
Pagi-pagi sekali suara Mama Stella sudah menggelegar. Membuat Shera yang asyik menikmati tidurnya, mau tidak mau harus bangun. Rasanya dia malas sekali menghadapi hari ini. Hari di mana pertunangannya akan dilaksanakan.
Sesuai dengan kesepakatan bersama, pesta akan di gelar di Hotel W-hotel milik keluarga Wijaya. Beberapa chef kiriman dari Hotel Maxton akan datang sesuai dengan keinginan dari keluarga Maxton. Mereka ingin dua hotel dapat bekerja sama dengan baik.
Setelah tadi mendengarkan suara indah sang mama, akhirnya Shera beranjak dari tidurnya. Kemarin Shera sengaja tidur di rumah. Hal itu dilakukannya agar memudahkan untuk berangkat ke hotel.
Namun, sepertinya Shera menyesali keputusannya. Karena tidur indahnya seketika terganggu dengan suara sang mama. Dengan langkah gontai, Shera menuju ke kamar mandi, bersiap untuk segera ke hotel.
“Apa semua barang-barang milik Shera sudah di masukkan?” tanya Mama Stela pada asisten rumah tangga.
“Sudah, Bu. Semua barang yang diminta tadi, sudah saya masukkan ke mobil semua.”
“Baik, terima kasih.”
Shera yang menuruni anak tangga, melihat mamanya yang sedang sibuk menyuruh asisten rumah tangga. Padahal jam masih menujukan jam tujuh. Entah mamanya itu bangun jam berapa, dia tidak tahu.
“Kamu cepat sarapan dan cepat pergi ke hotel.” Mama Stella yang melihat Shera, beralih memerintahkan anaknya itu.
Shera mengembuskan napasnya. Merasa malas mendengar perintah sang mama. Melanjutkan kembali langkahnya, dia menuju ke meja makan. Di meja makan sudah tampak papanya menikmati secangkir teh.
“Pagi, Pa.” Shera menarik kursi sambil menyapa sang papa.
“Kak Shera lemas sekali, padahal hari ini hari pertunangan Kakak.” Retta yang sudah menikmati sarapannya, mengomentari kakaknya.
“Berisik!” jawab Shera menatap tajam pada adiknya.
Sayangnya, Retta tak peduli. “Kalau Kak Shera tidak suka dengan Kak Al, sebaiknya dia buat aku saja. Aku rela mengganti Kak Shera.” Senyum Retta tergambar indah di wajahnya. Dia memang suka dengan pria tipe Al yang pendiam.
“Ambil saja jika kamu mau!” Shera jauh akan lebih beruntung jika adiknya mau menggantikannya.
“Kuliah yang benar. Belum waktunya kamu menikah.” Papa Sean yang sedari tadi melihat drama pagi ini, akhirnya ikut berkomentar. “Ingat, itu calon suami kakakmu. Jadi jangan macam-macam.” Papa Sean menatap anak keduanya itu.
“Siapa yang benar-benar merebutnya?” Retta tertawa. Sedari tadi dia hanya menggoda kakaknya itu. Tak berniat untuk merebut suami kakaknya.
“Bagus, jadi tidak akan ada drama ‘merebut kakak ipar’ atau ‘suamiku adalah mantan calon kakak iparku’.” Papa Sean tersenyum melihat anak-anaknya.
Seketika tawa mereka bertiga terdengar. Papa Sean terlalu berimajinasi tinggi, hingga membuat drama untuk kedua anaknya. Shera yang tadinya kesal seketika ikut terbawa suasana. Tawanya membuatnya melupakan sejenak kesalnya dengan pertunangannya.
...🌺🌺🌺...
Di hotel Shera bersiap. Penata rias mulai merias wajahnya. Wajah Shera yang biasanya tampil dengan riasan sederhana, sekarang tampil berbeda. Tetap mengusung tema natural, wajah Shera dirias dengan warna-warna lembut.
Melihat wajahnya dari pantulan cermin, Shera tersenyum. Dia yang sibuk dan males memang merias wajahnya ala kadarnya. Semua sudah tahu jika Shera tidak suka berlebihan.
“Wah … gaunnya cantik sekali, Kak.”
Shera melihat adiknya dari pantulan cermin. Adiknya begitu kagum dengan gaun milik kakaknya. Melihat gaun dari kejauhan, Shera mengakui jika gaun pilihan Al itu memang cantik.
Cantik tidak harus terbuka. Shera mengingat kalimat yang terlontar dari pria dingin itu. Terlihat jelas jika Al begitu menghargai wanita.
Kenapa aku memikirkannya? Shera tersadar dengan pikirannya. Tak mau membuat Al berada di pikirannya.
“Cepat pakai, Kak. Aku mau melihat gaun itu dipakai oleh Kakak.”
Shera mengangguk. Karena dia sudah selesai dirias. Dia pun langsung bersiap untuk memakai gaunnya. Berharap, gaun itu akan tampak indah di tubuhnya.
...🌺🌺🌺...
Di rumah keluarga Maxton tak kalah sibuk dengan persiapan pertunangan. Semua keluarga bersiap untuk acara yang akan diadakan di Hotel W. Acara hanya akan dihadiri keluarga saja dan tidak mengundang banyak orang. Al ingin acaranya biasa saja. Jika ingin mengundang, lebih baik nanti saja saat pernikahan tiba.
“Kak.” Dean dan Ghea membuka pintu dan masuk ke kamar. Dua adik sepupu Al itu diminta sang mommy untuk memanggil Al.
“Kakak sudah siap?” Ghea melihat tampilan Al yang sudah rapi.
“Sudah.”
“Tidak menyangka jika akhirnya Kak Al akan menikah juga.” Ghea merasa senang satu persatu kakaknya melepas masa lajang mereka.
“Iya, dan setelah ini kamu.” Al membelai lembut kepala Ghea.
“Sudah menikah saja denganku. Aku jamin kamu tidak akan sakit hati.” Dean tersenyum menyeringai.
“Kamu tidak akan masuk daftarku. Kita bukan Kak El dan Kak Freya.” Ghea tak mau kalah. Hubungan dengan Dean memang dekat, tetapi mereka hanya bersahabat saja.
Dean langsung tertawa. “Aku pikir setelah kamu putus, kamu akan berubah pikiran.”
“Kamu memutuskan hubunganmu?” tanya Al saat mendengar ucapan Dean. Dia tahu persisi jika adiknya sudah memiliki kekasih.
“Lebih tepatnya, pria itu yang memutuskan.” Dean tertawa. Senang sekali menggoda temannya itu.
Ghea memutar bola matanya malas. Perasaannya tiba-tiba kesal ketika membahas tentang masalah percintaannya. Dia yang baru saja diputus oleh sang kekasih, masihlah berduka. Hatinya masih terluka.
“Aku yakin kamu akan menemukan pria yang tepat.” Al kembali membelai rambut adiknya.
“Sudah-sudah. Jangan bahas aku. Hari ini, hari bahagia Kak Al dan Kak Shera. Jadi kita harus senang.” Ghea tak mau merusak kebahagiaan kakak karena kesedihannya. “Ayo kita foto. Aku akan memamerkan pada Kak El dan Kak Freya.” Ghea mengambil ponselnya dan membidik kamera ke arah mereka.
Al dan Dean pun mengikuti Ghea. Berpose di ke arah kamera.
“Aku akan kirimkan pada Kak El.” Ghea yang mendapati foto langsung mengirim foto itu pada El. Dia ingin membuat kakaknya itu iri karena tidak datang di acara pertunangan saudaranya.
Puas berfoto, mereka bertiga keluar dari kamar. Menemui keluarga yang sudah menunggu mereka semua. Dengan menggunakan mobil masing-masing. Mereka bersiap untuk ke hotel tempat acara berlangsung.
... 🌺🌺🌺...
Ballroom Hotel W disulap menjadi tempat berlangsungnya acara pertunangan. Dengan dekorasi pink dan putih, ruangan begitu terlihat indah. Kursi yang saling berhadapan, memudahkan keluarga saling menyampaikan niat dan tujuan.
Pihak keluarga Maxton dan keluarga Wijaya saling duduk berhadapan. Shera duduk di antara kedua orang tuanya. Begitu sebaliknya Al duduk di antara keluarganya. Wajah mereka semua dihiasi dengan senyuman. Merasa sangat senang karena akhirnya hari yang ditunggu telah tiba.
Sesekali Shera menatap Al. Entah kenapa aura pria dingin di hadapannya itu terlihat berbeda. Namun, Shera buru-buru menyingkirkan pikiran itu. Tak mau terbuai karena pesona Al.
Al juga tak kalah menatap Shera. Gaun yang dipilihnya kemarin itu sangat pas. Walaupun tidak terbuka, tetapi Shera masih tampil cantik.
Acara di mulai. Papa Felix perwakilan dari
keluarga Maxton menyampaikan niat datang menemui keluarga Wijaya. Keluarga Wijaya pun menerima kedatangan dari keluarga Maxton.
Serangkaian acara dilaksanakan. Hingga akhirnya sampai pada saat Al dan Shera memasang cincin di antara mereka berdua.
Berhadapan dengan Al membuat Shera begitu berdebar-debar. Perasaannya tak karuan karena ini adalah hal baru untuknya. Al dengan penuh keyakinan menyematkan cincin di jari Shera. Mengikat Shera dengan hubungan baru-pertunangan.
Bagi Shera rasanya seperti mimpi ketika cincin berada di tangannya. Seolah itu tanda jika dia tidak akan pernah lepas dengan Al. Berlanjut, Shera memakaikan cincin di tangan Al. Cincin yang dipesan sepasang itu menandakan jika mereka akan berpasangan dengan ikatan pertunangan.
Tepuk tangan dari keluarga menyambut ketika Al dan Shera menyelesaikan acara tukar cincin. Mereka merasakan bahagia, karena ini akan jadi perjalanan awal hubungan antar kedua keluarga.
Keluarga satu persatu memberikan ucapan selamat. Mendoakan, agar rencana pernikahan yang mereka akan rencanakan akan berjalan dengan lancar.