My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Ghea dan Rowan Bab 2



Ghea tinggal di rumah yang sewakan oleh kakaknya. Rumah tidak terlalu besar karena Ghea merasa takut jika rumah terlalu besar. Dia tinggal bersama dengan temannya-Raya. Sengaja dia mengajak temannya itu untuk tinggal bersamanya, karena agar orang tuanya tenang, karena paling tidak ada teman yang tinggal bersamanya. 


Seharian kemarin Ghea membereskan barang-barangnya. Barang yang cukup banyak, membuatnya cukup kewalahan. Namun, untung ada temanya yang setia menolongnya. Membantu merapikan semuanya. 


Hari ini, Ghea akan mulai bekerja di Klinik tempat yang direkomendasikan Raya. Klinik yang cukup besar yang berada di kawasan elit. 


Ghea bersiap untuk bekerja.  Di depan pantulan cermin, dia melihat wajahnya. Riasan tipis yang disapukan di wajahnya membuat wajahnya lebih cerah. Sebagai dokter, dia memang tidak biasa memakai riasan teba. Sepatu high heel dengan tinggi lima senti terdengar nyaring ketika Ghea berlari menuju ke mobilnya. Sudah terlalu siang untuk berleha-leha lagi. Sehingga dia bergegas ke Kliinik. Ini adalah hari pertamanya bekerja. Jadi tak mau memberikan kesan buruk. 


Jarak rumah dan Klinik memang tidak terlalu jauh, ditempuh dengan mobil hanya memakan waktu lima belas menit. Hal itu membuat Ghea dan Raya sampai dengan cepat. 


Raya adalah dokter gigi di Klinik Edelweis. Ghea beruntung ketika sedang menceritakan jika bosan di rumah, dia mendapat tawaran untuk bergabung di Klinik-tempat Raya bekerja. Kebetulan Klinik membutuhkan dokter lagi. Tanpa pikir panjang Ghea pun menerima. Lagi pula, hanya di luar kota. Tak jauh dari rumahnya. 


Sebelum praktik, Ghea menemui Dr. Luwis-pemilik Klinik Edelweis. Namun, sayangnya Ghea diminta Dr. Luwis untuk ke sekolah KB-TK di komplek dekat dekat rumah yang disewanya. Dokter yang kebetulan bertugas hari ini berhalangan hadir, jadi Ghea diminta untuk menggantikannya. Dia pikir hari pertamanya akan bekerja melayani pasien di ruangan barunya, sayangnya dia justru dapat tugas lain. Bersama dengan Raya, mereka ke sekolah. Kunjungan rutin yang dilakukan Klinik. Mau tidak mau akhirnya Ghea dan Raya pergi ke sekolah. 


Ghea melajukan mobilnya ke sekolah yang dituju. Sekolah TK yang didatangi Ghea dan Raya adalah sekolah KB-TK Internasional. Sudah bisa dipastikan jika yang sekolah adalah anak-anak orang kaya. 


“Hari pertama yang berkesan,” ucap Ghea saat memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. 


“Semoga menjadi hari indahmu.” Raya tersenyum. 


Ghea mengembuskan napasnya. Memberikan semangat dalam dirinya jika hari ini akan menjadi hari indah untuknya. Berharap ini akan menjadi awal mula perjalanan di kota yang jauh dari keluarganya. 


Mereka berdua keluar dari mobil. Mereka melihat anak-anak berlarian ke sana ke mari. Terlihat begitu mengasyikkan. 


Ghea yang melihat hal itu begitu tambah bersemangat. Tidak salah jika hari pertamanya diisi dengan kegiatan kunjungan ke sekolah. Karena semangat anak-anak tersalur padanya. 


Ghea dan Raya menemui kepala sekolah. Berbincang sebentar dengan program yang menjadi kerja sama mereka. Karena Ghea baru, Raya yang lebih banyak mengobrol. Saat selesai berbincang, Kepala sekolah pun langsung mengantarkan mereka ke aula di mana anak-anak sudah dikumpulkan. Semua anak sekolah dikumpulkan. Anak-anak begitu antusias bertemu dengan dokter. Seringnya bertemu dokter mereka sudah banyak yang tidak takuta.


Guru yang biasa dipanggil ‘miss’ oleh anak-anak, menyapa Ghea dan Reya, mempersilakan untuk masuk. 


“Anak-anak, hari ini kita kedatangan dokter, ayo sapa dulu,” ucap Miss memberitahu anak-anak didiknya. “Hello, Dokter,” ucapnya mengajari anak-anak.


“Hello, Dokter,” sapa anak-anak dengan semangat. 


“Hello, Mommy.” Di tengah-tengah panggilan dokter, ada seorang anak perempuan yang memanggil berbeda. 


Ghea yang melihat hal itu, tersenyum. Memaklumi jika itu hanya ulah anak-anak saja. 


“Kenapa kamu panggil mommy?” Seorang teman di sebelah gadis cilik itu bertanya. Penasaran dengan apa yang dikatakan oleh temannya. 


“Karena memang itu, mommy aku,” ucapnya seraya menunjuk Ghea. 


“Hello, anak-anak yang cantik dan tampan.” Ghea membalas sapaan dengan lembut. “Hari ini dokter akan mengajak kalian semua bermain. Coba siapa yang tadi pagi sudah mandi?” Ghea sengaja melempar pertanyaan simple. 


“Saya.” 


“Saya.” 


“Saya.” 


Anak-anak begitu ramai menjawab. Tak lupa mereka mengangkat tangan. Mereka begitu sangat antusias mendapatkan pertanyaan dar dokter. 


“Coba Dokter tanya, berapa kali kalian mandi?” 


“Dua.” Serempak mereka menjawab. 


Ghea melanjutkan dengan memberi pengarahan tentang pentingnya membersihkan diri. Berlanjut, Raya menjelaskan pentingnya menggosok gigi. Anak-anak mendengarkan dengan saksama setiap apa yang dijelaskan Ghea dan Raya. 


Ghea terus saja memerhatikan gadis kecil yang memanggilnya mommy. Gadis kecil itu begitu cantik. Rambutnya lurus panjang, dengan poni di dahinya. Membuat penampilan gadis cilik itu menarik. Sebagai orang dewasa, Ghea senang memandanginya. 


Saat anak perempuan itu melambaikan tangan, Ghea pun membalas lambaian tangan. Melihat anak itu, Ghea seperti tidak asing. Namun, mengingat jika ini pertama kalinya dia datang ke kota ini, tidak mungkin dia mengenalnya. 


Serangkaian acara dilaksanakan. Memberikan edukasi pentingnya membersihkan diri dan gigi, hingga game-game seru. Ghea dapat membuat anak-anak begitu nyaman dalam acara, hingga membuat acara begitu meriah. 


Usai acara Ghea dan Raya kembali ke Klinik. Tugas mereka sudah selesai, tinggal membuat laporan pada Dr. Luwis jika kunjungan hari ini berjalan dengan lancar. 


Ghea melajukan mobil menuju ke Klinik. Dia begitu senang ketika hari pertama bekerja dibuka dengan keseruan seperti sekarang. 


“Aku benar-benar senang karena hari pertamaku memberikan momen indah.” Ghea terus saja meluapkan kebahagiaan. Kata orang jika hari pertama disambut dengan hal baik, maka selanjutnya akan baik-baik saja. Dia berharap itu benar-benar terjadi padanya. 


“Iya, aku juga ikut senang jika kamu senang.” 


Mobil sampai di Klinik. Raya turun lebih dulu, sedangkan Ghea masih mematikan mobilnya. Namun, saat hendak turun, Ghea melihat dari pantulan kaca di atas dashboard. seorang anak kecil bangkit dari bawah kursi. Dia tahu betul siapa anak itu. Anak itu adalah anak yang memanggilnya ‘mommy’ tadi. 


“Kenapa kamu bisa di sini?” Ghea langsung memutar tubuhnya dan melemparkan pertanyaan. Dia benar-benar terkejut kenapa bisa anak itu ada di dalam mobilnya. Entah kapan anak itu masuk Ghea benar-benar tidak tahu. 


“Aku ingin ikut, Mommy.” 


Ghea pikir anak itu tadi hanya sekadar main-main memanggilnya seperti itu. Namun, sorot matanya yang polos terlihat begitu yakin saat memanggilnya ‘mommy’. Sungguh Ghea tidak tahu, bagaimana bisa anak itu memanggilnya seperti itu, padahal Ghea belum pernah menikah dan punya anak. 


Anak siapa ini?