
Kelas berakhir. Semua mahasiswa bersiap untuk pulang. Mara dan Lili memasukkan buku ke dalam tas, melakukan hal yang sama dengan yang lain.
“Ra, sepertinya kamu harus pulang sendiri karena tadi Delia meminta aku untuk mengantarkan ke Stasiun.”
Mara sudah dengar jika ayah Delia sakit, jadi temannya itu harus segera pulang ke Solo. “Iya, tidak apa-apa, aku akan naik angkutan umum saja.”
Mara dan Lili keluar dari kelas dan berpisah di halaman depan. Lili berbelok ke tempat parkir motor, sedangkan Mara keluar dari area kampus, menunggu angkutan di depan kampusnya. Sejak berkenalan dengan Lili memang dia jarang sekali naik angkutan. Lili sudah seperti saudara untuknya, jadi mereka melakukan banyak hal bersama. Untuk urusan makan, bensin dan keperluan lain, terkadang mereka saling berbagi.
Sambil menunggu angkutan, Mara memainkan ponselnya. Tepat saat dia sendang asyik bermain ponsel, motor sport berhenti di depannya dengan seorang pria yang naik di atasnya. Pandangan Mara beralih ke kanan dan kirinya, mencari siapa orang yang dijemput oleh pria itu. Namun, tidak ada orang di sebelahnya. Adapun orang, berjarak cukup jauh dengannya.
Untuk apa dia berhenti di sini?
Pria yang mengendarai motor itu mematikan mesin motornya dan membuka kaca helm full face yang dipakainya. “Hai, Ay,” sapanya.
Walaupun tidak melihat jelas wajah pria itu, tetapi dari panggilan yang disematkan untuknya, dia tahu siapa pria itu. Siapa lagi jika bukan Agas- pria yang semalam menghubunginya. Mata Mara langsung melihat ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang yang melihat.
“Ayo, aku antar pulang.” Agas memberikan helm pada Mara.
Mara terkesiap. Untuk sesaat dia terdiam merasakan keterkejutan. Namun, tersadar saat Agas memanggilnya kembali. “Tidak, akan naik angkutan saja,” elak Mara. Pilihan menolak adalah pilihan benar, mengingat pasti akan banyak mata yang memandangnya jika pulang bersama Agas.
“Ayo, Ay.”
Suara Agas yang tegas membuat Mara terhipnotis dan membuatnya menimbang lagi tawaran Agas. Melihat ke sekeliling yang terlihat sepi, akhirnya Mara menerima helm dan memakainya.
Motor sport yang tinggi membuat Mara kesulitan untuk naik. Mau tidak mau, Mara berpegangan pada bahu Agas agar bisa naik. Saat posisi sudah siap, Agas melajukan motornya.
“Ke mana Lili?” tanya Agas.
Tas yang diletakan Mara di tengah-tengah antara tubuhnya dan Agas, membuat suara Agas sulit di dengarnya. “Apa?” tanya Mara karena tidak mendengar pertanyaan.
“Lili ke mana?” Agas mengulang kembali pertanyaannya. Suara Agas yang tersapu angin masih membuat Mara tidak mendengar suara Agas.
Karena tidak mendengar, akhirnya Mara membungkukkan tubuhnya, mendekatkan tubuhnya dan meletakan kepalanya di samping kepala Agas. “Apa?” tanyanya.
Untuk ketiga kalinya Agas mengulang kembali pertanyaannya. “Lili pergi ke mana, kenapa kamu pulang sendiri?” Kalimat pertanyaan sengaja Agas perpanjang, agar Mara lebih lama mendekat dengannya.
“Lili mengantar teman kami ke Stasiun,” jawab Mara. Kemudian dia kembali menegakkan tubuhnya.
“Ini ke mana?” Agas yang tidak tahu di mana kos Mara, bingung ke mana arah jalan yang harus dilaluinya.
Astaga aku tidak dengar dia bicara apa?
Mara kembali membungkukkan tubuhnya, menjangkau Agas agar bisa mendengar. Agas yang tahu jika Mara tidak mendengar, kembali mengulang kembali pertanyaannya. Kemudian, Mara memberitahu di mana kosnya dan arah jalannya.
Motor sampai di kos Mara. Turun dari motor, Mara berpegangan dengan bahu Agas agar tidak terjatuh. “Terima kasih,” ucapnya seraya melepas helm dan memberikan pada Agas sesaat kemudian.
Agas membuka helm yang dipakai. “Sama-sama.” Tangannya menerima helm yang diberikan oleh Mara.
“Kenapa tidak menghubungi aku jika pulang sendiri?”
“Untuk apa aku menghubungimu?”
“Aku bisa mengantarmu pulang jika kamu menghubungi aku.” Agas yang tadi keluar dari kampus melihat Mara berdiri di pinggir jalan. Tidak mau gadis yang disukainya pulang sendiri, Agas langsung menghampirinya.
“Aku biasa pulang sendiri kalau tidak ada Lili.”
“Buang kebiasaanmu itu, karena sekarang ada aku! Jadi jika butuh bantuan, katakan saja.”
Mara tidak mau besar kepala mendapat perhatian dari Agas, mengingat mungkin hal itu yang sering dilakukan oleh Agas pada para gadis. Untuk melegakan Agas, Mara mengangguk. Kemudian dia berpamitan masuk ke dalam kamar kosnya, diikuti Agas yang melajukan motornya meninggalkan kos Mara.
Demi apa pun, Mara berusaha sekuat tenaga menahan kegugupannya sepanjang perjalanan bersama Agas. Dia benar-benar berdebar-debar berdekatan dengan Agas. Merebahkan tubuhnya, dia memegangi dadanya. Sebagai wanita normal, dia mengakui jika Agas memang tampan. Namun, mengingat yang diincar Agas adalah wanita kaya dan cantik, Mara meyakini jika dirinya bukan selera Agas.
Suara ketukan pintu membuat Mara beralih memandangi pintu. "Masuk!" serunya.
Pintu dibuka dan tampak Lili yang ada di sana. Lili langsung merebahkan tubuhnya di samping Mara. "Jalanan tadi macet sekali," keluhnya. Namun, sejenak kemudian dia mengingat sesuatu. "Kenapa kamu sudah sampai? Apa tidak macet?"
“Macet, tetapi tadi kami menyelip di antara mobil yang terparkir,” ucap Mara tersenyum.
Mendengar kata ‘kami’ Lili memiringkan tubuhnya. "Kamu pulang dengan siapa?"
Mara tersenyum dan Lili langsung menebak. “Pulang dengan Agas?” tanyanya dan mendapat anggukan.
"Bagaimana bisa dia mengantarmu?"
Mara menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan Agas. Lili begitu senang saat temannya. bisa dekat dengan Agas. Sebagai teman dia senang saat temannya dekat dengan pria tampan idola kampus.
"Pasti dia suka denganmu."
“Kamu bilang aku bukan seleranya. Jadi aku yakin dia tidak menyukaiku, hanya kebetulan saja,” ucap Mara dengan wajah kecewanya.
“Jangan berkecil hati lebih dahulu. Berdoalah, jika seleranya tinggi semoga dia mau menurunkan seleranya dan akhirnya memilih dirimu,” ucap Lili.
Kalimat Lili membuat Mara membulatkan matanya. Kemudian dia melempar Lili dengan bantal karena kesal secara tidak langsung mengatainya jelek. Tawa mereka mengisi keheningan kamar kos.