
Sengaja pagi-pagi Shera menghubungi Al. Dia meminta pria dingin itu untuk menjemputnya dan mengantarkan ke kantor. Dengan alasan itu, Shera bisa berbicara. Paling tidak bisa membuat Al membatalkan pernikahan mereka.
“Shera ...,” panggil Mama Stela seraya mengetuk pintu.
Shera masih sibuk di depan kaca. Melihat pantulan wajahnya yang sudah dirias. Karena mamanya sedari tadi mengetuk pintu, Shera buru-buru membuka pintunya.
“Al sudah datang. Dia menunggumu.” Mama Stela begitu antusias menjelaskan ketika putrinya membuka pintu. Wanita paruh baya itu sudah mulai memanggil Al seperti yang dilakukan orang-orang dekatnya.
Melihat mamanya yang begitu senang kedatangan Al, Shera hanya bisa mendengus. Kedatangan Al begitu sangat menjadi hal baik untuk keluaganya itu.
“Cepat, kasihan dia menunggu.” Mama Stela mendorong tubuh Shera. Meminta anak gadisnya itu untuk segera mengambil tasnya.
Shera hanya bisa pasrah. Dia mengambil tasnya dan menuju ruang tamu bersama mamanya. Sesekali dia melirik ke arah mamanya yang begitu semringah. Wajahnya bersinar mengalahkan sinar matahari hari ini.
Di ruang tamu sudah ada Al dan Papa Sean yang duduk manis. Mereka menikmati secangkir teh sambil berbincang. Shera yang melihat Al merasa kesal sekali. Al begitu akrab dengan papanya.
“Maaf Al, Shera lama.”
Manik mata Shera yang tadi menatap Al langsung beralih ke mamanya. Dahinya yang ikut berkerut menandakan jika dia merasa bingung dengan ucapan mamanya.
“Tidak apa-apa, Ma.”
Bola mata indah bak kacang kenari milik Shera langsung membola. Terkejut dengan panggilan yang disematkan Al.
Apa dalam semalam semua bisa berubah? Kenapa dia memanggil mama? Rasanya seperti mimpi ketika semua tiba-tiba berubah. Seolah sudah bisa dihindari lagi.
“Ayo, Shera, kita berangkat. Jalanan akan macet jika menunda.” Al berdiri dan mengajak Shera. Menyadarkan Shera yang masih dengan kebingungannya.
“Papa juga mau berangkat. Takut macet.” Papa Sean yang duduk pun ikut berdiri. Berpamitan dengan istrinya dan anaknya sambil mendaratkan kecupan di dahi dua wanita cantik itu.
“Apa kamu akan pulang ke apartemen?” tanya Papa Sean.
“Iya, aku akan langsung pulang ke apartemen nanti.” Jika bukan karena papanya memintanya pulang ke rumah, Shera tidak akan pulang ke rumahnya. Dia lebih nyaman tinggal sendiri di apartemen dan tak banyak aturan yang mengikatnya. Terlebih lagi pertanyaan mamanya yang menanyakan kapan dia akan punya kekasih.
“Baiklah, hati-hati.” Tangan Papa Sean membelai rambut putrinya. Sejak bekerja putrinya itu memilih untuk tinggal sendiri.
Papa Sean hanya bisa menjaga dari kejauhan. Namun, kini saat ada Al, dia sedikit lega. Paling tidak ada yang membantu menjaga Shera.
Shera mengangguk, kemudian beralih pada mamanya. Bersama-sama papanya yang keluar dari rumah, Shera menuju mobil Al. Ini untuk pertama kalinya Shera berada di dalam mobil.
Mobil Al melaju meninggalkan rumah keluarga Shera. Berada tepat di belakang mobil Papa Sean.
“Apa ini hanya sandiwaramu?” Akhirnya di dalam mobil ada suara juga. Dan suara itu berasal dari Shera.
Al menoleh sejenak pada Shera. Bola mata birunya, menatap lekat wajah gadis cantik berkulit putih yang duduk manis di sampingnya.
“Dengar Aaron ... Al!” Shera yang kesulitan memanggil nama hanya bisa memanggil semua nama Al. Dia masih sangat bingung dengan nama panggilan Al itu.
“Oke, Al. Dengar! Aku tahu kamu tidak mencintaiku dalam artian sesungguhnya. Jadi aku mohon hentikan drama ini.” Shera memiringkan tubuhnya menghadap Al. Membuatnya bisa menjangkau wajah pria tampan di sampingnya itu.
“Ini bukan drama. Tiga hari lagi kita akan bertunangan. Jadi terimalah kenyataan.”
Rasanya Shera ingin menjambak rambut klimis pria di sampingnya itu. Pria dingin itu benar-benar mengabaikan ucapan Shera.
“Sebuah hubungan dilandasi dengan dua orang yang saling mencintai. Jadi tidak bisa dipaksakan untuk berhubungan jika tidak cinta.” Shera mulai melancarkan aksinya. Berharap Al luluh dan melepaskannya.
Al menginjak rem, membuat tubuh Shera sedikit tertarik ke depan.
“Kamu benar jika sebuah hubungan harus bisa dijalani ketika dua orang saling mencintai. Namun, untuk kita. Biarkan aku saja yang mencintai.”
Mungkin jika wanita pada umumnya, akan meleleh mendengar ucapan Al. Sayangnya, tidak untuk Shera. Dia justru merinding mendengar Al yang puitis.
Bola mata biru milik Al menatap dengan dalam ke manik mata Shera. Membuat gadis cantik yang tadinya bersungut-sungut itu merasa salah tingkah.
“Terserah padamu saja!” Shera menegaskan tubuhnya. Kembali duduk menghadap ke jalanan yang ada di depan. Menghindari Al yang menatapnya begitu dalam. Niatnya untuk bicara banyak buyar ketika mata indah milik Al menatap lekat.
Al tersenyum tipis. Akhirnya, dia bisa membungkam mulut Shera. Membuat gadis itu tak bicara lagi. Dengan segera, Al langsung mengantarkan Shera ke kantor.
“Nanti aku akan menjemputmu sebelum makan siang. Sekalian kita akan keluar untuk mencari cincin pertunangan.” Saat Shera sedang membuka sabuk pengamannya, Al menjelaskan hal itu sebelum calon istrinya itu kabur.
Shera terlalu malas menanggapi Al. Dia memilih mengabaikan dan langsung keluar dari mobil. Masuk ke kantornya tanpa menoleh kembali pada Al.
...🌺🌺🌺...
Seharian tadi Shera tidak fokus bekerja. Pikirannya melayang memikirkan cara untuk membujuk Al membatalkan acara pertunangan. Semua yang terjadi ini benar-benar tidak sesuai dengan keinginannya. Impiannya adalah menikah dengan seorang pria yang dicintainy, sedangkan dengan Al, tidak ada cinta sama sekali.
“Aku harus pakai cara apa?” Shera mengaruk kepalanya. Pusing karena terus memikirkan hal tidak berguna.
“Apa aku bilang aku sudah punya kekasih?” Satu cara dipikirkan Shera. Namun, sesaat kemudian dia memikirkan kebodohannya, karena dia tidak punya kekasih.
“Pria mana yang mau aku jadikan kekasih dalam tiga hari.” Dalam tiga hari mencoba untuk mendapatkan kekasih pastinya akan sangat sulit. Terlebih lagi waktu begitu sedikit.
Suara ponsel Shera seketika mengagetkannya yang sedang asyik memikirkan cara membatalkan pertunangan dan pernikahan. Melihat ke arah ponselnya, dia mendapati kontak nama ‘gunung es’ di ponselnya. Ingin rasanya Shera melempar ponselnya, tetapi sayangnya ponselnya baru saja dia beli. Tak ada pilihan, dia mengangkat sambungan telepon.
“Aku di lobi. Turunlah!”
Shera menajamkan pandangannya ketika mendengar suara Al yang memerintah. Perasaan kesalnya semakin menjadi saat Al memintanya datang ke lobi.
“Tidak mau!” tolak Shera tak kalah tegas.
“Kita harus ke toko perhiasan. Jadi turunlah!”
Shera teringat dengan ajakan Al tadi pagi. Dia pikir itu tidak sungguh-sungguh, tetapi sayangnya semua adalah kenyataan. Ucapan Al yang sudah terdengar seperti perintah tak terbantahkan membuat Shera harus menurutinya. Dengan malas Shera menarik tasnya dan keluar dari ruanganya. Menemui Al yang sudah menunggunya di lobi kantornya.