
“Ayo,” ajak Nora yang berdiri di samping motor Agas. Dia melihat Agas yang masih berdiri di teras tidak beranjak sama sekali.
Agas melihat ke arah matahari. Karena waktu menujukan jam satu, matahari masih terasa panasnya. Tangannya dia arahkan ke bawah sinar matahari. Mengecek sepanas apa matahari siang itu.
Nora dibuat keheranan dengan aksi Agas. Dia sudah seperti hewan malam yang takut pada siang hari.
Saat mendapati matahari yang panas, Agas ragu. Namun, dia sudah janji pada mamanya. Jadi mau tidak mau dia harus mengantar Nora. Mengayunkan langkahnya dia mengambil motornya. Kemudian menghampiri Nora yang berdiri di halaman depan.
“Ini,” ucap Agas memberikan helm.
Nora menerima helm dan memakainya. Saat memakai helm, dia melihat wajah Agas. Mencari sesuatu yang berubah dari wajah pria di hadapannya itu.
“Apa yang kamu lihat?” Agas merasa Nora sangat aneh.
“Coba tunjukan gigimu!” perintah Nora.
Dahi Agas berkerut dalam, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nora. “Kamu pikir kamu dokter gigi!” protes Agas.
“Cepat tunjukan!” Nora tidak memedulikan sama sekali ucapan Agas. Dia terlalu penasaran ingin melihat gigi Agas.
Agas yang tak mau berdebat akhirnya menujukan deretan gigi putihnya yang rapi. “Puas!” ucapnya kesal seraya merapatkan bibirnya.
“Tidak ada taring,” ucap Nora mendapati apa yang dia cari.
“Taring?” Agas dibuat pusing dengan maksud dari wanita yang berada di depannya itu. “Apa maksudnya taring?” tanyanya ingin tahu.
“Karena kamu sedari tadi takut matahari, aku pikir kamu jelmaan vampir. Jadi aku memastikan jika ada taring di gigimu.”
Mata Agas membulat sempurna. Tidak menyangka jika hal itu yang berada di pikiran Nora. “Jika aku vampir, kamu adalah orang pertama yang akan aku hisap darahnya.” Agas kesal sekali dengan Nora yang memiliki pikiran aneh.
Spontan Nora memegangi lehernya. Biasanya vampir mengisap darah di leher dan takut Agas melakukannya padanya.
Ingin rasanya Agas tertawa melihat wajah polos Nora, tetapi bibirnya terlalu kaku untuk sekedar tersenyum. Mungkin karena sudah lama sekali dia tidak melakukan hal itu.
Masih dengan kesalnya. Agas menutup kaca helm yang dipakai Nora. “Cepat naik, sebelum vampir berubah jadi serigala,” ucapnya tajam.
Nora sedikit kaget ketika kaca helmnya ditutup paksa. Matanya pun sempat terpejam karena terkejut. Namun, buru-buru Nora menyadarkan dirinya dan naik ke motor. Mengingat kemarin dia kesulitan untuk naik motor Agas. Kali ini dia memegangi bahu Agas. Tak mau sampai jatuh.
Agas terpaku merasakan tangan Nora di bahunya. Terakhir kali wanita yang memegangi bahunya adalah Mara. Itu pun sudah berlalu empat tahun yang lalu.
“Ayo.”
Suara Nora menyadarkan Agas. Mendapati Nora sudah naik, dia melajukan motornya. Motor. Sepanjang perjalanan Agas teringat dengan Mara. Gadis cantik itu masih bersemayam di relung hatinya. Cintanya pun masih tersimpan rapi di sudut hatinya dan tak akan pernah tergantikan.
“Gas.”
Ketika pikirannya sedang mengingat Mara kembali, suara wanita terdengar membuyarkan pikirannya. Agas pikir akan ada suara lembut Mara yang terdengar. Namun, sepertinya suara lembut kali ini bukan berasal dari Mara melainkan dari Nora.
“Apa?” tanyanya malas.
“Bukannya vampir dan serigala itu bermusuhan. Bagaimana bisa vampir bisa jadi serigala?”
Dari balik spion Agas melihat wajah polos Nora yang bertanya seperti itu. Tadi dia tak serius melontarkan ucapan itu, tetapi tampaknya Nora menanggapi serius. “Kamu pikir sinetron yang menceritanya vampir bermusuhan dengan serigala.”
“Iya dan vampir tidak bisa berubah jadi serigala.”
“Bisa, kalau vampir menikah dengan serigala.”
Nora mengangguk-angguk seolah yang dikatakan Agas adalah serius. Melihat Nora dari pantulan kaca spion sedang mengangguk membuatnya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat. Nora terlalu polos untuk dibohong, pikirnya dalam hati.
Perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah Nora. Nora turun dan menyerahkan helm pada Agas.
“Terima kasih,” ucapnya.
“Sama-sama.” Agas menerima helm dan kemudian melajukan motornya kembali. Terik matahari sudah membuatnya tak kuasa berlama-lama.
Nora yang melihat Agas tersenyum. “Tidak apa-apa aku terlihat bodoh di depannya, yang terpenting itu bisa membuatnya tersenyum.”
Dengan senyum senang, Nora mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Senyuman itu tak suruh ketika dia sampai rumah.
“Nenek,” teriaknya senang mencari neneknya.
“Nenek di dapur.”
Mendengar suara neneknya, Nora langsung berlari menemui neneknya. Dari belakang dia langsung memeluk tubuh neneknya yang sedang mencuci piring.
“Apa berhasil?”
“Iya, aku mendapati senyumannya kembali. Walaupun hanya tipis.” Dengan antusias Nora menceritakan akan hal itu. Merasa sangat senang dengan apa yang dilihatnya tadi.
Rahmi yang melihat cucunya merasa senang. Sejak awal Nora memang sudah menceriakan semua pada neneknya. Hingga neneknya bisa merasakan aura bahagia yang dirasakan oleh Nora.
“Bagus kalau begitu. Berusahalah lebih keras lagi.”
“Tentu saja.” Nora mendaratkan kecupannya di pipi neneknya. Kemudian melepas pelukannya. Tenggorokannya yang kering karena baru saja berjemur di teriknya matahari, membuatnya mengambil minum untuk membasahi tenggorokannya.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Nenek Rahmi.
“Besok aku sudah mulai bekerja. Rencananya aku praktik sore.”
“Baguslah, semangat membuat Agas bangkit, tetapi jangan lupa semangat bekerja juga.”
“Siap. Nek.”
...🌺🌺🌺...
[Malam]
[Apa kamu sudah bangun, Gas]
[Pasti sudah ya, karena ini adalah jam kamu beraksi]
Deretan pesan masuk ke ponsel Agas. Namun, pria yang sedang sibuk main game itu tidak memedulikannya sama sekali. Hanya membaca pesan tanpa dibalas.
[Kenapa tidak dibalas]
[Kamu sudah mulai main game]
Kembali Nora mengirimkan pesannya, karena tidak dibalas oleh Agas.
[Baiklah, kalau kamu tidak balas, besok pagi jam sembilan, aku memintamu untuk mengantarkan aku membeli beberapa alat yang aku perlukan untuk bekerja]
[Sampai bertemu besok]
Mata Agas membulat mendapati pesan yang seolah tidak menanyakan dulu pendapatnya itu.
[Aku tidak mau]
[Sayangnya, aku mau]
[Pergi saja sendiri]
[Aku baru di Solo, jadi aku tidak tahu tempat. Apa kamu tega?]
[Tega]
[Baiklah, aku tunggu jam sembilan di rumah]
“Sudah aku bilang tidak mau, masih saja percaya diri,” gumam Agas setelah membaca pesan singkat Nora.
Melemparkan ponselnya ke tempat tidur dia melanjutkan bermain game. Malas sekali memikirkan Nora. Tangannya kembali bermain game. Namun, terhenti sejenak ketika pikirannya kembali memikirkan Nora yang baru sekali tinggal di Solo. Dia belum banyak tahu tempat jadi pasti sangat kesulitan.
“Sekarang jaman sudah cangih, biarkan saja dia pergi sendiri.” Agas menguatkan hatinya untuk tidak menuruti wanita yang barus saja mengirimi pesan singkat itu. Membiarkan esok dia pergi sendiri.