My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Nora Bab 6



Jalanan kota Solo sedikit padat pagi ini. Beberapa orang mulai beraktivitas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Nora. Pagi ini, dia ke Rumah sakit untuk mengurus kepindahannya ke Rumah sakit tempatnya bekerja. Sebulan yang lalu, ketika Agas keluar dari panti Rehabilitasi, dia memutuskan untuk mengajukan kepindahannya ke Solo. 


Ada banyak hal yang melatari Nora memutuskan hal itu. Pertama karena hatinya tergugah untuk  membantu Agas bangkit, mengingat Agas berkali-kali masuk panti rehabilitasi. 


Sejak seringnya datang ke panti Rehabilitasi, membuat Nora tidak tega dengan pria tampan itu. Dia tak tega jika Agas harus mengulang kejadian dua tahun belakangan ini. 


Tepat jam sebelas, Nora selesai mengurus semuanya. Besok dia akan mulai praktik. Jadwal praktiknya adalah sore hari. 


Sesuai dengan janjinya dengan Aina kemarin, siang ini Nora kembali ke rumah Agas. Rencananya mereka akan makan siang, tetapi kali ini mereka berniat memasak bersama. 


“Tante pikir kamu tidak akan datang.” Aina tersenyum. Sedari tadi dia begitu bersemangat menunggu Nora. 


“Saya sudah berjanji, tidak mungkin mengingkari.” 


“Ayo, masuk.” Aina melebarkan pintu dan mempersilakan Nora masuk. Mereka menuju ke dapur. Di dapur sudah ada Mbok Yah. Mereka bertiga memasak bersama sambil saling menceritakan banyak hal. 


“Jadi kamu di Surabaya sendiri setelah kedua orang tua kamu meninggal?” tanya Aina yang menceritakan jika kedua orang tuanya sudah tidak ada. 


“Iya, saya tinggal di Surabaya dengan nenek dan kakek dari pihak ibu. Jadi sekarang di Solo giliran tinggal di rumah nenek dari pihak ayah.” 


Dari sosok Nora, Aina menyimpulkan jika wanita cantik di depannya itu sangat kuat. Terbukti kedua orang tuanya tidak ada tetapi dia masih memiliki semangat tinggi. 


“Ceritakan padaku bagaimana pertemuan pertamamu dengan Agas.” 


Nora sedikit bingung. Jika mengulang kembali memorinya, tidak ada yang menarik dari pertemuannya. Mereka hanya bertegur sapa ketika bertemu saja. “Pertemuan biasa saja.” 


“Lalu apa kalian sering mengobrol berdua.” Aina mencari celah. Semalam dia sudah memikirkan ingin mendekatkan Agas dengan Nora. Berharap dengan begitu anaknya bisa bangkit. 


“Kami jarang mengobrol.” Nora mengakui jika dia tak terlalu dekat dengan Agas. 


Aina merasa Nora dan Agas tidak terlalu dekat. Namun, dia melihat Nora begitu perhatian dengan Agas. “Apa kamu tahu saat Agas kecanduan?” 


“Saya mulai memerhatikan Agas yang tampak gelisah seminggu sebelum kejadian Agas masuk Rumah sakit. Sebagai dokter, saya melihat dia ada masalah yang berat. Saya sudah mencoba menawari untuk menceritakan kesulitan apa yang terjadi.  Sayangnya Agas tidak mau bercerita hingga akhirnya saya mendapati dia kecanduan obat stimulan.” 


“Iya, Tante juga bingung. Kenapa dia sampai mengonsumsi itu. Karena itu semua karier dan hidupnya hancur.” 


“Jangan bersedih, Tante. Roda kehidupan berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang sedih dan kadang bahagia. Namun, tidak semua orang siap ketika ketika menerima kesedihan. Dan orang-orang di sekitarnyalah yang harus berperan untuk membantunya bangkit dan memberikan semangat.” 


Aina mengerti. Dia adalah orang yang harusnya memberikan semangat untuk anaknya. Bukan justru bersedih dengan apa yang terjadi pada anaknya. 


“Kalau boleh saya ingin membantu Agas bangkit.” Selama dua tahun datang ke panti rehabilitasi dia memang tidak pernah bicara banyak dengan Agas. Selain datang memberikan  makanan, dia hanya bertanya kegiatan Agas di panti. Setiap menyinggung perihal pribadi, Agas memilih menghindar. 


“Terima kasih, Nak Nora. Tante senang sekali ada orang yang peduli dengan Agas.”  


Makanan yang dimasak sudah disajikan di meja makan. Aina meminta Nora untuk membangunkan Agas. Sebenarnya Nora ragu, tetapi dia mencobanya. 


Agas yang mendengar suara ketukan pintu bangun. Merasa sedikit heran, karena biasanya mamanya menambahi dengan teriakan agar Agas bangun. Tak mau pusing memikirkan hal itu, Agas berlalu ke kamar mandi.


Selesai menyegarkan tubuhnya, dia keluar dari kamarnya. Namun, tepat di depan pintu Agas dikejutkan dengan penampakan gadis yang kemarin datang ke rumahnya. Memikirkan untuk apa gadis itu datang lagi.


“Sedang apa kamu di sini?” 


“Membangunkanmu.” 


Agas memutar bola matanya malas. Bukan itu maksud dari pertanyaannya. Dengan malas, Agas melewati Nora, turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama mamanya. 


“Kenapa harus ditunggu, Ra, setelah ketuk pintunya, kamu tinggal saja, nanti dia datang sendiri.” Aina tersenyum. Dia yang dari tadi memerhatikan Nora dari bawah mendapati gadis itu menunggu Agas. 


“Iya, tadi setelah mendengar Agas menjawab saya pikir Agas akan tidur lagi, ternyata dia keluar kamar sudah mandi. Padahal jarak menjawab tadi hanya lima menit.” 


“Itu artinya Agas mandi bebek,” jawab Aina tertawa. 


Agas menatap malas mamanya yang meledeknya. Merasa itu tidak lucu sama sekali. 


Mereka bertiga menikmati makan siang bersama. Sesekali Aina dan Nora saling bercerita dan tertawa. Ada saja yang diceritakan dua orang wanita itu. Hanya Agas saja yang diam saja tak mau bicara. Dia terlalu malas untuk ikut bercerita. 


“Gas, nanti jangan tidur. Antarkan Nora pulang,” ucap Aina ketika selesai makan. 


“Bukannya dia ke sini sendiri?” tanya Agas dengan penuh nada sindiran. 


“Tidak apa-apa, Tante. Saya pulang sendiri saja.” 


“Dengar, dia mau pulang sendiri.” 


“Mama tidak mau tahu, kamu harus mengatarnya pulang.” 


Ucapan mamanya sudah bagai titah untuk Agas tidak bisa dibantah sama sekali. Membuat Agas mendengus kesal. Mau tidak mau kali ini dia harus mengantar Nora pulang. 


Setelah makan siang. Mereka semua keluar dari rumah. Aina harus kembali ke toko, sedangkan Agas keluar untuk mengantarkan Nora pulang. 


“Tante pergi dulu,” ucap Aina yang pergi dijemput pegawai di tokonya.


“Iya, Tante, terima kasih ajakan makan siangnya lagi.” 


“Tidak apa-apa, Tante justru senang,” jawab Aina tersenyum. Aina beralih pada Agas yang masih di depan teras. “Gas, antar sampai rumah.” Aina naik ke motor dan meninggalkan rumah menuju ke toko kue. 


Agas memutar bola matanya malas. Dia tengah hari seperti sekarang dia kesal sekali harus keluar rumah. Matahari yang begitu panas membuatnya tak berselera untuk pergi. Namun, dia tidak punya pilihan. Mamanya sudah mengancamnya. Jadi mau tidak mau dia harus mengantar Nora.