My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Double D bab 4



Dearra mengayunkan langkahnya ke salah satu divisi instalasi gizi. Sesuai dengan jurusan yang ambil Dearra-ahli gizi, dia akan bekerja di sana. Tugasnya adalah membantu menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh pasien Rumah sakit. 


Dearra masuk ke salah satu ruangan. Sebelum masuk dia mengetuk pintu terlebih dulu. Suara pria dari dalam ruangan membuat Dearra mendorong perlahan pintu ruangan tersebut. Saat masuk terlihat seorang pria dan wanita yang sedang duduk manis di sana. Tampak pria itu memakai baju biru seperti para suster yang ada di Rumah sakit tersebut. Dearra yakin jika dia adalah supervisor di divisinya. Yang merupakan atasannya dan wanita yang duduk di meja kerjanya itu adalah ahli gizi yang bekerja di divisi ini. 


“Pagi.” Dearra menyapa dengan sopan ketika masuk ke ruangan tersebut. 


Pria itu menatap Dearra.  Menerawang siapa gerangan wanita muda di depannya itu. “Kamu anak magang yang akan bekerja di sini?” tanya pria itu memastikan. 


“Iya, Pak.” Dearra mengangguk. 


Pria itu berdiri. Kemudian menghampiri Dearra yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya. “Saya Jerry.” Dia mengulurkan tangannya. 


“Bapak Jerry temannya Tom?” Dearra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mulutnya benar-benar tidak ada remnya sama sekali. Padahal harusnya dia sadar jika yang di depannya adalah atasannya. “Maaf, Pak.” Dearra merasa bersalah sekali ketika asal bicara. 


Jerry tersenyum. “Tidak masalah. Santai saja. Kamu orang sekian yang mengatakan hal itu.” Jerry tertawa. 


Dearra merasa lega ketika yang berada di hadapannya itu tidak sama sekali tersinggung. Jadi paling tidak, dia tidak tersinggung dengan ucapannya. 


“Siapa namamu?” Jerry penasaran dengan wanita muda di depannya itu. 


“Saya Dearra Olin. Biasa dipanggil Olin.” Dearra langsung menerima uluran tangan dari Jerry yang sedari tadi mengarah padanya. 


“Oke, Olin, selamat bergabung di divisi ini.” Jerry tersenyum. 


Seorang wanita pun menghampiri Dearra. “Aku Lita.” Dia mengulurkan tangan pada Dea.


“Aku Olin.” Dearra menerima uluran tangan tersebut. 


“Selamat datang di instalasi gizi.” Lita menyambut ramah Dearrar. 


“Semoga kamu betah.” Jerry kembali berbicara. “Itu adalah meja kerjamu. Silakan bekerja.” Jerry menunjukan meja kerja Dearra yang berada tepat di samping meja Lita. 


“Baik, Pak.” Dearra mengangguk. Kemudian menatap meja kerjanya. Rasanya senang sekali ketika melihat meja kerjanya tersebut. 


“Selamat pagi.” Saat Dearra, Litta, dan Jerry berada dalam ruangan sedang saling berkenalan, tiba-tiba ada seorang wanita masuk ke ruangan. Dia langsung menyapa mereka yang ada di dalam ruangan. 


Dearra memerhatikan dengan saksama. Pakaiannya sama dengan Lita, artinya dia juga pegawai di Rumah sakit ini juga. 


“Ini anak magang baru, Pak Jerry.” Wanita itu menatap Jerry yang berdiri di depan Dearra.


“Iya.” Jerry mengangguk. 


Wanita itu tersenyum. Kemudian menghampiri Dearra. “Hai, aku Merry.” Dia mengulurkan tangan pada Dea. 


“Hai, aku Olin.” Dearra menerima uluran tangan pada Merry. 


“Olin, kamu bisa menanyakan apa saja yang harus dilakukan pada Merry dan Lita. Kamu juga bisa menanyakan juga padaku.” Jerry tersenyum menatap Dearra.


“Baik, Pak.” Dearra mengangguk. 


“Untuk saat ini, kamu bisa bertanya pada Merry lebih dulu. Karena aku harus pulang.” Lita semalam melakukan sip malam. Jadi dia harus segera pulang dan bergantian dengan temannya itu. 


“Baiklah.” Dearra melihat jelas wajah Lita yang begitu lelah. Itu artinya dia mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang. 


Dearra mengangguk dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Merry. Duduk di meja kerjanya yang berada bersebelahan dengan Merry. Merry menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus dilakukan oleh Dearra. Dearra akan mendata pasien yang akan diberikan oleh para suster. Lalu membuat data makanan apa saja yang akan diberikan pada pasien sesuai penyakit yang diderita. 


Kebetulan sekali, pagi ini suster sudah membawa data pasien baru. Dearra yang mendapatkan tugas pun mendata pasien dan membuat daftar makanan yang cocok untuk penyakit yang diderita oleh pasien. 


“Olin, setelah data-data itu siap, kamu cetak. Setelah itu kita akan siapkan makanan untuk pasien tersebut.” 


“Baiklah.” 


Saat selesai mendata pasien pagi ini, mereka segera menyiapkan makanan untuk makan siang pasien. Mereka mengambil makanan untuk pasien sesuai dengan data yang sudah dibuat. Merry memberitahu Dearra untuk teliti. Jangan sampai salah. Karena makanan adalah faktor penting untuk kesembuhan pasien. Beberapa pantangan yang sudah diberikan oleh dokter pun juga harus diperhatikan. Agar pasien mendapatkan makanan sesuai dengan penyakit yang diderita. 


Setelah makanan selesai, supervisor mengecek kembali makanan yang disiapkan. Mencicipi rasa dari makanan tersebut. Saat semua sudah siap. Dearra dan Merry akan mengantarkan makanan tersebut ke para perawat. 


Setengah hari mengerjakan pekerjaannya, membuat Dea bersemangat sekali. Dia merasa jika dia benar-benar nyaman di Rumah sakit tempatnya bekerja. Sampai siang hari, pekerjaan begitu melelahkan sekali. Hingga akhirnya Dearrar dan Merry memilih untuk beristirahat sebentar di kantin khusus karyawan untuk menikmati makan siang bersama. 


Deara melihat kantin yang cukup ramai. Ada para dokter dan suster yang sedang menikmati makan siang. Di sudut kantin, dia melihat sang kakak yang duduk bersama dengan Ghea. Tampak Ghea ingin memanggil Dea, tetapi Raya langsung mencegahnya. Dea tahu apa yang menyebabkan kakaknya itu melakukannya. 


Beberapa minggu yang lalu. 


“Aku akan bekerja di Rumah sakit Maxton.” Dearra memberitahu kakaknya tentang rencananya tersebut. 


Raya menatap lekat wajah adiknya. “Aku sudah bilang, kuliah saja. Kenapa harus cuti dan memilih bekerja?” Dengan berapi-api Raya meluapkan kekesalannya. 


“Aku ingin menikmati bagaimana orang bekerja. Apa salahnya? Lagi pula kampus tidak masalah aku cuti.” Dearra masih teguh dengan pendiriannya jika dia akan tetap bekerja. 


“Terserah padamu.” Raya berbalik hendak masuk ke kamarnya. Dia kesal ketika adiknya tidak mau mendengarkannya sama sekali. Namun, langkah Raya terhenti ketika hendak masuk ke kamar. “Saat bertemu dengan aku di Rumah sakit, anggap saja kamu tidak kenal.” Kekesalan Raya membuatnya untuk mendiamkan sang adik. Dia ingin membuat adiknya tidak betah dan kembali untuk memilih kuliah. 


“Baiklah.” Dearra adalah orang yang keras kepala. Dia tidak takut sama sekali dengan ucapan sang kakaknya. Justru dia akan menerima dengan senang hati. 


Dan di sinilah sekarang Dearra dan Raya berada. Di kantin yang sama. Sayangnya, mereka seolah tidak saling kenal. Namun, bagi Dearra, apa pun yang dilakukan sang kakak, tidak akan mengubah niatnya untuk bekerja. 


“Olin, ayo kita duduk di sana.” Merry menarik tangan Dearra. Mengajaknya untuk bergabung dengan para perawat di sana. 


“Ayo.” Dearra tersenyum. Dia dengan senang hati sekali ikut dengan temannya bergabung dengan yang lain. Lagi pula jika ingin betah bekerja, Dearra harus berkenalan dengan yang lain. 


Raya dan Ghea melihat Dearra yang bergabung dengan para perawat. Tampak sekali jika Dearra begitu bahagia bergabung dengan para perawat. Tentu saja bagi Raya itu adalah hal yang menyebalkan. Padahal dia berharap adiknya tidak akan betah bekerja di Rumah sakit. 


“Kenapa kamu harus seperti itu pada adikmu?” Ghea tidak habis pikir. Kenapa bisa temannya itu sebegitu tega dengan adiknya. 


“Kamu tahu bukan jika aku tidak suka dia bekerja dulu. Harusnya dia selesaikan kuliahnya dan baru bekerja.” Raya benar-benar kesal. 


“Tidak ada masalah ketika orang bekerja di sela-sela kuliahnya. Jadi aku rasa pemikiranmu itu terlalu berlebihan.” Ghea tersenyum. 


“Bagiku itu adalah masalah. Aku tetap ingin dia kuliah dan menyelesaikan tepat waktu. Setelah itu baru dia bekerja. Dia harus punya gelar untuk menjadi pedoman mencari pekerjaan. Terlebih lagi sekarang pencari kerja begitu banyak. Jadi dia harus bersaing. Jika dia kalah bersaing bagaimana dia bisa hidup ke depan? Bagaimana dia berdiri di kakinya sendiri?” 


Ghea menautkan kedua alisnya. “Kamu berlebihan sekali.” Dia tertawa. “Lagi pula, dia punya kakak yang begitu hebat. Lalu apa yang dikhawatirkan?” Ghea tahu Raya berusaha keras untuk keluarganya. Sebagai dokter umum, Raya adalah dokter yang begitu rajin sekali. 


“Kita tidak pernah tahu ke depan akan seperti apa. Karena itu kita harus berusaha untuk berdiri di kaki sendiri tanpa tergantung akan orang lain.” 


Ghea tersenyum. Temannya itu memang terbilang tidak bisa santai. Jadi wajar saja. Lagi pula Dea adalah adik satu-satunya. Jadi wajar saja dia khawatir.