My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Retta & Rylan Bab 2



“Rylan.” Noah-kakak Rylan yang tadi dihubungi adiknya langsung menghampiri sang adik di lobi hotel. Dilihatnya dari kejauhan jika sang adik sedang berbicara dengan calon pengantin wanita. Dia yakin sekali jika adiknya itu sedang menggoda calon pengantin. 


Rylan yang mendapati sang kakak dari kejauhan, memberikan isyarat untuk kakaknya menghampirinya. “Hai, Kak.” Rylan melambaikan tangannya ketika kakaknya menghampirinya. 


“Hai, Retta,” sapa Noah, “maaf aku mengundangnya ke sini.” Noah merasa tidak enak dengan pemilik acara karena mengundang tanpa izin. 


“Tidak apa-apa, Kak.” Retta tersenyum. “Siapa tahu kehadirannya dibutuhkan,” cibir Retta. Sedari tadi dia gemas sekali dengan sikap menggoda Rylan. Pria itu terlihat sekali suka menggoda para wanita. Pria-pria seperti Rylan ini adalah pria yang suka bermain-main dengan wanita. Tidak pernah serius, dan bukan tipe Retta. 


“Iya, siapa tahu aku dibuatnya menggantikan pengantin pria.” Bukan Rylan jika tidak bisa menjawab. Senyumnya merekah di wajahnya. Pria yang fasih berbahasa Indonesia karena seringnya dikelilingi orang Indonesia itu dengan mudahnya menjawab ucapan Retta. 


Ucapan Rylan itu membuat Retta benar-benar gemas. Pria di depannya itu benar-benar menyebalkan. Padahal jelas-jelas pernikahannya di depan mata, masih saja pria itu melayangkan aksinya. 


“Maaf, Retta. Mungkin dia pesawat otaknya sedikit mendapat guncangan akibat turbulen.” Noah menarik tubuh Rylan. Merasa adiknya sudah keterlaluan. Lagi pula sebagai tamu harusnya mereka menghargai pemilik rumah. Tidak menggoda sesuka hati. 


Rylan masih tersenyum melihat wajah Retta yang tampak kesal. Entah kenapa dia suka sekali melihat kekesalan Retta. Tampak mengemaskan sekali.


“Kami permisi dulu,” ucap Noah seraya menarik Rylan. Dia tak mau adiknya membuat masalah di tempat orang. 


“Da ... Retta, sampai jumpa di pelaminan.” Sambil menarik kopernya dan ditarik oleh kakaknya, Rylan masih sempat-sempatnya menggoda Retta. Senyumnya masih mengembang di wajah tampannya. 


Retta semakin kesal sekali melihat aksi Rylan. Jelas-jelas pria itu tahu dirinya akan menikah, tetapi apa yang diucapkannya seolah sedang mendoakan pernikahannya tidak berlangsung dengan baik.


“Apa jadinya aku menikah dengan pria itu. Yang ada aku bisa cepat mati karena tekan darahku yang tinggi.” Retta bergidik ngeri membayangkan hal mengerikan itu. Rylan adalah sesuatu yang tak pernah masuk bayangannya. Mungkin sekalinya masuk dalam bayangannya, adalah bayangan mengerikan. 


Saat memikirkan tentang pernikahan. Tiba-tiba Retta memikirkan tentang calon suaminya. Belum habis rasa kesalnya pada Rylan, Retta semakin kesal ketika mengingat jika calon suaminya belum datang. Retta segera meraih ponselnya yang ditaruhnya di tas kecil yang melingkar di bahunya. Mencoba menghubungi calon suaminya itu. 


Sayangnya, ponsel tidak terhubung sama sekali. Hanya mesin otomatis saja yang menjawab. Menjelaskan jika telepon sedang tidak aktif.


Retta begitu panik. Walaupun tadi pagi calon suaminya itu sudah mengabari jika sedang berangkat ke Bali, tetap saja membuat Retta tak sabar menunggu. 


Retta yang menunggu memilih untuk duduk di sofa yang disediakan di lobi hotel. Matanya terus mengawasi kalau-kalau calon suaminya datang. 


“Sedang apa kamu di sini?” 


Retta yang sedang fokus melihat ke arah pintu masuk dikagetkan dengan suara seseorang. Saat dia menoleh, tampak kakaknya berdiri samping sofa yang didudukinya. 


“Aku menunggu–“


“Dia belum mengabari?” 


“Sudah, dia bilang sudah berangkat ke sini.” Retta mencoba menjelaskan seperti yang calon suaminya katakanya. 


“Ingat Retta, aku tidak mau sampai ada masalah. Kamu yang bersikeras menikah dengan pria itu. Jadi jika sampai terjadi apa-apa kamu harus bertanggung jawab.” Shera bukan tidak setuju. Namun, pertama kali melihat pria itu, dia tidak suka. Entah kenapa dia punya feeling tindak enak. 


“Bisakah Kakak tidak mengatakan seperti itu?” Retta sebal sekali. Bisa-bisanya kakaknya membuatnya takut. Siapa pula yang mau pernikahannya berantakan? Dia pun tidak mau. Apalagi sampai gagal menikah dan mempermalukan keluarganya. “Tenang saja, aku akan pastikan jika dia akan datang. Karena dia adalah pria bertanggung jawab.” 


“Baiklah, kalau kamu bisa memastikan.” Shera memilih untuk segera pergi mencari anak dan suaminya, sedangkan Retta masih cemas menunggu calon suaminya datang.


“Kenapa juga dia belum datang?” Retta benar-benar gemas. Seharusnya waktu seperti ini dipakainya untuk bersantai menunggu hari esok pernikahan. Namun, nyatanya justru dipakai untuk menunggu sang calon suami.  


...🌺🌺🌺...


Rylan menuju ke kamar yang disediakan. Noah benar-benar heran kenapa adiknya itu hobi sekali menggoda Retta. Padahal jelas-jelas jika Retta sudah akan menikah. 


“Apa kamu tidak punya kerajaan menggoda calon istri orang?” Noah benar-benar heran pada adiknya itu. 


“Masih calon istri bukan? Belum istri.” Rylan masih dengan percaya dirinya. Hingga membuat Noah menggeleng heran. “Sebelum dia sah jadi istri orang, masih sah-sah saja didekati.” Rylan dengan entengnya menjawab. 


“Terserah padamu!” Noah malas sekali berdebat dengan adiknya itu. 


“Kecuali jika Kak Cia yang aku goda.” Rylan dengan entengnya menyebut kakak iparnya. 


Hal itu membuat darah Noah mendidik. Bisa-bisanya adiknya membawa istrinya sebagai contoh. Dia pun langsung menatap tajam adiknya itu. 


“Aku hanya memberi contoh. Bukan benar-benar menggodanya.” Rylan mengangkat tangannya. Memberikan isyarat jika dia menyerah. Tak mau memperpanjang pertengkaran dengan kakaknya. 


“Berhentilah bercanda.” Noah memutar bola matanya malas. “Ada waktunya bercanda, ada waktunya tidak.” 


“Baiklah-baiklah.” Rylan tak mau memperpanjang perdebatannya. 


Rylan langsung ikut sang kakak di kamar yang berada di sebelah. Dia ingin bertemu dengan keponakannya. Rasanya tidak melihat keponakannya yang lucu-lucu itu membuatnya begitu merindukan.