
Flo menunggu manager Dinda untuk menyerahkan berkas yang berisi foto-foto model di tempatnya. Sepanjang duduk menunggu, Flo melihat beberapa model yang lalu lalang.
Flo mengakui jika model-model itu sangat cantik. Tubuhnya begitu proporsional, hingga membuatnya kecil hati. Membenarkan jika dirinya tidak punya nilai jual untuk menjadi seorang model.
“Rasanya, aku tidak yakin bisa masuk ke sini,” gumamnya. Flo merasa angan-angannya sudah terbang jauh sekali. Hingga sulit untuk meraihnya.
“Dari Zara Management.”
Suara lembut seorang wanita membuat Flo yang sedang melamun tersadar dan langsung mengangguk. Kemudian, mengikuti wanita itu untuk menemui Manager Dinda.
“Permisi,” ucap Flo sopan.
“Silakan masuk.”
Flo melihat seorang wanita cantik terlihat tersenyum manis padanya, menyambut dengan ramah. Flo tersenyum membalas senyuman itu seraya menyerahkan berkas yang dibawanya.
“Apa kamu juga model?” tanya Manager Dinda.
“Iya,” jawab Flo ragu. Baru kali ini ada yang tepat menebak dirinya seorang model. Hal itu membuat Flo merasa senang. Biasanya, Flo jelaskan jika dia seorang model saja orang tidak percaya.
“Sering pemotretan produk apa?” Dinda tahu jika di agensi tempat Flo hanya menerima pemotretan. Belum ada modelnya yang berlenggak-lenggok di atas catwalk.
“Produk perhiasan tangan dan jam tangan. Belakangan ini produk lipstik,” jawab Flo malu-malu.
“Jadi wajah kamu tidak kelihatan?” tanya Dinda tersenyum tipis.
Dinda tersenyum mendengar jawaban polos dari Flo. Sayang sekali mereka tidak melihat berlian, batin Dinda. Dia melihat wajah Flo begitu cantik natural. Jika dibanding model di Kafa, mungkin wajah Flo memang jauh berbeda. Model-model di Kafa terlihat cantik dengan riasan, sedangkan Flo sudah cantik tanpa riasan.
Dinda sedikit membenarkan jika wajah Flo menurut agensinya tidak akan laku jika dijadikan model. Karena yang Dinda tahu, agensi itu memilih model-model sensual dengan wajah-wajah menggoda untuk dijadikan katalog perhiasan toko mas kelas menengah.
“Baiklah, sampaikan pada atasanmu aku sudah menerima foto-foto ini.”
“Baiklah, terima kasih,” ucap Flo menganggukkan kepalanya. Kemudian keluar dari ruangan.
Flo keluar dari ruangan menunggu lift terbuka. Menunggu bersama dengan para model. Para model itu saling bercerita. Membuat Flo mau tidak mau mendengarkan mereka yang asyik bercerita.
“Apa kamu tahu jika Pak Kafa sudah kembali dan akan mengurus perusahaan ini?” tanya seorang model pada temannya.
“Oh … ya? Aku tidak sabar melihat pria tampan itu. Rasanya aku ingin berpose dengannya.”
Kafa? tanya Flo dalam hati ketika mendengar cerita model di sebelahnya. Namanya hampir sama dengan nama perusahaan, Flo pikir jika pasti itu adalah pemilik perusahaan.
“Dia model papan atas, mana mau pose dengan kita.”
“Iya, juga. Aku pikir juga begitu.” Sang model tertawa. “Yang terpenting sekarang dia akan di sini dan kita akan sering melihat dia. Kapan lagi melihat anak dari pemilik perusahaan.” Dua model itu cekikan tertawa membahas atasan mereka.
Flo mendengar dengan saksama jika ternyata Kafa itu benar anak dari pemilik perusahaan sekaligus seorang model.
Tepat saat itu juga, pintu lift terbuka. Terdapat dua pria tampan di dalam lift dan membuat dua model itu menunduk dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift. Flo yang melihat pemandangan itu merasa heran. Karena Flo ingin segera pulang, dia masuk ke dalam lift. Tanpa memedulikan kenapa hal itu terjadi.