My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Al & Shera Bab 6



Di dalam mal, Shera memilih diam. Dia mengekor Al yang terus saja berjalan menuju ke toko perhiasan. Sambil berjalan, Shera terus memikirkan cara untuk membatalkan pertunangan. Pikirannya melayang jauh mencari solusi untuk masalahnya. 


Karena terlalu fokus memikirkan masalahnya, tanpa sadar membuatnya justru menabrak Al yang berhenti secara tiba-tiba. 


“Auuuhhh ….” Dahi Freya menabrak tepat di punggung kekar milik Al. Membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Namun, untungnya tubuhnya bisa langsung seimbang. Jika sampai dia terjatuh, pastinya akan sangat malu sekali. 


“Apa kamu tidak melihat jalanan hingga bisa menabrak?” Pertanyaan tajam itu terlontar begitu saja dari Al. Sebenarnya Shera yang menabaraknya tidak berarti apa-apa. Namun, tetap saja membuatnya terkejut. 


“Kamu saja yang tidak berhenti tiba-tiba.” Shera masih memegangi dahinya yang sakit. Tak mau kalah dan menyalahkan Al. 


“Lagi pula apa yang kamu pikirkan, hingga bisa menabrak aku?” Al juga sama dengan Shera yang tetap merasa tidak bersalah. 


“Apa lagi jika bukan memikirkan bagaimana bisa membatalkan pertunangan denganmu?” Shera menatap dengan malas Al. 


“Jangan mimpi! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Al tersenyum tipis. 


Shera memutar bola matanya malas karena mendengar ucapan Al. Hal itu semakin membuat Shera kesal. 


“Ayo, kita ke toko perhiasan yang itu saja.” Al melangkah menuju toko perhiasan. Meninggalkan Shera yang masih berdiam diri. Tanpa menunggu persetujuan sama sekali dari Shera, dia memilih untuk toko perhiasan yang menurutnya pas.


Walaupun malas, tetap saja Shera menurut. Dengan malas Shera mengekor di belakang Al. Mengikuti ke mana Al pergi. 


Di toko perhiasan, Shera melihat beberapa perhiasan. Semua terlihat begitu cantik. Sedikit mengalihkan pikirannya tentang ingin membatalkan pertunangan. Manik mata Shera menyapu isi etalase. Mencari mana yang dia suka dan cocok dipakainya. Dari satu cincin ke cincin yang lain, matanya mencari keistimewaan dari cincin yang terpajang. Hingga akhirnya dia mendapatkan cincin yang indah di matanya. 


“Aku mau lihat yang ini dan yang ini.” Shera menunjuk dua pilihan cincin. 


Pegawai toko mengambilkan cincin yang ditunjuk oleh Shera dan memberikan pada Shera. 


Seakan terhipnotis dengan cantiknya cincin, Shera mencoba cincin yang dipilihnya. Tangannya yang putih bersih menyatu indah dengan cincin. Kemudian memamerkannya pada Al. 


“Bagus tidak?” tanyanya tersenyum. 


Ini kali pertama Al melihat Shera tersenyum. Selama ini, dia melihat Shera yang selalu menatapnya dengan malas. 


“Bagus,” jawab Al singkat. 


Mencoba cincin satu lagi, Shera pun mencobanya. Cincin kedua pun membuatnya jatuh cinta. Hingga membuatnya bingung memilih yang mana. 


“Ambilah dua-duanya.” Al yang melihat kebingungan Shera, memberikan pilihannya. 


“Apa tidak apa-apa?” tanyanya ragu. 


“Tidak, karena keduanya akan kamu pakai. Satu untuk pertunangan dan yang satu untuk pernikahan.” 


Wajah bahagia Shera seketika memudar. Dia kembali muram karena cincin itu dibeli untuk pertunangan dan pernikahannya. 


“Kamu tidak suka cincinnya?” tanya Al. Tubuh Al yang lebih tinggi dibanding Shera, membuatnya menundukkan pandangannya. 


“Bukan cincinnya.” Shera menekuk bibirnya, kesal. 


“Aku tidak suka pertunangan dan pernikahan ini.” 


Al terkesiap. Namun, sesaat setelahnya Al menyadarkan dirinya. “Kalau itu tidak ada penolakan,” jawab Al tegas. Kemudian beralih menatap penjaga toko. “Saya ambil keduanya sesuai ukuran kami.” 


Shera sudah tidak punya pilihan. Dia memilih untuk mengikuti penjaga toko untuk mengukur jarinya. Memastikan ukurannya akan pas untuknya. Karena Al memesan secara khusus, cincin akan dibuat secepat mungkin dan akan siap esok hari. Karena acara pertunangan masih dua hari lagi, dia tidak mempermasalahkan. 


Kepergian mereka di jam makan siang, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang sekaligus. Mengisi perut sebelum kembali beraktivitas. Sebuah restoran menjadi pilihan mereka untuk mengisi perut.


“Sebenarnya apa yang membuatmu ingin menikahiku?” Pikiran Shera masih diisi dengan pertanyaan itu. Tangan Shera masih mengaduk-aduk makanan, merasa nafsu makannya hilang ketika memikirkan nasibnya.


“Aku sudah bilang bukan, jika aku mencintaimu.” 


“Tapi aku tidak mencintaimu.” 


“Kalau begitu berusahlah mencintai aku.” Al dengan tenangnya menyuap makanan ke dalam mulutnya. Merasa tidak ada beban ketika menyuruh gadis cantik di depannya menyukainya. 


Bagaimana bisa aku mencintai pria dingin sepertimu. Shera sendiri tidak yakin jika dia akan jatuh cinta dengan Al, mengingat Al adalah pria dingin. 


Menyuruh orang untuk mencintai saja, sudah seperti menyuruh bawahannya. Shera bergidik ngeri membayangkan akan seperti apa pernikahannya nanti. 


Tak ada obrolan setelah itu. Mereka justru asyik dengan makanannya. Selesai makan, Al mengantarkan kembali Shera ke kantor sebelum dia sendiri kembali ke kantornya. 


...🌺🌺🌺...


“Mencintai apa? Jika dia suka harusnya dia mengantarku pulang? Bukannya dia tahu aku tidak membawa mobil.” Shera terus menggerutu saat pekerjaannya akhirnya selesai. 


Tadi saat mengantarkan Shera ke kantor, Al mengatakan tidak menjemputnya. Jadi Shera harus pulang sendiri. Al beralasan ada hal yang akan dia urus. Entah kenapa Shera justru kesal saat pulang sendiri. Harusnya hal itu tidak terjadi mengingat Al tadi mengatakan jika ingin menikahinya karena menyukainya. 


“Bagaimana bisa aku percaya jika dia mencintaiku?” Shera masih saja meragukan Al, tetapi tidak bisa mengungkapkan hal itu.  


Dengan kesal, akhirnya Shera memilih pulang. Kali ini, dia harus rela naik taxi mengingat dia tidak membawa mobil. 


Di apartemen Shera langsung membersihkan diri. Tubuhnya yang lelah ingin segera disegarkan. Telepon yang berdering terus sedari tadi membuat Shera yang tengah mandi, akhirnya keluar. Suara ponsel itu berdering berkali-kali dan dia menduga jika pastinya ada hal penting yang ingin disampaikan. 


Namun, dugaannya itu sirna ketika melihat nama ‘gunung es’ yang tertera. Dia tidak yakin jika Al ingin mengatakan hal yang penting. Dengan malas, Shera mengangkat sambungan teleponnya. 


“Aku sedang mandi, jadi hubungi aku nanti,” ucap Shera kemudian mematikan sambungan telepon. Dia melempar ponselnya dan kembali melanjutkan mandinya. 


Kegiatan mandi yang memang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai juga. Shera yang keluar kamar mandi langsung mengambil ponselnya. Dia ingin mengecek apa ada pesan yang masuk, mengingat tadi dia tanpa berbasa-basi langsung mematikan sambungan telepon. 


[Aku di depan apartemenmu.]


Mendapatkan pesan itu, Shera berlari ke pintu apartemennya. Mengecek keberadaan Al. Sebenarnya dia tidak yakin Al masih ada, mengingat cukup lama tadi dia mandi. Saat pintu dibuka, Shera menelan salivanya. Al berdiri di depan pintu apartemennya dengan membawa sesuatu di tangannya.  


“Apa kamu akan membiarkan aku berdiri di sini lebih lama?” tanya Al dengan nada menyindir. 


Shera yang terperangah dengan keberadaan Al, akhirnya tersadar. Karena merasa tidak enak melihat Al yang berdiri lama di depan apartemennya, buru-buru dia melebarkan pintunya. Membiarkan Al untuk masuk.