
Brug ….
Seorang pria sedang berlari menabrak Mara yang sedang ingin ke kelasnya. Buku yang dibawa Mara seketika berhamburan ke lantai.
“Apa kamu tidak bisa berjalan dengan benar!” keluh Mara dengan nada kesal. Dia berjongkok dan mengambil bukunya.
“Maaf.” Dengan napas terengah-engah pria itu meminta maaf pada wanita yang ditabraknya.
Mata Mara memicing. Mendengar suara yang pernah dia dengar, Mara menengadah. Ternyata benar tebakannya dalam hati, jika itu adalah Agas. Pria yang ditemuinya kemarin d toko buku.
“Ay, kamu ternyata.” Mata Agas berbinar melihat bidadari cantik di hadapannya. Wanita yang kemarin ditemuinya di toko buku. Wanita yang hobi menghirup aroma buku seperti dirinya.
“Ay?” Mara mengulang panggilan yang disempatkan Agas. Dahinya berkerut mendengar panggilan yang disematkan Agas.
Dasar playboy cap kadal buntung. Bisa-bisanya dia panggil Ay.
“Nama aku Mara.” Dengan tegas Mara menyebut namanya.
“Iya, Aymara 'kan, jadi benar jika aku panggil Ay.”
Mara terkesiap. Dia malu sekali karena berpikir jika Agas sengaja memanggilnya ‘Ay’ yang Artinya ‘ayang’ dan biasa disempatkan untuk pasangan kekasih. “Tapi orang panggil aku Mara.” Mara yang selesai memunguti bukunya berdiri.
“Biar saja orang panggil kamu Mara, tetapi aku akan panggil Ay, agar romantis.”
Mata Mara membulat sempurna mendengar ucapan Agas. Playboy di hadapannya itu benar-benar menyebalkan. Baru bertemu dua kali, tetapi sudah berani memberikan gombalan.
“Kita bicara nanti lagi ya, Ay. Sekarang aku harus masuk ke kelas,” ucap Agas dengan senyuman di wajahnya. Dia kemudian berlalu meninggalkan Mata dan menuju ke kelasnya.
Untungnya sampai di kelas Dosen belum datang dan membuatnya bisa langsung masuk dan duduk. Menunggu Dosen datang untuk memulai kelas, Agas membuka tasnya.
“Aku sudah bilang jangan pulang malam!” Tara yang melihat Agas terlambat, mencibirnya. Semalam Tara memilih untuk pulang lebih dulu, sedangkan Agas melanjutkan main game di cafe.
“Hutan … oh Hutan, kenapa kamu tidak membangunkan aku?” tanya Agas kesal.
“Aku sudah menggedor pintu kamar kos hingga rusak, tapi kamu sedang bermimpi indah hingga tidak mendengarkan aku.” Tara memutar bola matanya malas, tak kalah kesal dengan Agas. Memang tadi pagi itu yang dilakukan Tara.
“Iya, aku mimpi indah dan pagi ini aku bertemu dengan bidadari dari mimpiku.” Wajah Agas berbinar mengingat pertemuannya dengan Mara pagi ini.
“Bidadari mana ada yang mau dengan iblis,” jawab Tara.
“Siapa iblis?” tanya Agas mengedikkan dagunya.
“Kamu,” ucapnya, “Iblis dari neraka jahanam,” tambahnya.
“Aku malaikat?”
“Malaikat mana ada yang tinggal di Hutan.” Agas tertawa terbahak.
“Sial!” Tara melempar bukunya pada Agas.
***
Mara melanjutkan langkahnya ke kelas. Masuk dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di samping Lili. “Mimpi apa aku tadi malam bertemu dia lagi,” kesal Mara.
“Kamu kenapa? Baru saja ketemu setan?” tanya Lili yang melihat wajah kesal dari Mara.
“Ini rajanya setan.” Mara memajukan bibirnya kesal.
“Seperti apa raja setan?” Lili begitu penasaran. Dia menarik kursinya untuk mendekat pada Mara dan mendengarkan siapa raja setan yang dimaksud Mata.
“Seperti pria yang kita temui kemarin.”
Dahi Lili berkerut dalam, merasa bingung. “Kemarin aku bertemu, tukang bakso, Tara dan Agas,” ucapnya mengingat pria yang ditemuinya seraya menghitung dengan jarinya.
“Iya itu Agas-raja setan,” ucap Mara dengan suara tinggi.
Semua mata anak-anak yang berada di kelas melihat ke arah Mara. Nama Agas sudah seperti magnet, jadi semua orang pasti mengenalnya. Mara menelan salivanya saat semua mata memandangnya. Mara memasang senyum bodohnya saat tatapan teman-temannya menghujam.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan Agas adalah raja setan.” Lili menarik lengan Mara.
“Dia tadi menabrakku.”
“Astaga Mara, kamu ditabrak bidadara.” Lili memasang ekspresi terkejut mendengar cerita Mara.
Mara menggeleng melihat ekspresi Lili. “Bidara mungkin,” elaknya.
“Bidara itu untuk mengusir setan yang masuk ke dalam tubuhmu.” Lili kembali menarik lengan Mara. “Ceritakan padaku bagaimana kamu tadi bertemu Agas?”
“Pagi.” Belum sempat Mara menceritakan Dosen sudah datang dan akhirnya menghentikan Mara bercerita. “Kamu hutang cerita denganku,” bisik Lili.