My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Al & Shera Bab 3



“Kamu harus tampil tampan kali ini,” ucap Mommy Selly membenarkan kemeja yang dipakai Al. 


Orang tua mana yang tidak suka anaknya menikah. Pastinya semua orang tua merasakan senang. Hal itu juga yang dirasakan oleh Mommy Selly. Dia merasa senang ketika anak semata wayangnya akan melepas masa lajang. 


“Aku sudah tampan, Mom. Tidak perlu dilebih-lebihkan.” Al tersenyum menggoda mommy-nya. Terasa aneh harus tampil sempurna. Karena menurutnya ini hanya lamaran biasa saja. 


“Kamu itu seperti daddy, tidak peka. Wanita akan terpesona jika kita tampil keren.” 


Al hanya bisa pasrah ketika mommy-nya protes. Kemudian tersenyum tipis. Membiarkan sang mommy melakukan apa saja. 


Mendapati diri sudah siap, Al keluar. Dia luar sudah ada banyak orang. Sebenarnya, Al tidak mau banyak orang yang datang, tetapi apa boleh buat, semua ingin menemaninya. Ada kakek dan neneknya, ada kedua mommy dan daddy-nya. Serta tak lupa ketinggalan adalah papa dan mama Freya. 


“Lihatlah, tak ada angin tak ada hujan, dia langsung melamar. Luar biasa memang anakmu, Kak.” Papa Felix merangkul bahu Al seraya menatap Daddy Regan. 


Daddy Regan hanya bisa tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kapan anaknya dekat. Yang dia tahu, tiba-tiba anaknya memintanya untuk melamar seorang gadis. 


“Aku sudah bilang sejak lama, kalian itu cocok. Setelah ini Hotel Maxton Hotel W (double U) akan menjadi satu. Tidak bisa dibayangkan akan sebesar apa hotel itu nanti.”  Papa Felix tertawa saat mengingat ucapannya dulu.


“Masalah hotel bisa menyusul, yang terpenting masalah hati dulu.” Daddy Bryan ikut menimpali. “Kamu benar-benar menyukai Shera ‘kan?” tanya sang daddy. 


“Aku suka.” Terdengar Al dengan lantang menjawab.


“Bagus, kalau begitu. Karena pernikahan butuh cinta.”


Al hanya bisa mengangguk. 


Setelah semua sudah siap. Mereka mengendarai mobil masing-masing ke rumah Shera. Ada sekitar tiga mobil. Al ada di dalam mobil bersama mommy dan daddy-nya. Mobil kedua ada Daddy Bryan, Mommy Shea. Mama Chika dan Papa Felix. Mobil terakhir adalah mobil yang berisi kakek dan nenek mereka. Mereka semua berharap acara lamarannya berjalan dengan lancar. 


...🌺🌺🌺...


Di depan cermin Shera melihat tampilan wajahnya. Malas sekali harus berdandan untuk acara yang dia sendiri tidak mengerti. Rasanya dia ingin mencekik Al karena tiba-tiba melamarnya. 


“Sebenarnya dia kerasukan apa hingga melamarku?” Shera mengembuskan napasnya. Kesal sekali dengan Al. Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab sama sekali di kepalanya, dan hanya Al yang bisa menjawab itu semua. 


“Sebelum acara, aku harus bicara dengannya dulu.” Shera sudah bertekad jika dia akan bicara dengan Al, tak mau sampai akhirnya semua terlanjur terjadi.  


Suara ketukan pintu, mengalihkan Shera yang sedang asyik dengan kekesalannya. Terlihat kepala sang mama menyembul dari balik pintu. “Kamus sudah siap?” tanya Mama Stella. 


“Sudah, Ma.” 


“Mama senang sekali akhirnya kamu menikah.” 


“Ma, aku tidak mengenalnya. Bagaimana bisa aku menikah?” Shera melihat wajah mamanya dari pantulan cermin. Melayangkan protesnya yang tidak siap menikah. 


“Yang terpenting dia mencintaimu. Itu saja sudah cukup.” Mama Stella membelai bahu Shera lembut. “Karena saat kita dicintai, kita akan merasa sangat berarti.”


“Tapi—”


“Sudahlah. Apa yang ingin kamu cari lagi? Dia pria yang baik, mapan.  Masalah cinta, biarkan cinta hadir sendiri.” Mama Stella mencoba meyakinkan putrinya. 


Rasanya Shera percuma berdebat dengan mamanya. Sebagai orang tua, dia pastinya ingin anaknya menikah. Namun, jika memilih, Shera tidak mau dengan Al. Dia adalah pria dingin yang pernah dikenalnya. Dia ingat begitu jika pertemuannya itu tidak berkesan apa-apa. 


Pertemuan yang diingat Shera adalah kala itu Shera mengambil mobilnya yang dibawa oleh Al. Saat bertemu sikap Al begitu dingin dan itu menjadi kesan pertama Shera bertemu dengan Al. 


“Ma …,” panggil Retta.  


Mama Stela dan Shera menoleh saat mendengar suara. 


“Calon tunangan Kak Shera sudah datang.” 


Mendengar hal itu Shera mengembuskan napasnya. Dia tak bisa menghindar lagi. Mau tidak mau dia harus menjalaninya. 


Ditemani oleh mamanya, Shera menuju ke ruang tamu. Menemui keluarga Al yang sudah datang. Hatinya begitu berdebar. Masih merasa tidak percaya jika hari ini, dia akan dilamar. 


Di ruang tamu, keluarga Al melihat Shera yang begitu cantik. Mereka memuji Shera yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka. 


“Cantik sekali calon menantu kami.” Nenek Melisa yang tak tahan langsung memuji.


Shera melihat ke arah suara. Melihat seorang nenek cantik yang memujinya baru saja. Di sampingnya ada banyak sekali wanita paruh baya. Dia hanya mengenal dua yaitu mommy dari Al, karena dia pernah bertemu saat mengambil mobil dan satu lagi mommy dari El karena dia sempat bertemu di pesta pernikahan El. 


Duduk di antara papa dan mamanya, Shera menatap lekat Al yang duduk di depannya. Dia masih merasa kesal melihat wajah Al. Ingin mengajak Al bicara dulu saat itu juga, tetapi belum mendapatkan celah. 


“Sepertinya tidak perlu basa-basi,” ucap Daddy Regan memulai. “Saya dan keluarga datang ke sini ingin menyampaikan jika kami ingin melamar putri Pak Sean yang bernama Shera untuk anak kami Al.”  Daddy Regan langsung menyampaikan niatannya. 


Papa Sean dan Mama Stella saling pandang. “Kami sudah mendengar langsung dari putra Anda dan kami dengan senang kalian sekeluarga datang untuk melamar. Dengan senang hati kami menerima lamaran ini.” 


Seharusnya Shera tidak kaget jika papanya akan menerima, tetapi tetap saja seperti sambaran petir ketika mendengar papanya berbicara dan menerima lamarannya. 


“Kami senang sekali. Mendengarnya.” Daddy Regan tersenyum dan disambut senyuman oleh yang lain. 


“Untuk mengikat keduanya, rencananya kami ingin mengadakan pertunangan terlebih dahulu. Sambil menyiapkan semuanya.” Daddy Regan kembali menjelaskan.


“Kami tidak masalah jika diadakan pertunangan. Kita tentukan saja kapan acara itu akan dilaksanakan.” Papa Sean setuju dengan ide yang diberikan oleh keluarga Al. 


“Bagaimana jika tiga lagi? Sepertinya tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.” Daddy Regan menatap satu persatu keluarganya, terutama Al. 


“Aku setuju.” Dengan tegas, Al menjawab pertanyaan dari daddy-nya. 


Kenapa dia main setuju-setuju saja? Shera semakin kesal dengan Al. “Bisakah saya bicara dengan Aaron terlebih dahulu?” Tiba-tiba suara Shera terdengar. Membuat semua mata tertuju pada Shera. 


Semua terkejut. Papa Sean sempat menyenggol tubuh Shera, memberikan kode untuk tidak melakukan hal itu, tetapi anaknya itu tidak perduli. 


“Karena saya baru pulang dari luar negeri. Jadi kami belum sempat membahas tentang kapan pertunangan itu, jadi izinkan kami bicara sebentar saja.” Shera menatap penuh harap. 


Mendengar permintaan dari Shera, Daddy Regan menjawab, “bicaralah, Nak. Mungkin kalian punya waktu yang pas untuk pertunangan.” 


“Atau mungkin mau mempercepat pertunangan,” timpal Papa Felix menggoda.


Shera terkesiap. Niatnya bukan itu, tetapi dia tidak berani mengatakan hal itu. Dia hanya bisa menampilkan senyuman. Kemudian berdiri. Disusul dengan Al di belakangnya.