My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Double D Bab 1




“Mana cukup uang ini. Harusnya kamu sadar jika biaya hidup mahal. Harga-harga meroket tinggi. Jadi semua pengeluaran juga ikut tinggi!” Suara seorang wanita terdengar begitu keras. Nada suaranya yang berapi-api menjelaskan seberapa kesalnya dirinya.


“Tapi, Bi. Hanya itu yang bisa aku berikan.” Suara seorang wanita menjawab dengan nada suara pelan. “Aku harus mengumpulkan uang juga untuk pernikahanku.”


“Kenapa harus susah payah mengumpulkan uang? Suruh saja calon suamimu itu membiayai semua.” Wanita yang sedari tadi marah-marah pun kembali berbicara. 


“Kami sepakat membiayai bersama, Bi. Jadi itu tanggung jawab kami. Bukan salah satu.” Wanita yang sedari tadi berbicara lembut, sedikit menaikkan nada suaranya.


“Terserah itu urusanmu, tapi Bibi tidak mau jika hanya diberikan uang sebesar itu saja!”


Sesaat setelah pertengkaran itu terdengar, suara pintu yang ditutup dengan kencang terdengar. Suara itu tentu saja mengagetkan siapa pun orang di sekitar situ. 


Begitu juga dengan seorang gadis yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran itu. Dia ikut terkejut ketika mendengar suara pintu yang ditutup dengan kencangnya. Gadis bernama Dearra Olin yang biasa dipanggil Arra oleh keluarganya itu sempat terperanjat ketika mendengar suara itu. Seketika dia mengelus dadanya. Merasa sedih ketika harus mendengar pertengkaran kedua anggota keluarganya.


Yang baru saja bertengkar adalah kakak Dearra-Raya dan sang bibi-Laila. Dari pertengkaran yang diucapkan oleh kakak dan bibinya, Dearra menyimpulkan jika yang menjadi pokok permasalahan adalah uang. Sebenarnya ini bukan sekali ini saja Dearra mendengar pertengkaran itu, tetapi sudah ke sekian kalinya. 


Dearra sadar sang kakak pastinya tidak punya banyak cukup uang untuk diberikan pada sang bibi. Sang kakak yang akan menikah tentu saja sedang mempersiapkan segala kebutuhan pernikahannya. Jadi wajar saja jika dia tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah. Apalagi hanya kakaknya saja yang bekerja. Dearra yang masih kuliah, harus menjadi beban sang kakak juga. Walaupun kuliahnya didapatkannya dengan bea siswa, tetap saja biaya operasional ditanggung sendiri, termasuk ongkos perjalanan ke kampus, buku-buku yang harus dibeli, dan tentu saja tugas-tugas praktiknya. 


Dearra dan Raya adalah seorang yatim piatu. Sejak orang tuanya meninggal saat kecil, dia tinggal dengan sang bibi. Dari kecil, mereka sudah dirawat oleh sang bibi. Dulu sang bibir berharap jika Raya jadi dokter hidup mereka akan terjamin. Sayangnya, Raya hanya dokter umum biasa. Gajiannya cukup untuk mereka hidup, tetapi bukan hidup glamor.


Sayangnya, sejak kakaknya memutuskan menikah, dia harus membagi keuanganya. Rasanya membayangkan beban sang kakak, membuat Dearra merasa sesak sekali. Sungguh dia tidak tega melihat sang kakak seperti ini. Namun, Dearra tidak bisa melakukan apa-apa. 


Embusan napas yang terasa berat mengiringi langkah Dearra masuk ke dalam rumah. Dia memilih berpura-pura tidak tahu seperti biasanya. Karena dengan begitu kakaknya tidak akan merasa sedih. 


“Aku pulang.” Dengan semangat Dearra menyapa orang yang berada di dalam rumah. 


Raya yang melihat adiknya pulang pun segera menghapus air matanya. Berusaha menyembunyikan apa yang baru saja terjadi. 


“Kamu pulang lebih awal?” tanya Raya. 


“Iya, sudah tidak ada kelas. Jadi aku cepat pulang.” Dearra mengayunkan langkahnya ke kamar. “Aku istirahat dulu. Aku lelah sekali.” Dia sadar sang kakak butuh waktu sendiri, jadi tentu saja dia tidak mau mengganggunya sama sekali. 


“Baiklah, istirahatlah dan makanlah setelah itu.” 


Pandangan Dearra tertuju pada langit-langit kamar. Dia memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk keluarganya. 


“Apa yang harus aku lakukan?” Dearra memikirkan apa yang dilakukannya untuk bisa membantu sang kakak. Seolah dia tidak menemukan sama sekali jawaban atas pertanyaannya.


Di saat yang seperti ini, Dearra tahu siapa yang harus dihubunginya. Dengan segera dia bangkit dari posisi tidurnya. Menyandarkan tubuhnya pada headboard tempat tidur. 


Hal yang dilakukannya pertama kali adalah meraih tasnya yang diletakkannya di sebelah. Tangannya bergerak membuka ritsleting dan segera mengambil laptop. Saat laptop dibuka, dia segera mencari laman surel miliknya. 


Hai, Kak Dean. 


Hari ini aku tidak mau menceritakan diriku. Aku ingin menceritakan hal lain. Apa kamu tahu, Kak, jika semua bahan pangan harganya melambung tinggi. Harga cabai naik mengalahkan harga daging. Tentu saja itu membuat para ibu-ibu meronta-ronta. Bagaimana bisa mereka makan tanpa cabai? Tentu saja itu sulit.  Seperti hidup tanpa cinta.


Ha … ha … apa kamu tertawa mendengar ceritaku?


Sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritakan. Aku melihat orang-orang di sekitarku kesulitan, dan aku ingin membantu mereka. Tapi, aku tidak tahu harus apa. Rasanya, aku seperti orang yang tidak berguna. Jika kamu punya saran, tolong balas pesan aku. 


Arra.


Pesan itu dikirim Dearra ke surel milik Dean. Dean adalah teman kakaknya yang pernah Dearra temui di pesta. Dia adalah orang yang membantunya mendapatkan beasiswa dari Maxton Company. Sejak pertama kali melihat Dean, Dearra sudah jatuh hati dengan pria itu. Wajahnya yang begitu menenangkan membuatnya hanyut dalam buaian cinta. 


Obsesi Dearra pada Dean membuatnya memberanikan diri mengirim pesan pada surel milik Dean. Dia melayangkan pertanyaan-pertanyaan tentang perkulihan. Sayangnya, Dean begitu lama membalas pesan tersebut. Karena memang pria itu sibuk. Namun, yang tidak Dearra sangka adalah tumpukan pertanyaannya itu dijawab semua oleh Dean. Dirangkumnya dalam satu pesan dan dikirimnya lewat surel.


Mendapatkan celah itu, akhirnya Dearra sering mengirimi pesan. Menceritakan tentang apa saja yang terjadi di kampusnya. Walaupun, terkadang hanya dibalas singkat, dia merasa senang karena Dean menanggapi pesannya. 


Dearra menyandarkan kepalanya ke headboard tempat tidur. Pandangannya menatap pesan yang baru saja dikirimnya pada Dean. 


“Apa aku harus menikah dengan Kak Dean agar semua masalahku terselesaikan?” Seketika lengkungan indah di sudut bibirnya tertarik ke atas. Dearra menertawakan dirinya yang tiba-tiba memikirkan hal aneh itu. Entah kenapa itu terlintas pertama kali ketika dirinya memikirkan masalahnya. Dia sadar, jika Dean adalah orang kaya dan tentu saja calon dokter hebat. Jadi wajar saja pria itu yang terlintas pertama kali. “Dasar Arra.” Dearra memukul kepalanya sendiri. Menyadari kebodohan yang dia katakan. 


Dearra segera mematikan laptopnya. Kemudian menutupnya dan meletakkan laptopnya di sampingnya. 


Dearra merebahkan tubuhnya perlahan. Sambil memandangi langit-langit kamar, dia memikirkan kembali Dean. “Hanya dia pria yang aku mau. Ada tidaknya masalah, aku tetap mau menikah dengannya.” Bayangan indah itu seketika menghiasi kepala Dearra. Baginya Dean adalah sosok pria idaman. Pria sempurna yang dia ingin gapai. Dia berharap kelak ada cara untuk meraih Dean.  Membuatnya memiliki pria itu seutuhnya.