
Suara ketukan pintu terdengar membuat Flo yang menikmati tidurnya, terbangun. Padahal dia baru saja tertidur. Membuka pintunya, dia mendapati temannya masuk ke kamar kosnya.
“Lihat fotomu beredar di internet,” ucap Shintia pada Flo menunjukan layar ponselnya.
“Astaga!” Alangkah terkejutnya Flo melihat fotonya bersama dengan Kafa beredar di internet. Terlebih lagi foto itu terlihat sangat vulgar karena tanpa sehelai benang pun.
Rasanya Flo tidak pernah merasa berpose seperti itu. Beberapa komentar membanjiri foto-foto yang tersebar. Mereka rata-rata menanyakan siapa gerangan wanita yang bersama dengan Kafa. Ada beberapa yang mengatakan jika wanita yang bersama Kafa jelek.
“Bagaimana bisa ini terjadi?” tanya Shintia.
“Entahlah.” Flo masih bingung, otaknya seketika kesulitan untuk berpikir.
“Tenanglah, aku yakin ini hanya editan semata. Jadi jangan khawatir.” Shintia mencoba untuk menenangkan Flo. Kemudian berlalu meninggalkan Flo.
Flo hanya bisa menggeleng melihat foto dilihatnya tadi. Masih terus memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi.
Seminggu yang lalu.
Kesempatan emas menghampiri Flo kala usai melakukan pemotretan dan bersiap untuk pulang. Dari kejauhan dia mendengar suara manager-nya sedang berbicara pada temannya.
“Shintia, tolong antarkan berkas foto model kita ke Kafa Management. Mereka akan memilih beberapa model kita. Jadi model kita akan masuk ke sana.”
Suara manager tempatnya bekerja membuat Flo yang bersiap untuk pulang menghentikan aktivitasnya. Dia jelas mendengar jika agensinya akan mengirim beberapa model audisi untuk masuk Kafa Management.
“Aku tidak boleh sia-siakan kesempatan itu,” gumam Flo.
“Aku masih sibuk. Sepertinya tidak bisa sekarang. Suruh saja orang lain.”
Mendengar temannya tidak bisa mengantarkan berkas, Flo langsung berlari menghampiri manager. “Kak, biar saya saja yang antar,” ucap Flo dengan senyumannya.
Manager menimbang-nimbang ucapan Flo. Dia sadar jika Flo sangat gigih dalam bekerja, tetapi dia kurang yakin jika Flo yang akan mengantarkan.
“Baiklah, berikan pada manager Dinda,” ucap manager.
“Baik, Kak. Saya akan memberikan pada manager Dinda.” Flo menganggukkan kepalanya. Meyakinkan jika dia akan memberikan pada orang yang diminta.
Sebuah keberuntungan untuk Flo, dia bisa pergi ke Kafa Management. Dengan uang yang diberikan sang manager, Flo menuju ke kantor Kafa Management dengan menaiki taksi. Sepanjang perjalanan Flo membayangkan apa yang akan dia lakukan di sana. Namun, satu hal yang akan dia lakukan. Menanyakan apakah ada yang mengenal kakaknya.
Taksi sampai di Kafa Management. Saat turun Flo dibuat kagum dengan kantor yang begitu megah. Dia pikir Kafa Management berada di perperkantoran di tengah kota, tetapi ternyata justru berada di pinggir kota. Yang lebih membuat Flo terkejut kantor berdiri di lahan yang sangat luas.
Mengayunkan langkahnya, Flo masuk ke lobi Kafa management. Saat masuk ke lobi terlihat ruangan begitu sangat saat indah. Di sebelah sudut kanan terdapat coffee shop, sedangkan sebelah kiri terdapat sebuah ruangan tempat bersantai dengan lantai rumput sintetis dan bean bag untuk duduk. Semua terlihat jelas karena hanya dibatasi dengan kaca transparan. Kafa management terlihat memberikan kenyamanan yang luar biasa untuk para karyawannya.
Flo terus mengayunkan langkahnya, menuju ke resepsionis. Satu hal yang ingin dia lakukan adalah mencari orang yang bernama Dinda sesuai dengan yang diminta oleh manager-nya.
“Maaf saya ingin bertemu dengan Ibu Dinda. Saya dari Zara Management,” ucap Flo pada resepsionis.
Resepsionis pun tersenyum. “Anda bisa menuju ke lantai lima,” ucapnya.
Flo mengangguk dan kemudian berjalan menuju ke lift. Dari kejauhan, Flo melihat pintu lift yang hampir saja tertutup. Dia lari sambil berteriak, “tunggu!” Flo berlari. Mengejar agar pintu lift tidak tertutup.
Namun, naas pintu lift tertutup. Tangan Flo yang memegangi pintu lift membuat tangannya terjepit. Orang yang berada di dalam lift langsung membuka lift kembali, takut terjadi sesuatu pada orang yang sedang membuka lift.
Saat pintu terbuka, Flo masuk ke lift. Dia langsung menuju pojokan lift sambil memandangi kukunya yang patah. “Kuku cantikku patah,” regeknya. Dia merasa kukunya adalah aset berharganya, jika patah bisa-bisa dia tidak akan dapat pekerjaan lagi. “Kalau begini aku bisa mati kelaparan!” Rasanya Flo ingin menangis.
Melihat Flo, seorang pria di sebelah memandangi dengan pandangan penuh cibiran. Merasa aneh dengan perempuan di sebelahnya. Hanya kuku saja gadis di sebelahnya itu menangis.
Flo masih menunduk memandangi kukunya yang patah. Meratapi nasibnya. Rambutnya yang jatuh saat menunduk membuat wajahnya tidak terlihat.
Sejenak dia ingat tujuannya datang ke Kafa Management. Menegakkan tubuhnya, Flo melihat layar yang tertera angka. Saat mendapati layar menujukan angka lima, dia buru-buru keluar dari lift.