My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Ghea & Rowan Bab 10



Enam tahun lalu. 


Hujan begitu deras mengguyur ibu kota siang itu. Sesekali suara petir terdengar. Beberapa hari ini memang kota sedang dilanda hujan deras. Beberapa pohon tumbang pun sering terjadi karena hujan yang disertai angin kacang terjadi.  


Ghea duduk menunggu kekasihnya untuk menjemputnya. Tadi, dia sudah bilang pada Dean jika dia akan pulang dengan Rowan. Jadi temannya itu sudah meninggalkannya sendiri di kampus. 


Kampus Ghea dan Rowan berada dalam satu wilayah, hanya berbeda beberapa blok, karena mereka berbeda jurusan.  Rowan mengambil jurusan bisnis management, sedangkan Ghea mengambil kedokteran. 


Cukup lama Ghea menunggu, tetapi Rowan tak kunjung tiba. Hingga akhirnya dering telepon terdengar. Saat melihat ponselnya, dilihatnya itu adalah Rowan. Dengan segera Ghea mengangkat sambungan telepon. 


“Halo, Sayang.” Hujan deras membuat Ghea harus berteriak. Agar suaranya terdengar oleh Rowan. 


“Ghe, aku mau kita putus.” 


Sekali pun guyuran hujan begitu deras. Ghea jelas mendengar ucapan Rowan. Namun, Ghea masih berpikir positif jika mungkin Rowan tidak sungguh-sungguh.  “Jangan bercanda, Sayang.” 


Rowan hanya membalas dengan Isak tangis. Ghea tahu pasti jika Rowan bukan laki-laki yang cengeng. Jadi tidak mungkin pria itu menangis begitu saja. 


“Carilah pria yang baik yang bisa membahagiakan kamu.” 


“Rowan, apa yang sebenarnya terjadi?” Ghea kini mulai terisak. Sungguh Ghea tidak tahu kenapa kekasihnya tiba-tiba melakukan hal itu. Padahal jelas-jelas mereka tidak punya masalah sama sekali. 


Belum selesai Ghea berbicara, tiba-tiba sambungan telepon terputus. Tepat di saat itu baterai ponsel Ghea habis. Ghea benar-benar kesal saat ponselnya tidak aktif. 


“Kenapa harus mati?” Ghea benar-benar tidak habis pikir. Kenapa ponselnya mati di saat yang tidak pas.


Melihat sekitar, tidak ada orang yang dikenalkannya sama sekali. Jadi tidak mungkin dia meminta tolong orang lain. Ghea yang merasa harus menghubungi Rowan berlari menerobos hujan yang begitu deras. 


Air matanya mengalir di pipinya, bercampur dengan air hujan yang mengalir-membasahi tubuhnya. Ghea berjalan ke jalan raya yang berada di depan kampusnya. Berniat menghentikan taksi dan mengecek rumah Rowan. Sayangnya, tidak ada satu taksi pun yang mau berhenti. Tubuh Ghea yang basah kuyup membuat taksi enggan berhenti. 


Beruntung Raya melintas di jalanan bersama kekasihnya. Raya yang melihat temannya itu langsung berhenti. Dia meminta Ghea untuk masuk ke mobil. 


“Ghea, kenapa kamu hujan-hujan?” Raya begitu khawatir melihat temannya itu. 


“Bisakah kamu antarkan aku ke rumah Rowan?” tanya Ghea. 


Raya begitu terkejut. Namun, melihat wajah Ghea yang baru saja menangis, dia tahu jika sedang terjadi sesuatu dengan temannya itu. Raya melihat ke arah kekasihnya. Mengangguk sebagai isyarat jika mereka akan menemui kekasih Ghea itu.


Setelah Ghea memberitahu di mana rumah Rowan, kekasih Raya melakukan mobilnya. Sepanjang jalan, Raya bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Ghea tidak menjawab. Gadis cantik itu justru terisak. 


Tepat saat mobil sampai di rumah Rowan, Ghea langsung bergegas turun.  Dia seolah mengabaikan apa pun. Termasuk hujan yang begitu turun dengan derasnya.  Tak sedikit pun dia peduli dengan apa yang menerpanya. 


Ghea mengetuk pintu rumah Rowan. Sayangnya, tidak ada jawaban dari dalam. Rumah tampak kosong dan tidak ada penghuninya. Ghea terus mengetuk pintu, sampai tubuhnya terkulai lemas di depan pintu. 


Raya yang melihat hal itu langsung bergegas turun menggunakan payung. Dia bergegas mengajak temannya itu untuk pulang. 


“Aku tidak mau pulang, aku akan menunggu Rowan di sini.” 


“Apa kamu gila mau menunggu di sini dengan keadaan hujan yang begitu deras dan tubuhmu yang basah?” Raya benar-benar kesal dengan apa yang terjadi. “Kita bisa temui dia nanti.” Raya menarik paksa Ghea. 


Ghea hanya bisa pasrah. Masuk ke mobil Raya. Dia langsung mengantarkan temannya itu untuk pulang. Di rumah mereka disambut Mommy Shea yang langsung membawa anaknya ke rumah. Raya yang tak bisa lama-lama pun meminta izin untuk segera pulang. 


Ghea yang melihat ponselnya, langsung mengambilnya. Mencari kabel charge dan langsung mengisi daya ponselnya. Dia menunggu sejenak sampai ponselnya terisi. Saat terisi, dia pun langsung bergegas menghubungi Rowan. 


Sayangnya, nomor kekasihnya itu tak bisa dihubungi. Membuatnya hanya bisa menangis. Dia tidak mengerti kenapa bisa Rowan memutuskan hubungan tanpa memberikan alasan sedikit pun. 


...⭐⭐⭐...


Pagi harinya suhu tubuh Ghea begitu panas. Mommy Shea yang panik pun langsung bergegas memanggil Papa Erix-papa dari Dean


“Dia tidak apa-apa. Demamnya hanya reaksi tubuh saja.” 


“Apa karena kemarin dia hujan-hujan?” Mommy Shea pun menebak hal itu. 


“Kamu pikir anak kamu itu anak kecil yang kehujanan sakit.” Daddy Bryan yang mendengar akan hal itu langsung mencibir. 


“Sebelum dia menikah, bagiku dia anak kecil.” Mommy Shea langsung bereaksi. 


Papa Erix yang mendengar perdebatan hanya bisa tersenyum saja. Dua orang itu tak pernah berubah meski usia mereka berubah. 


Akhirnya, semua meninggalkan Ghea. Karena efek obat, seharian Ghea beristirahat. Kepalanya sedikit pusing pun memilih untuk tidur lagi sampai benar-benar merasa jauh lebih baik. 


...⭐⭐⭐...


Seharian kemarin Ghea tidur. Pagi ini dia sudah kembali beraktivitas lagi. Rencananya pagi ini dia ingin ke rumah Rowan. Dean yang datang pagi-pagi pun langsung mengantarkan temannya itu untuk ke rumah Rowan. 


“Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu harus ke rumah Rowan?” Dean yang diminta Ghea ke rumah Rowan merasa aneh. Terlebih lagi wajah Ghea tampak begitu sedih. 


“Dia memutuskan hubungan denganku?” 


“Maksudnya? Kalian putus?” tanya Dean untuk memastikan. 


“Aku tidak mau putus.” Ghea menangis. Rowan adalah cinta pertamanya. Jadi terlalu sulit untuknya menerima kenyataan jika harus mengakhiri semua kisah cintanya. 


Dean hanya bisa menggeleng. Dia tahu jika Ghea begitu mencintai Rowan. Hingga tak bisa melepaskan pria itu begitu saja. 


Mobil sampai di rumah Rowan. Ghea langsung turun dan segera mengetuk pintu rumah Rowan. Dean yang mengekor di belakang hanya merasa jika temannya itu terlampau berlebihan. Terlebih lagi cintanya yang begitu dalam pada Rowan. 


“Rowan … Rowan ….” Ghea mengetuk pintu terus menerus.


Dean ikut mengintip dari jendela. Sayangnya, jendela yang tertutup membuatnya tidak dapat melihat apa yang ada di dalamnya. “Ghe, dia tidak ada. Lihat rumahnya tampak sepi.” Dean yang merasa rumah sepi, menyimpulkan hal itu. 


Ghea hanya bisa menangis. 


“Ghe, jangan lemah seperti itu. Dunia belum berakhir jika dia meninggalkanmu.” Dean langsung membawa Ghea ke dalam pelukannya. 


Ghea tidak percaya jika pria itu meninggalkan dirinya begitu saja Padahal jelas-jelas Tak ada masalah di antara mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Novel ini ada di aplikasi sebelah. Silakan kunjugi Intagram Myafa16 untuk info....