My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Kehidupan Yang Berat



Tidak ada yang menarik dari hasil foto yang baru saja dilakukan, membuat Flo akhirnya memilih meninggalkan tempat pemotretan. Meraih tasnya dan berjalan keluar.


“Flo, jangan lupa lusa pemotretan lagi,” teriak salah satu orang dari agensinya.


“Iya,” jawab Flo seraya mengayunkan langkahnya terus keluar.


Di luar ruangan Flo sudah disambut dengan terik matahari yang menyengat. Sejenak Flo membayangkan jika bekerja di dalam ruangan itu lebih nikmat, karena ada pendingin ruangan yang akan membuatnya seraya dalam alam mimpi. Namun, saat keluar ruangan, Flo tersadar dari mimpinya. Hidup memang keras. Apalagi di kota besar. Belum lagi ke mana-mana harus menaiki kendaraan umum. Gajinya dari pemotretan tidaklah banyak, jadi dia harus banyak-banyak berhemat.


Flo menuju ke halte bus. Kali ini, dia ingin segera pulang karena sudah tidak ada kegiatan lagi hari ini. Paling tidak, dia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum esok mulai beraktivitas lagi.


Di kos-kosan ukuran tiga kali empat meter dengan kamar mandi di dalam menjadi tempat Flo bernaung. Sudah sebulan lebih dia tinggal di tempat kosnya. Kos yang terdapat di gang sempit didapatnya dari seorang teman yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta. Yang akhirnya menjadi tempat tinggalnya kini.


Flo merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang berukuran single bad. Netranya memandangi langit-langit kamar.


“Jika seperti ini bagaimana aku bisa masuk ke Kafa management,” gumamnya disertai embusan napas berat.


Flo memejamkan netranya. Mengingat bagaimana bisa dia sampai di tempat ini dan menjalani semua kehidupan yang berat ini.


Air mata tak berhenti mengalir di pipi mulus Flo yang baru saja ditinggal pergi selama-lamanya oleh sang kakak. Memeluk makam yang dipenuhi bunga mawar, isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati.


Beberapa tetangga berusaha untuk memintanya berhenti menangis. Mengatakan jika tidak baik menangis di makam. Menghambat jalan menuju ke nirwana. Namun, gadis itu tampak tak memperdulikan sama sekali. Rasa kehilangannya membuatnya terus menangis.


Bagaimana tidak menangis jika kakak satu-satunya yang dia miliki meninggalkannya sendirian. Kini tidak ada lagi tempatnya bersandar lagi. Karena hidupnya tinggal sebatang kara.


“Aku ingin ikut denganmu saja, Kak,” ucap Flo yang masih terus menangis. Wajahnya yang basah membuat beberapa bunga mawar yang menempel di wajahnya, sedikit menutupi wajah cantiknya.


“Sudahlah, Flo,” ucap seorang teman menenangkan Flo. “Ayo, pulang!”


Rasanya Flo masih belum bisa meninggalkan kakaknya, tetapi tidak mungkin dia berada di makam, mengingat malam sudah mulai menyapa. Dengan berat hati, akhirnya Flo memutuskan untuk pulang.


Di rumah peninggalan orang tuanya, Flo meratapi kesedihannya. Beruntung tetangga sekaligus temannya mau menemaninya. Karena kini rumahnya sepi. Setahun ini, sang kakaklah yang menempati rumah peninggalan orang tuanya. Kakaknya yang dulu bekerja di Kafa Management memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke kampung halamannya-di Solo.


Flo yang memang kuliah di salah satu universitas di Malang, tidak tinggal dengan kakaknya. Jadi selama setahun ini dia tidak tahu keadaan sang kakak. Selama ini, dia melihat kakaknya baik-baik saja, saat melakukan sambungan video. Kakaknya tampak semringah dan bahagia. Menceritakan jika dia senang sekali di rumah.


Namun, siapa sangka jika ternyata kakaknya menyimpan luka yang Flo tidak tahu. Hingga akhirnya sang kakak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur.


“Selama ini Kak Devika tidak pernah keluar rumah. Dia selalu di dalam rumah. Hanya keluar saat mencari makan saja.”


Cerita dari temannya itu membuat Flo yakin jika terjadi sesuatu dengan kakaknya. Sang kakak hanya meninggalkan sepucuk surat yang tertulis jika dia sangat merindukan Flo. Meminta maaf karena telah memilih jalan berdosa yaitu bunuh diri. Dalam surat tidak dijelaskan kenapa semua terjadi. Membuat Flo bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kakaknya.


Flo membuka matanya. Ingatan tentang kematian sang kakak memang menyisakan luka. Namun, tekadnya hanya satu, mencari tahu bagaimana kakaknya bisa depresi sampai setahun lebih jarang keluar rumah.


Tempat yang menjadi tujuannya adalah Kafa Management-salah satu agensi model terkenal di Indonesia. Kafa Management sudah menghasilkan beberapa model top yang sudah go internasional, hingga sangat sulit untuk Flo masuk ke sana. Oleh karena itu, Flo sengaja menapaki tangga kesuksesannya dengan melamar menjadi model di sebuah agensi model biasa. Berharap kelak bisa sampai di Kafa Management. Untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kakaknya depresi.