
Aku harus bagaimana?
Flo terus berpikir bagaimana dia bisa menikah dengan Kafa, padahal yang diharapkannya hanya bisa masuk ke Kafa Management.
Bukankah jika aku istrinya akan jauh lebih mudah untuk masuk ke Kafa Management?
Flo menimbang-nimbang keuntungan untuk dirinya. Jika menjadi istri seorang Kafa dapat membuatnya dengan mudah masuk ke Kafa Management kenapa tidak?
“Aku tidak mau!” jawab Flo tegas. Alih-alih menjawab iya seperti yang ada di pikirannya, dia justru menjawab tidak mau.
Kafa dan Gala terkejut dengan apa yang dikatakan Flo. Mereka saling pandang. Tak menyangka jika itu yang diucapkan oleh Flo. Sebagai pria tampan, Kafa merasa harga dirinya turun ketika ditolak oleh gadis yang sebenarnya dia juga tidak inginkan. Namun, kali ini nama baiknya dipertaruhkan. Jadi mau tidak mau, dia harus membujuk gadis di depannya itu.
“Dengar Flu … Fla … siapa tadi namamu?” Seketika Kafa lupa nama gadis di depannya.
“Flo,” jawab cepat Flo.
“Iya, Flo.” Kali ini Kafa bersikap hati-hati saat bicara dengan Flo. Seperti singa yang mengincar buruannya. Tak mau salah langkah karena dapat membuat buruannya kabur.
“Dengar! Kita akan menikah untuk kebaikan kita. Wajahmu dan wajahku terpampang di foto itu. Jadi, akan berdampak buruk untuk karir kita. Lagi pula tadi aku sudah katakan pada wartawan jika kamu tunanganku. Jika sampai tidak ada pernikahan, mereka akan terus mengejarmu.”
“Aku bukan siapa-siapa, jadi jika dikatakan berdampak buruk untuk karir kita, sepertinya kamu salah. Karena yang banyak dirugikan adalah kamu.” Flo tahu betul agensinya justru akan memanfaatkan momen ini. Jadi karirnya tidak akan buruk seperti yang dikatakan oleh Kafa. Mungkin justru akan melesat.
Kafa membenarkan ucapan Flo. Karirnya yang akan buruk, mengingat seminggu lagi akan ada pengumuman jika dia adalah CEO Kafa Management. Dan jika ada scandal seperti ini, pastinya mereka akan meragukannya. “Iya, karena aku yang banyak dirugikan jadi menikahlah denganku. Aku akan turuti apa saja mau kamu?” Kafa tidak punya pilihan.
Kafa tidak menyangka jika dia harus terjebak dengan gadis di depannya. Demi uang dia mau melakukan apa pun. Kafa sudah sering melihat wanita seperti itu dan rasanya dia muak sekali. “Baiklah, katakan jumlahnya, aku akan suruh Gala mengurusnya.”
“Jumlah apa?” tanya Flo bingung.
“Kamu mau uang, bukan? Jadi tinggal sebutkan saja nominalnya.” Kafa menyandarkan di punggung sofa. Menatap Flo dengan tatapan merendahkan.
“Uang?” gumam Flo. Sejenak dia mencerna ucapan Kafa, hingga akhirnya dia baru menyadari jika Kafa mengira jika dirinya mengincar uang. “Aku tidak mau uang,” elaknya.
Dahi Kafa berkerut dalam. Merasa aneh ketika gadis di depannya tidak menginginkan uang seperti apa yang dipikirkannya. “Lalu kamu mau apa?” tanyanya penasaran.
“Aku mau jadi model di Kafa Management?”
Kali ini dua bola mata Kafa membulat sempurna. Tidak menyangka hal itu yang diinginkan Flo. Dia memerhatikan Flo dari atas ke bawah. Walaupun Kafa akui Flo punya kecantikan yang berbeda, untuk menjadi model Flo tidak bisa, karena tinggi badannya tidak sesuai standar model di Kafa Management.
“Aku bisa atur jika kamu mau,” bisik Gala pada Kafa.
Mendengar ucapan Gala, sudah tidak ada alasan untuk Kafa menolak permintaan Flo.
“Baiklah, aku akan membuatmu menjadi model di sini,” jawabnya. Demi nama baiknya, Kafa rela melakukan apa saja termasuk membuat Flo jadi model di kantornya.
Binar kebahagiaan begitu terpancar dari wajah Flo. Merasa senang karena akhirnya, dia bisa bekerja di Kafa Management. Paling tidak, itu adalah awal untuknya meraih kesuksesan.