My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Mara Bab 6



Suara ponsel Mara berbunyi, saat dia menikmati membaca dan bersantai bersandar pada headboard tempat tidur. Meletakkan buku, tangan kanan mengambil ponselnya, sedangkan tangan kirinya membenarkan kaca mata baca yang bertengger di hidungnya. 


Melihat pesan di layar ponselnya, Mara memicingkan matanya. Satu nomor tidak dikenalnya mengiriminya pesan. Pesan berisi sapaan diimbuhi dengan namanya, tetapi hanya nama 'Ay' saja yang disebut. 


[Siapa ini?] Mara membalas pesan yang diterimanya. Hatinya menebak siapa yang mengirimi pesan, tetapi dia ingin memastikan. 


[Ini aku Agas] Satu pesan jawaban masuk ke dalam ponsel Mara. Benar tebakan Mara jika itu adalah Agas, karena hanya Agas memanggilnya 'Ay' karena yang lain memanggilnya Mara.


[Dari mana kamu dapat nomor ponselku?] Mara kembali mengirim pesan pada Agas. 


[Mencarimu itu mudah untukku] Mendapat pesan dari Agas lagi, Mara mendengus kesal. Mengingat kembali sepak terjang Agas yang playboy, dia meyakini akan sangat mudah mendapatkan nomor teleponnya. 


[Mau apa kamu menghubungi aku?] 


[Aku hanya ingin chat saja]


Jawaban dari Agas membuat Mara malas. Dia tidak mau menanggapi lagi pesan dari Agas, karena takut membalas pesan Agas justru membuatnya terjebak dengan pesona Agas. Dia terlalu takut terjebak pada sang playboy kampus. 


Mara melanjutkan kembali membaca novel dan meletakan ponselnya. Mengabaikan pesan yang dikirim oleh Agas. 


Sesaat kemudian ponselnya berdering. Mata Mara yang sedang fokus dengan bukunya, beralih pada ponselnya lagi. Ternyata nomor Agas yang menghubunginya. Nomor yang belum disimpannya itu masih tertera digit angka saja di layar ponselnya dan Mara hafal angka terakhir di nomor ponsel Agas. 


“Kenapa?” tanya Mara sesaat setelah mengangkat sambungan telepon.


“Kenapa pesanku tidak dibalas?” Agas tidak menjawab pertanyaan Mara, justru dia melontarkan pertanyaan pada Mara. 


“Aku sedang sibuk.”


“Sibuk membaca?” tanya Agas.


“Dari mana kamu tahu?”


“Seorang gadis yang hobi menghirup aroma buku pasti selalu mengisi waktu luangnya membaca.” Agas menebak apa yang dilakukan oleh  Mara pada malam hari seperti ini. 


Mara memutar bola matanya malas. Predikat playboy yang disematkan pada Agas memanglah pantas, karena dia begitu mengerti wanita. “Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kamu bicarakan?” Mara tak mau berlama-lama berbicara dengan Agas. 


Agas tertawa. “Aku hanya ingin tahu, kenapa kita tidak pernah bertemu? Padahal kita berada di kampus yang sama dan sudah menempuh pendidikan selama dua tahun.” Pertanyaan itu masih ada di pikiran Agas. Wara-wiri di kampus, dia belum pernah melihat Mara atau mungkin lebih tepatnya tidak memerhatikan adanya Mara.


“Pantas, Ay, aku tidak pernah melihatmu.”


Rasanya Mara geli sekali dipanggil 'Ay' oleh Agas. Serasa dipanggil sayang oleh sang kekasih. 


“Bisakah kamu memanggilku Mara seperti orang-orang panggil?”


“Aku 'kan sudah bilang, agar romantis.”


Mara mengeram kesal. Dia malas jika harus berdebat dengan Agas. Entah magnet apa yang menariknya pada Agas, hingga dia tidak mengakhiri percakapan dengan Agas. Justru Mara mendengarkan Agas yang sedang asyik bercerita. 


Agas menceritakan alasannya menjadi dokter. Dia yang sering jatuh dari sepeda suka sekali mengobati lukanya, hingga dia berpikir, jika aku sakit aku bisa mengobati lukanya nanti jika dia jadi dokter. 


Mara yang mendengar tertawa. Dia mencela alasan Agas yang ingin menjadi dokter. "Saat kamu sakit, kamu akan tetap butuh dokter," ucapnya. 


“Kalau begitu jadilah dokter untukku jika aku sakit nanti.” Di balik telepon Agas tersenyum. Terkadang alasan konyolnya, justru bisa membuatnya punya alasan lain. Seperti sekarang, meminta Mara mengobatinya suatu saat nanti.


“Sekarang aku masih calon dokter, nanti saat aku sudah jadi dokter, aku akan mengobatimu.”


“Janji?”


 


“Aku berjanji, jika kamu sakit, aku akan mengobatimu dan memberikan obat sesuai dosis agar kamu cepat sembuh.” Janji yang tak tahu kelak mereka akan bisa penuhi atau tidak. Hanya Tuhanlah yang tahu takdir akan membawa mereka ke mana. 


Obrolan mereka berlanjut. Mara yang tadinya malas, lambat laun justru menikmati pembicaraan dengan Agas. Agas mampu mengambil situasi hingga membuat Mara nyaman mendengarkan dirinya bercerita.


Mereka berdua saling bertukar tawa. Agas benar-benar mampu membuat wanita nyaman berlama-lama dengannya. Hingga Mara sendiri tidak sadar dua jam dihabiskannya untuk bertukar suara. 


“Malam, Ay.”  Satu kalimat penutup dari Agas mengakhiri pembicaraan mereka.


“Selamat malam.” Mara mematikan sambungan telepon. Sesaat sambungan telepon mati, Mara memegangi dadanya. Ada debaran aneh di hatinya


Lili bilang aku buka selera Agas, jadi aku tidak boleh berbesar kepala saat Agas menghubungi aku. 


Mara meyakinkan dirinya untuk tidak terlalu memasukkan ke dalam hati setiap perkataan Agas. Pria seperti Agas pasti sudah biasa merayu wanita bukan?