My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Regan & Selly Bab 8



Jari jemari Regan menari indah di atas keyboard sebelum akhirnya berhenti saat mengingat  janji untuk menemani mencari cincin pertunangan.


 


Regan yang tak mau Selly kecewa buru-buru mematikan laptopnya dan pergi meninggalkan kantor. Melajukan mobilnya menuju ke salah satu mal di Jakarta.


Di sana sudah ada Selly yang menunggunya. Tepat saat Regan datang, Selly melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Sindiran jika Regan datang terlambat. 


“Maaf,” ucap Regan. 


Selly mengembuskan napas. Mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak karena Regan seolah tak mementingkan dirinya. 


“Tidak apa-apa, ayo,” ucapnya seraya melingkarkan tangannya di lengan Regan. 


Senyumnya kembali tergambar indah di wajahnya. Tak mau menjadikan masalah kecil itu menjadi besar dan merusak acara hari ini. 


Menarik tangan Regan, Selly mengajak Regan untuk masuk ke toko perhiasan. Melihat-lihat cincin untuk pertunangan mereka dan pernikahan mereka. 


“Coba lihat yang ini,” ucap Selly pada staf toko perhiasan  seraya  menunjuk satu cincin dengan diomand di tengah lingkaran, bergaris ukir yang begitu cantik. Untuk cincin pria, hanya berbentuk lingkaran dan bergaris ukir. 


Selly berbinar melihat cincin itu. Terlihat sangat cantik sekali saat dia mencoba di jari tengahnya. begitu serasi dengan kulitnya yang sawo matang. “Cantik bukan?” tanyanya pada Regan. 


“Iya.” Jawaban singkat yang diberikan Regan pada Selly. 


Selly tersenyum dan beralih pada pegawai toko perhiasan. “Aku mau ini dengan ukuranku.” 


Staf toko perhiasan itu mengukur jari Selly dan Regan. Memastikan jika ukuran akan pas saat mereka memakainya. 


Saat tangan Regan sedang diukur, Selly melihat-lihat lagi. Kali ini dia memilih cincin yang lebih sederhana. Hanya berbentuk lingkaran dan dengan aksen garis. “Coba ambilkan yang ini,” ucap Selly menunjuk cincin yang dia inginkan. 


Staf toko perhiasan mengambil dan memberikannya pada Selly. Dan tanpa berlama-lama, dia mencobanya kembali di jari manisnya. 


“Untuk apa lagi cincin itu?” tanya Regan menghampiri  Selly. 


“Ini untuk pertunangan kita.”


“Lalu yang tadi?” 


“Yang tadi untuk pernikahan kita.” Pandangan Selly masih melihat ke arah cincinnya. Tak melihat wajah Regan yang sedang kebingungan dengan jawabannya. 


“Apa kamu mau memenuhi jariku dengan cincin?” protes Regan. Tak dapat dimengerti dengan logikanya. Tujuannya hanya satu menikah, tetapi kenapa harus ada cincin juga untuk pertunangan. 


“Iya, aku akan memenuhi jarimu dengan cincin, agar kamu terlihat seperti toko emas berjalan,” ucap Selly tertawa. 


Apa yang diucapkan Selly membuat staf toko perhiasan menahan tawa. Apalagi wajah tampan Regan yang tampak kebingungan. 


 


“Aku ingin ini juga, buatkan ukuran yang sama seperti ukuran tadi.” Selly memberikan cincin pada staf. “Oh ... ya, berikan juga ukiran nama di belakangnya, Regan dan Selly,” ucap Selly menambahi seraya melihat ke arah Regan. 


Regan pasrah mengikuti apa yang diinginkan oleh Selly. 


Usai mendapatkan cincin untuk acara pertunangan dan pernikahan, Selly dan Regan menyempatkan untuk makan siang sebelum kembali ke kantor lagi. Mereka memilih restoran di mal agar menyingkat waktu. 


“Mama bilang semua sudah disiapkan kita tinggal mengeceknya lagi agar sesuai dengan keinginan kita,” ucap Selly, “dan satu lagi kita harus mempersiapkan diri.” 


Regan makan sambil mendengarkan Selly menjelaskan. 


“Apa kamu sudah siap?” tanya Selly tersenyum.


 


“Sudah,” jawab Regan singkat. 


“Benarkah?” Selly memajukan wajahnya menatap wajah Regan. Mata mereka saling mengunci. 


Namun, sejenak Regan menyadari ada yang salah dengan pertanyaan Selly. “Sudah siap apa maksud kamu?” 


Dengan senyuman polosnya, Selly tersenyum. “Sudah siap untuk malam pertama,” ucapnya dengan menurunkan nada suaranya. Maklum, restoran begitu ramai. Hingga pembahasan ini akan sangat tidak nyaman jika didengar oleh orang lain. 


Bola mata bak lautan biru  membulat sempurna. Terkaget  mendengar kalimat itu yang keluar dari mulut manis Selly-kekasihnya. 


Regan langsung salah tingkah. Meraih gelas berisi minumannya, dia meminum habis minumannya. Sedikit gemetar saat calon istrinya membahas malam pertama mereka. 


Selly yang melihat Regan justru tertawa. Dia paham betul Regan pria yang lurus. Tak banyak neko-neko. Sejak berpacaran, hanya dia yang aktif memulai. Dan pria itu hanya dia menikmati. 


Air yang masuk ke tenggorokan Regan tiba-tiba membuatnya tersedak setelah mendengar ucapan Selly. 


“Apa? Kamu belajar?  Dengan siapa?” Dia amat terkejut. Nada suaranya meninggi. Tak rela jika Selly disentuh oleh yang lain. 


“Eh ... pelankan suaramu,” ucap Selly yang melihat ke sekeliling. Menyadari mereka jadi pusat perhatian dari pengunjung lain karena suara Regan yang meninggi. 


“Jelaskan dengan siapa kamu belajar?” Regan bertanya dengan berapi-api. 


“Aku belajar dari video milik Bryan.” Selly memajukan wajahnya. Mengatakan dari mana dia dapat pelajaran itu. 


Regan benar-benar dibuat heran dengan aksi kekasihnya. “Apa kamu tahu jika menonton seperti itu tidak baik buat otakmu?” 


Regan pernah menonton beberapa kali, itu pun karena paksaan temannya. Namun, dia masih bisa membatasi diri dan tidak kecanduan. Berbeda dengan teman-temannya yang mulai kecanduan dan justru mempraktikkan.


“Iya, aku rasa juga merasa otakku sudah rusak,” jawab Selly polos. 


Regan semakin dibuat terkejut. “Sebaiknya kita segera pergi ke psikiater.” Tak mau sampai Selly terpapar kecanduan nanti yang akan membuat hal buruk. 


“Aku tak perlu psikiater.” Gadis cantik itu menjawab dengan santainya. 


Dahi Regan berkerut dalam. Tidak mengerti apa yang dimaksud. “Lalu kamu perlu apa?” 


“Aku perlu kamu.” Selly tersenyum penuh arti. 


Regan terkesiap. Sejenak dia mengerti maksud Selly. Wajahnya pucat membayangkan apa yang akan terjadi setelah pernikahan mereka. Jika saat berpacaran saja Selly lebih agresif. 


“Cepat habiskan makanmu.” Karena tak mau membahas hal itu, Regan mengalihkan pembicaraan. 


Selly menahan tawanya. Dia sungguh tak tahan melihat wajah Regan yang malu. Jika biasanya wanita yang malu, untuk hubungannya dan Regan, Reganlah yang malu. 


Tak mau membuat calon suaminya malu, Selly melanjutkan makannya. Menikmati makan siang sebelum kembali ke kantor. 


...🌺🌺🌺...


Di sudut kafe seorang anak muda asyik menikmati minumnya. Menunggu orang yang tadi siang menghubunginya. Bryan-adik Selly yang tadi dihubungi Regan, menunggu calon kakak iparnya itu di kafe. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh calon kakak iparnya itu, dia tidak tahu. 


“Kak,” panggil Bryan saat melihat Regan. Dia mengisyaratkan tangan, memberitahu di mana dia berada. 


Regan yang baru saja masuk ke dalam kafe, melihat calon adik iparnya yang duduk menunggunya. Mengayunkan langkahnya, dia menghampiri dan duduk di depan Bryan. 


“Ada apa Kak Regan menghubungi aku?” Bryan langsung bertanya. Ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dibicarakan. 


Regan membungkukkan tubuhnya, mendekatkan diri pada Bryan.  “Apa kamu punya koleksi film panas?” tanyanya dengan nada rendah. 


“Apa Kak Regan mau pinjam?” Bryan berbinar, merasa senang Regan yang diam tiba-tiba menanyakan film koleksinya. Padahal dia tahu jelas bagaimana alimnya calon kakak iparnya. 


Regan menepuk dahinya. Adik dan kakak sama-sama tidak waras. Membuatnya bingung. 


“Jadi benar Selly melihat film milikmu.” Sepanjang bekerja, tadi dia terpikir untuk memastikan apa yang diucapkan oleh kekasihnya. 


“Kak Selly melihat koleksi filmku?” tanya Bryan terkejut.


“Iya, dan dia mengatakan padaku.”  


“Bagus kalau Kak Selly menonton, jadi Kak Regan tidak perlu susah-susah mengajari Kak Selly.” 


Dahi Regan berkerut. Baginya Selly yang menonton bukan satu keberuntungan, tetapi kesialan. Dia tahu Selly justru berimajinasi aneh saat nanti malam pertama dan Regan tidak bisa membayangkan semua itu. 


“Buang semua itu,” ucapnya. 


Bryan menautkan kedua alisnya. Terkejut dengan permintaan Regan. “Kenapa dibuang?” 


“Buang saja.” 


“Aku susah payah minta Felix, bagaimana bisa dibuang.”


“Aku tidak mau tahu itu punya siapa dan dapat dari mana. Yang terpenting jauhkan saja dari Selly.” 


Bryan memutar bola matanya malas. Bingung dengan calon kakak iparnya. Di saat kakaknya suka menonton film panas, dia justru meminta menjauhkan. Padahal dari segi keuntungan, Regan adalah orang yang paling diuntungkan.  


“Iya,” jawab Bryan malas.