
“Kenapa kamu mengatakan jika dia tunanganmu?” Saat masuk ke ruangan Gala langsung melempar pertanyaan itu. Merasa sedikit kesal karena Kafa menciptakan masalah baru.
“Jika aku tidak mengatakan itu, pastinya akan membuat publik berpikir negatif padaku. Jadi cara aman hanya mengatakan jika gadis itu adalah tunanganku.” Walaupun kalimat itu spontan, tentu saja dibuat dengan tidak asal-asalan.
“Iya, tetapi masalahnya, dia bukan tunanganmu.” Gala hanya bisa memijat pelipisnya. Merasa pusing dengan jawaban dari Kafa.
“Tinggal buat dia menjadi tunanganku atau istriku selesai masalah. Apa yang susah?”
Gala tercengang dengan jawaban Kafa. Semudah itu temannya mengatakan tentang pernikahan. “Kamu tahu, Fa, tidak semudah itu menikah. Belum tentu gadis itu mau.”
“Siapa yang menolak pesonaku? Aku supermodel. Model internasional. Jadi pasti dia mau.” Dengan percaya dirinya, Kafa membanggakan dirinya.
Mendengar temannya yang super percaya diri itu, membuatnya memicingkan mata. “Lalu orang tuamu? Apa mereka akan setuju begitu saja? Apalagi kita tidak tahu latar belakang keluarganya.”
Kali ini Kafa tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena pasti tidak akan semudah itu membujuk orang tuanya. Walaupun orang tuanya selalu membebaskan dirinya untuk melakukan apa yang diinginkan, belum tentu kali ini mereka akan menerima Flo, yang latar belakangnya tidak tahu.
“Aku akan jelaskan nanti dengan mereka. Apalagi ini demi nama baik juga. Aku yakin mereka akan setuju.” Walaupun, Kafa sendiri tidak yakin dengan ucapannya, tetapi dia yakin jika mungkin nanti orang tuannya akan mengerti.
“Baiklah kita bicara dengan gadis itu.”
“Bagaimana nanti aku mengancamnya? Aku harus pakai foto itu untuk membuat Kafa menjadikan aku model di sini.” Flo ingin mengambil kesempatan yang ada. Walaupun, fotonya tidak sesuai dengan keinginannya, tetapi semua harus berjalan sesuai dengan rencananya.
Pintu ruangan Kafa dibuka. Gala terlihat keluar dan meminta Flo untuk masuk. Dengan senang hati Flo masuk ke ruangan Kafa. Di dalam Kafa sudah duduk manis menunggunya di sofa.
Flo melihat ke sekeliling. Ruangan Kafa yang berdesain minimalis modern terlihat begitu bagus. Rapi dan bersih. Pendingin ruangan yang begitu terasa, membuat suasana ruangan begitu nyaman.
“Duduklah!” perintah Kafa.
Flo duduk di sofa berbahan kulit berwarna hitam. Saat mendudukkan tubuhnya, dia merasakan jelas jika sofa begitu empuk. Mungkin inilah bedanya kantor kelas atas dengan kantor kelas bawah seperti kantornya bekerja.
“Dengar. Dilihat bagaimana kamu yang tidak tahu tentang masalah foto itu, intinya kita adalah korban. Aku sengaja mengatakan jika kamu tunanganku, agar publik tidak mengira hal buruk tentangmu dan aku. Aku yakin berita itu akan cepat tersebar, dan untuk menghindari masalah yang semakin besar, aku ingin kita menikah.” Kafa tampak serius ketika berbicara. Dia memang selalu bisa menempatkan diri di saat-saat dibutuhkan.
Flo yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, begitu terkejut. Tidak terpikir olehnya tentang pernikahan, walaupun tadi dia sempat mendengar jika Kafa mengatakan jika Flo adalah tunangannya.
Aku hanya ingin menjebak agar bisa masuk ke Kafa Management. Bukan untuk menikah.
Dalam situasi seperti ini Flo justru bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Situasi semakin rumit ketika jebakannya tidak sesuai dengan harapannya dan justru kini dia terjebak dengan permainannya sendiri.