
Berbeda dengan hari biasanya, pagi ini awan mendung menyelimuti kota Solo. Matahari bersembunyi di balik awan, tak menampakkan sinarnya. Seolah tahu jika seorang pria yang alergi panas matahari, tidak betah berlama-lama di bawah sinar matahari.
Agas yang pagi-pagi sudah bangun dan bersiap pergi, membuat semua orang rumah terkejut. Mereka menatap Agas dengan terheran-heran. Apa yang membuat pria yang biasanya tidur di pagi hari itu bangun. Ke mana dia akan pergi pagi-pagi?
Aina dan Raditya tak bertanya ke mana perginya putra mereka. Bagi mereka, Agas keluar adalah keajaiban yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tanpa ada yang tahu ternyata Agas pergi ke rumah Nora. Menjemput gadis itu untuk mengantarkannya pergi membeli beberapa kebutuhannya. Entah apa yang dibutuhkan Agas tidak tahu.
[Cepat keluar]
Satu pesan terkirim dari ponsel Agas. Meminta Nora yang tak kunjung keluar untuk segera keluar.
Dengan wajah cerianya, Nora keluar. Jika matahari pagi ini tak bersinar terang, berbeda dengan wajah Nora yang bersinar. Seolah menggantikan sinar matahari pagi.
“Aku pikir kamu tidak datang.”
Agas memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia tidak mau datang, tetapi dia tidak tega. Apalagi sewaktu di panti rehabilitasi, hanya Nora yang sering menjenguknya.
“Anggap saja ini balasan karena kamu sudah sering menjengukku dulu.”
Nora mengangguk mengerti.
“Ayo cepat!” Agas memberikan helm pada Nora. Meminta gadis cantik itu untuk naik.
Setelah Nora naik, dia menarik tuas gas dan melajukan motornya. “Ke mana kita?” tanyanya ingin tahu. Dia tidak tahu apa yang dicari Nora.
“Pertama aku mau cari peralatan tulis di toko buku.”
Agas menautkan kedua alisnya. Jika ada yang pertama, pasti ada yang kedua, ketiga, keempat dan selanjutnya. Dia sedikit menyesali keputusannya mengantar Nora. Karena ternyata ada beberapa daftar yang sudah disiapkan oleh Nora.
Melajukan motornya, Agas membawa Nora ke toko besar. Di sana sangat lengkap. Biasanya papanya akan beli ke sana untuk keperluan kantornya.
Melihat toko yang besar membuat Nora bingung. Di depan toko tertulis ‘grosir’ yang artinya semua yang dibeli harus dengan jumlah yang banyak. Namun, sayangnya Nora tidak membeli dalam jumlah banyak.
“Gas, aku dokter, bukan tukang fotokopi atau toko buku eceran,” protes Nora, “kenapa membawaku ke sini?” tanyanya kesal.
Sejenak Agas memikirkan ucapan gadis cantik yang duduk membonceng motornya. Membenarkan jika tidak pas jika dia membawa Nora ke toko buku grosir. Karena yang dijual di toko buku adalah secara jumlah besar.
“Kita ke toko buku yang di mal saja,” ucap Nora memberikan ide.
Agas melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Mendapati jika waktu sudah menujukan setengah sepuluh. Itu artinya mal sudah buka. Mau tak mau Agas menemani Nora ke toko buku yang terdapat di mal.
Mereka berdua berjalan beriringan. Menyusuri jalanan di dalam mal menuju ke toko buku. Namun, tepat di depan toko buku, langkah Agas terhenti. Ingatannya kembali pada Mara yang suka sekali ke toko buku. Toko buku sudah menjadi satu kenangan indah untuk Agas. Karena di toko bukulah, dia bertemu dengan Mara. Aroma buku yang menyeruak, membuat Agas tak kuasa menahan kerinduannya. Membuat kesedihan tiba-tiba menghampirinya.
“Kenapa berhenti?” tanya Nora.
“Tidak apa-apa. Aku tunggu di luar saja,” ucap Agas.
Dari raut wajah Agas, Nora dapat menangkap kecemasan yang dirasakan Agas. Akhirnya dia memilih untuk masuk ke toko buku sendiri.
Nora membeli beberapa keperluannya untuk bekerja. Sebenarnya tak banyak yang dia perlukannya. Karena sebenarnya semua itu hanya alasannya saja agar membuat Agas keluar dari rumah.
Mendapati beberapa barang yang dicari, Nora buru-buru keluar dari toko buku. Sayangnya, di depan toko buku, tidak tampak Agas. Nora yang tadi tahu kondisi Agas merasa sangat khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Agas.
Nora berusaha untuk menghubungi Agas, tetapi pria itu tidak mengangkat sambungan telepon. Sejenak dia merutuki kesalahannya karena memaksa Agas mengantarnya. Padahal mungkin kondisi mentalnya belum stabil.
“Ra ....”
Dari wajah Agas, Nora mendapati tetesan air di pelipis Agas. Wajah Agas yang basah juga menujukan jika Agas baru saja membasuh wajahnya.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
“Aku ke toilet tadi.”
“Apa kamu tidak apa-apa?” Manik coklat Nora menatap Agas. Memerhatikan keadaan Agas pasca ditinggal ke toko buku.
“Memangnya aku kenapa?” tanya Agas dengan nada menyindir. Mengayunkan langkahnya, dia meninggalkan Nora.
Sebagai dokter, dia tahu jika Agas sedang berusaha untuk menghindar darinya. Tatapan matanya terlihat banyak sekali kegelisahan. Dan Nora tidak bisa menembus kegelisahan apa yang dirasakan Agas.
Agas yang berjalan di depan Nora, mengembuskan napasnya. Tadi saat perasaannya terasa cemas, dia buru-buru ke toilet. Membasuh wajahnya, untuk menyadarkan dirinya jika semua yang terjadi tidak bisa diperbaiki lagi. Terutama Mara yang sekarang menjadi adiknya. Masih terasa sakit bagi Agas, tetapi tak bisa diperbaiki lagi.
“Kenapa masih di sana?” tanya Agas. Dia yang berbalik justru mendapati Nora yang berdiam diri.
“Iya,” jawab Nora. Langkahnya dia ayunkan menghampiri Agas. Mengikuti ke mana langkah Agas tertuju.
Mereka berdua menyusuri jalanan di dalam mal. Melihat-lihat sekitar. Terlalu pagi untuk datang ke mal. Orang-orang yang datang belum terlalu ramai.
Nora yang melihat babershop langsung melihat rambut Agas yang seperti sarang burung. “Ayo, ikut aku,” ajaknya menarik Agas.
Tanpa penolakan Agas mengikuti ke mana Nora mengajaknya. Hingga akhirnya dia menyadari jika Nora membawanya untuk memotong rambutnya. Ingin melayangkan protes. Sayangnya Nora sudah menyuruhnya duduk dan meminta kapper untuk mengunting rambut Agas.
Melihat tampilannya di kaca besar di depannya, Agas merasa memang penampilannya tak karuan. Terlihat rambutnya begitu berantakan.
Pantas Nora bilang sarang burung.
Tak ada penolakan rambut Agas dipangkas. Dirapikan agar terlihat lebih baik. Dari balik cermin, Nora dengan antusias menunggu Agas. Hingga akhirnya rambut Agas selesai dipangkas.
“Lihatlah, kamu terlihat lebih rapi,” ucap Nora memegangi bahu Agas dan melihat dari pantulan cermin.
Sejenak Agas terdiam. Sentuhan Nora di bahunya membuatnya menoleh ke arah tangan Nora.
“Maaf,” ucap Nora menyingkirkan tangannya.
Sebenarnya Agas bukan bermaksud meminta Nora menyingkirkan tangannya. Namun, dia merasakan perasaan tenang ketika tangan Nora berada di bahunya. Seakan menyalurkan energi kebahagiaan.
“Aku akan membayar dulu,” ucap Nora berlalu meninggalkan Agas. Dia merasa tidak enak karena tadi Agas menatap tangannya. Memilih untuk menghindar dari Agas sesaat.
Nora pergi ke kasir untuk membayar. Setelah bertanya berapa, tangannya merogoh tasnya mengambil dompet miliknya. Namun, belum sampai dompet diraihnya Agas menyerahkan kartu debit untuk pembayaran.
Mereka yang selesai melakukan pembayaran keluar dari babershop.
“Sekalipun aku tidak kerja, aku masih punya uang,” ucap Agas ketika baru keluar.
Nora tersenyum. Niatnya membayar bukan untuk merendahkan, tetapi sepertinya Agas menangkap lain. Sebagai pria dia pasti tidak terima dibayari oleh wanita dan Nora memahami hal itu.
“Kalau kamu punya uang, berarti ayo kita makan. Aku lapar,” ucap Nora semangat. Mengayunkan langkahnya berlalu menuju ke restoran yang terdapat di mal. Meninggalkan Agas yang masih terpaku.
Agas mengerutkan dahinya. Niatnya mengantarkan Nora ke toko buku justru berlanjut ke babershop dan kini berlanjut makan.
“Setelah makan, entah dia akan membawaku ke mana lagi,” gumam Agas. Mengekor di belakang Nora, dia mengikuti gadis cantik itu ke salah satu restoran di mal