
Hari ini cukup sangat melelahkan sekali bagi Dearra. Dia tidak menyangka jika akan melelahkan juga bekerja. Namun, Dearra begitu menikmati semuanya. Dia yakin sekali jika akan sangat nyaman bekerja di sana. Setelah semua pekerjaanya selesai. Dearra memilih untuk segera pulang.
Dia keluar dari Rumah sakit. Melewati pintu belakang Rumah sakit. Untuk keluar dari Rumah sakit, Dearrar harus melewati tempat parkir mobil terlebih dahulu. Barulah dia bisa sampai di depan Rumah sakit dan menuju ke halte Rumah sakit tersebut.
Saat berjalan di tempat parkir, dia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk menelpon. Tampak wanita tersebut memakai earphone di telinganya.
Tepat saat itu jarak jauh Dearra melihat jelas ada sebuah mobil yang hendak melintas. Terlihat jelas jika wanita paruh baya itu berjalan di tengah-tengah. Posisi yang sedang memakai earphone tentu saja membuatnya tidak mendengar ada mobil di belakangnya.
“Nyonya, awas ada mobil.” Dearra mencoba memanggil wanita tersebut. Namun, sayangnya wanita itu tidak mendengar sama sekali.
Melihat hal itu pun, Dearra segera berlari menghampiri wanita tersebut. “Awas.” Dearra menarik tubuh wanita itu minggir. Tubuh Dearra yang tidak siap pun membuatnya terjatuh ke samping bersama tubuh wanita tersebut.
“Achh ….” Dearra dan wanita itu sama-sama berteriak.
Tubuh Dearra yang terjatuh membuat tangannya menjadi tumpuan. Jalanan yang terdapat beberapa kerikil itu tentu saja membuat tangan Dearra terluka. Rasa perih yang dirasakan Dearrar membuatnya sedikit mengaduh.
“Nyonya tidak apa-apa?” Deara segera beralih pada wanita yang baru saja dia selamatkan.
Wanita itu benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya yang berdebar kencang membuatnya terdiam sejenak. Hingga akhirnya suara Dearra terdengar memecah keheningan yang berlangsung. Dia melihat tubuh Dearra yang tertimpa dengan tubuhnya begitu merasa keberatan. Belum lagi tampak tangan Dearra terbentur dengan jalanan di tempat parkir.
“Aku yang harusnya bertanya. Apa kamu tidak apa-apa?” Lyra tidak menyangka jika dia yang sedang sibuk menghubungi anaknya membuatnya tidak mendengar ada mobil di belakangnya. Hingga akhirnya seorang wanita muda yang berada di bawahnya itu menolongnya. Lyra adalah mama dari Dean. Seorang dokter kandungan sekaligus istri dari pemilik Rumah sakit Maxton.
Lyra segera bangun dari tubuh Dearra. Pastinya tubuh Dearra merasa berat sekali ketika tubuhnya jatuh tepat di atas tubuhnya.
“Saya, tidak apa-apa, Nyonya.” Dearra tersenyum. Dia memang merasa perih. Namun, bukan permasalahan besar.
Lyra melihat tangan Dearrar yang berdarah. Dia yakin sekali jika gesekan jalanan membuat permukaan kulit gadis di depannya tergores.
“Tanganmu terluka. Ayo, aku akan mengobatinya.” Lyra berangsur bangun. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Dearra.
Dearra menerima uluran tangan dari Lyra. Berangsur bangun dari posisi yang merebah di jalanan. Dia berusaha membersihkan tubuhnya yang terkena debu. Dia menggunakan tangan kanannya, karena tangan kirinya terasa begitu sakit.
“Saya tidak apa-apa, Nyonya. Jadi tidak masalah.” Dearra tersenyum.
Lyra memerhatikan gadis di depannya. Pakaian gadis itu sama persis dengan perawat di Rumah sakit, tetapi tampaknya dia tidak tahu siapa dirinya. Lyra hanya tersenyum melihat akan hal itu. Tentu saja hal itu menggelitik sekali ketika istri pemilik Rumah sakit tidak dikenal.
“Apa kamu anak magang di sini?” Lyra mencoba menebak akan hal itu.
Dearra yang sedang mengecek lukanya mengalihkan pandangan pada wanita paruh baya di depannya. “Bagaimana Anda tahu?” tanyanya cukup terkejut.
“Aku dokter di sini. Saat kamu tidak mengenali aku, tentu saja kau tahu.” Lyra tersenyum. Melihat gadis di depannya tidak mengenalinya.
Dearra merasa tidak enak sekali. Bagaimana bisa dia tidak tahu jika yang ditolongnya dokter Rumah sakit tempatnya bekerja. “Maafkan saya, Dok, saya tidak tahu.” Dearrar menundukkan sedikit kepalanya. Memberikan rasa hormatnya.
“Sudah lupakan saja itu. Sekarang bagaimana lukamu?” Lyra memilih mengabaikan akan hal tersebut. Kemudian melihat luka yang dialami oleh Deara.
“Saya tidak apa. Hanya luka kecil saja.” Dearra menunjukan tangannya yang tergores.
Lyra melihat jelas ada luka di lengan Dearra. Hal itu tentu saja tidak akan dia biarkan. Apalagi Dearra baru saja membantunya. “Ini terluka. Jika dibiarkan akan menimbulkan iritasi.” Lyra segera menarik tangan kanan Dearra. “Ayo aku akan mengobatimu di mobil.” Dia mengajak Dearra untuk ke mobil karena di sana ada obat-obat untuk pertolongan pertama.
Dearra yang ditarik begitu saja oleh Lyra hanya pasrah. Tidak berani menolak sama sekali.
Mereka berdua masuk ke mobil. Lyra segera mengeluarkan obat-obatan untuk mengobati luka Dea. Hal pertama yang dilakukannya adalah membersihkan luka di lengan Dearra.
“Maaf aku membuatmu sampai seperti ini.” Lyra merasa tidak enak sekali.
“Tidak apa-apa, Dok.” Dearra hanya meringis kesakitan ketika Lyra membersihkan luka di lengannya.
“Kamu berani juga menarik aku begitu saja. Padahal kamu bisa dalam bahaya juga.” Lyra terus membersihkan luka di lengan Dearrar. Debu yang menempel harus segera dihilangkan karena akan membuat iritasi nanti.
“Tadi saya sudah mencoba memanggil, tetapi Dokter tidak mendengar.” Takut-takut Dearra mengungkapkan apa yang tadi terjadi.
“Tidak, apa-apa, Dok. Lagi pula saya sedang melintas saja. Jadi wajar jika saya membantu.” Dearra tersenyum melihat Lyra. Dilihat wanita paruh baya di depannya itu terlihat begitu sangat cantik walaupun mungkin usianya sudah hampir setengah abad.
“Padahal kamu tidak mengenalku, tetapi kamu mau membantuku.” Lyra tidak menyangka jika masih ada orang baik di dunia ini.
“Ada yang pernah bilang pada saya, jangan memilih-milih ketika ingin menolong seseorang. Jika kamu bisa menolong lakukan dengan segera”.
Dearra mengingat apa yang pernah dikatakan Dean padanya. Hal yang sama juga ditanyakannya pada pria itu kenapa mau membantunya mendapatkan bea siswa. Senyumnya terbit ketika mengingat akan hal itu.
Lyra tersenyum. “Pasti orang itu spesial sekali.” Dia mencoba menebak.
“Dia spesial sekali.” Dea tersenyum. Baginya Dean memang istimewa.
Lyra melanjutkan kembali mengobati luka Dea. Tak lupa dia memberikan plaster agar lukanya tertutupi. “Sudah selesai.” Dia menyelesaikan kegiatannya mengobati Dea.
“Terima kasih, Dok.” Dea tersenyum.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Karena kamu sudah membantuku.” Lyra tersenyum.
“Kalau begitu saya pulang dulu. Permisi.” Dea segera berbalik. Kemudian keluar dari mobil Lyra. Sebelum benar-benar keluar, dia menundukkan sedikit kepalanya. Segera dia menutup pintu dan pergi dari tempat parkir.
Lyra tersenyum. Dari dalam mobil dia melihat Dea yang perlahan hilang dari pandangannya. Gadis yang dilihatnya begitu cantik. Jadi wajar saja membuatnya terpukau.
“Ma ….” Dean yang sedari tadi memanggil sang mama tidak mendapati jawaban sama sekali. Namun, dia mendengar jelas pembicaraan yang terjadi antara mamanya dengan seseorang di sana.
“Iya.” Lyra langsung menjawab apa yang dikatakan oleh sang putra.
“Mama baik-baik saja?” Dean begitu khawatir tadi. Apalagi mendengar teriakan dari sana.
“Mama baik-baik saja. Hanya gadis itu saja yang terluka.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku menjadi tenang kalau begitu.” Dean bernapas lega ketika mendengar mamanya baik-baik saja.
“Jadi kamu sekarang sudah di Bandara?” Lyra kembali pada obrolan dengan anaknya itu.
“Sudah, Ma. Besok aku sudah sampai.”
“Baiklah, besok Mama akan menjemput anak Mama tercinta.” Lyra tersenyum. Dia sudah tidak sabar untuk menjemput anaknya.
“Ma, aku sudah tiga puluh tahun. Aku juga belum lupa di mana rumahku. Aku mohon jangan perlakukan aku seperti anak kecil.” Dean benar-benar kesal sekali.
“Bagi Mama, kamu tetap anak kecil.”
Dean terdengar mengembuskan napasnya. “Terserah Mama saja.” Dean malas berdebat dengan sang mama. “Baiklah, aku matikan dulu teleponnya. Sampai jumpa besok.”
“Sampai jumpa, Sayang.” Lyra menunggu sang suami di mobilnya. Tadi dia berjanji akan menunggu di mobil. Karena itu dia memilih menghubungi anaknya. Namun, tidak menyangka justru dia akan mendapatkan musibah.
Sesaat kemudian sang suami datang. Dia segera masuk ke mobil untuk segera pulang. Erix Maxton-pemilik Maxton Hospital itu menemui sang istri. Dia berencana untuk segera pulang.
“Apa kamu lama menunggu?” tanyanya saat masuk ke mobil.
“Tidak, belum lama.” Lyra tersenyum. Di usia yang menginjak lima puluh tahun, keduanya memang masih tampak energik. Mereka begitu bersemangat dalam segala hal.
“Kamu sakit?” Erix melihat kotak P3K di dalam mobil.
“Tidak, aku hanya mengecek saja.” Lyra meletakkan kembali pada tempatnya. Tak mau sampai sang suami curiga. Lagi pula dia tidak apa-apa.
“Baiklah, ayo kita pulang.” Erix tersenyum. Papa dari Dean itu segera melajukan mobilnya. Meninggalkan Rumah sakit agar segera sampai di rumah.