
“Sampai kapan dia terus-terusan seperti ini? Setiap hari main game sampai pagi!”
Suara pria penuh amarah terdengar di keheningan malam. Di saat orang-orang sudah terlelap di dalam alam mimpi, menikmati waktu istirahat, dua orang paruh baya sedang berdebat hebat. Suara yang cukup keras membuat suara itu menembus dinding kamar. Membuat seseorang di balik dinding kamar mendengar kalimat dengan nada penuh kekesalan itu.
“Kecilkan suaramu. Jangan sampai dia dengar.”
Suara wanita memohon pun tak kalah menyayat hati. Seolah suara itu dipenuhi ketakutan dan kegelisahan. Tak mau sampai seseorang di balik dinding kamar mendengar percakapan malam itu.
“Biar saja dia dengar!”
“Jangan seperti ini, mentalnya belum stabil. Aku mohon.”
Sebuah permohonan dilayangkan dengan setulus hati, berharap sang lawan bicara mengerti maksudnya.
“Tenangkan dirimu dulu. Besok aku akan bicara dengannya.”
Setelah suara permohonan itu, tidak terdengar kembali suara perdebatan. Itu menandakan jika orang yang berada di luar kamar sudah menghentikan perdebatan. Mungkin karena sang wanita sudah dapat menenangkan atau mungkin mereka sudah lelah berdebat di tengah malam. Entah kemungkinan mana yang benar.
Agas tersenyum tipis, mendengar drama yang terjadi di balik pintu kamarnya. Hal itu sudah dia dengar seminggu belakangan ini. Drama siapa lagi jika bukan kedua orang tuanya yang memperdebatkan kegiatannya sebulan ini.
Raydan Agastya-mantan dokter kini jadi pengangguran. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu hanya sibuk bermain game online.
Sudah sebulan hari-harinya hanya diisi dengan bermain game online hingga pagi. Dia hanya akan keluar kamar ketika perutnya berdendang minta diisi. Beruntungnya, dia masih mau makan di meja makan. Paling tidak dia masih keluar dari kamar.
Selebihnya Agas menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. Berteman dengan gelapnya malam dan udara pengap. Maklum, Agas tidak pernah membuka jendela kamarnya untuk sekedar mengganti udara di dalam ruangan dengan udara segar di luar. Agas yang akan tidur di siang hari sudah seperti hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Tak pernah melihat indahnya sinar mentari yang menyinari bumi.
Agas bersandar pada tembok kamarnya yang dingin. Menekuk kakinya untuk menjadi tumpuan tangannya. Manik coklatnya menatap sesuatu di balik jendela kaca kamar yang sengaja dibuka gordennya.
Tampak bulan malam ini begitu terang. Ukurannya bulat sempurna. Seolah memberikan cahayanya paling sempurna yang dia miliki. Namun, seterang apa cahaya bulan itu, tak bisa menembus hati Agas. Hatinya masih terlalu gelap karena perginya penghuni hati itu. Meninggalkannya dalam neraka kesendirian.
Baginya hidup sudah tidak berarti lagi sejak hubungan percintaannya berakhir. Dia hanya seonggok daging tak bernyawa. Tak punya semangat dan hanya meratapi hidupnya.
Di dalam kamarnya yang gelap, dia mengurung diri. Menjauh dari orang-orang sekitar. Tak mau bertemu dengan orang lain selain mamanya. Seleranya untuk melakukan kegiatan lain pun sudah tidak ada. Baginya game online adalah kegiatan yang paling mengasyikkan. Dengan game online, dia bisa meluapkan kekesalannya dalam sebuah pertarungan. Dan itu meredakan kesalnya pada takdir yang sudah tega mengombang-ambingkan hidupnya.
...🌺🌺🌺...
Buru-buru dia membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Menghindari cahaya matahari yang mengganggu tidur nyenyaknya.
Tok ... tok ....
“Gas, makan dulu.”
Suara ketukan pintu dan panggilan terdengar dari balik pintu. Membuat Agas yang tadi ingin melanjutkan tidur, kembali terganggu. Agas sudah hafal suara siapa itu. Siapa lagi jika bukan mamanya. “Iya,” jawab Agas. Dia hafal jika mamanya akan terus mengetuk pintu sampai ada suara jawaban dari Agas.
Perlahan Agas membuka matanya. Mengedarkan pandangan mencari jam dinding di kamarnya. Sebenarnya tanpa dia melihat jam, dia sudah tahu jika ini jam dua belas siang. Karena seperti alarm, mamanya akan membangunkannya di jam makan siang.
Namun, kali ini dia salah. Jam tidak menunjukkan jam dua belas. Jarum pendek mengarah dekat angka satu dan jarum panjang di angka sembilan. Yang artinya sekarang pukul 12.45. Lebih dari jam biasa mamanya membangunkan.
Dengan malas, Agas menyibak selimutnya. Bangkit dari tempat tidur dan menyegarkan tubuhnya.
Di meja makan sudah tersedia lauk pauk. Ada opor ayam dengan bumbu kuning-kesukaan Agas yang tersaji di atas meja. Sambal goreng kentang dengan tambahan ati ampela juga menjadi pelengkap makanan di atas meja. Membuat siapa saja tergugah untuk segera makan.
“Toko hari ini dapat banyak pesanan. Mama harus pergi ke toko lagi, kamu makan sendiri ya,” ucap Aina mendaratkan kecupan di pipi Agas. Kemudian meninggalkan Agas.
Aina memiliki toko kue di Solo-tempat keluarga Agas tinggal. Jaraknya tidak jauh dari rumah. Setiap jam makan siang, Aina hanya akan pulang untuk menemani putranya makan siang dan kembali ke toko setelahnya. Namun, karena kesibukan hari ini padat, dia tidak bisa menemani anaknya makan.
Agas mendengus kesal mendengar ucapan mamanya. Mamanya selalu memperlakukannya seperti anak kecil yang harus ditemani makan. Padahal Agas selalu meminta mamanya tidak perlu menemani, tetapi tetap saja tidak berhasil.
“Gas ....” Aina yang sudah keluar masuk lagi ke dalam rumah. Padahal Agas belum juga sempat duduk. “ Nanti Mama pulang cepat, kamu bangun ya. Pasang alarm di ponselmu jam empat sore.”
Agas sudah menebak. Jika mamanya ingin membicarakan perdebatan semalam dengan papanya.
“Kamu dengar ‘kan, Gas?” tanya Aina yang tak kunjung dapat jawaban dari mamanya.
“Iya,” jawab Agas singkat.
“Baiklah kalau begitu Mama pergi dulu.” Aina melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan rumah.
Sepeninggal Aina, Agas memulai makannya. Dia memanfaatkan makan siang untuk mengisi perutnya, memberikan energi pada tubuhnya. Menyadari jika dia hanya akan makan sekali saja di rumahnya. Karena pertama, dia tidur di pagi hari, jadi sudah pasti dia melewatkan sarapan. Kedua, saat malam dia tidak mau ikut makan malam, karena tidak mau bertemu dengan papanya-orang yang menyebabkan hidupnya seperti sekarang ini.