My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Calon Menantu



Kafa menarik tangan Flo agar gadis itu berdiri sejajar dengannya. Takut-takut Flo maju beberapa langkah untuk mensejajarkan diri. Kepalanya menunduk, merasa takut melihat kedua orang tua Kafa yang pastinya sedang memandanginya. Untuk sejenak suasana terasa mencekam. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut kedua orang tua Kafa. Mereka hanya masih memandangi Flo dan Kafa yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.


Kirei berdiri. Menghampiri putranya. Tepat di hadapan sang putra dia menatap anak semata wayangnya itu. “Kamu yakin mau menikah?” tanyanya lembut.


“Iya, Ma,” jawab Kafa dengan penuh keyakinan.


Kirei mengalihkan pandangannya pada Flo. Gadis itu terus menunduk. Membuatnya penasaran dengan wajahnya. “Tegakkan kepalamu!” perintahnya.


Dengan takut-takut Flo menegakkan kepalanya. Memandang mama Kafa yang berdiri di depannya. Dia melihat jelas jika wajah sang mama begitu cantik di usia tua.


Kirei memandangi Flo dari atas ke bawah. Memerhatikan setiap inci tubuh Flo. Senyum tipis terbit ketika melihat wanita cantik yang akan menikah dengan anaknya. Terlihat biasa, tetapi memancarkan kecantikan yang luar biasa.


“Mama tidak menyangka jika kamu akan menikah, Fa.” Suara bahagia terdengar begitu riang. Kemudian memeluk tubuh Flo dengan erat. “Mama senang akhirnya Kafa menikah.”


Pelukan hangat seorang ibu yang sudah sekian lama Flo tidak rasakan, akhirnya dia rasakan juga. Rasanya tak ada yang mengalahkan kebahagiaan seorang anak ketika merasakan dekapan hangat orang tuanya.


Kafa tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia tahu jika mamanya adalah orang yang paling senang jika dia menikah. Sejak beberapa bulan terakhir, sang mama selalu memintanya menikah. Apalagi usianya sudah tiga puluh tahun. Walaupun pernikahan ini bukan pernikahan seperti harapan sang mama, paling tidak membuat sang mama senang untuk sesaat.


“Ayo duduk.” Kirei menuntun Flo untuk duduk. Netranya terus memandangi wajah ayu-Flo. Merasa senang gadis cantik itu akan menjadi menantunya. “Lihatlah, Pa. Calon menantu kita cantik sekali,” ucap Kirei menoleh pada suaminya.


Syilendra pun tersenyum. “Bagus kamu bertanggung jawab dengan apa yang terjadi, Fa. Papa bangga padamu.” Terlepas foto itu ada atau tidak. Anaknya sudah menujukan sebuah tanggung jawab. Apalagi ini menyangkut nama baik keluarga.


“Ma ….” Kafa kesal sekali dengan apa yang diucapkan oleh mamanya. Membuat popularitasnya turun di depan Flo.


Kedua netra Flo pun membulat. Terkejut dengan yang dikatakan oleh mama Kafa. Pandangannya pun beralih pada Kafa. Memerhatikan Kafa dari atas ke bawah.


Aku sering melihat orang-orang bertubuh kekar melambai.


Apa dia juga bagian dari orang itu?


Flo sedikit bergidik ngeri membayangkan hal itu.


“Kapan kalian akan menikah?” tanya Syailendra.


“Hari ini aku akan membuat konferensi pers, dan dua hari aku akan menikah.” Kafa tak mau gosip ini jadi santapan lawan bisnisnya yang berniat menjatuhkan Syailendra Grup. Karena itu, dia ingin segera melangsungkan pernikahan. Agar dapat segera meredam masalah.


“Bagus, karena orang-orang tidak bertanggung jawab akan mengambil celah dalam masalah ini.” Sejak awal foto beredar, Syailendra sudah menduga jika masalah foto disengaja. Akan ada banyak orang yang mengambil keuntungan dari masalah ini.


Flo yang mendengar pembicaraan hanya bisa menelan salivanya. Tidak menyangka jika masalah yang dibuatnya akan melebar hingga perusahaan. Rasanya pernikahan ini justru membuatnya ketakutan. Ketakutan akan Kafa yang akan tahu jika dirinya adalah dalang dari masalah ini.