My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Nora Bab 3



Delapan tahun yang lalu Agas berkenalan dengan seorang gadis di toko buku. Hubungan mereka berlanjut. Agas yang dulu suka berganti-ganti pacar, seketika berhenti dan berlabuh pada satu gadis. Ibarat sebuah perjalanan, Agas menemukan pemberhentian terakhirnya setelah melakukan perjalanan panjang. Menetap di hati  dan bertahan selama empat tahun. 


Namun, semua sirna ketika pacarnya pergi tanpa pesan. Membuatnya hancur, tetapi masih memiliki harapan Tuhan akan mempertemukannya kembali. 


Tuhan yang berbaik hati, benar-benar mendengarkan doa Agas. Dua tahun kemudian Agas bertemu kembali.


Berharap jalinan cintanya dapat dirajut lagi, Agas justru mendapati kenyataan jika pacarnya adalah anak dari papanya sendiri. 


Kenyataan itu terlalu sulit untuk diterima Agas. Seolah itu hanya alibi untuk menghindari. Namun, pembenaran dari papanya, membuat harapan Agas pupus. Membuatnya menjadi orang yang paling terluka. 


Agas yang tidak dapat menerima semua itu sangat depresi berat. Dia tak bisa tidur saat malam dan mengganggu kerjanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan obat anti depresi. Sebagai dokter, Agas tahu takaran pas untuk tubuhnya dan itu membantunya untuk kembali beraktivitas karena saat malam dia bisa tidur dengan nyenyak. 


Awalnya semua berjalan mulus. Dia mengonsumsi sesuai dengan dosis untuk membantunya tidur. Namun, lambat laun obat itu tidak mempan lagi membantu Agas yang kesulitan tidur saat malam hari. Hingga akhirnya Agas beralih pada obat stimulan. Obat ini tergolong jenis narkotika yang biasa digunakan untuk pengobatan pasien depresi dan diberikan sesuai resep dokter. 


Lagi-lagi Agas tak dapat menahan kesedihannya yang tak kunjung hilang. Apalagi rasa rindunya pada gadis yang dicintainya begitu menyiksanya. Baginya terlalu menyakitkan menerima kenyataan jika gadis yang dipacari bertahun-tahun adalah saudaranya. 


Dosis yang semakin tinggi membuatnya akhirnya kecanduan. Beberapa kali Agas dirawat di panti rehabilitasi untuk mengobati kecanduan, tetapi beberapa kali pula setelah keluar dari panti rehabilitasi, kejadian itu terulang. 


Dua tahun Agas keluar masuk panti rehabilitasi. Dan tepat sebulan yang lalu Agas keluar untuk ke sekian kalinya. 


Mamanya yang tak mau melihat Agas terjerembap kembali ke dalam dunia hitam, Akhirnya membawanya untuk tinggal di Solo. Memastikan jika Agas dapat dipantau dengan baik. 


Namun, kesedihan yang Agas rasakan, membuatnya mengurung dirinya di kamar. Hanya bermain game online yang dapat membantunya melupakan masa lalunya sejenak. 


Masalah mulai timbul ketika Agas memilih mengurung diri. Papanya yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Agas, melayangkan protesnya. Meminta Agas untuk mulai menata hidupnya kembali. 


Setiap hari suara perdebatan antara papa dan mamanya selalu terdengar dari kamar Agas, seolah mereka sengaja agar  Agas mendengarnya. 


...🌺🌺🌺...


Suara ponsel berdering, mengganggu Agas yang baru saja memejamkan matanya. Dengan malas, Agas meraih ponselnya. Merasa kesal kenapa ada orang pagi-pagi menghubunginya. 


“Apa kamu tidak punya pekerjaan menghubungi aku pagi-pagi?” Suara Agas terdengar kesal saat mengangkat sambungan telepon. 


“Maaf kalau aku mengganggu tidurmu.”


Suara wanita terdengar dari sambungan telepon dan Agas tahu siapa pemilik suara itu. Elana Nora-dokter psikiater yang bekerja di Rumah sakit-tempat Agas dulu bekerja. Dokter cantik yang kini berusia dua puluh sembilan itu adalah orang yang sering mengunjungi Agas di panti rehabilitasi Surabaya.  Papa dan mamanya yang memang tinggal di Solo, membuat mereka datang hanya seminggu sekali. Namun, Nora-panggilan akrab Elana Nora, datang dua hari sekali atau seminggu dua kali ke panti rehabilitasi. 


“Tidak, ada apa?” Rasa sungkan Agas karena kebaikan Nora, membuatnya menanggapi wanita itu. 


“Aku sedang praktik siang. Jadi sengaja menghubungimu, tetapi sepertinya aku salah waktu.” Nora terdengar tertawa menyadari jika ham tidur Agas berbeda. 


“Sudah tahu salah waktu, tetapi masih dikerjakan,” sindir Agas. 


Nora tertawa. “Apa kamu belum melakukan kegiatan lain?” 


“Belum?”


“Kapan?” 


Agas malas sekali. Sebagai dokter, Nora sering sekali memberikan semangat untuk menjalani aktivitas baru. Namun, Agas tak pernah melakukan apa yang Nora katakan.


“Nanti jika ada kamu.” Agas tahu, itu tak akan terjadi. 


“Sepertinya kamu sengaja mengatakan itu.” 


“Bagus kamu tahu.” 


“Baiklah, lanjutkan tidurmu pagimu sebelum tidurmu akan kembali normal.” 


“Em ....” Agas mematikan sambungan telepon dan melemparkan ponselnya ke sisi tempat tidur. Melanjutkan tidurnya yang terganggu karena sambungan telepon. 


...🌺🌺🌺...


“Aku sedang makan.” Agas mengabaikan mamanya. Dia sibuk menyuap nasi dengan kuah sayur sop dan kemudian menggigit ayam goreng. Dari kemarin dia makan makanan bersantan, membuatnya begitu semangat, ketika makanan sayur sop yang segar.


Aina tak pantang saat anaknya menghindar. 


“Kalau kamu mau, kamu bisa main ke toko, Gas. Bantu mama di toko.” 


Agas masih menikmati makannya dan tak menjawab ucapan mamanya. 


“Kamu dengar ‘kan, Gas.” Aina yang tidak mendapati jawaban mengoyang-goyangkan tubuh Agas. 


“Iya, Ma. Nanti kalau Agas tidak malas.” 


“Jangan malas. Semangat.” Aina tersenyum memberikan dukungannya. 


Agas malas sekali. Jawabannya sebenarnya hanya untuk menenangkan mamanya saja. Karena sejauh ini dia tak berselera keluar dari rumah. 


Usai makan, Aina kembali ke toko, sedangkan Agas kembali ke kamarnya. Berniat untuk melanjutkan tidurnya. Ponsel Agas kembali berdering. Mengambil ponselnya dia melihat siapa yang menghubunginya. 


“Kamu sudah bangun?” tanya orang di seberang sana dengan nada penuh siaran. 


“Ini jam makan siang,” jawab Agas malas. 


“Iya, kamu perlu makan, jadi kamu bangun.” Huntara atau sering dipanggil Tara oleh teman-temannya, sedangkan Agas punya panggilan khususnya adalah Hutan. Dia teman kuliah Agas sewaktu di Malang. 


“Terserah padamu,” jawab Agas malas. 


Tara terdengar tertawa. “Apa kamu masih di dalam kamarmu yang pengap itu?” tanyanya. Dia tahu jika Agas selama ini selalu di kamarnya. 


“Ini tempat paling nyaman.” 


“Pergilah keluar, nikmati sinar mentari, udara laut atau dinginnya pegunungan.” 


“Kenapa semua orang sibuk menyuruhku keluar. Apa dengan di dalam kamar dan rumah, aku tidak bisa hidup.” 


“Kambing saja di dalam kandang hidup, tetapi dia ingin merasakan makan rumput langsung.” 


“Kamu menyamakan aku dengan kambing?” protes Agas. 


“Ini perumpamaan, Gas,” elak Tara sambil tertawa. 


“Sama saja.” 


“Kalau kamu menganggap dirimu kambing. Aku bersyukur sekali. Karena akhirnya kamu sadar sekacau apa kamu. Di kamar terus, jarang mandi.” 


“Tapi daging kambing enak.” 


“Tapi kamu tidak enak.”


“Aku ... ach ... apa kamu menghubungi aku hanya untuk membahas kambing?” kesal Agas dengan pembahasan tidak penting ini. 


“Oh ... ya, Mbing, aku baru ingat. Anak-anak akan ke Malang. Apa kamu mau ikut?” 


Malang. Satu tempat yang tak akan Agas ijak lagi. Tempat yang memberikan sejuta kenangan, cinta dan kebahagiaan. Mengingat itu saja Agas tidak kuat. Apalagi harus datang ke sana. 


“Tidak.” 


“Baiklah, aku akan sampaikan pada anak-anak.” 


“Iya.” Agas mematikan sambungan teleponnya. Kemudian merebahkan tubuhnya. Memandangi langit-langit kamarnya. Agas merasakan lebih dalam hatinya. “Masih terasa sakit,” ucapnya seraya memenangi dadanya yang terasa sesak.