My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Retta & Rylan Bab 10



Retta melihat wajahnya dari pantulan cermin. Dulu bayangan bahagia selalu melintas di kepalanya, tetapi sekarang ketika berada dalam posisi yang sama dengan bayangannya, tak terlihat rasa bahagia sama sekali. Terlebih lagi harus menikah dengan Rylan. Pria yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. 


Sekali pun tidak bisa menikah dengan kekasihnya, dia berharap bukan Rylan yang menikah dengannya, tetapi semua sudah jadi keputusan keluarga. Apalagi semua sudah menjadi konsekuensi dirinya yang memilih Gerald dan menyebabkan kegagalan dalam pernikahannya. 


Penata rias selesai merias wajah Retta, dia meminta Retta untuk mengganti gaunnya. Karena dia akan merapikan langsung gaun dan veil di rambut Retta. 


Dengan malas, Retta berangsur bangun. Bersiap untuk mengganti pakaiannya dengan gaun pernikahan. Gaun itu terlihat begitu cantik di tubuhnya. Membuat Retta mengagumi dirinya sendiri. Namun, tetap saja tak membuat Retta bahagia begitu saja. 


Pintu kamar dibuka, Mama Stella melihat sang putri begitu cantik. Sebenarnya dia juga tidak tega melihat anaknya yang harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya, tetapi apa boleh buat, semua harus ditanggungnya. Terlebih lagi nama baik keluarga dipertaruhkan. Mama Stella menghampiri Retta. Memerhatikan anaknya dengan saksama kembali. 


“Ma.” Melihat sang mama Retta ingin menangis. 


“Jangan menangis, nanti riasan kamu luntur.” Mama Stella membelai lembut pipi Retta. “Dengar, Sayang, papa sudah mempertimbangkan Rylan dengan baik. Kami yakin dia akan membuatmu bahagia.” 


“Ma, Bagaimana aku bisa bahagia jika aku harus menikah dengan orang yang aku tidak cintai? Mama dan Kak Shera saja menikah dengan orang yang kalian cintai, kenapa aku tidak?” Retta masih melempar protesnya. 


“Setiap kisah cinta punya garisnya sendiri-sendiri. Bagus Tuhan tunjukan Gerald sebelum kamu menikah dengannya. Apa jadinya jika Tuhan tunjukkan kamu setelah menikah? Apa itu jauh lebih akan membuatmu sakit?” tanyanya. 


“Ma.” 


“Re … lakukan ini demi keluarga jika kamu tidak mau melakukan demi dirimu sendiri. Papa sudah membangun nama baiknya selama bertahun-tahun. Jadi jangan sampai semua hancur hanya karena dipermalukan oleh anaknya sendiri. Kami mengambil keputusan ini secara matang, dan memilih calon pengantin berdasarkan info dari berbagai pihak. Jadi kami yakin Rylan adalah pilihan terbaik.” Mama Stella hanya bisa memberikan pengertian pada putrinya. 


Retta mengembuskan napasnya. Terlalu sulit untuk dirinya, tetapi ini pilihan terbaik untuk dirinya saat ini adalah menikah dengan Rylan. Karena tentunya, dia tidak mau sampai orang tuanya menanggung malu akibat apa yang dilakukannya. 


Pintu kembali terbuka. Kali ini Shera menyembul dari balik pintu. Ibu dua anak itu mengatakan jika Retta harus segera ke pelaminan. 


Retta hanya bisa pasrah mengikuti skenario yang digarisnya untuknya. Harapannya tidak hanya satu, semoga orang tuanya bahagia. 


Di ruang tamu sudah ada sang papa yang begitu gagah dengan setelah jasnya. Pria berusia kepala lima itu menyambut Retta dengan senyuman. Hal itu membuat Retta yakin jika pilihan menikah ini adalah pilihan yang benar. 


“Apa kamu sudah siap?” tanya Papa Sean seraya mengulurkan tangan pada putrinya. 


“Bukankah aku harus siap, saat sebenarnya tidak siap?” tanya Retta menyindir. 


Papa Sean tersenyum tipis. Dia tahu jika sang putri begitu kesal mendengar pernikahan tetap dilaksanakan. Dia sudah dengar cerita dari Shera jika adiknya marah ketika mengetahui akan tetap menikah. Namun, Papa Sean tak ambil pusing. Dia mengambil keputusan itu pun tidak semata-mata hanya desakan pernikahan yang akan gagal. Semua itu juga karena banyak pertimbangan. 


Kemarin malam Papa Sean sempat mengobrol dengan El, Al, Noah, Daddy Regan-besannya, Daddy Bryan-ipar dari besannya, dan Juga Papa Felix-teman mereka yang sudah dianggap keluarga. Mereka semua memang dekat. Keluarga Al-menantunya selalu membantu dalam hal apa pun, termasuk kekacauan yang sedang dibuat Retta. 


“Aku mengenal Rylan cukup lama sejak dia datang ke sini. Jadi aku rasa dia pilihan tepat untuk saat ini.” Papa Felix memberikan pendapatnya pada Papa Sean. 


“Dia tipe humoris. Anak-anak begitu suka bermain dengannya. Jadi dia akan jadi suami dan ayah yang baik pastinya.” Daddy Bryan melihat bagaimana kedekatan Rylan dengan keponakannya. Mereka begitu bersemangat ketika ada Rylan. 


“Dia membuat suasana sangat ramai.” Al menambahi. 


“Percayalah, dia baik untuk anakmu.” Daddy Regan menepuk bahu Papa Sean yang duduk di sampingnya. 


Dari obrolan semalam itu, Papa Sean semakin yakin jika Rylan adalah pilihan yang tepat. Karena itu, dia pun tak ragu sama sekali menikahkan anak bungsunya itu. 


“Ayo.” Papa Sean menarik tangan Retta dan memintanya melingkar di lengannya. Kemudian mengajaknya berjalan ke tempat pernikahan akan dilaksanakan. 


Mama Stela, Shera, dan Al juga ikut serta. Si kembar Anka dan Rigel juga ada di sana. Mereka semua menaiki lift untuk sampai ke lantai bawah. 


Papa Sean menepuk tangan Retta. “Papa harap kamu bisa bahagia. Bahagia itu kita yang ciptakan, jadi jangan memberikan alasan karena kamu tidak mencintainya, kamu tidak akan bahagia.” 


Retta menoleh pada papanya. Sorot matanya begitu tulus. Mengisyaratkan bahwa dirinya pasti akan bahagia jika mau menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Retta hanya bisa mengangguk ketika itu. Entah seperti apa menciptakan kebahagiaan itu, dia pun tidak tahu. 


Mereka sampai di lantai bawah. Sudah ada Cia dan Noah. Mereka mengarahkan Lora untuk menjadi Junior Bridesmaid nanti bersama degan Anka. Mereka akan berjalan di depan pengantin wanita menuju ke tempat pernikahan. Dua gadis cilik dengan gaun mekarnya, tampil begitu cantik. Mata biru keduanya begitu tampak mengemaskan bagi yang melihatnya. Sekilas mereka tahu, jika wajah keduanya adalah blasteran darah Inggris. 


Setelah siap, Retta berjalan menuju acara pernikahan. Pernikahan diadakan dengan pemandangan pantai. Acara sengaja diadakan pada sore hari ketika sang surya mulai pulang ke peraduan. Berlatar langit jingga, membuat pernikahan begitu indah. 


Retta terus mengayunkan langkahnya. Tampak dari kejauhan ada Rylan yang berdiri menunggunya. Dia tampak begitu gagah dengan setelah jas yang senada dengan Retta. Retta mengakui jika Rylan punya paras yang begitu tampan, tetapi entah kenapa di matanya dia masih seperti anak-anak. Wajahnya begitu imut bak anak sekolah. Benar-benar tidak sepadan dengan umurnya. 


Retta terus melangkah. Melewati para tamu undangan yang sudah hadir di acara pernikahan. Cukup banyak tamu undangan yang datang. Hal itu menyadarkan Retta, bagaimana bisa dia mempermalukan papa dan mamanya di depan banyak orang. Mungkin Retta tidak akan pernah tega melakukannya. 


Rylan melihat Retta hanya bisa terperangah. Retta begitu cantik hingga tak mampu Rylan menggambarkan kecantikan tersebut. Sungguh dia merasa beruntung sekali. Kedatangannya ke Indonesia benar-benar tidak sia-sia jika akhirnya menikah dengan wanita cantik yang sejak lama mengisi relung hatinya. 


Melihat Retta senyum Rylan terlukis indah. Hal itu berbanding terbalik dengan Retta yang memasang wajah datar tanpa ekspresi. Melihat Rylan yang tersenyum lebar, justru membuat Retta merasa kesal. Dia tahu pria yang akan menikah dengannya itu sangat mencintainya. 


Retta sampai di depan Rylan. Pria itu langsung mengulurkan tangannya ketika Retta sampai. Mengajaknya duduk di samping penghulu. Tangan Rylan begitu dingin ketika Retta merasakannya. Dia sudah menebak jika Rylan sedang sangat berdebar-debar. Dibanding Rylan, Retta lebih tampak tenang. Dia cenderung tidak perduli sebenarnya dengan pernikahannya ini. Karena semua terjadi di luar kehendaknya. 


Rylan berkali-kali mengembuskan napasnya. Berusaha mengatur detak jantungnya. Ini adalah pengalaman pertamanya dan membuatnya begitu berdebar-debar. Melihat hal itu, Retta secara reflek menarik tangan Rylan yang berada di pahanya. Mencoba menenangkan pria di sebelahnya itu yang sedang berdebar-debar. Rylan yang merasakan tangan Retta merasa jauh lebih baik. Dia mengartikan jika Retta memberikan dukungan untuknya. Melihat Rylan yang jauh lebih baik, membuat Retta akhirnya melepaskan genggaman tangannya. 


Prosesi dimulai. Di depan penghulu, Rylan mengikat janji suci pernikahan.  Disaksikan oleh penghulu, keluarga, dan para tamu. Kini Rylan dan Retta menjadi pasangan suami istri. 


Rylan begitu lega setelah dapat menyelesaikan semua prosesi pernikahannya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, dia menatap Retta yang duduk di sampingnya. Tatapan penuh cintai ditunjukkan olehnya.


Sayangnya, semua itu tidak berbalas. Retta yang melihat Rylan justru begitu dingin. Tak membalas sama sekali senyuman Rylan. Namun, bukan persoalan besar untuk Rylan. Karena dia yakin akan membuat Retta mencintainya. 


Prosesi berlanjut. Rylan dan Retta menandatangani berkas pernikahan. Kemudian keduanya menjalani prosesi pertukaran cincin. Saat melihat cincin, Retta pikir Cincinnya akan sama dengan yang disiapkannya. Sayangnya, ternyata cincin yang ada berbeda. Cincin yang disiapkan jauh lebih indah dibanding yang Retta sendiri pilih. 


Rylan mengambil cincin. Cincin ini memang khusus dulu dibelinya untuk Retta dan dirinya. Saking terobsesinya pada Retta, dia sudah memimpikan akan melamar gadis itu. Namun, semua kini bukan hanya mimpi. Karena akhirnya dia benar-benar menikah dengan Retta. Rylan memakaikan cincin tersebut. Beruntung cincin itu muat di jari Retta. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Apa yang disiapkan Rylan benar-benar pas pada waktunya. 


Kini giliran Retta memakaikan cincin pada Rylan. Sungguh dia tidak menyangka akan benar-benar menikah dengan Rylan. 


Hai, Retta, selamat telah menikah dengan pria yang usianya lebih muda dibanding dirimu. Bersiapkan berdebat untuk hal remeh temeh. Siapkan juga dirimu untuk mengecek tekanan darah secara berkala, karena pasti berdebat itu akan membuat tekanan darahmu naik. 


Retta merapalkan dalam hatinya. Kemudian memasangkan cincin di tangan Rylan. Senyum Rylan begitu sempurna di wajah tampannya. Hal itu membuat Retta hanya bisa pasrah. Entah akan seperti apa pernikahannya ini. Yang jelas dia tidak berani membayangkannya.