My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Itu Adalah Kami



“Apa yang harus aku katakan nanti?” tanya Flo di dalam perjalanan.


Kafa melirik sebentar Flo. Membagi konsentrasinya pada jalanan. “Tidak perlu bicara apa-apa.”


“Jadi kamu minta aku diam saja begitu?” tanya Flo memastikan. Netranya masih tak beralih pada Kafa yang masih asyik dengan kemudinya.


“Iya.” Kali ini Kafa tidak menoleh atau melirik. Pandangannya lurus ke depan. Fokus pada jalanan di hadapannya. Dia ingin segera sampai di Kafa Management. Gala sudah mengirim pesan, jika wartawan sudah datang ke kantornya.


“Aku jadi patung di sana?” tanya Flo kembali.


“Tidak juga.”


“Lalu?” tanya Flo dengan mengerutkan dahinya.


“Kalau patung itu tidak bergerak sama sekali, sedangkan kamu hanya tidak bicara sama sekali.”


Jawaban Kafa benar-benar membuat Flo kesal. Merasa sama aja keberadaannya. Karena intinya, dia akan menjadi pajangan saja saat konferensi pers. Namun, kalau pun ditanya wartawan, dia tidak tahu harus menjawab apa.


“Satu lagi,” ucap Kafa kembali.


“Apa?” Flo antusias mendengar, berharap ada hal yang bisa dia lakukan saat konferensi pers.


“Tunjukan senyum terbaikmu. Karena kamu akan masuk berita online dan offline. Fotomu akan beredar di mana-mana. Jika kamu tidak tersenyum nanti. Orang akan mengira jika kita hanya berpura-pura.”


Flo hanya mendengus kesal. Nasibnya amat buruk. Dulu dia berharap masuk sebuah majalah atau berita karena prestasinya dalam dunia model, tetapi sayangnya dirinya justru masuk majalah dan berita untuk klarifikasi sebuah scandal. Sungguh malang nasib Flo.


“Kita bicara di dalam saja. Silakan ke dalam agar lebih nyaman saat bertanya.” Gala mencoba meredam para wartawan. Hinga perlahan para wartawan itu masuk ke dalam kantor Kafa management.


Saat situasi sudah aman, Kafa dan Flo keluar dari mobil. Menuju ke tempat konferensi pers yang sudah disiapkan oleh Gala. Kamera wartawan tak henti membidik foto dan video. Mengabadikan momen antara Flo dan Kafa.


Kafa dan Flo duduk bersebelahan. Seperti yang diminta Kafa, Flo diam saja dan hanya tersenyum manis ke arah wartawan. Tak mau sampai merusak momen yang ada.


“Terima kasih kalian sudah hadir di sini. Saya akan langsung saja menjelaskan semua permasalahan yang ada.” Kafa memulai konferensi pers. “Foto yang beredar itu benar adanya jika itu adalah kami.”


Kedua mata indah yang dihiasi bulu mata lentik milik Flo, membulat sempurna. Merasa terkejut ketika Kafa membenarkan foto itu. Namun, karena dia diminta untuk diam saja. Dia tak berani bertanya apa-apa.


Wartawan pun tak kalah terkejut. Mereka tidak menyangka jika dua orang yang berada di dalam foto adalah dua orang yang sedang duduk manis di depan mereka.


“Tapi, perlu saya tegaskan jika foto tanpa busana itu bukan pose kami. Saya tidak tahu bagaimana foto itu dibuat karena nyaris foto itu sempurna tanpa terlihat sama sekali jika foto itu diedit. Karena itu, saya akan mencari pelaku yang mengedit foto tersebut. Saya tidak akan segan-segan memasukkannya ke penjara.”


Flo kembali mendengar kalimat itu lagi. Rasanya membayangkan penjara saja dia sudah takut. Namun, dia sudah terlanjut masuk dalam pusara permainannya sendiri. Hanya satu yang dia bisa lakukan. Bersikap seolah bukan dia yang melakukannya. Membiarkan Kafa berpikir jika itu adalah ulah lawan bisnisnya.


“Jadi Anda tetap menyangkal jika pose foto itu adalah pose kalian?” tanya salah satu wartawan.


“Tentu saja, karena kami tidak pernah ber-pose tanpa busana seperti itu.” Dengan tegas Kafa menyangkal. Karena memang tidak pernah berfoto seperti itu.


“Lalu, apa hubungan Anda dengan wanita dalam foto? Kenapa kalian berpose sangat dekat seperti itu? Apa benar kalian bertunangan.” Kembali wartawan melemparkan pertanyaan.