My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Nora Bab 4



“Ach ... sial ... aku kalah!” umpat Agas ketika melihat Hero miliknya kalah. 


Karena sedari tadi teriak-teriak, mengoceh dan mengumpat, membuat tenggorokannya kering. Mengambil air di botol, dia justru mendapati botol kosong. Mau tak mau Agas harus keluar dari kamarnya. 


Agas melihat jam dinding di kamarnya dan mendapati jam sebelas malam. Itu berarti semua orang di rumahnya pasti sudah tidur. Memikirkan jika tak ada orang yang masih terjaga, Agas keluar dari kamar. 


Menuruni anak tangga, Agas menuju ke dapur. Namun, baru saja dia menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir, dia berpapasan dengan papanya. Sial bagi Agas bertemu dengan papanya, karena setiap bertemu papanya dadanya bergemuruh. Rasa bencinya pada papanya, membuatnya seolah tak menganggap papanya itu ada. 


Tanpa menyapa, Agas berlalu begitu saja. Melangkahkan kakinya ke dapur, sesuai dengan niat awalnya. 


“Apa begitu caramu bertemu orang tua? Tidak menghormati sama sekali!” tanya Raditya melihat putranya. 


Mendengar ucapan papanya, Agas menghentikan langkahnya. “Tergantung orang tua seperti apa yang harus dihormati,” ucapnya. Kemudian melangkah kembali. 


Raditya merasa kesal, tetapi istrinya selalu berpesan jika dia ikut ambil andil dengan apa yang terjadi pada Agas. Karena tidak mau terjadi pertengkaran Raditya memilih untuk kembali ke kamarnya. 


Agas yang mendengar papanya masuk lagi ke kamar merasa lega. Dia masih belum tahan melihat papanya. Masa lalu papanya adalah sumber masalah yang menjadi awal dari semuanya kesedihannya. 


Setelah mendapati satu botol air minum, Agas kembali ke kamarnya. Melanjutkan kegiatannya bermain game online. Biasanya Agas akan bermain hingga menjelang pagi. Ketika orang-orang mulai bangun, dia akan mulai tidur, begitu sebaliknya. 


...🌺🌺🌺...


Entah kesialan apa yang dialami Agas beberapa hari ini. Setelah kemarin pagi-pagi suara telepon dari Nora mengganggunya. Kali ini suara telepon kembali mengganggu tidurnya pagi ini. Dengan mata yang masih terpejam, Agas mengangkat sambungan telepon. 


“Gas, ke toko sekarang.” 


Mendengar suara dari sambungan telepon, Agas mengeram kesal. Tidak menyangka jika mamanya akan menyuruhnya ke toko kue hari ini juga, setelah kemarin mamanya itu memintanya. 


“Aku mengantuk, Ma,” elak Agas.


 


“Kamu harus ke sini, Gas. Ada temanmu di sini.” 


Mata Agas yang tadinya tertutup rapat langsung terbuka. Merasa heran siapa temannya yang datang. Seingatnya teman SMA-nya tahu di mana rumahnya. Beberapa teman kuliahnya juga tahu di mana rumahnya. Jadi Agas merasa heran siapa yang datang ke toko kue mamanya. 


“Cepat ke sini.” 


Suara mamanya menyadarkan Agas yang sedang kebingungan memikirkan siapa yang datang. “Iya, aku akan datang.” Dia mematikan sambungan telepon dan berlalu untuk mandi. Tidak mau sampai pelanggan toko mamanya kabur, melihatnya.


Dengan menggunakan motor sportnya, Agas menuju ke toko kue yang berada di jalan utama kota Solo. Tak pernah keluar rumah membuat Agas sedikit susah untuk beradaptasi dengan sinar matahari yang mengenai kulitnya. Apalagi Agas pergi tanpa menggunakan jaket sama sekali. Celana pendeknya juga membuat kakinya terkena matahari. 


“Kata orang matahari pagi sehat, yang benar matahari itu panas,” gumamnya dengan bodoh. 


Motor melaju dan berhenti tepat di depan toko. Tak berlama-lama, Agas turun dari motornya. Dari luar Agas melihat-lihat siapa temannya yang datang. Dari tempat duduk yang disediakan di toko kue milik mamanya, dia tidak menemukan temannya. Yang ada di sana hanya seorang pria paruh baya dan seorang wanita yang duduk membelakanginya. 


“Sepertinya mama mengerjai aku,” gumamnya. Dengan langkah kesal, Agas masuk. 


Aina yang melihat Agas di luar, langsung keluar toko. Menghampiri anaknya. Tepat saat Agas hendak masuk dan Aina ingin keluar, mereka bertemu. 


“Kenapa pagi-pagi menggangguku, Ma,” keluh Agas. 


“Pagi, Mbahmu. Ini sudah jam sebelas. Bisa-bisanya bilang pagi!” Aina gemas sekali dengan putranya yang tak tahu waktu itu. 


“Oh ... jam sebelas ternyata.” Agas sedikit memikirkan kenapa tadi matahari panas sekali. Ternyata sudah hampir tengah hari.


“Mama mengerjai aku?” tanyanya kesal. 


“Memangnya Mama kurang kerjaan mengerjai kamu.” 


“Itu ada temanmu mencari.” Aina menunjuk ke arah wanita yang tadi dilihat Agas dari belakang. 


Dahi Agas berkerut dalam. Merasa aneh ada wanita yang mencarinya. 


“Ayo temui.” Aina menarik tangan Agas menemui wanita itu. “Nak Nora, ini Agasnya sudah datang.”


Mata Agas membulat mendengar nama siapa yang disebut mamanya. Alangkah terkejutnya Agas ketika wanita itu menoleh. Wanita itu adalah Nora-dokter psikiater yang kemarin pagi mengganggu tidur Agas. 


“Hai, Gas.” Nora berdiri dan melambaikan tangan pada Agas. 


Agas masih memerhatikan Nora dari atas sampai bawah. Memastikan jika yang dilihatnya adalah Nora.


“Aku tidak tahu rumahmu. Jadi aku datang ke toko ini,” ucapnya tersenyum. 


“Tidak apa-apa, Nak. Paling tidak Agas keluar dari kandangnya.” Aina tersenyum menjawab ucapan Nora. 


“Mama pikir aku kambing.” 


“Sayangnya Mama tidak mau jadi kambing, jadi tidak mungkin anaknya kambing.” 


Nora yang melihat pertengkaran Agas dan mamanya tersenyum, sedangkan Agas mendengus kesal. 


“Ya sudah, sekarang kamu bawa Nora ke rumah. Nanti Mama akan menyusul,” ucap Aina seraya menepuk bahu Agas. 


“Kenapa harus ke rumah?” protes Agas. 


“Kita akan makan siang bersama.” 


“Apa Mama mengumpankan anak perempuan ke rumah kita?”


“Memangnya  kenapa?” Aina sedikit bingung dengan ucapan Agas. 


“Jika pria dan wanita bersama yang ketiga setan,” jawab Agas menakuti mamanya.  


“Astaga, Gas. Kamu bilang Mbok Yah setan? Kualat kamu!” Aina menjewer telinga Agas. 


“Kenapa Mbok Yah?” tanya Agas bingung


“Iya, karena yang di rumah Mbok Yah, jadi kalian bertiga dengan Mbok Yah.”


Rasanya Agas gemas sekali dengan mamanya. Tidak mengerti sama sekali maksud dari ucapannya. 


“Sudah-sudah, sana pulang.” Aina mendorong tubuh Agas. Kemudian beralih pada Nora.


“Kita makan siang dulu di rumah ya, Nak.” 


“Iya, Tante,” jawab Nora tersenyum. 


“Aku ke sini tidak bawa helm, Ma. Jadi dia tidak bisa ikut denganku.” Agas masih terus menghindar agar mamanya membatalkan makan siang dengan Nora. 


“Kamu pakai saja helm Nina, motornya terparkir di sampingmu.” Aina tak kehilangan akal juga. 


Agas pasrah ketika sudah tidak bisa mengelak lagi. Dengan isyarat mata, dia mengajak Nora. 


Aina yang melihat anaknya dan Nora pergi tersenyum. Seperti mendapatkan lotre, dia senang sekali.  Bagaimana dia tidak senang, ketika tadi dia dikejutkan dengan seorang wanita yang mencari putranya. Dan ternyata wanita itu adalah dokter psikiater di Rumah sakit tempat Agas bekerja. Itu artinya mereka saling kenal dekat.  


Aina berharap kedatangan Nora bisa membuat Agas kembali bangkit dan bersemangat untuk menjalani aktivitasnya.