My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Nora Bab 2



Alarm ponsel Agas berbunyi, membuat Agas membuka matanya. Rasanya baru sebentar dia merasakan tidur nyenyaknya, tetapi kini dia sudah harus bangun. Alarm yang terus berbunyi, membuat gendang telinganya terasa sakit. Jadi mau tak mau buru-buru Agas mematikan alarmnya. 


Kalau bukan sudah janji dengan mamanya. Mungkin Agas akan menikmati tidurnya hingga jam tujuh. Setelah itu mulai beraksi di depan laptopnya, bermain game online kesukaannya. 


Dengan langkah gontai, Agas keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Namun, dia tak menemukan mamanya di lantai bawah. Sudah bisa Agas tebak jika mamanya belum sampai di rumah. 


Sambil menunggu mamanya, Agas melihat-lihat rumah dua lantai milik orang tuanya. Sudah sebulan Agas di rumah, tetapi dia hanya berkutat dengan kamar dan ruang makan saja. Tak pernah menjamah tempat lain di dalam rumah. 


Netranya memandangi sekitar. Rumah besar dengan dua lantai milik orang tuanya itu begitu sepi. Dengan ukuran rumah yang besar dan hanya dihuni tiga orang dan asisten rumah tangga, membuat rumah begitu sangat sepi. 


Mengayunkan langkahnya, Agas sampai di ruang keluarga. Tempat ini adalah tempat favoritnya dulu sewaktu belum kuliah. Tempat di mana dia menghabiskan waktu dengan mamanya saat sore. 


“Den Agas, mau dibuatkan sesuatu, teh atau kopi?” tanya Mbok Yah-asisten rumah tangga yang sudah lama tinggal di rumah Agas. Beliau menghampiri Agas yang sedang duduk santai di ruang keluarga. 


“Suwun, Mbok, saya tidak haus.” 


“Saya senang lihat Aden keluar kamar.” 


Agas sedikit tergelitik. Dia seperti baru keluar penjara dan begitu membuat orang lain senang. “Ada perlu sama mama,” jawab Agas memberitahukan alasannya keluar. 


“Mbok tinggal dulu, kalau butuh apa-apa panggil saja, Den.” 


“Iya, Mbok.” 


Agas mulai malas menunggu mamanya. Tangannya meraih remote televisi, mencari siaran televisi, untuk mengusir kebosanan. Namun, sudah beberapa kali dia pencet, tidak ada yang membuatnya tertarik.


“Anak Mama sudah bangun,” ucap Aina yang melihat putranya di ruang keluarga. 


“Bukannya Mama yang minta Agas bangun.” 


“Iya, memang Mama yang minta,” ucap Aina seraya mendudukkan tubuhnya tepat di samping Agas. Senyamannya masih begitu cantik di usia yang hampir setengah abad itu. Bagaimana Aina tidak senang, jika dia melihat anaknya keluar dari persembunyiannya. 


“Apa yang ingin Mama bicarakan?” Tanpa berbasa-basi Agas memulai pembicaraan. 


Senyum yang tadinya tersirat di wajah Aina, perlahan mulai surut. Wajahnya mulai serius ketika membahas masalah yang terjadi pada anaknya. 


“Gas, Mama tahu kondisi kamu. Mungkin game online adalah hiburan untuk kamu, tetapi apa tidak sebaiknya kamu cari kegiatan lain. Seperti main basket mungkin, atau main sepak bola. Yang penting keluar, Gas. Agar badan kamu sehat.” 


“Mama pikir aku tidak sehat?” tanya Agas tidak suka. 


“Bukan begitu, Gas.” 


“Ma, aku sudah bilang biarkan aku tinggal di Surabaya. Sekarang kenapa Mama protes dengan apa yang aku lakukan?” 


“Mama tidak tega kalau kamu di Surabaya. Mama takut hal-hal kemarin akan terulang kembali.” Air mata Aina menetes. Sebagai orang tua, dia tidak rela anaknya kembali terjerumus dalam jerat obat terlarang. Dia ingin anaknya sehat seperti anak-anak lain. Apalagi dia adalah anak tunggalnya. 


“Ma ....” Agas membawa mamanya dalam pelukannya. Melihat mamanya menangis, sama sakitnya melihat pacarnya pergi. 


“Mama mau kamu kembali, Gas. Mulailah keluar dari rumah. Main ke mal, pergi bersama teman-teman SMA kamu atau mungkin pergi ke tempa wisata. Apa saja yang membuatmu senang.” 


“Aku ....” Belum selesai Agas bicara, mobil papanya datang. Membaut Agas menghentikan ucapannya. “Kita bicara besok lagi, Ma.” Agas beranjak dari sofa, bersiap untuk meninggalkan ruang keluarga. 


Namun, belum sempat dia mengayunkan langkahnya, tangannya dicekal oleh mamanya. Agas menoleh, melihat tangan mamanya yang mencengkeram pergelangan tangannya erat. 


“Sampai kapan kamu akan menghindar, Gas.” Aina tahu kenapa Agas berdiri dan buru-buru pergi. Apalagi jika bukan karena papanya datang. 


“Aku belum siap. Rasa benciku melampaui rasa sayangku dulu, Ma.” Membahas papanya,  membuat sorot mata memerah. Sorot matanya yang dipenuhi kebencian. 


Aina tak bisa memaksakan anaknya. Tak mau membuat keadaan makin ramai, dia melepaskan cengkeraman tangan Agas.  Membiarkan anaknya itu masuk ke kamar-tempatnya bersembunyi. 


Hati ibu mana melihat anak dan suaminya yang tak lagi akur. Dua pria dalam hidupnya itu sudah bagai air dan minyak yang tak bisa menyatu. Menghapus air matanya, Aina bangkit dan menyambut suaminya. Tak mau membuat suaminya curiga karena menangisi Agas. 


“Sudah bicara dengan Agas?” tanya Raditya. Saat masuk dia melihat Agas yang sedang menaiki anak tangga. 


“Sudah,” jawab Aina seraya meraih tas kerja suaminya. 


“Apa jawabannya?” 


“Kita harus pelan-pelan, Pa.” Depresi yang dialami Agas memang tak bisa dianggap enteng. Buktinya sudah dia tahun ini dia belum bisa bangkit juga. 


“Anakmu itu terlalu buta akan cinta.” 


“Seperti kamu!” 


Raditya menutup rapatnya ketika istrinya membalas ucapannya. Menghadapi Agas membuatnya dilema. Seperti berkaca pada dirinya sendiri yang merelakan apa pun untuk orang yang dicintainya. 


“Aku akan siapkan makan, kamu mandilah.” Aina tak mau pembahasan berlanjut dan menjadi perdebatan. Memilih untuk menghindar adalah hal yang dipilihnya. 


...🌺🌺🌺...


Di kamar, Agas menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.  Sejak sebulan yang lalu Agas berusaha untuk menghindari dari papanya. Tak mau melihat wajah orang yang menyebabkan semua kesedihan yang dirasakannya. Melihat papanya, mengingatkannya pada kekasihnya dan itu menyakitkan untuk Agas. 


“Kenapa takdir harus sekejam ini? Dari sekian banyak orang kenapa harus dia yang menjadi saudaraku?” Agas memejamkan matanya. Berusaha untuk menguatkan hatinya. 


Untuk ukuran pria, dia adalah pria cengeng yang mudah menangis. Hingga itulah yang membuat dia mudah sekali depresi.