah berjalan


" Tidak apa-apa bu, saya yang harusnya minta maaf karena jalan di tengah jalan." Balas Lyza ramah.


" Nama kamu siapa nak?." Tanya pria paruh baya yang ada di samping ibu itu. Pria yang memakai baju Kokoh serta peci di kepalanya.


" Lyza pak." Jawab Lyza


" Nak Lyza mau kemana?." Tanya pria itu lagi. Awalnya Lyza ragu menceritakan nya. Ia takut jika nanti mereka takut atau benci padanya.


" Nak? Kenapa? Tidak apa-apa, kalau kamu tidak mau mengatakan nya." Tutur ibu itu lembut, membuat Lyza mengingat ibu Ares.


Lyza pun akhirnya menceritakan semuanya. Tentang dia yang awalnya bukan orang baik-baik dan di pertemukan dengan suaminya yang seorang pria taat agama. Lalu untuk menebus semua dosanya Lyza memasukkan dirinya di penajara. Ia juga menceritakan bahwa kemungkinan suaminya sudah menikah kembali. Jadi Lyza tidak ingin mengganggu. Setelah menceritakan nya Lyza menunduk, ia takut melihat ekspresi orang-orang disana.


" Jadi, kak Lyza baru keluar dari penjara?." Tanya wanita yang ada di samping Lyza. Lyza hanya tersenyum menjawabnya.


" Sekarang kamu mau kemana nak?." Tanya ibu itu, Lyza sedikit terkejut. Kenapa reaksi mereka biasa saja? Apa mungkin hal ini sudah biasa?


" Ibu tidak takut atau benci dengan saya?."


" Kenapa harus benci. Semua orang punya masa lalunya masing-masing. Bukan hanya kamu yang mempunyai masa lalu kelam, masih ada orang yang lebih dari itu. Jangan salahkan dirimu." Tutur pria paruh baya disana


" Benar. Lagi pula, orang yang baik itu adalah orang yang tahu akan kesalahannya dan berniat untuk berubah." Ucap wanita yang ada di samping Lyza. " Oh yah perkenalkan kak, nama aku Nurul Natasya akila. Kakak bisa memanggil ku Nurul."


" Salam kenal Nurul." Tersenyum hangat.


" Wah, kakak sangat cantik. Pasti dulu kakak jadi rebutan." Ceplos Nurul. Karakternya memang sangat periang.


" Oh yah, yang tadi hampir menabrak kakak adalah abang aku, namanya abang Taufik dan di sebelah nya mbak Tia istri bang Taufik. Terus itu umi dan abi." Ia memperkenalkan mereka semua yang ada di dalam mobil. Dan mereka semua yang di perkenalkan hanya mengangguk.


" Salam kenal yah." Ucap Taufik " dan maaf untuk yang tadi."


" Tidak masalah bang."


" Tapi kamu baik-baik saja 'kan?." Tanya Tia istri Taufik. Mungkin dia lebih tua dari Luza


" Alhamdulillah baik-baik saja mbak."


" Oh yah, kamu belum menjawab pertanyaan umi tadi. Sekarang kamu mau kemana nak?." Umi kembali berbicara


Lyza terdiam, jujur saja ia juga tidak tahu harus kemana. " Saya tidak tahu bu."


" Kamu bisa mengaji tidak?." Tanya abi


" In syaa Allah saya bisa pak."


" Panggil abi saja. Kalau begitu bagaimana kalau kamu ikut kami ke pesantren, kamu bisa tinggal di sana dan mengajar anak-anak mengaji."


" Wah... Iya benar! Ayo kak ikut kami saja ya.. ya...ya ..." Memberikan wajah memelas


" Hmm apa tidak merepotkan?."


" Tidak kok, kami dengan senang hati menyambut." Ucap umi


" Baiklah, kalau kalian mengizinkan."


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️