My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Regan & Selly Bab 10



 


[Besok pagi, aku ada janji dengan klien untuk bermain golf, jadi kamu langsung saja ke butik. Aku akan menyusul nanti] 


Pesan yang dikirim Regan pada Selly membuat Selly mengeram kesal. Namun, dia tak bisa marah. Melobi klien dengan bermain golf bersama, sudah menjadi hal biasa di kalangan pengusaha. Dengan dalil bermain dan mengobrol, mereka menyelipkan tawaran bisnis yang dapat menguntungkan perusahaan.  


[Iya, jangan datang terlambat]  


[Iya, aku akan datang tepat waktu]


Selly memilih untuk pergi ke butik sendiri. Karena nanti dia pulang dengan Regan, sengaja dia meminta Bryan untuk mengantarkannya. Tak mau naik taxi karena lebih nyaman duduk di mobil sendiri. 


“Kak Regan sepertinya tidak benar-benar cinta dengan Kakak.” Bryan menoleh sejenak pada Selly, sebelum kembali lagi fokus pada jalanan yang dilaluinya.  


“Jangan asal bicara!” Selly melirik tajam adiknya. 


“Coba bayangkan saja, sudah dua kali ini dia menghindar untuk datang acara fitting.” 


“Dia sibuk, dan nanti dia akan datang langsung ke butik.” 


“Tapi—“


“Bisakah kamu diam? Aku memintamu mengantar, jadi diamlah layaknya sopir taxi,” jawab Selly malas. Dia membuang muka melihat ke arah luar. Tak mau membahas lagi dengan adiknya. 


“Mana ada sopir taxi ganteng seperti aku,” ucap Bryan seraya melihat wajahnya dari pantulan kaca depan. 


Selly yang mendengar menggeleng heran. 


Apa dia tidak mencintai aku? Pertanyaan itu terlintas dalam hati Selly. 


Tidak masalah bukan jika dia tidak mencintai, karena cintaku saja sudah cukup untuk kami. Selly menyemangati dirinya sendiri. Tak mau sampai perasaannya membuat rencana pernikahannya menjadi berantakan. 


...🌺🌺🌺...


Bola melambung tinggi saat stik golf diayunkan. 


“Kamu memang hebat,” ucap Geraldo Zorion-pemilih Zorion Grup. 


“Terima kasih,” jawab Regan. 


Mereka berdua melanjutkan permainan. Menghampiri bola dan berusaha memasukkan bola ke lubang. 


“Aku senang dengan anakmu sepertimu yang berusaha keras,” ucap Gerald 


“Terima kasih, Pak. Saya masih sangat awam dalam bisnis, jadi perlu banyak belajar.”


Gerald mengangguk. Pengusaha mal yang memiliki beberapa mal di Indonesia itu mengakui jika pria muda di hadapannya begitu sangat bersemangat dalam berbisnis. “Apa rencanamu.” 


“Saya ingin membangun apartemen dengan segala kemudahan.”


“Apa termasuk mal mewah?” tanya Gerald tersenyum. 


“Iya, termasuk itu. Karena saat kemacetan begitu menyusahkan mobilitas mal yang dapat dikunjungi tanpa harus keluar dari lingkungan apartemen menjadi solusi.” 


“Aku sendiri sudah banyak melihat mal dengan apartemen, tetapi aku tidak tertarik dengan konsep itu. Apartemen yang mereka tawarkan hanya menguntungkan mereka pemilik apartemen saja.” 


Regan tersenyum. “Apartemen akan berkonsep alam terbuka. Beberapa zona hijau akan dibangun di sekitar mal. Orang yang akan datang ke mal tidak hanya akan melihat bangunan saja, tetapi mereka bisa melihat pemandangan yang memanjakan mata hingga mereka tak perlu lagi ke luar kota untuk mencari hiburan di penatnya ibu kota.”  


Gerald mengangguk. Konsep yang diberikan Regan tampak menarik. “Baiklah, kamu bisa tawarkan pada putriku. Jika dia menerima tawaranmu, aku tidak akan keberatan bekerja sama denganmu.”


Regan pernah mendengar jika putri dari Gerald memang sudah mulai meneruskan perusahaan orang tuanya. Namun, dia belum tahu dan belum pernah melihat. 


“Baiklah.” Regan mengangguk. 


Mereka berdua melanjutkan permainan dan menyelipkan perbincangan tentang dunia bisnis dan isu-isu yang sedang hangat. Sejenak Regan lupa jika di sudut lain ibu kota seorang gadis menunggunya untuk fitting gaun dan jas yang akan mereka pakai di hari pernikahan. 


...🌺🌺🌺...


Selly terus menghubungi Regan, tetapi pria itu tak mengangkat sambungan telepon. Dadanya mulai terasa sesak saat mengingat Regan yang seolah tak peduli dengan hari penting ini. Menganggap jika pekerjaan lebih dari segalanya. 


Jangan berpikir buruk, Sel. Mungkin saja dia sedang dalam perjalanan. Selly berusaha untuk berpikir positif. 


“Apa belum bisa dihubungi?” tanya Bryan. Tadinya dia ingin segera pulang, tetapi karena Regan belum datang, dia mengurungkan niatnya. 


“Belum.” Wajah ceria saat menunggu Regan perlahan surut. Perasaannya tak keruan, menahan sesak di hatinya. 


“Sebaiknya, Kakak memilih gaun dulu. Nanti jika Kak Regan datang tinggal tanya pendapatnya.” Walaupun sering sekali bertengkar, tetapi tetap saja Bryan tak tega dengan-kakaknya. 


Selly mengembuskan napas kasar. Baginya terasa sulit untuk menerima kenyataan jika ternyata Regan tidak kunjung datang, tetapi dia tak mau merusak rencana pernikahannya. 


“Baiklah. Aku akan memilih dulu gaunnya.” Selly menyelipkan senyumannya sedikit. Berusaha kuat dan melanjutkan kegiatan bersiap.  


...🌺🌺🌺...


Di sudut restoran seorang pria dan wanita sedang menikmati secangkir kopi dengan menyelipkan sedikit obrolan. Namun, obrolan ini bukanlah obrolan tentang cinta melainkan tentang bisnis. 


Tadi seusai bermain golf, Gerald menghubungi anaknya untuk datang dan menemui Regan. Membuat Regan tak bisa menolak ketika Gerald meminta Regan untuk  berbicara pada anaknya dan menawarkan sendiri kerja sama.


“Cla, kenalkan ini teman bisnis Papa.” Gerald mengenalkan Regan pada anaknya. 


“Hai, Aku Clarisa Zorion-panggil saja Cla.” 


“Regan Maxton.” Regan mengulurkan tangan.  


“Sebaiknya kalian pergilah untuk membahas bisnis,” ucap  Gerald. 


“Ide bagus, karena besok aku akan pergi,” jawab Clarisa. 


Tadinya Regan ingin menolak, tetapi memikirkan jika kesempatan tak datang kedua kali, akhirnya dia menerima. Dan di sinilah sekarang dia berada mengobrol dengan Clarisa. 


“Aku suka dengan konsep yang kamu tawarkan. Aku tertarik bekerja sama denganmu.” 


“Aku akan mengirim kontrak kerja sama jika kamu memang setuju.” 


“Baiklah, setelah aku dari luar negeri aku akan kabari.” Clarisa tersenyum. Dia tidak hanya tertarik dengan kerja sama dengan perusahaan Regan, tetapi dengan pria yang ada di depannya itu juga. Kegigihan Regan begitu sangat mengagumkan. Sebagai anak pemilik perusahaan, dia mau bekerja dari bawah. 


“Baiklah.” Saat merasa pekerjaannya sudah selesai, Regan melihat jam tangan dengan rantai metalik di pergelangan tangannya. Alangkah terkejutnya saat menyadari  sudah sekitar satu jam di restoran. 


“Sepertinya kamu ada janji?” tanya Clarisa. 


“Iya, sepertinya aku minta maaf karena aku harus pergi.” Regan berdiri dan bersiap untuk berpamitan. Mengulurkan tangan pada Clarisa. 


“Baiklah, Re, sampai jumpa lagi.” Clarisa tersenyum seraya menerima uluran tangan. 


Regan mengangguk dan langsung pergi. Sambil menuju ke mobilnya, dia mengecek ponselnya. Regan merutuki kesalahannya karena ternyata Selly menghubunginya berkali-kali. 


Tak mau membuang waktu, Regan langsung pergi ke butik tempat di mana dia membuat janji dengan Selly. 


Mobil terus melaju, membelah kemacetan yang cukup menguras emosi saat sedang terburu-buru. Setelah setengah jam akhirnya Regan sampai. Buru-buru dia masuk ke butik untuk mencari Selly.


Melewati pelayan toko yang  menyapanya, Regan menuju ke lantai atas-tempat di mana koleksi gaun. Namun, sayangnya tidak ada Selly di sana. 


Embusan napas kasar mengiringi penyesalannya karena tidak bisa menemani Selly memesan gaun. 


Regan mencoba menghubungi Selly kembali. Berharap gadis itu masih menunggunya. Namun, sayangnya nomor telepon Selly tidak aktif. Pasrah, Regan turun kembali dan  bersiap untuk pulang. 


“Re ....” 


Suara panggilan membuat Regan yang melangkahkan kaki menuruni anak tangga berhenti. Suara yang berasal dari belakang, membuatnya berbalik lagi. 


“Selly.” Senyuman yang nyaris tak terlihat itu mengiringi panggilan yang keluar dari mulut Regan. Mengayunkan kembali langkahnya menghampiri Selly, Regan merasa lega, karena ternyata Selly menunggunya. 


“Maafkan aku,” ucap Regan. 


Senyum Selly tergambar di wajah cantiknya.  


Tadi selesai memesan gaun, dia memutuskan untuk menunggu Regan. Meminta Bryan untuk pulang lebih dulu. Satu harapannya adalah Regan akan datang walaupun itu terlambat. 


Regan tak menyangka jika calon istrinya akan tersenyum. Padahal jelas dia terlambat datang. “Kamu tidak marah?” 


“Tidak.” 


“Syukurlah, jika kamu tidak marah.”


“Baguslah, dan bersiaplah berhati-hati jika nanti aku akan mencampurkan sianida dalam kopimu.” Selly meluapkan kekesalannya. 


Regan menelan salivanya. Takut sekali karena ternyata amarah Selly masih ada. 


“Bukankah kamu mau merasakan malam pertama? Lalu dengan siapa kamu akan malam pertama jika aku mati?” Hanya cara ini membuat Selly luluh. Walaupun sebenarnya bertolak belakang dengan sikapnya yang diam.


“Aku akan malam pertama lebih dulu dan setelah itu baru membunuhmu.” Selly tersenyum puas. 


“Apa kamu tahu?” tanya Regan mendekatkan tubuhnya berbisik pada Selly. “Justru malam selanjutnya yang akan memberikan kenikmatan, jadi sayang sekali jika kamu hanya melewatkan satu kali saja.” Entah setan apa yang merasuki Regan. Kali ini dia benar-benar tidak mengerti kenapa kalimat itu lolos begitu saja.


“Oh ya ...?” tanya Selly bingung. Dia tidak mengerti akan hal itu.


“Buktikan saja sendiri.”


“Baiklah.”


“Berarti kamu tidak akan meracuni aku?” tanya Regan berbinar.


“Masih, tetapi akan aku tunda dulu,” ucap Selly seraya menarik lengan Regan dan membawanya untuk fitting jas. “Sekarang ayo, cepat pesan jasnya. Agar kita cepat menikah.” 


“Mana bisa begitu? Acara kita tetap akan diadakan dua Minggu lagi. Tak akan berubah karena aku cepat memesan jas.”


“Sudah diam! Kamu sudah banyak salah padaku. Jadi diam dan ikuti aku.” Ucapan Selly bak titah yang tak bisa dibantahkan. 


Regan pasrah karena memang dia mengakui jika hari ini dia sudah membuat kesalahan karena datang terlambat dan membuat Selly menunggu. Tak banyak bicara, dia mengikuti Selly dan mengikut untuk fitting jas yang akan dipakai di hari pernikahan. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Novel ini ada di platfoam lain. Jadi silakan kunjungi instagram Myafa16 ...