
Beberapa berkas sedari tadi dibaca oleh Regan. Mengecek laporan bulanan yang menjadi kewajibannya. Menjadi asisten papanya, Regan tidak hanya duduk manis menikmati jabatannya. Perkerjaan justru banyak dilakukan olehnya.
Regan sendiri tidak pernah keberatan saat mendapati banyak perkerjaan. Baginya, itu cara untuk menujukan pada papanya jika dia mampu menjabat CEO di perusahaannya.
Di tengah-tengah pekerjaannya, ponsel Regan berbunyi. Mata birunya yang sedari tadi mengecek laporan, menatap ke layar ponselnya. Nama Selly terpampang di layar ponselnya, membuat Regan menghentikan gerakan tangan yang sedari tadi membolak-balik berkas.
“Ada apa?” tanyanya.
“Hari ini kita akan fitting, jadi aku mau mengajakmu untuk ke butik.”
Regan mengembuskan napasnya kasar. Dia sudah menduga kesibukan menyiapkan acara pertunangannya pasti akan menyita waktunya. Dalam keadaan yang sangat sibuk seperti ini, dia tak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Tanggung jawabnya harus dikerjakan dengan baik.
“Aku sibuk, Sel. Jadi aku tidak bisa pergi.”
“ Kamu harus memesan jas sesuai ukuranmu Jadi tidak mungkin kamu tidak datang.”
“Aku benar-benar sibuk. Aku harus mengecek laporan bulanan.”
Selly di seberang sana terdiam. Menyadari jika pekerjaannya memang penting. Bekerja pada papanya sendiri, Selly juga tahu sesibuk apa jika sudah akhir bulan. Sama seperti Regan, seharusnya dia juga melakukan hal yang sama, membantu papanya untuk mengecek laporan. Akan tetapi, tadi dia sengaja meminta izin, meninggalkan perkerjaannya sejenak untuk fitting.
“Lalu bagaimana?” Tak bisa memaksa, Selly bertanya.
“Bagaimana jika kamu meminta Bryan untuk menemanimu saja? Tubuh Bryan sama denganku, jadi aku rasa jika aku memakai ukurannya akan pas.”
Selly teringat dengan janjinya untuk mengerti Regan. Jadi mau tidak mau, akhirnya dia mengiyakan. Menjadikan adiknya sebagai model pas untuk Regan.
...🌺🌺🌺...
Bryan yang sedang di kampus, tiba-tiba dihubungi oleh kakaknya untuk datang ke butik. Sebenarnya dia malas sekali datang, tetapi, kakaknya mengancam akan melaporkan apa yang dilakukan Bryan tempo hari.
Kala itu Bryan pergi ke klub bersama Felix dan pulang dengan keadaan mabuk. Beruntungnya sampai di rumah Selly yang membuka pintu. Jadi rahasia Bryan aman.
Dan kali ini, itu jadi kartu As untuk Selly menyuruh Bryan. Memerintah sesuka hatinya.
“Kenapa memintaku datang kemari?” Hal pertama yang ditanyakan Bryan pertama kali saat bertemu kakaknya.
“Regan tidak bisa datang untuk fitting jas pertunangan.”
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanyanya seraya mengedikkan dagu.
“Tubuhmu dengan Regan tidak beda jauh, jadi kamu akan menjadi model untuk memesan jas pertunangan aku dan Regan.” Selly mengayunkan langkahnya untuk menemui desainer gaun dan jas pengantinnya.
“Kalian yang ingin bertunangan kenapa aku yang harus direpotkan,” keluhnya mengejar Selly.
“Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa.” Selly berhenti dan menatap Bryan. Kalimat yang diucapkannya memiliki makna ganda. Makna jika dia tidak keberatan dan makna sebuah ancaman.
Bryan tak bodoh, jadi dia mengerti maksud dari ucapan kakaknya. Tak bisa mengelak, dia harus pasrah.
Selly yang melihat Bryan sudah tidak melontarkan protes lagi, akhirnya melanjutkan langkahnya. Menemui desainer untuk memesan gaun dan jasnya.
“Apa Kakak yakin, Kak Regan akan pas?” Sambil desainer sedang mengukur tubuhnya, Bryan masih saja mengoceh.
Selly yang melihat katalog gaun, memutar bola matanya malas. “Bisakah kamu tidak cerewet. Muat atau tidak itu terserah aku dan Regan.”
“Menyebalkan sekali,” gumam Bryan kesal.
“Lihat saja, jika nanti dia akan seperti orang-orangan sawah.” Tubuhnya Bryan bergoyang-goyang menirukan orang-orangan di sawah yang tertiup angin. Tangannya yang dalam posisi merentang membuatnya semakin mirip.
Selly yang kesal, justru tersenyum melihat aksi Bryan. Adiknya itu membuatnya melupakan sejenak rasa kesalnya pada Regan. Sejujurnya dia kesal karena bukan Regan yang pergi dengannya, tetapi justru adiknya.
“Sayang, apa ini cocok untukku?” tanya seorang wanita yang berdiri sambil menujukan gaun pada pria di depannya.
“Kamu cantik sekali. Kamu pasti akan menjadi pengantin tercantik yang ada.”
Masih ada hari pernikahan, bukan? Jadi tidak masalah.
Mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri. Tak mau sampai pikiran negatif menghampirinya dan membuatnya kesal.
Setelah Bryan fitting, giliran Selly yang mencoba satu persatu gaun yang dipilihnya tadi. Bryan yang menjadi juri dalam pemilihan gaun, memberikan komentarnya atas gaun yang dipakai kakaknya.
“Tidak cocok, itu terlalu terbuka bagian depan,” ucap Bryan.
Selly kembali mencoba gaun yang lainnya.
“Itu gaun atau gorden-bunga-bunga seperti itu,” cibir Bryan.
Selly mengeram kesal. Mulut adiknya itu benar-benar tidak ada remnya. Jelas-jelas ada desainer di sebelahnya, tetapi pria muda itu tidak menghiraukan sama sekali. Tak mau berlama-lama, akhirnya Selly kembali mencoba kembali gaun.
“Sekarang kamu mau berkomentar apa?” Selly menatap tajam pada Bryan saat adiknya itu mau mengeluarkan suara. Sudah sedari tadi dia kesal karena tidak ada gaun yang dikomentari baik oleh adiknya.
“Aku hanya mau bilang, gaun itu pas untukmu,” jawab Bryan dan membuat Selly terdiam.
Selly melihat ke arah gaunnya. Dari dua gaun yang dicobanya, memang gaun yang ketiga ini yang jauh lebih baik. Terlihat pas ditubuhnya. Akhirnya, Selly menjatuhkan pilihannya pada gaun tersebut.
Jas dan gaun sudah dipesan. Selly membawanya pulang. Tadi dia sengaja ke butik naik taxi, jadi pulang dia menumpang pada Bryan.
“Aku sudah menemanimu, menjadi model untuk jas pernikahanmu, apa aku tidak dapat imbalan?” tanya Bryan menoleh pada Selly sejenak. Kemudian, dia melihat ke arah depan.
“Imbalan apa?”
“Uang, apa lagi. Sekarang Kakak sudah bekerja, jadi Kakak punya banyak uang.”
“Tidak mau, kamu sudah diberikan papa uang, untuk apa masih minta aku?”
“Dasar pelit.”
“Aku akan mentraktir makan saja. Jadi kita berbelok ke restoran.”
Bryan tak mau kehilangan kesempatan. Lagi pula dia memang juga lapar.
Di restoran mereka berdua menikmati makan. Bryan mengambil kesempatan dengan makan banyak. Kapan lagi menguras kantong kakaknya.
“Aku rasa Kak Regan itu tidak mencintai Kakak,” ucap Bryan.
“Jangan asal bicara.”
“Lihat saja, dia tidak mau menemani Kak Selly.”
“Dia hanya sibuk bekerja. Dulu waktu kuliah dia juga sering menemaniku.” Selly mencoba menepis ucapan Bryan.
“Iya, itu karena terpaksa,” ucap Bryan.
Selly memutar bola matanya yang berwarna sebiru lautan itu. Malas sekali menanggapi adiknya yang selalu mengajaknya berdebat.
Usai makan, mereka berdua melanjutkan perjalanan ke rumah. Di rumah Selly langsung menghubungi Regan.
“Kamu masih di kantor?” tanya Selly seraya melihat jam di kamarnya yang menujukan jam delapan malam.
“Iya, aku akan selesaikan laporan-laporan ini agar tidak mengganggu acara pertunangan kita.”
Walaupun tadi sempat kesal, tetapi kini Selly senang karena Regan ingin menyelesaikan pekerjaan demi pertunangannya. “Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu, kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah.”
“Baiklah.”
Selly mematikan sambungan teleponnya. Kali ini dia berharap Regan benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Karena dengan begitu besok dia dan Regan bisa pergi untuk mencari cincin pertunangan.