
“Kamu wanita yang berada di lift tempo hari, bukan?” tanya Kafa ketika mengenali wajah Flo.
Untung dia mengenali aku sebagai wanita yang berada di kantornya. Flo sedikit beruntung ketika Kafa mengenalinya bukan karena foto vulgarnya yang beredar di internet.
“Sedang apa kamu di sini?” Manik mata indah berwarna hazel milik Kafa terlihat menajam ketika bertanya. Pandangannya penuh rasa curiga. Karena sedikit ganjal gadis di hadapannya itu berada di ruko yang sama dengannya.
Flo bingung mencari alasan apa. Tak mau memberikan alasan yang tidak masuk akal pada Kafa. Bisa-bisa, pria yang sedang memandanginya penuh dengan rasa curiga itu tahu, jika semua ini terjadi karena ulahnya.
Gala yang berdiri di belakang Kafa memerhatikan gadis yang bersama dengan Kafa. Wajahnya begitu familiar, membuatnya bertanya-tanya. Sejenak, dia mengingat foto yang dipegangnya. Foto itu yang akan Kafa tunjukan pada orang yang sudah mengedarkan foto itu di internet.
Gadis itu adalah gadis dalam foto ini. Gala akhirnya menemukan kenapa wajah gadis yang sedang dicengkeram oleh Kafa adalah orang yang sama dengan yang berada di foto. Tak menunggu lama, Gala memberitahu Kafa. Membisikkan apa siapa gadis di depannya.
Kenapa dia berbisik? Apa dia sedang membisikkan mantra agar aku mengaku? Flo yang melihat seorang pria membisikkan sesuatu pada Kafa menaruh curiga. Belum lagi setelah pria itu membisikkan sesuatu, Kafa membulat sempurna. Kemudian menatap tajam padanya. Flo hanya bisa menelan salivanya.
“Kamu gadis dalam foto ‘kan?” tanya Kafa mengeratkan cengkeramannya.
Mati aku, akhirnya dia tahu. Kali ini Flo tidak bisa kabur sama sekali. Otaknya terus berpikir bagaimana caranya menghadapi situasi ini.
“Iya, aku gadis dalam foto itu.” Dengan berani Flo menjawab pertanyaan Kafa. Dia berpikir inilah kesempatannya. Bukankah dia ingin foto itu tersebar untuk mengancam Kafa? Jadi kenapa dia harus takut sekarang. Walaupun foto tidak sesuai dengan harapannya, paling tidak, dia masih punya kesempatan.
“Apa kamu sengaja membuat foto tersebut?”
“Enak saja.” Flo menyingkirkan tangan Kafa dengan kasar. “Justru aku ke sini karena temanku bilang tempat ini tempat pertama foto itu tersebar.” Dengan percaya dirinya, Flo menjelaskan.
Kafa tertawa. Tidak mudah baginya menerima alasan. “Hai, jangan kira aku percaya denganmu. Kamu jangan berdrama!”
“Hai,” ucap Flo seraya menjentikkan jarinya tepat di wajah Kafa. “Kamu pikir untuk apa aku berdrama? Aku tidak punya kepentingan denganmu. Lagi pula siapa yang mau berpose denganmu.”
Kafa yang mendengar nada sindiran pun tidak terima. “Apa kamu bilang? Semua wanita ingin berpose denganku. Karena aku supermodel.” Kafa yang tidak terima, membanggakan dirinya.
“Supermodel? Mana ada supermodel kurus kering sepertimu.” Flo membelalak. Tak ada ketakutan sama sekali di matanya.
“Apa kamu bilang? Aku kurus kering?” Kafa melepas satu persatu kancing kemejanya. Dia tidak terima ketika ada orang mencelanya. Memperlihatkan perut six pack-nya, Kafa ingin menyanggah ucapan Flo.
Rasanya, Flo ingin menjerit ketika melihat begitu memesonanya perut kotak-kotak bak roti sobek milik Kafa, tetapi kali ini, dia tidak punya waktu untuk hal itu. “Perut seperti ini saja bangga,” cibirnya.
“Apa kamu bilang?” Kafa yang sudah kehilangan kesabarannya, menarik tangan Flo. Membuat gadis cantik itu jatuh ke pelukannya. Flo yang terkejut pun hanya pasrah ketika tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Kafa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like dan komentar ...