My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Menghalau Tatapan Sinis



Mobil sampai di depan Kafa Management. Ini kali kedua Flo berada di Kafa Management. Namun, kali ini dia tidak datang sendiri, melainkan dengan dua pria tampan dan dalam keadaan punya masalah.


“Ini, pakai!” Kafa memberikan topi pada Flo.


“Di luar tidak panas, kenapa aku harus pakai topi?” Flo mengerutkan dahinya, merasa heran dengan pria di depannya. Melihat ke luar kaca mobil, dia jelas melihat cuaca tidak terlalu terik dan lagi, bukankah dia akan masuk ke kantor, pastinya tidak akan berguna topi itu dipakai. Kafa benar-benar gemas dengan Flo. “Hai, Nona,” ucap Kafa seraya tersenyum manis.


“Apa kamu sadar jika wajahmu itu sudah beredar di mana-mana? Jadi semua orang mengenali. Topi ini tidak untuk menghalau dari sinar matahari, melainkan menghalau tatapan sinis yang akan datang padamu.” Kafa ingin sekali mencekik gadis di depannya itu. Entah mimpi apa Kafa bertemu dengan gadis macam Flo.


“Oh ….” Flo hanya mengangguk mengerti. Kemudian meraih topi dari tangan Kafa. Sayangnya, pria di depannya itu tidak langsung melepaskan topi yang dipegangnya. Tangannya masih dengan erat memegang topinya.


“Kamu tidak punya kutu?” tanya Kafa menerawang rambut Flo. Tidak mau sampai kepalanya tertular.


Dua manik mata Flo membulat. Pertanyaan itu benar-benar menjijikkan. “Tentu saja tidak?” Bagaimana bisa Flo punya kutu, jika dia sangat rajin mencuci rambutnya.


“Ketombe?” Kafa menginterogasi kembali.


“Tidak.”


“Rambut rontok?” tanya Kafa lagi.


Kali ini giliran Flo yang geram. Pertanyaan Kafa, sudah seperti wawancara iklan sampo. “Kamu niat meminjami aku tidak?” tanyanya tegas.


Kafa pun mau tidak mau, melepaskan topinya untuk dipakai Flo. Tak berlama-lama, Flo memakainya. Kafa melihat jelas, entah kenapa dia merasa Flo cantik saat memakai topi. Rambut pendeknya begitu pas dengan topinya. Terlihat fashionable.


Gala yang melihat dan mendengar perdebatan hanya bisa menggeleng. Tidak bisa membayangkan akan seperti apa mereka jika bertemu setiap hari. Apalagi sekarang masalah baru sudah muncul. Yaitu Kafa yang mengakui jika gadis itu adalah tunangannya.


Mendengar suara Gala, Kafa membuka pintu mobil. Diikuti Flo yang keluar dari pintu yang dibuka oleh Kafa. Mereka bertiga masuk ke kantor. Benar juga yang dikatakan Kafa, Flo yang datang bersama Kafa dan Gala-menjadi pusat perhatian. Beberapa orang memerhatikan Flo dan berbisik menanyakan siapa gerangan wanita yang bersama dengan Kafa.


Kafa mengajak Flo ke ruangannya. Tak ada yang membuka pembicaraan selama perjalanan ke ruangan Kafa. Di dalam lift, mereka semua menutup mulut rapat-rapat. Saat lift terbuka, mereka bertiga keluar. Kafa dan Gala berjalan di depan, sedangkan Flo yang berada di belakang, mengekor dua pria tampan.


Flo melihat ke sekeliling, merasa lantai ruangan Kafa begitu nyaman. Berbeda sekali dengan kantornya bekerja. Ketika sedang asyik dengan pikirannya, Flo tidak sadar saat Kafa tiba-tiba berhenti. Membuatnya menabrak punggung Kafa yang keras.


“Kamu tidak bisa berjalan dengan benar?” tanya Kafa mencibir.


“Kamu saja yang tiba-tiba berhenti.” Bukan Flo namanya jika mau kalah begitu saja.


Kafa mendengus kesal. Namun, sejenak dia ingat untuk apa dirinya berhenti. “Siapa namamu?” tanyanya. Sedari tadi dia belum tahu nama gadis yang bersamanya.


“Danica Florencia,” jawab Flo.


“Dani?” tanya Kafa memastikan.


“Enak saja, kamu pikir aku laki-laki. Panggil aku Flo.” Flo memutar bola mata malas ketika Kafa memanggilnya dengan nama depannya.


“Baiklah, Flo.” Akhirnya, Kafa mengalah memanggil nama Flo. “Kamu di sini dulu, aku harus bicara dengan Gala sebentar.” Kafa menunjuk kursi di depan ruangannya. Meminta Flo untuk menunggu di sana.


Flo menatap pria di samping Kafa. Kini dia tahu nama pria itu adalah Gala. Pria yang menurut Flo juga cukup tampan. Tanpa menunggu jawaban Flo, Kafa meninggalkan Flo masuk ke ruangannya. Ada banyak hal yang harus dibahasnya lebih dulu dengan Gala mengenai masalah yang sedang dihadapinya itu.