My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Mara Bab 1




Di sudut toko buku seorang wanita sibuk mengambil buku yang sudah terbuka plastiknya. Buku yang bertumpuk itu sebagian memang sudah tak berlapis plastik pres, sehingga orang lebih leluasa untuk membacanya. Tangannya mengarahkan buku ke hidungnya. “Emm … aroma vanili lebih kuat.” Mara menghirup lebih dalam buku yang dibawanya. Kemudian dia beralih mengambil buku lain. "Aroma kacang almond lebih kuat di buku ini." 


Calista Aymara , yang sering dipanggil Mara, wanita 20 tahun yang hobi sekali menghirup aroma buku. Hobinya membaca membuatnya hafal aroma yang tercipta dari satu buku ke buku yang lain. Mengenali buku dari aroma yang tercipta 


“Ra, ternyata kamu di sini.” Suara wanita terdengar.  Lili-taman kuliah Mara di salah satu Universitas negeri di Malang. Dia menghampiri Mara yang sedang berada di sudut toko buku. 


“Harusnya kamu tahu aku di mana.” Mara kembali mengambil buku dan menghirup aroma buku. Merasakan lebih dalam aroma yang tercipta.


Lili memicingkan matanya melihat aksi Mara yang menghirup aroma buku. “Kapan kebiasaan buruk kamu itu berhenti?” tanyanya dengan nada menyindir. 


Mara menoleh dan menatap malas pada Lili. “Kebiasaan buruk apa? Menghirup aroma buku?” Dia memperjelas pertanyaan yang diajukan oleh temannya itu. 


“Iya, apa lagi?” 


“Asal kamu tahu, menghirup buku itu adalah hal menyenangkan.” Dengan bangga Mara menjelaskan pada Lili. Kebiasaan ini memang sudah dilakukannya sejak kecil. Sang nenek yang selalu membelikannya buku, membuatnya hafal buku miliknya hanya dengan baunya saja.


“Yang ada kamu bisa keracunan.”


“Belum ada ditemukan kasus keracunan menghirup aroma buku.” Mara masih tetap dengan pendiriannya. Urusan membaca, Mara jagonya. Jadi dia bisa memastikan apa yang dilakukannya aman.


“Iya, tetapi nanti akan ada,” jawab Lili malas. 


“Siapa?” Mara melirik tajam pada Lili yang berdiri di sampingnya.


“Kamu.” Lili tertawa saat menjawab pertanyaan Mara. 


“Kurang ajar!” Mara memukul Lili dengan buku yang dibawanya. 


“Lagi pula apa yang membuatmu begitu suka menghirup aroma buku?” Lili tidak habis pikir dengan kesukaan temannya itu. 


Lili menggeleng melihat temannya itu yang mengibaratkan aroma yang dihirupnya. “Mana bisa seperti itu?” Dia masih mencela ucapan Mara.


“Bisa, karena buku mengandung kandungan bezaldehida yang akan mengeluarkan aroma seperti kacang almond.” Suara pria terdengar di tengah-tengah perdebatan antara Mara dan Lili. Suara itu juga yang membuat mereka menoleh. 


“Aroma vanili yang dihasilkan berasal dari kandungan vanillin, aroma manis yang keluar berasal dari ethyl benzene dan toluene, dan aroma bunga dihasilkan dari kandungan ethyl hexanol.” Dia melanjutkan penjelasannya tentang aroma buku yang dia ketahui. Langkahnya menghampiri Mara dan Lili yang berada di sudut toko buku.


Melihat pria asing yang ikut berbicara membuat Mara menatap dengan penuh curiga. Karena tidak mau berbicara dengan pria asing membuat Mara menarik tangan Lili. 


Akan tetapi, saat menarik tubuh Lili, tubuh temannya itu tidak bergerak sama sekali. Mara memerhatikan dengan saksama apa yang dilihatnya. Ternyata temannya itu sedang menatap pria yang di hadapannya. 


Pria di hadapannya memang tampan. Kulit putih, hidung mancung dan bentuk wajah oval membingkai wajahnya sempurna. Dengan tinggi badan sekitar 180 cm membuat terlihat proporsional . Rambut hitam dan juga lurusnya, menambah ketampanannya. Jadi wajar temannya itu terpesona. 


“Li, ayo,” panggil Mara seraya menarik tubuh Lili. 


Lili hanya pasrah saat tubuhnya ditarik oleh Mara. Namun, matanya terus memandangi pria yang baru saja dengan hebatnya menjelaskan tentang bagaimana aroma buku tercipta. 


“Kamu selalu saja begitu, tidak bisa melihat pria tampan sedikit,” gerutu Mara kesal. Dia terus menarik tubuh Lili menjauh dari lorong di mana pria hadapannya.


Saat pandangan pria tampan itu menghilang, Lili tersadar. “Ra, kamu benar-benar merusak kesenangan!”


Mara melepaskan tangannya dari lengan Lili. “Jangan berbicara dengan pria asing.” Memperingatkan Lili dengan tegas.


“Bagaimana bisa disebut pria asing, Ra? Pria tadi adalah idola kampus kita.” Lili dengan nada kesal menjelaskan pada Mara. Dia jelas kenal siapa pria yang baru saja dia lihat.


Mara menautkan kedua alisnya, tidak mengerti penjelasan Lili. Dia baru tahu kalau di kampusnya ada idola.


“Jangan bilang kamu tidak tahu?” Lili memajukan wajahnya mendekat pada wajah Mara. Matanya melebar diiringi dengan alisnya yang terangkat.