My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Agas & Mara Bab 9



Enam bulan Agas dan Mara menjalin komunikasi. Banyak hal yang mereka ceritakan, mulai dari mata kuliah di kelas hingga game yang sedang dimainkan Agas.  


Agas memang menyukai Mara. Wanita itu berbeda dengan mantan-mantannya yang tampil glamor. Mara sederhana, tidak banyak tingkah dan selalu mengerti Agas. Itulah yang membuat Agas terpesona. 


Suatu hari, saat sedang bertukar suara lewat sambungan telepon. Agas menceritakan bagaimana gaya berpacarannya, dan Mara hanya menanggapi santai.


 


“Aku tidak berhak menghakimi orang dengan apa yang dia sudah perbuat di masa lalu, tetapi di masa depan aku berharap orang itu akan jauh lebih baik.” Itulah sepenggal kalimat yang Mara ucapkan dan membuat Agas selalu ingat.


Berhadapan dengan Mara yang santai membuat Agas maju-mundur untuk mengatakan cinta. Dia yang sudah memacari beberapa wanita, membuatnya kecil hati saat berhadapan dengan wanita seperti Mara. Akhirnya dia memilih berteman dengan Mara. Sampai saat dia mampu mengatakan jika dia mencintainya. 


Selain bertukar suara dengan Mara dari sambungan telepon. Agas selalu menemui Mara di perpustakaan. Tempat di mana wanita cantik itu menghabiskan waktu istirahatnya. 


Seperti siang ini, setelah menyelesaikan kelas, Mara menghabiskan waktunya di perpustakaan. Membuka lembar demi lembar buku yang dibacanya. 


Agas yang menyusul Mara, menunggui gadis cantik itu membaca. Tangannya memegangi ponselnya, memainkan game kesukaanya. Sesekali mata Agas melirik Mara yang sedang asyik membaca buku. Kaca mata baca yang bertengger di hidungnya membuat Agas begitu gemas. 'Cantik' satu kata yang pantas disematkan untuk Mara. Gadis itu mampu membuat Agas terpesona dan tak berhenti mengagumi kecantikan Mara dari luar dan dari dalam hatinya. 


“Aku akan membeli buku ke toko buku setelah ini.” Mara mengalihkan pandangan dari buku ke arah Agas. Mengungkapkan apa yang tiba-tiba terlintas dipikirannya saat sedang menbaca.


Agas yang sedang memandangi Mara, terkejut dengan Mara yang tiba-tiba menatapnya. Namun, dia mampu menetralkan perasaannya terkejutnya. 


 “Cari buku apa?”


“Buku genetika.”


Agas memikirkan sesuatu. Mengingat jika di kamarnya ada buku itu. “Aku ada, kamu bisa pinjam punyaku saja.”


“Benarkah?” Mata Mara berbinar. “Kalau begitu aku pinjam dulu.” Senyum Mara terhias di wajah cantiknya dan membuat Agas tak mau mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu. 


“Iya, kita ambil ke kosku nanti.”


Mendengar ajakan ke kos Agas, Mara terkesiap. Senyumannya perlahan surut. Sebagai seorang wanita pergi ke kos pria selain tidak etis, terlalu berbahaya. Insting pertahanannya, berjaga-jaga untuk tidak terjebak. 


“Bagaimana jika kamu antar ke kos aku saja. Karena aku pulang dengan Lili.” Alasan itu yang dipakai Mara untuk menghindari ke kos Agas. Alsan yang tidak akan menyinggung Agas.


“Baiklah.”


Mereka kembali melanjutkan membaca buku, sesekali Agas mencuri pandangan pada gadis di hadapannya. Jika biasanya Agas berani secara terang-terangan, untuk yang satu ini, Agas tak punya banyak keberanian. 


Aku seperti anak SMA yang menyukai gadis, tetapi tidak berani mengatakannya. Hanya berani memandangi dan mengagumi saja. Agas menertawakan dirinya sendiri. 


***


Suara motor terdengar dan membuat Mara langsung keluar dari kamarnya. Benar saja, jika yang datang adalah Agas-orang yang ditunggunya sedari tadi.


 


Di gelapnya malam, motor Agas terparkir di bawah lampu jalan. Dengan motor sport dan jaket kulit warna hitam membuat Agas begitu tampan.  


Mara menghampiri Agas di saat pria itu sedang membuka helm full face miliknya. Rambut Agas yang berantakan membuat Mara terpaku dengan wajah tampan yang semakin memesona. 


Agas meletakan helm di atas tangki motor. Membungkukkan tubuhnya ke arah spion motor, melihat pantulan wajahnya di sana. Rambutnya yang acak-acakan dirapikannya dengan tangan, menyugarnya agar terlihat lebih rapi. 


Mara yang gemas justru mengacak-acak rambut Agas. Gemas sekali melihat pria yang asyik merapikan rambut itu. 


 


“Ay … “ panggil Agas yang meminta Mara menghentikan. Dia menatap Mara dengan wajah kesal


.


“Oh … ya?” tanyanya seraya kembali melihat wajahnya di spion. Namun, dia justru melihat rambutnya seperti orang bangun tidur. Karena tidak suka, akhirnya dirapikan lagi rambutnya. Kemudian dia mengambil buku di dalam tasnya dan menyerahkan buku pada Mara. "Ini."


Wajah Mara berbinar karena dia tidak perlu membeli buku lagi. "Terima kasih," ucapnya dengan senyuman di wajahnya. 


Melihat gadis yang disukai tersenyum membuat Agas senang. Senyuman yang membuatnya selalu terpesona. 


“Kamu tidak menawari aku masuk?” tanya Agas menggoda Mara. 


Tangan Mara langsung menggenggam dan membuang ke udara, mengarahkan pada Agas, seolah memberikan ancaman keras pada pria yang masih duduk di motornya.


Agas tertawa melihat aksi Mara. Dia tahu gadis di hadapannya itu sangat berhati-hati dengannya dan Agas maklum, karena dia sudah menceritakan seburuk apa dirinya. Namun, itu yang disukai Agas, Mara tidak mempermasalahkan, tetapi membuka jalan pertemanan. 


Karena sudah larut malam Agas berpamitan. Menarik tuas gas bersamaan melepas tuas kopling, dia melajukan motornya. Meninggalkan kos Mara dan membelah jalanan kota Malang di malam hari. 


Mara memandangi motor Agas sampai hilang dari pandangannya. Gelapnya malam membuat lampu motor Agas perlahan memudarkan sinarnya. Senyumnya tertarik disudut bibirnya melihat pria yang memang sebenarnya sudah berada di sudut hatinya. Namun, dia sadar jika Agas belum tentu menaruh hati padanya. Apa yang dilakukan Agas terkadang seperti seorang teman yang bercerita pada temannya saja. Tak ada unsur merayu ataupun mengungkapkan cinta. 


Saat sedang berdiri di depan kos memandangi motor yang sudah hilang sedari tadi, tiba-tiba motor sport lain berhenti tepat di hadapannya. Seorang wanita dan pria berada di atas motor dan Mara tahu siapa mereka. Mereka adalah Tara dan Lili.


 


“Kamu sedang apa, Ra?” tanya Lili sambil turun dari motor. Melepas helm yang di pakainya dia menatap pada Mara. 


“Tadi Agas kemari untuk meminjamkan buku padaku.” Mara menunjukkan pada Lili buku yang dibawanya. 


Tara membuka kaca helm dan melihat ke arah buku yang dibawa Mara. Dia mengenali buku itu, tetapi dia memilih untuk diam. Buku itu adalah miliknya dan sudah pasti Agas meminjamkannya. Tara tersenyum tipis melihat aksi temannya yang meminjamkan buku miliknya. 


“Kalian dari mana?” tanya Mara melihat Lili dan beralih melihat Tara. 


“Tara baru saja bertanding basket dengan kampus sebelah. Jadi aku datang untuk mendukung,” jelas Lili.


Dahi Lili berkerut dalam mendengar ucapan Lili. “Kenapa tidak mengajaku?” tanya Mara kecewa.


“Kata siapa tadi aku tidak mengajak? Kamu bilang mau menunggu Agas.”


Mara mengingat jika tadi Lili menawarinya untuk ikut pergi, tetapi karena menunggu Agas dia menolak. 


“Padahal Agas juga ada di sana tadi.” Lili tertawa mengetahui temannya menunggu, tetapi pria yang ditunggu sedang asyik menonton dengannya. 


Mara baru tahu kenapa tadi Agas hingga malam baru datang ke kosnya. Mara pikir Agas ketiduran hingga lupa mengantarkan buku, tetapi ternyata dia menonton pertandingan.


“Kalian jahat sekali, hanya aku yang tidak menonton.” Mara mencebikkan bibirnya kesal. 


“Sudah jangan marah, besok datanglah ke pertandingan final.” Tara yang melihat wajah cantik Mara berubah cemberut, menenangkannya.


“Maaf ya Tara, aku tidak tahu.” Mara merasa bersalah pada Tara. “Besok aku janji akan datang,” ucapnya berjanji dan tersenyum pada Tara.


Tara mengangguk dan membalas senyuman Mara. Kemudian dia berpamitan karena hari sudah malam. 


Mara dan Lili masuk ke dalam. Menuju ke kamar, Mara menggoda Lili. “Apa kalian jadian?” tanyanya. 


Lili menoleh dan tertawa. “Aku dan Tara berteman. Tidak lebih.” Dia memberikan penegasan dalam ucapannya. 


Mara menerawang jauh ke dalam bola mata Lili, mencari kebohongan atas ucapannya. Mengenalnya, dia sudah tahu baik seperti apa jika Lili berbohong. 


“Kamu sudah jadian dengan Agas?” Lili justru menanyakan hal lain.


Mara menggeleng dan justru mendapati tawa dari Lili. “Bersabarlah.” Tangan Lili menepuk bahu Mara, menggoda temannya itu dan membuat Mara cemberut. Namun, sesaat kemudian mereka tertawa bersama.