
“Saya datang ingin melamar Shera, Pak.”
Aaron Alexander Maxton-pria tampan yang menjabat sebagai CEO di Maxton Company itu dengan beraninya melamar seorang gadis. Putra dari Regan Alvaro Maxton dan Selly Adion itu dengan tenangnya menyampaikan keinginannya.
Shera Alexandria Wijaya-anak dari dari pengusaha hotel-Sean Alexander Wijaya dan Auristella Callondra, yang dipilihnya untuk mendampinginya.
Kedua orang tua Shera saling pandang. Mereka terkejut dengan kedatangan Al yang tiba-tiba. Terlebih lagi, dia datang untuk melamar putri mereka. Sejauh ini mereka tidak pernah melihat Al dan Shera yang bersama.
“Apa kamu yakin?” tanya Papa Sean memastikan kembali.
“Saya yakin,” jawab pria dua puluh lima tahun dengan nada penuh keyakinan.
“Atas dasar apa kamu melamar putriku?” Sebagai ibu Stella perlu memastikan.
“Karena saya mencintainya.”
Tak ada keraguan dari ucapan Al. Membuat Papa Sean dan Mama Stella meyakini jika memang pria di hadapannya ini benar-benar berniat melamar putri mereka dan menjadikannya istri dengan dasar cinta.
Papa Sean tersenyum. Menerima lamaran dari Al merupakan keuntungan untuknya. Selain anaknya mendapatkan pria yang mencintainya, dia juga mendapatkan menantu seorang pengusaha muda yang hebat. Apalagi keluarga Maxton yang terkenal pastinya akan membuat perusahannya lebih besar lagi. Ini bukan seperti menjual anak untuk memperluas usaha. Karena sejatinya Al menyukai putrinya.
“Datanglah ke mari dengan kedua orang tuamu. Kami akan dengan senang hati menerima.”
“Baiklah, saya akan datang dengan kedua orang tua saya.” Al mengulurkan tangannya, menjabat tangan Papa Sean. Sebagai janjinya, jika dia akan membawa kedua orang tuanya datang.
Papa Sean dan Mama Stella menerima uluran tangan Al. Senyuman tergambar indah di wajah mereka. Merasa senang, karena akhirnya putri mereka mendapatkan pria yang sesuai dengan kriteria yang mereka dambakan. Pria mapan dari keluar terpandang.
“Hubungi putrimu. Suruh dia pulang segera.” Papa Sean meminta istrinya untuk menghubungi anaknya yang diketahui sedang berlibur ke luar negeri.
“Baiklah, aku akan segera menghubungi.”
...🌺🌺🌺...
Shera sampai di Bandara. Mengedarkan pandangannya, mencari di mana sopir yang menjemputnya. Tubuhnya terlalu lelah jika harus menunggu lagi. Apalagi kepalanya terasa pusing.
“Menyebalkan sekali, setelah papa membuat berantakan acara jalan-jalanku, sekarang aku masih harus menunggu jemputan.”
Shera begitu kesal ketika mamanya menghubunginya dan memintanya pulang. Dia yang hendak menikmati London, seketika batal karena harus diminta pulang.
Mamanya beralasan ada hal penting yang ingin dibicarakan, jadi sang mama meminta Shera membatalkan jalan-jalannya.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, mobil yang menjemput Shera datang. Sopir mengantar Shera ke rumah kedua orang tuanya. Karena memang diketahui Shera selama ini tinggal di apartemen.
“Akhirnya, kamu datang juga.” Mama Stella membawa Shera ke dalam pelukannya.
“Mama aneh sekali.” Shera merasa mamanya berlebihan sekali. Seolah sudah lama tidak bertemu. Padahal dia hanya pergi berlibur dan baru beberapa hari.
“Mama itu senang sekali. Karena sebentar lagi anak Mama akan menikah.” Mama Stella mendaratkan kecupan di pipi putrinya. Merasa sangat senang.
“Kak Shera akan menikah dengan siapa?” tanya Auretta-putri kedua dari Stela dan Sean Wijaya. Gadis cantik yang baru saja masuk kuliah itu tampak ingin tahu dengan siapa kakaknya akan menikah.
“Dengan CEO Maxton Company.” Stela dengan semringah menjawab pertanyaan putrinya.
CEO Maxton Company itu adalah pria dingin dan angkuh, ‘kan? Shera mengingat pria yang ditemuinya terakhir kali di mal.
“Maksud Mama, Aaron?” Shera memastikan pada mamanya.
“Iya, Aaron Alexander Maxton, jawab Mama Stella dengan semangat. Dia begitu senang akan miliki calon mantu tampan.
“Coba kalian dengar, namanya saja sudah mirip dengan papa. Jadi kalian berjodoh.” Mama Stela tersenyum manis membayangkan nasib yang sedang menghampiri putrinya.
Shera bergidik ngeri melihat mamanya yang super aneh. “Kalau mirip papa, suruh saja papa yang menikah.” Shera memutar bola matanya malas.
“Eh ... Yang ada Papa adu anggar.” Suara Papa Sean tiba-tiba terdengar. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang menginjak setengah abad itu masuk ke rumah, menghampiri tiga bidadari di rumahnya.
“Papa sudah pulang?” tanya Retta.
“Iya, karena hari ini Papa ingin membantu Mama untuk bersiap acara besok.”
“Acara apa?” Shera mengerutkan dahinya. Masih tidak mengerti apa yang terjadi. Seingatnya sebelum ke London. Tidak ada acara apa-apa di rumahnya.
“Acara lamaranmu, memang apa lagi.” Retta begitu semangat menggoda kakaknya.
“Aku?” Shera menunjuk dirinya sendiri. “Lamaran? Besok?” Semakin Shera tidak mengerti pembicaraan yang ada.
“Iya, kemarin Aaron ke sini. Dia mengatakan jika ingin menikahimu. Lalu kami meminta orang tuanya untuk datang dan rencananya besok mereka akan datang.”
Shera memegangi kepalanya. Seketika kepalanya terasa semakin berdenyut. Merasakan pusing yang mendera setelah mendengar ucapan mama dan papanya.
“Retta, bawa kakakmu ke kamar. Pasti dia mengalami jetlag setelah penerbangan.”
Mama Stela memerintahkan anak keduanya.
Dengan sigap Retta membawa Shera ke kamarnya. Shera hanya pasrah. Sampai di kamar pun dia langsung tidur. Selain memang karena penerbangan yang lama dan beberapa kali mengalami turbulane, kini pusingnya bertambah karena rencana lamaran antara dirinya dan Al.
Shera tidak kenal dengan Al sama sekali. Hanya beberapa kali bertemu. Itu pun diwarnai dengan perang dingin. Shera tidak bisa membayangkan akan seperti apa pernikahannya nanti
...🌺🌺🌺...
Di rumah Al semua orang menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Mommy Selly adalah orang yang paling heboh. Bagaimana tidak heboh jika anak laki-laki satu-satunya akan menikah.
Kemarin saat mendengar dari Al, dia amat terkejut. Karena tiba-tiba anaknya itu mengatakan jika akan menikah.
“Kamu tidak menghamili anak orang, ‘kan Al?” Mommy Selly menatap lekat penuh curiga pada anaknya.
“Astaga, Mom. Kenapa menuduh anaknya seperti itu?” Rasanya harga diri Al hancur ketika dituduh dengan tuduhan keji.
Mommy Selly hanya tersenyum polos. Pengalaman adiknya yang menikah tiba-tiba karena menghamili anak orang, menjadi trauma. Jadi, dia takut anaknya melakukan hal yang sama. Takut-takut masih ada darah Adion yang sama. Bisa jadi anaknya melakukan seperti adiknya. Apalagi El-keponakannya jauh dari kata mirip dengan daddy-nya. Siapa tahu menurun ke Al.
“Tidak, Mom. Aku tidak menghamili. Aku memang sengaja melamarnya.”
“Tapi, Mommy tidak pernah melihatmu dekat dengannya, Al.” Mommy Selly masih curiga.
Al terkesiap. Dia bingung menjawab apa.
“Anakmu mungkin mencintai dalam diam.” Daddy Regan yang sedari tadi diam, akhirnya bicara juga.
“Nah ... itu, aku menyukainya diam-diam.” Akhirnya, Al menemukan jawaban atas pertanyaan mommy-nya.
“Baiklah, jadi kapan?”
“Besok lusa kita akan ke sana,” jelas Al.
“Apa?” pekik Selly.
Suara Selly yang terdengar, begitu menyakitkan gendang telinga. Membuat Daddy Regan dan Al langsung menutup telinganya.
“Kenapa berteriak, Sayang.” Daddy Regan melepas tangannya yang berada di telinga.
“Bagaimana aku tidak berteriak, jika rencana lamaran Al hanya tersisa dua hari.” Mommy Selly kesal sekali.
“Hanya lamaran biasa, Mom. Hanya membahas kapan kita bertunangan saja.”
“Tetap saja.” Mommy Selly menekuk bibirnya kesal.
“Minta Mommy Shea dan Ghea membantu saja.” Al yang melihat mommy-nya kesal, mencoba memberikan solusi.
“Itu pasti, Chika juga nanti akan membantu. Dua hari mana bisa menyiapkan sendiri.”
Al dan Daddy Regan hanya saling pandang. Merasa tidak heran dengan wanita paling cantik di rumahnya itu.
Dan di sinilah sekarang Mommy Shea, Mama Chika dan Ghea berada. Ditambah lagi dengan Mama Lyra-mama dari Dean sepupu dari Al. Mereka semua menyiapkan barang yang akan dibawa ke rumah calon istri Al.