
Seorang pria keluar dari Bandara setelah mengambil kopernya. Langkahnya diayunkan keluar untuk mencari keluarganya yang katanya akan menjemput. Sayangnya, tidak tampak sama sekali keluarganya di sana. Pria itu membenarkan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Memastikan jika pandangannya tidak salah.
“Sepertinya, Mama benar-benar tidak menjemputku.” Dean melihat ke sekeliling dan mendapati jika tidak ada keluarganya di sana. Senyumnya terbit di sudut bibirnya. Dia pikir mamanya tidak akan menganggap serius ucapannya kemarin, tetapi ternyata dia salah. Sang mama benar-benar menganggap ucapannya serius. Hingga akhirnya tidak menjemputnya. Karena merasa tidak ada keluarga yang datang Dean pun memilih untuk pulang dengan menaiki taksi saja.
Dean menarik kopernya. Berniat untuk mencari taksi yang terdapat di depan Bandara. Di depan Bandara, dia menunggu sejenak taksi yang melintas. Tepat saat sedang menunggu, sebuah mobil berhenti tepat di depan Dean. Dean tahu pasti mobil siapa gerangan itu.
Kaca mobil yang diturunkan membuat Dean melihat seseorang di dalam sana. Benar tebakannya jika itu adalah Al-sepupunya. Pria itu tentu saja menjemputnya.
“Sedang butuh tumpangan?” tanya Al menggoda.
“Tentu saja. Kesempatan pulang dijemput pengusaha muda, kenapa tidak.” Dean tersenyum.
Al membalas senyum itu juga. Kemudian menekan tombol agar sepupunya itu dapat memasukkan koper ke dalam bagasi. Dean segera memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Saat kopernya sudah masuk, dia segera menutup bagasi. Dengan langkah santai, dia masuk ke mobil. Duduk di kursi kemudi yang berada di samping Al.
Al yang melihat sepupunya itu sudah di sampingnya segera melajukan mobilnya. Membawa sang sepupu untuk pulang.
“Mama yang menyuruh Kak Al menjemput?” Dean menoleh pada Al.
“Iya, Mama Lyra ada pasien yang akan melahirkan. Jadi akhirnya dia tidak bisa datang menjemput.” Al menjelaskan pada adiknya itu. Pandangannya tetap lurus ke depan.
Dean tersenyum. Dia sudah biasa seperti ini. Orang tuanya adalah seorang dokter, jadi terkadang ada saja pasien yang mendadak datang dan mengacaukan semuanya rencana yang mereka sudah buat. Namun, itu bukan masalah besar. Karena memang tugas sebagai dokter memang seperti itu.
Mobil sampai di rumah. Dean dan Al turun dari mobil. Rumah tampak sepi sekali. Maklum karena rumah hanya dihuni oleh dua orang. Papa, mama, dan kini Dean.
Dengan membawa koper miliknya, Dean masuk ke rumah. Tepat saat membuka pintu sebuah party popper terdengar. Kertas-kertas kecil berjatuhan tepat di kepala Dean.
“Kejutan.” Suara riang orang di dalam rumah terdengar.
Dean yang sempat menutup matanya karena terkejut dengan party popper tadi, segera membuka matanya. Dia ingin melihat siapa gerangan yang memberikan kejutan tersebut. Ada Papanya, Mommy Shea, Mommy Selly, Mama Chika, Daddy Bryan, Daddy Regan, Papa Felix, Shera, Freya, El, dan keponakannya si kembar Kean-Lean, serta Anka-Rigel.
Dean pikir karena banyak keluarga yang tinggal di London, tidak akan ada kejutan seperti ini. Namun, ternyata dia salah. Keluarganya masih kompak memberikan kejutan.
“Selamat datang, De.” Papa Erix yang pertama kali menyambut Dean. Dia merentangkan tangan dan memeluk Dean.
Dean benar-benar merindukan sang papa. Pria keren yang selalu menjadi panutannya. “Terima kasih, Pa.”
“Dean.” Mommy Selly yang merupakan bibinya langsung bergantian memeluk. “Senangnya akhirnya kamu pulang juga.” Dia benar-benar merasa begitu senang ketika keponakan tercinta datang.
“Iya, Mom, aku akan pulang karena memang ingin segera bekerja.” Dean yang memang sudah menyelesaikan kuliahnya berniat untuk segera bekerja.
“Mommy tidak sabar melihat dokter muda ini beraksi.” Mommy Selly melepaskan pelukannya. Kemudian membelai lembut pipi Dean.
Dean hanya tersenyum saja.
Setelah Mommy Selly, ada Mommy Shea yang memeluk Dean. “Senang melihat kamu kembali.”
“Terima kasih, Mom.”
“Harusnya kamu seret juga Bian untuk pulang.” Mommy Shea merasa sedikit kesal karena anaknya tidak kunjung pulang. Di saat semua sudah pulang, dia masih betah di London.
“Sepertinya Mommy harus kecewa. Karena dia akan menetap di sana.” Dean begitu senang menggoda Mommy Shea.
“Bagaimana bisa dia tinggal di sana?” Mommy Shea menautkan kedua alisnya. Merasa tidak terima dengan ucapan mereka semua.
“Mommy tidak akan biarkan.” Mommy Shea menatap malas pada Dean.
“Kamu ini suka sekali menggoda Mommy.” Daddy Bryan yang melihat istrinya kesal karena ucapan Dean pun menghentikan obrolan tersebut.
Dean hanya tertawa. Dia memang rindu sekali bercanda dengan keluarganya.
“Apa kabar, De?” Daddy Bryan memeluk Dean. Daddy Bryan adalah adik dari Mommy Selly yang merupakan menantu keluarga Maxton. Dari hubungan itulah akhirnya mereka semua dekat. Walaupun terbilang keluarga jauh, tetapi mereka begitu akrab. Sejak kecil Dean juga dekat dengan anak-anak Daddy Bryan, seperti El, Ghea, dan Dean.
“Baik, Dad.”
Semua keluarga menyambut Dean. Susana begitu ramai ketika para anak-anak kecil menyapa uncle tampan kesayangan mereka. Dean pun langsung bermain. Tak melepaskan kesempatan bersama-sama menikmati pertemuan ini.
...***...
Dr. Lyra yang keluar dari ruang persalinan segera bersiap untuk segera pulang. Karena ada pasien, terpaksa dia tidak bisa menyambut anaknya pulang. Tugasnya sebagai dokter memang terkadang membuatnya menomor duakan keluarga. Baginya keselamatan pasien adalah hal utama.
Dr. Lyra mengayunkan langkah dengan terburu-buru. Langkahnya yang begitu cepat membuatnya tanpa sadar menabrak seseorang. Hingga membuat seseorang itu terjatuh.
“Kamu tidak apa-apa?” Dr Lyra segera mengulurkan tangan pada orang tersebut. Saat orang tersebut menoleh, dia mendapati jika itu adalah gadis yang kemarin menolongnya. “Kamu ternyata.” Dr. Lyra tersenyum.
Dearra yang sedang melintas tidak menyangka akan ditabrak tiba-tiba oleh dr. Lyra. Beliau yang tampak terburu-buru membuatnya menabrak tubuhnya hingga membuatnya terjatuh. “Tidak, Dok.” Dearra menerima uluran tangan dari dr. Lyra. Kemudian berangsur bangun dari lantai. “Sepertinya Dokter sedang terburu-buru.” Dea menebak apa yang terjadi pada dr. Lyra.
“Iya, aku harus segera pulang karena segera bertemu anakku yang baru saja pulang.” Dr. Lyra menceritakan hal itu dengan bahagianya. “Kalau begitu aku permisi dulu.” Dr. Lyra menepuk lengan Dea dan segera meninggalkan Rumah sakit.
Dear hanya tersenyum ketika melihat bagaimana antusias seorang ibu ingin bertemu dengan anaknya. Ingin rasanya Dearra merasakan juga. Sayangnya, dia tidak akan pernah merasakan itu karena orang tuanya sudah meninggal.
“Olin.” Merry yang dari kejauhan melihat Dearra segera menghampiri.
“Iya.” Dia membersihkan debu yang menempel di seragamnya. Walaupun lantai tidak kotor, tetap saja secara reflek itu dilakukannya.
“Kamu kenal dr. Lyra?” Merry begitu ingin tahu. Tadi dari kejauhan, dia melihat Dea sedang mengobrol dengan dr. Lyra.
“Em … jadi namanya dr. Lyra.” Dearra baru tahu namanya. Kemarin setelah menolong memang dia tidak tahu nama wanita paruh baya itu.
“Kamu tidak tahu nama orang yang mengobrol denganmu tadi?” Merry merasa heran padahal Dea sudah tampak akrab ketika mengobrol tadi.
“Tidak.” Dearra mengatakan apa adanya.
“Jangan bilang jika kamu tidak tahu jika dr. Lyra adalah istri dari dr. Erix Maxton.” Merry memastikan kembali.
Dearra membulatkan matanya. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. “Jadi jika dr. Lyra adalah istri dr. Erix Maxton artinya dia istri pemilik Rumah sakit ini?” Dearra mencoba memastikan.
“Tentu saja.” Merry pun membenarkan ucapan Dearra. “Sudah ayo cepat, kita harus menyelesaikan pekerjaan kita.” Merry segera melanjutkan langkahnya.
Dearra masih berdiam diri di tempat dia berpijak. Memikirkan sesuatu hal yang sangat penting. “Tadi dia bilang jika dia pulang karena ingin menemui anaknya. Anak dari pemilik Rumah sakit ini adalah Kak Dean. Artinya Kak Dean sudah pulang ke sini?” Mata Dearra berbinar. Dia yang menyimpulkan apa yang baru saja dia ketahui merasa begitu senang sekali. Rasanya membayangkan Dean pulang membuatnya tak sabar untuk segera bertemu dengan pria yang disukainya itu.
“Olin, cepat.” Merry yang melihat Dearra berdiam diri dan tidak segera menyusul-memanggilnya.
Suara Merry yang cempreng itu mengusik bayangan indah yang baru saja melintas di pikiran Deara. “Iya.” Dearra yang begitu senang segera mengayunkan langkahnya menyusul Merry. Melanjutkan kembali pekerjaanya. Tentu saja sambil membayangkan hal indah jika esok dia akan bertemu dengan pria pujaan hatinya itu.