
Di dalam ruangan ini hanya ada Zean, Ara, baby Lisya, Egi dan juga Sean. Semua anggota keluarga sudah pulang untuk istirahat. Sedangkan Re dan juga Desi belum sampai juga membawa pakaian ganti Ara.
Desi sudah menelpon, kalau mereka singgah untuk sholat Maghrib terlebih dahulu.
Sean dan Egi duduk di sofa menemani Zean yang sedang duduk di pinggir ranjang istrinya.
" Oh yah wanita yang menjadi asisten nya nyonya Lyza, itu Renata 'kan." Ujar Zean. Ia bisa langsung mengetahui nya, saat melihat Re
" Iya." Jawab Egi
" Hmm dia terlihat berbeda 'kan." Seru Sean
Egi tersenyum bangga " Lihat dulu siapa yang make over." Ujar dengan wajah sombong nya
" Cih. Kau hanya membawanya bukan kau yang benar-benar make over Re." Sean tak kalah sinis melihat kesombongan Egi
" Tapi, tanpa ku dia tak akan mau berubah seperti itu."
Sean baru akan bersuara, namun suara Zean menghentikan nya mengeluarkan suara.
" Jangan bertengkar disini. Keluar sana kalau ingin ribut." Ketus Zean mengusap kepala sang istri yang sedang tertidur. Sedari tadi ia senyum-senyum melihat istrinya tertidur, walaupun Ara harus memakai cadar.
" Oi.. oi.. oi.. santai man.. iya kami salah." Ujar Sean
" Oh yah kalian sudah kenal lama 'kan dengan Re." Tanya Egi
" Iya. Sudah sangat lama. Waktu itu Re baru berusia 11 tahun, dia sangat kecil waktu itu."
" Kalau itu sekarang pun dia masih sangat mungil." Timpal Egi
" Apalagi di bagian...__." Sean sengaja menggantung ucapannya. Egi dan Sean cekikikan sendiri membayangkan apa yang di maksud kecil, sedangkan Zean hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang itu
" Jadi, kalian yang lebih dulu masuk ke kehidupan nyonya Lyza?." Tanya Egi. Ia kira yang lebih dulu masuk adalah Killiua dan Re. Sebab Re sendiri yang bilang kalau dirinya lah yang pertama kali di rekrut Lyza
" Bukan kami yang masuk kedalam kehidupan nyonya Lyza. Tapi nyonya Lyza yang masuk kedalam kehidupan kami." Ujar Zean.
" Itu benar. Memang benar, kalau Re dan Kill orang yang pertama kali bos Lyza rekrut saat masuk kedalam organisasi. Tapi, kami berdua yang lebih dulu masuk kedalam organisasi baru bos Lyza...
" Aku dan juga Zean di rekrut Langsung sama tuan Anataran, sebelum bos Lyza datang." Jelas Sean
Egi manggut-manggut, satu hal yang baru ia tahu. " Tapi, Re bilang ia di selamat 'kan sama nyonya Lyza. Maksudnya? Aku sama sekali tidak percaya akan hal itu." Tidak akan ada yang percaya seorang ketua mafia menyelamatkan dua orang yang membutuhkan bantuan, begitu pula Egi. Ia sama sekali tidak percaya
" Hmm sebenarnya kalau dibilang menyematkan sih, itu kurang tepat yah." Sean nampak berpikir, ia menyusun kata-kata yang tepat untuk mewakili semuanya.
" Tidak perlu banyak berpikir, langsung katakan saja." Mengibas 'kan tangannya di depan Sean
" Baiklah. Sebenarnya nyonya Lyza tidak sengaja membunuh kedua orang tua Kill dan Re. Bos Lyza mengira kalau orang tua Re adalah sindikat dari musuh, dan tanpa basa-basi bos Lyza langsung membunuh kedua nya."
" Wait!!... " Menghentikan perkataan Sean " Sepertinya ada yang salah. Bukannya seharusnya Re dan Kill dendam sama nyonya atas kematian kedua orang tuanya, kenapa malah mereka nampak sangat menghormati nyonya Lyza?."
" Itu dia masalah nya. Re dan Kill hanya anak yang kedua orangtuanya pungut dari panti asuhan. Kedua orang dewasa bejat itu menyiksa dan memperbudak Re dan juga Kill. Karena waktu itu mereka masih sangat kecil dan tak punya kuasa untuk melawan akhirnya mereka hanya bisa pasrah, sampai bos Lyza membunuh kedua orang bejat itu walaupun sebenarnya bos salah orang." Jelas Sean panjang lebar
Egi lagi-lagi hanya manggut-manggut, ia sudah tidak terkejut lagi mendengar cerita tentang pembunuhan " Jadi nyonya Lyza merasa bersalah dan akhirnya membawa kedua orang itu." Simpul Egi
" Sebenarnya bos Lyza tidak merasa bersalah. Tapi kedua orang itu yang menempel dengan bos. Yah mau tidak mau akhirnya bos membawa kedua orang itu."
Saat kedua orang itu sedang asik menggosip. Lain halnya dengan yang di gosip sekarang.
Re menerima penawaran dari Desi, dan kini mereka tinggal menunggu pembuktian. Dalam hati, Desi sudah cekikikan yang sangat ingin melihat wajah Re yang terkejut, berbeda dengan Re yang juga tersenyum senang dalam hati karena ia yakin Perkataan Desi akan salah besar.
" Kapan kau akan membuktikan nya." Re sudah tidak sabar
" Sabar sebentar lagi. Jika sudah iqomah maka lihat saja semua massal ini akan berkumpul dan berbaris rapi." Ujar Desi masih dengan percaya diri. Ia sangat yakin akan jawabannya
" Hmm." Tersenyum sinis. Re masih tidak percaya dengan jawaban Desi.
Hingga tak lama terdengar suara iqomah. Beberapa orang berbondong-bondong masuk kedalam masjid dan langsung mengambil tempat, sedangkan orang-orang yang tadi di dalam masjid dan belum berdiri pada tempatnya juga ikut berbaris.
Desi semakin tersenyum menang melihat kerumunan orang-orang yang berbarik rapi mengahadap kiblat. Lain halnya dengan Re yang melongo dengan mulut yang sedikit menganga.
Re sama sekali tidak percaya apa yang di katakan Desi itu benar. Sedangkan Desi semakin tersenyum menang Melihat wajah Re yang hanya melongo. Ia cekikikan di dalam hati
" Ba.. bagaimana bisa?." Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari orang-orang yang sekarang sedang melaksanakan Sholat
" Hm begitulah kuasa tuhan. Mereka semua berkumpul disitu karena tuhan sedang memanggil untuk beribadah. Jadi, sesuai kesepakatan setidaknya kamu harus mempertimbangkan untuk percaya akan tuhan, aku tidak akan memaksamu. Pikirkanlah baik-baik."
Re melihat Desi " Baiklah." Walaupun bukan karena kesepakatan awal tadi, Re pasti akan mencoba untuk mempertimbangkan untuk percaya tuhan, dan kenapa orang-orang percaya tuhan.
Kita kembali ke tempat dua orang pria yang sedang asik menggosip.
" Cih bisa kah kalian diam! Sekarang kalian bisa keluar." Sahut Zean memotong acara gosip Kedua orang itu.
" Eh! Kenapa?." Tanya mereka serentak dengan wajah yang menyedihkan
Zean menutup kedua telinga sang istri yang sedang tertidur " Kalian sangat ribut. Istriku baru selesai melahirkan dan ia sedang istirahat sekarang. Kalian mengerti 'kan!." Menekankan Perkataan nya
Dengan lesu kedua orang itu keluar. Mereka tidak sadar karena asik bergosip.
Setelah kedua orang itu keluar, Zean dengan perlahan membuka cadar sang istri. Agar istrinya bisa bernafas lebih leluasa. Zean kembali tersenyum lalu mencium seluruh wajah Ara. Ia sama sekali tidak menyangka akan mempunyai kehidupan normal seperti ini, dulu Zean sama sekali tidak ingin terlalu berharap akan mempunyai kehidupan yang normal seperti orang-orang pada umumnya. Namun, lihatlah sekarang ia sudah mempunyai sebuah keluarga kecil.
Sedangkan di luar
" Akhirnya aku mengerti kenapa para wanita Sangat suka bergosip." Ucap Egi dan duduk di kursi tunggu di depan ruangan VIP tersebut
Sean ikut duduk di samping Sean " ya kau benar. Rupanya sangat menyenangkan merosting kehidupan orang lain." Timpal Sean
Keduanya menghela nafas pelan bersamaan lalu Terkekeh. Merasa aneh dengan diri mereka sendiri
" Oh yah kenapa kau sangat penasaran dengan Re?." Tanya Sean. Ia merasa aneh dengan sahabatnya yang satu ini. Tidak biasanya Egi penasaran dengan kehidupan orang lain apalagi yang bersangkutan dengan dunia hitam
" Ehmm ti.. tidak. Bukan apa-apa." Entah mengapa ia tiba-tiba gugup, padahal ia sama sekali tidak berbuat salah
Sean memicingkan matanya " Benarkah?." Goda nya
Egi memutar bola matanya " Aku hanya penasaran, karena ia yang sekarang menjadi asisten nyonya. Apalagi dia juga sangat aneh, masa seorang mantan mafia cengeng seperti itu." Dalih Egi
" Hnm benarkah? Ya tapi itu benar juga sih." Mengangkat kedua bahunya "Aku tidak menyangka kau tau Re sangat cengeng."
Haaahhh
" Nyonya Lyza yang mengatakan nya padaku, agar aku bisa berhati-hati dalam berbicara dengan nya." Ujar Egi berbohong 'mana mungkin aku mengaku sudah membuatnya menangis sampai tersedu-sedu'
Sean manggut-manggut tanda percaya. Tak lama kemudian...
" Assalamu'alaikum.. " Salam Desi yang sudah tiba bersama Re di belakangnya
Egi dan Sean berdiri " Wa'alaikum salam.. kalian sangat lama." Ujar Egi
" Kami ada urusan sebentar tadi." Melirik ke arah Re. Dan yang di berikan lirikan membuang muka
Kedua pria di depannya memiringkan kepalanya. Ada apa dengan hubungan mereka yang nampak telah terjadi sesuatu? Pikir keduanya
" Oh yah aku masuk dulu.. takut bang Zean marah-marah karena terlalu lama." Desi mengangkat paper bag yang di pegang nya
Mereka hanya mengangguk dan Desi pun masuk kedalam ruangan Ara setelah mengetuk nya terlebih dahulu.
Sean mendekati Re " ada apa? Apa ada yang telah terjadi?." Tanya Sean penasaran
Re menggeleng " Tidak ada." Ketusnya dan langsung duduk di kursi tunggu.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya ๐ banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya โ๏ธ
Follow ig othor๐คญ๐ ๐ \=> HimaSun_05