My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Semakin Dekat



" Apa ini tentang Ara? ". Tanya Ares


Sontak Zean mendongakkan kepalanya melihat Ares. " I.. iya tuan ".


" Ara? Memangnya kenapa dengan Ara? ". Bingung Lyza. Ada hubungan apa Zean dan Ara pikir Lyza


" Katakan, apa yang ingin kamu katakan, Zean ". Ucap Ares


" Mungkin tuan Ares sudah tahu maksud kedatangan saya disini ".


" Apa kau serius? ". Memicingkan matanya " aku tidak ingin kamu hanya main-main saja dan melukai perasaan Ara ".


Lyza diam mendengarkan, ia sama sekali tidak mengerti akan situasi ini.


" Iya saya serius. Jujur saja, awalnya alasan saya ingin masuk ke agama Islam karena Ara, namun semakin saya mempelajari lebih dalam lagi, akhirnya saya sadar. Dan akan mencintai Ara karena Allah ". Jawab tegas Zean, tak ada keraguan yang terlihat di mata dan perkataan nya.


Ares tersenyum tipis. Sedangkan Lyza terkejut bukan kepayang. 'Yang benar saja, jadi wanita yang membuat Zean berubah itu Ara!!'. Tanya Lyza. Ia memang tidak terlalu dekat dengan Ara, karena kesibukan masing-masing yang membuat nya jarang kontakan atau pun sekedar bertemu. Namun lain halnya dengan ibu, Lyza cukup dekat dengan ibu. Sebab hampir tiap hari mereka telfonan.


" Baiklah.... Aku percaya pada mu, jadi pasti ada hal yang ingin kamu tanyakan pada ku 'kan? ".


" Hmm sebenarnya, saya ingin bertanya bagaimana cara agar bisa mendapatkan emm.. ci.. cinta Ara ". Zean langsung menunduk. Jujur saja ia sedikit malu dengan suasan dan keaadan ini. Hal tabu baginya mengatakan kata-kata cinta.


" Pfhhh... Hahahha ". Lyza tak dapat menahan tawa saat melihat wajah Zean.


" Sayang.. ". Tegur Ares, walaupun sebenarnya ia juga ingin tertawa. Bagaimana tidak! Zean yang terkenal dingin dan berwajah datar, akan mengatakan cinta dengan memasang wajah seperti itu?.


" Haha maaf... Ehem.. ". Mencoba menetralisir keaadan. " Jadi, kamu belum mengatakan perasaan mu, Zean? ".


" Belum nyonya. Selama ini saya hanya mencoba meyakinkan perasaan saya. Apakah ini memang benar-benar cinta atau bukan..., Dan saya juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik untuk nya kelak ". Jelas Zean panjang lebar.


Lyza terkejut mendengar penjelasan Zean yang panjang kali lebar. Jujur saja, ini pertama kalinya Lyza mendengar Zean berbicara panjang lebar.


" Hmm iya juga sih. Kamu 'kan, bukan Sean yang akan mengatakan apa adanya ". Lirih Lyza.


" Kalau begitu apa yang bisa kami bantu? ". Tanya Ares. Mendengar penjelasan Zean tadi, cukup membuat Ares merestui perasaan yang dimiliki Zean.


Karena orang baik itu, adalah orang yang tahu akan kesalahannya dan berniat untuk berubah.


" Hmmm sebenarnya selama ini saya diam-diam memperhatikan Ara. Saya hanya ingin memastikan sifat dan juga cara aman untuk mendekati nya ".


" Ara itu, orangnya lembut. Ia tidak suka di kasari. Karena kami tidak pernah berbicara kasar ataupun memperlakukan Ara dengan kasar. Ia bagaikan berlian di keluarga kami. Kau tau maksud ku 'kan? ".


" Tenang saja tuan, saya akan menjaga Ara dengan sepenuh hati! ".


" Aku percaya pada mu Zean! ". Tegas Lyza. Ia memang sangat mengenali Zean, dan kali ini pasti Zean sangat serius.


" Sebenarnya hanya dengan melakukan hal in in syaa Allah akan di terima Ara kalau kamu bersungguh-sungguh ". Ucap Ares sontak membuat Zean gembira dan sangat ingin tahu.


Lyza juga tak kalah terkejutnya. Hal apa yang sebenarnya dapat membuat Ara mau begitu saja. Apa mungkin Ara juga harus di sodorkan dengan pernikahan taruhan seperti dirinya? Pikir Lyza.


" Apa itu tuan? ". Tanya Zean tak sabar.


Ares tersenyum licik melihat Zean. " Tidak perlu bertele-tele dengan pacar-pacaran ataupun tunangan, langsung datang ke mansion dengan niat baik mu. Kami akan tunggu lamaran mu datang ". Ucap Ares.


Glek..


Yah hal itu sangat mudah dikatakan, namun harus mempunyai mental yang cukup untuk melakukan nya.


" Bagaimana? ".


" Hmm ". Entah mengapa Zean sedikit ragu.


" Apa kamu ragu, Zean? Hah! Yang benar saja kamu bisa ragu seperti ini ". Mencoba memanas-manasi Zean. " Zean yang aku kenal, tidak akan ragu dengan keputusan nya ". Lanjut Lyza


" Bukannya saya ragu dengan Ara ataupun dengan lamaran saya. Namun saya ragu dengan diri saya sendiri. Apa saya bisa? ".


Ares dan Lyza saling pandang. Sungguh orang perfeksionis seperti Zean, bisa di buat ragu dan pusing gara-gara cinta.


Kekuatan cinta memang tidak biasa!


" Jangan ragu pada dirimu sendiri. Percayalah pada dirimu. Dan senantiasa meminta petunjuk pada yang maha esa kalau kamu sedang buntu ". Jelas Ares. Sisi ustadz nya keluar.


" Baiklah, terima kasih tuan, nyonya. Akan saya pikirkan lagi. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ".


" Ingat! Kamu harus semangat ". Ucap Lyza. Ia menantikan hari kebahagiaan Zean yang akan tiba.


Zean tersenyum. Wiss... Senyuman yang membuat Lyza sedikit terpesona, bukan hanya Lyza nama Ares sedikit terkejut melihat senyuman Zean.


Ares melihat Lyza yang terpesona dengan senyuman Zean. Ia sedikit kesal. Di rangkulnya pinggang Lyza erat.


" Hati-hati dijalan ". Ares mengusir dengan cara halus, namun Kata-kata nya penuh penekanan.


" Ah.. i... Iya.. Assalamu'alaikum ". Zean jadi gugup melihat senyumana mematikan dari Ares.


" Wa'alaikum salam ". Mereka tidak mengantar Zean sampai pintu.


Dan kini tinggallah Lyza dan Ares di sana. " Sayang..... ". Panggil Ares dengan menekankan perkataan nya.


" I.. iya, by ". Sungguh Lyza tidak berani menatap sang suami.


Ares mencubit pipi Lyza. " Nakal yah. Awas kalau terpesona lagi ".


Lyza nyengir kuda. " Tidak akan ".


Ares langsung menggendong Lyza. " Ahkkk byyy ". Pekik Lyza


" Kamu harus dapat hukuman! ". Tersenyum licik dan menggoda


" Huh! Bilang saja mau ingin. Iya 'kan ". Cibir Lyza


" Memangnya kamu tidak mau? ".


Sontak Lyza menatap tajam Ares, namun yang di tatap malah mengedipkan sebelah matanya membuat Lyza jadi salah tingkah. Ia langsung mengalihkan pandangannya.


Tidak mungkin 'kan, Lyza Juga bilang ingin. Gengsinya masih sangat tinggi.


" Tunggu dulu, By... Bagaimana bisa kamu tahu tentang Zean yang menyukai Ara? Padahal aku sendiri tidak tahu ". Tanya Lyza di sela-sela Ares menggendongnya.


" Hmm itu karena aku pria, tentu aku paham bagaimana tatapan Zean saat melihat Ara itu adalah tatapan seorang pria yang tertarik pada seorang wanita ". Tetap melanjutkan langkahnya, dan tak terasa mereka sudah berada di depan kamar.


Ares hanya terkekeh dan mendorong pintu kamar menggunakan tubuhnya, karena pintu kamarnya memang tidak tertutup rapat.


Dengan perlahan Ares menurunkan Lyza di atas kasur. Dibukanya jilbab instan Lyza, setelah nya Ares kembali memandang wajah sang istri yang sangat cantik.


Ares mencium kening, dan turun ke kedua mata Lyza, lalu ke pucuk hidung Lyza kemudian di kedua pipi Lyza dan terakhir ke bibir ranum Lyza. Di lumattnya pelan, dan lama-lama menjadi ciuman menuntut. Refleks Lyza mengalungkan tangannya di leher sang suami, ia membalas ciuman dalam dan panas yang di berikas Ares.


Dan terjadilah yang memang harus terjadi....


.........


Pagi ini Ares sudah siap-siap akan berangkat le kantor. Sebenarnya ia masih ingin tinggal di rumah bersama sang istri, namun ia juga tidak bisa mengabaikan tugasnya bukan?


" Aku pergi dulu yah ".


" Iya ".


Ares Menyodorkan tangan kanan di depan Lyza. Dengan senang hati Lyza mengambil dan menciumnya. Ares tersenyum lalu mencium kening Lyza cukup lama.


" Assalamu'alaikum ". Salam Ares setelah melepas kecupannya.


" Wa'alaikum salam ".


Setelah mendapatkan jawaban, Ares pun masuk kedalam mobil di mana dari tadi Egi sudah menunggu.


Lyza memandangi mobil sang suami sampai tidak terlihat lagi. Ia menghela nafas, baru akan melangkah masuk tiba-tiba ponsel Lyza berbunyi.


Lyza pun mengangkat nya. " Halo, ada apa Sean? ".


" Seperti yang anda katakan kemarin bos, semuanya sudah saya kumpulkan dan akan saya perlihatkan nanti kepada anda ".


" Baiklah, langsung datang ke rumahku saja ".


" Baik bos ". Kali ini Sean sudah tidak ingin menanyakan tekad Lyza lagi, karena ia tahu bahwa Lyza tidak akan menarik keputusan yang telah di buat. Karena kesal, Sean Langsung menutup sambungan telepon.


Tut.. tut.. tut..


Lyza menyerngitkan dahinya, ia memandang layar ponsel. " Berani juga anak ini ". Ujar Lyza tersenyum dan masuk kedalam rumah.


Tak lama kemudian...


Sean datang ke rumah sang young ms, Lyza mempersilahkan Sean masuk kedalam.


" Duduklah Sean ".


Sean mengikuti dan duduk tepat di hadapan Lyza. " Ini bos, berkas yang akan kita gunakan dalam rencana anda ". Menaruh beberapa map di atas meja.


Lyza mengambil map tersebut. Ia membukanya perlahan. Dengan sangat serius Lyza membacanya, serta ada beberapa foto disana. Lyza tersenyum " kerja bagus Sean ". Tutur Lyza menutup kembali map itu dan menaruhnya di atas meja.


" Sekali lagi saya tanya bos ". Melihat Lyza dengan tatapan serius. Ia mengambil nafas dalam, sebelum mengatakan apa yang akan di katakan nya. " Apa anda yakin?..___ ". Belum sempat Sean meneruskan perkataannya, Lyza sudah memotong.


" Aku sudah bilang jangan bahas ini lagi.... Kau tau kan aku tida akan bercanda dengan hal seperti ini ". Memberikan tatapan yang tak kalah serius.


Sean menghela nafas panjang. " Baiklah bos, saya akan mendukung keputusan anda ". Pasrahnya


Lyza tersenyum. " Terima kasih... Dan jangan pernah merasa bersalah, karena aku yang menginginkan nya ".


Sean hanya mengangguk. Setelah cukup lama mereka membicarakan rencana mereka, Sean pun undur diri.


Sedangkan Lyza bersiap-siap ingin membuat makan siang untuk sang suami. Rencananya Lyza ingin diam-diam datang ke kantor Ares. Belum sempat Lyza melangkah masuk tiba-tiba...


" Assalamu'alaikum ".


Lyza berbalik. Dua hari ini ada banyak salam yang ia jawab. Biarlah, untung-untung sebagai penambah amal. " Wa'alaikum salam. Eh! Ara ".


Ara tersenyum dan menghampiri kakak iparnya. " Halo kak Lyza... Kak Lyza sendiri saja? ".


Lyza tersenyum. " Iya, ayo masuk ".


Mereka pun masuk kedalam. " Duduk dulu Ara, kau mau minum apa? ".


" Ah! Tidak usah kak.... Aku datang kesini ingin memberikan titipan dari ibu ". Menyodorkan sebuah paper bag.


Mengambil paper bag tersebut. " Apa ini? ".


" Oh itu oleh-oleh dari ibu saat pulang dari umroh kemarin ". Jawab Ara.


" Wah... Terima kasih yah, dan sampaikan terima kasih ku pada ibu ". Menaruh paper bag itu di atas meja.


" Oke... Oh yah kak, bang Ares kemana? ". Celingak-celingukan


" Ke kantor ".


" Terus Kakak sendiri disini? ".


" Yah memang nya mau sama siapa lagi? ".


" Iya juga yah... Sekarang kakak mau ngapain? ". Kali ini Ara sudah tidak perlu sungkan lagi untuk berbicara dengan Lyza. Dulu sebenarnya ia terlalu sungkan dan sedikit Takut berbicara dengan Lyza, apalagi saat melihat tatapan Lyza yang selalu mendominasi dan dingin. Namun sekarang semua itu sudah tidak ada.


" Aku mau buat makan siang untuk Ares... ".


" Wah benarkah??? Aku juga mau bantu ". Ara nampak semangat.


Lyza terkekeh. " Baiklah, tapi jangan sampai menghambat ku ".


Ara mendengus " tidak akan... Aku juga bisa masak ".


Dam mereka berdua pun masuk kedalam dapur untuk membuat makanan untuk Ares.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️