
Shera menarik tangan Al ke taman belakang. Menjauh dari orang-orang yang ada di dalam rumah. Tak mau sampai ada orang yang mendengar pembicaraannya. Apalagi pembicaraan tentang pembatalan pernikahan.
“Kenapa kamu tiba-tiba melamar aku?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Shera adalah itu. Sedari kemarin, dia ingin tahu kenapa pria angkuh di depannya itu seenaknya saja melamarnya. Padahal mereka tidak sama sekali pernah menjalin hubungan.
“Bukannya aku sudah jelaskan jika aku mencintaimu.” Al dengan tenangnya menjawab. Jawabannya belum berubah sama sekali.
“Kita tidak pernah bertemu atau jalan berdua. Bagaimana bisa kamu mencintai aku?” Logika Shera masih tidak bisa menerima alasan Al. Apalagi pertemuan terakhirnya dengan Al tidak meninggalkan kesan apa pun. Di mal waktu itu, dia sibuk bermain permainan dan Al hanya sibuk menonton. Tak ada interaksi lebih saat itu.
“Mungkin cinta pandangan pertama.”
Shera langsung tertawa. “Kamu lucu sekali Tuan Aaron Alexander Maxton! Apa kamu yakin mencintai wanita yang kamu temukan dalam keadaan mabuk dan harus kamu antar pulang?” Shea tahu betul Al terlihat tidak suka kala bertemu dengannya yang mabuk.
Al terdiam. Memang pertemuan mereka pertama kali dengan Shera meninggalkan kesan buruk baginya. Al mengingat pertemuannya dengan Shera.
Kala itu, Al ingin pulang setelah pesta pernikahan sepupunya-El. Tiba di tempat parkir, Al dikejutkan dengan mobil yang terparkir menghalangi mobilnya keluar. Mengedarkan pandangan, Al mencari tukang parkir. Sayangnya, tidak ada tukang parkir di sekitar sana.
“Apa dia tidak bisa membawa mobil dengan benar?” gerutu Al. Menyadari jika Ac mobil menyala, Al mengintip ke dalam mobil.
Tampak seorang gadis berada di dalam mobil dan dalam keadaan tertidur.
Al mengetuk kaca mobil untuk membangunkan gadis yang berada di dalam mobil itu. Sampai akhirnya, gadis itu bangun.
“Ada apa?” tanyanya seraya menurunkan kaca mobil.
“Mobilmu menghalangi mobilku keluar.”
Gadis itu justru memijat pelipisnya. Merasakan kepalanya yang pusing.
“Apa kamu sedang sakit?” tanya Al yang melihat wajah yang terlihat pusing.
“Aku baru saja melakukan penerbangan, jadi kepalaku sedikit pusing.”
“Bergeserlah, aku akan memindahkan mobilmu.” Al mengambil jalan tengah, dari pada harus menunggu kesadaran gadis itu sepenuhnya kembali.
Gadis itu pasrah dan menggeser tubuhnya ke kursi sebelah. Membiarkan Al masuk ke mobil. Al melajukan mobil dan memarkirkan mobilnya ke tempat lain. Ketika Al ingin memberitahu jika mobil sudah terparkir dengan baik, dia mendapati gadis itu tertidur.
“Apa dia tidak takut tidur di dekat pria asing?” gumam Al. Karena tidak mau berlama-lama, dia memilih keluar. Tangannya membuka pintu mobil dan bersiap keluar. Namun, seketika dia menghentikan gerakan tangannya. “Jika aku tinggalkan dia di mobil akan sangat bahaya. Apalagi mobil dalam keadaan tidak dikunci.” Al merasa tidak tega. Akhirnya dia memilih untuk membangunkan wanita itu.
“Hai, Nona, di mana rumahmu, aku akan mengantarkan kamu pulang.” Al menggoyang-goyangkan tubuh gadis yang sedang asyik tertidur itu.
Tak ada jawaban dari gadis itu. Tampak dia sangat pulas tertidur.
Al mengembuskan napasnya. Entah nasib sial apa yang menimpanya harus menghadapi gadis yang tidur di mobil. “Mungkin di dalam tasnya ada ponsel, jadi aku bisa menghubungi keluarganya.” Tak ada pilihan Al membuka tas gadis itu. Bersyukur ada ponsel di dalam tas. Sayangnya, ponselnya dikunci dengan sandi. Jadi mau tak mau, Al tidak bisa menghubungi keluarga gadis di sebelahnya itu.
“Bukankah dia bilang baru saja melakukan pernerbangan, berarti dia punya passport.” Al kembali membuka tas, mengembalikan ponsel dan mencari passport. Kali ini Al jauh lebih beruntung karena dia mendapatkan passport. Paling tidak, dia akan tahu alamat dan nama gadis di sebelahnya.
“Shera Alexandria Wijaya.” Al membaca nama yang tertera di passport. Sejenak Al mengingat nama itu. Sampai akhirnya dia mengetahui siapa dia. “Dia Shera Wijaya yang bekerja sama dengan Daddy Bryan.” Melanjutkan membaca data diri Shera, Al mendapati alamat rumah Shera.
Tak membuang waktu, Al mengantarkan Shera pulang. Sebelum melajukan mobilnya, Al memasangkan sabuk pengaman lebih dulu.
Dengan berhati-hati dia meraih sabuk pengaman. Jarak yang terlalu dekat dengan Shera, membuat Al merasakan aroma mulut Shera.
“Sepertinya dia tidak hanya tidur karena penerbangan, dia juga tertidur karena minum.” Aroma alkohol yang tercium, menjelaskan jika Shera pasti minum minuman beralkohol.
“Setahuku, Mommy tidak menyediakan minuman itu. Dari mana dia dapat.” Dahi Al berkerut dalam. Memikirkan dari mana Shera bisa minum.
“
Persetan dia dapat dari mana. Aku akan segera mengantarkannya.” Al kembali melanjutkan memakaikan sabuk pengaman. Kemudian melajukan mobilnya. Menuju rumah Shera.
“Bukankah, waktu itu kamu sudah jelaskan jika kamu tidak sengaja minum?”
Al mengingat jika Shera pernah menjelaskan saat pertemuan ketiga di mal. Waktu itu dia menyindir Shera yang salah menghitung berapa kali pertemuan mereka.
“Aku tidak mabuk,” elak Shera.
“Hai, Nona. Aku mengantarkan kamu yang tidak sadarkan diri. Bisa-bisanya bilang tidak mabuk.” Al ingat betul malam itu. Dia harus direpotkan dengan mengantar Shera pulang sebelum akhirnya pulang.
Dari penjelasan Shera itulah, dia tahu jika Shera tidak berniat mabuk. Kesan buruk itu pun sirna setelah mendengar penjelasan.
Shera semakin geram. Tidak tahu bagaimana bicara dengan Al dan membujuk untuk membatalkan pertunangan antara mereka.
“Shera dan Al digabung jadi Sheal. Dari nama saja kita sudah tidak cocok. Jadi sebaiknya kita batalkan saja pertunangan ini. Dari pada kita akan sial nanti.” Shera mencoba menjelaskan semuanya. Berharap Al mengerti.
“Tidak ada hubungannya antara nama dengan pertunangan.” Al menatap malas ucapan Shera.
“Ada, coba bayangkan jika kita punya anak, apa kita akan memberi namanya Sheal?” tanya Shera dengan bodohnya. “Astaga, kasihan sekali anak kita.” Shera memegangi kepalanya berpura-pura pusing membayangkan nama yang buruk untuk anaknya.
Al tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Shera.
Seperti mendapatkan angin segara. Shera yang melihat Al merasa senang. Berharap pria itu akan setuju dengan pembatalan pertunangan mereka setelah mendengar ucapannya.
“Bagaimana jika di ganti Sheron-Shera dan Aaron, atau mungkin, Shear-Shera dan Aaron.” Al menatap ke arah Shera. Tubuh Al yang lebih tinggi membuatnya mendudukkan pandangannya sedikit.
Mata Shera yang sipit langsung melebar ketika mendengar jawaban Al yang di luar perkiraannya. Tubuhnya seketika lemas melihat pria dingin bak gunung es itu menjawab nyeleneh.
“Kak, apa kalian sudah selesai bicara?” Retta menghampiri Al dan Shera dan bertanya.
“Iya, kami sudah selesai,” jawab Al. Tangannya langsung meraih tangan Shera dan membawanya ke ruang tamu.
Shera yang masih terpaku karena jawaban Al tadi, hanya bisa pasrah ketika ditarik oleh Al. Tak bisa mengelak lagi karena usahanya menggagalkan pertunangan tidak bisa berjalan dengan lancar.
Di ruang tamu, keluarga sudah menunggu. Mereka semua menunggu sambil saling kenal lebih dekat satu dengan yang lain. Para pria membahas urusan bisnis dan para wanita membahas barang diskon. Mereka menjadi dua kubu dalam segi hal pembahasan obrolan.
“Itu mereka,” ucap Daddy Bryan dan membuat semua orang beralih pada Al dan Shera. Mereka semua menunggu kedatangan dua orang itu dan tak sabar untuk melanjutkan pembicaraan.
Al dan Shera yang kembali ke ruang tamu langsung duduk di tempat semula. Mereka duduk di antara kedua orang tua mereka.
“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” Papa Sean menatap Al dan Shera bergantian. Dia menduga jika anaknya itu pasti merayu Al untuk membatalkan pertunangan. Dia mengingat jika anaknya tidak setuju menikah dengan Al.
“Shera ingin pertunangan dilaksanakan segera, Pak, tetapi saya meminta waktu.” Al menatap Sean yang berada di depannya dan menjelaskan.
Shera membulatkan mata mendengar ucapan Al. Apa dia lupa ingatan mengatakan hal itu? Dia tidak habis pikir dengan jawaban Al yang tidak sebenarnya.
“Wah … sepertinya anak Pak Sean sudah tidak sabar.” Daddy Bryan tertawa menggoda Shera. Kemudian disambut tawa oleh semua orang yang berada di ruang tamu.
Papa Sean membelai rambut putrinya. Tidak menyangka jika anaknya justru menerima dan minta secepatnya pertunangan dilaksanakan. “Kamu harus sabar. Ini harus disiapkan dengan baik.”
Tubuh Shera terasa lemas. Tidak mengerti drama apa yang harus dilakukannya hari ini. Semua serasa mimpi yang tidak diharapkannya sama sekali. Namun, senyum semua orang membuatnya tidak bisa menolak hari ini juga.
“Bagaimana jika kita laksanakan tiga hari lagi saja seperti yang kita bahas tadi?” Papa Sean melempar pertanyaan pada Al dan keluarganya.
“Saya rasa waktu itu sudah cukup untuk bersiap, mengingat hanya lamaran saja.” Daddy Regan berpikir memang tidak akan banyak yang harus dia siapkan mengingat hotel milik mereka siap kapan saja untuk dipakai.
“Baiklah, kita akan acara pertunangan tiga hari dari hari ini.” Papa Sean mengulurkan tangannya papa Daddy Regan. Membuat kesepakatan untuk kelangsungan hubungan dua keluarga.
Semua keluarga saling berjabat tangan. Para wanita saling menautkan pipi meluapkan kebahagiaan yang baru saja mereka dapatkan. Dari sekian orang hanya Shera yang diam saja. Dia masih duduk manis dan tidak beranjak sama sekali. Tubuhnya seolah terpatri di kursi dan tak bisa bergerak. Lemas dan tak berdaya mungkin itu yang dirasakannya.
“Selamat, Sayang.”
Akhirnya, suara Mommy Selly terdengar menghampiri Shera. Wanita paruh baya itu menautkan pipi menyambut calon menantunya. Shera sudah pernah bertemu dengan Mommy Selly jadi sudah mengenal calon mertuanya itu.
“Terima kasih.” Tak ada yang bisa Shera ucapkan lagi. Senyum manis dipaksakannya di wajahnya. Tak tega merusak kebahagiaan yang terjadi.
...🌺🌺🌺...
Setelah acara perkenalan keluarga dan pembahasan lamaran, Shera memilih di kamar. Dia masih tidak bisa menerima keadaan jika dia akan menikah dengan Al.
“Astaga, bagaimana bisa aku menikah Si Gunung es itu?” Shera membenamkan tubuhnya ke dalam bantal. “Jika hanya es batu, aku bisa menyerutnya agar cair, tetapi ini gunung es. Yang ada aku butuh seumur hidupku untuk mencairkannya.” Shera tahu pasti bagaimana sifat Al yang dingin. Sudah bisa dia bayangkan pria seperti Al itu adalah pria yang tidak peka.
“Andai El yang melamarku, dengan senang hati aku menerima.” Perbedaan El dan Al yang mencolok membuat Shera membandingkan dua orang itu.
Shera memikirkan bagaimana mengakhiri pertungannya. Satu hal yang dilakukannya adalah membuat Al setuju dulu. Setelah itu baru dia akan mengatakan pada kedua orang tuanya. Dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti karena itu adalah keputusan bersama.