
Dean menarik kursinya. Bergabung dengan El, Al, dan Rowan yang ternyata sudah datang lebih dulu. Wajahnya ditekuk ketika mengingat jika mamanya baru saja berniat untuk mencarikannya istri.
“Kenapa wajahmu murah? Sudah seperti diminta menikah saja?” El yang melihat Dean menggodanya.
“Kenapa bisa jawaban kamu benar.” Dean semakin kesal ketika jawaban El benar.
Seketika semua tertawa. Tidak menyangka jika jawaban El benar sekali.
“Lagi pula usiamu sudah tiga puluh, aku rasa pas untuk menikah. Lalu apa yang ingin kamu tunggu?” Al menatap sang adik.
“Tentu saja calonnya.” Rowan seketika tertawa. Pertanyaan Al benar-benar seharusnya tidak ditanyakan.
“Kalian sama-sama menyebalkannya dengan mama.” Dean memanggil pramusaji. Kemudian dia memesan secangkir capuccino coffee.
Al, El, dan Rowan hanya tertawa saja ketika melihat Dean begitu kesal. Mereka memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka membicarakan keseruan di London. Terlebih lagi di London ada Cia, Noah, Rylan, dan juga Retta. Di sana begitu ramai hingga membuat semua berniat untuk berkunjung ke sana. Menikmati liburan secara bersama-sama.
Puas mengobrol, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi. El dan Al akan pergi ke kantor, Rowan akan pergi ke Restoran, dan Dean akan ke Rumah sakit. Mereka berjanji akan bertemu lagi. Menghabiskan waktu bersama.
Dean yang berniat ke Rumah sakit segera melajukan mobilnya. Ada beberapa prosedur yang harus dilakukannya sebelum besok dia memulai pekerjaanya. Dean yang melajukan mobilnya melihat ke arah sekitar. Beberapa tahun tinggal di negeri orang membuatnya kagum dengan negeri sendiri. Pesatnya pembangunan membuatnya yakin negeranya akan jauh lebih maju.
Dean melihat ke sekitar sambil melihat ke sekitar ketika mobilnya masuk ke kawasan Rumah sakit. Kawasan elit di mana didirikan Rumah sakit adalah tempat yang begitu indah. Pepohonan di kanan kiri menghiasi jalanan. Terlihat asri sekali. Jalanan yang rapi membuat orang-orang dapat menikmati fasilitas sosial. Banyak yang bersepeda atau sekadar lari-lari.
Mobil Dean yang hampir sampai di Rumah sakit tiba-tiba menepi ketika dari kejauhan dia melihat seseorang yang sedang jogging tiba-tiba pingsan. Dean segera turun dari mobil dan segera menghampiri pria yang terjatuh di pinggir jalan itu.
Dean segera mengecek kesadaran dari pria itu. “Pak-Pak.” Dia memanggil pria yang kini terkulai lemas di atas trotoar. Karena tidak mendapatkan respon, Dean segera mengecek nadi yang berada di leher dengan kedua jarinya. Saat tak menemukannya dia menyadari jika pria itu mengalami henti jantung.
Orang-orang yang kebetulan berada di dekat Dean pun segera memanggil perawat dari Rumah sakit. Meminta mereka untuk membantu pasien yang baru saja terjatuh tak berdaya.
Dean segera meluruskan tubuh pria itu. Membaringkannya di permukaan yang rata. Dia berada tepat di atas pria itu dengan posisi kaki di tekuk. Dia segera meletakkan tangan pria di atas dada bagian tengah. Kemudian dia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu. Posisinya berada dalam posisi sembilan puluh derajat.
Dean menekan kira-kira lima centimeter. Tekanan itu dilakukan sebanyak seratus sampai seratus dua puluh per menit. Hal itu agar dapat mengembalikan jantungnya kembali berdetak. Pertolongan pertama itu dilakukan Dean agar pria itu dapat terselamatkan sebelum team medis datang.
Tepat saat Dean masih menekan dada pria itu, perawat datang dengan membawa brankar. Dengan segera mereka memindahkan brankar.
Dean belum berhenti sampai di sana. Dia Naik ke atas brankar sambil terus menekan dada pria itu. Perawat mendorong Dean masuk ke UGD untuk melakukan penanganan.
Apa yang dilakukan Dean itu menyelamatkan pria itu. Pertolongan pertama pada mereka yang henti jantung membuat mereka kembali punya peluang hidup kembali.
Apa yang dilakukan Dean itu menarik perhatian beberapa perawat. Pria tampan itu bak penolong ketika melihat Dean yang berusaha menekan dada pasien. Dari sekian perawat yang melihat hal itu, ada Dearra yang melihat Dean. Dia yang hendak ke ruang UGD kebetulan melihat aksi Dean yang heroik. Walaupun hanya dari kejauhan, tetapi dia tahu sekali siapa pria itu.
“Idola aku.” Dengan polosnya menyebut Dean.
“Olin, kamu sedang apa di sana, ayo.” Merry menarik Dearra yang masih diam memandangi ruang UGD.
Dearra yang ditarik pun hanya bisa pasrah. Dia harus merelakan melihat pria tampan itu. Namun, Dearra sadar jika dia masih harus bekerja jadi tidak bisa seenaknya saja.
Dean yang melihat pasien akhirnya tertolong merasa lega. Dia benar-benar tidak menyangka jika kedatangan ke Rumah sakit disambut dengan pasien yang henti jantung.
“Terima kasih, dr. Dean.” Seorang dokter menganggukkan kepalanya sedikit setelah melihat aksi Dean.
“Sama-sama. Aku hanya kebetulan lewat, jadi aku menolongnya.” Dean tersenyum. Merasa memang selayaknya sebagai dokter dia menolong. “Baiklah, aku akan pergi dulu.” Dean berpamitan. Dia segera mengayunkan langkahnya menuju ke ruangan sang papa. Ada beberapa hal yang harus dilakukannya.
Saat Dean meninggalkan ruang UGD, para perawat berbisik. Mereka benar-benar mengagumi bagaimana Dean yang begitu tampan. Belum lagi Dean adalah seorang dokter yang akan bekerja di Rumah sakit ini.
“Jika dia bekerja di sini. Aku rasa aku akan semakin rajin.” Seorang perawat mengungkapkan perasaannya. Kabar Dean akan bekerja di Rumah sakit sudah tersebar. Jadi wajar saja jika para perawat sudah heboh. Siapa yang tak heboh ketika akan melihat anak pemilik Rumah sakit akan bekerja Rumah sakit. Ditambah lagi anak pemilik Rumah sakit begitu tampan.
Dean menemui sang papa di ruangannya. Saat masuk dia segera mengambil air mineral di lemari pendingin di ruangan sang papa. Tenaganya cukup terkuras, jadi wajar saja dia begitu kehausan. Menekan dada pasien memang membutuhkan tenaga ekstra. Jadi dia mengerahkan seluruh tenaganya.
“Apa kamu ke sini berjalan kaki?” Papa Erix menggoda anaknya yang tampak kehausan. Dia tersenyum melihat aksi sang anak yang minum tanpa memberikan jeda.
Dean yang menyelesaikan minumnya menutup botol yang pegangnya. Kemudian beralih menatap sang papa. “Aku tadi menemukan pria yang henti jantung di depan Rumah sakit. Untuk aku masih bisa menyelamatkannya.” Dia menceritakan apa yang dilakukannya.
“Baru masuk kamu sudah disambut dengan pasien. Memang kamu ditakdirkan sebagai dokter.” Papa Erix tertawa. Dia tahu pasti anaknya datang bukan untuk bekerja, tetapi dia mendapatkan pasien saat datang.
“Beginilah dokter selalu siap sedia kapan pun orang butuh bantuan.” Dean merasa melihat orang yang sakit adalah tanggung jawabnya. Jadi dia selalu akan menolong siapa pun itu.
Papa Erix tersenyum. Dia senang anaknya tumbuh dengan baik dan menjadi dokter yang bertanggung jawab. Dia tak perlu khawatir lagi anaknya yang akan bekerja di Rumah sakit.
Papa Erix pun segera meminta Dean untuk menandatangani kontrak kerja. Sekali pun anak dari pemilik Rumah sakit, statusnya tetaplah pegawai di Rumah sakit. Jadi dia melalaui semua prosedur. Dean pun tidak mempermasalahkan akan hal itu. Dia dengan senang hati. Justru jika diistimewakan, dia tidak suka. Lebih suka dianggap sama saja.