My Supermodel Husband

My Supermodel Husband
Retta & Rylan Bab 3



Taksi berhenti tepat di depan lobi. Seorang pria keluar dari dalam mobil. Pria dengan pakaian casual itu tampak berdiri tegak ketika keluar mobil. Melihat sekitar, dia melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Sejenak dia menunggu sopir yang sedang mengambil tas miliknya. 


Retta yang melihat pria itu langsung mengembuskan napas lega. Akhirnya pria yang ditunggu datang juga.  Gerald-calon suaminya akhirnya datang juga. Dengan cepat Retta menghampiri pria itu. Rasanya jantungnya benar-benar mau copot mendapati sang calon suaminya yang tak kunjung datang. Namun, perasaan itu sirna ketika melihat dari kejauhan calon suaminya. 


Gerald masuk ke hotel. Menarik koper yang diberikan oleh sopir taksi. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Retta-calon istrinya. 


Retta yang melihat itu langsung menghampiri Gerald. Satu pelukan diberikan padanya. “Aku pikir kamu tidak akan datang.” Perasaan lega benar-benar melingkupi hati Retta. Dia tidak bisa bayangkan jika calon suaminya itu tidak datang. 


Gerald tersenyum. Kemudian membelai lembut rambut Retta. “Menikah denganmu adalah impianku, bagaimana bisa aku tidak datang.” 


Retta merasa senang sekali mendengar ucapan Gerald, mengeratkan pelukannya. Dia lega sekali akhirnya calon suaminya datang. Hal itu membuatnya menyingkirkan pikiran tentang pernikahan yang gagal.


Gerald terus membelai rambut Retta. Merasa senang Retta begitu mencintainya. Dia merasa tidak salah memilih calon istri.


Rylan yang keluar dari lift, mendapati pemandangan yang begitu menyesakkan. Melihat wanita yang dicintainya dipeluk orang lain rasanya darahnya mendidih saat itu juga. Namun, dia hanya bisa pasrah karena memang Retta tidak menyukainya. Baginya, dirinya hanya anak kecil, padahal usianya hanya beda dua tahun di bawah Retta. Harusnya bukan jarak yang banyak untuk menentukan kesiapan seseorang untuk menikah. 


“Uncle.” Lora menarik Rylan yang berdiri diam saja. Bocah kecil yang kini sudah berusia dua tahun itu tampak gemas ketika pamannya tidak bergerak untuk segera ke kolam renang. Lora ingin menyusul sepupu-sepupunya yang sudah lebih dulu di sana. 


“Iya,” jawab Rylan. 


“Ayo ke kolam lenang.” 


Rylan mengingat niatnya yang ingin mengantarkan keponakannya justru terhenti karena harus melihat pemandangan yang menyesakkan itu. Sungguh membuat mood Rylan hancur seketika. 


“Ayo.” Rylan mengayunkan langkahnya. Mencoba mengabaikan apa yang dilihatnya. Namun, baru saja langkahnya diayunkan suara menggelegar terdengar. Rylan kembali mencoba menoleh ke sumber suara, dan itu berasal dari tempat di mana Retta dan calon suaminya. 


“Tega, kamu melakukan ini!” Seorang wanita cantik menghampiri Gerald. Menarik tubuh pria itu supaya melepaskan dari tubuh Retta. Dia kemudian memukuli Gerald untuk melepaskan kemarahannya.


Retta yang sedang memeluk erat Gerald-terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba wanita itu melepaskan pelukannya dan memukuli calon suaminya. 


“Aku sudah curiga sejak lama jika kamu menjalin hubungan dengan wanita lain. Sengaja aku mengikutimu sampai ke sini dan ternyata dugaanku benar.” Wanita itu meraung melihat Gerald. Terus memukuli Gerald. 


“Aku bisa jelaskan.” Gerald mencoba menghentikan apa yang dilakukan oleh wanita itu. 


Retta yang melihat pemandangan itu merasa bingung. Namun, dari apa yang dilihatnya, jelas sekali jika calon suaminya mengenal wanita itu. Pikirannya melayang menebak siapa wanita yang datang marah-marah dan memukul calon suaminya itu. 


“Jelaskan apa? Jelaskan jika selama ini kamu berselingkuh.” Wanita itu kini menangis. Air matanya mengalir di pipinya, tetapi tangannya tak berhenti memukul Gerald.


Selingkuh? Apa yang dia maksud adalah hubunganku dengan Gerald? Pertanyaan itu berputar di kepala Retta. Dia bingung dengan keadaan yang sedang terjadi. 


“Hentikan!” pinta Retta ketika melihat calon suaminya dipukuli. 


Ketika mendengar suara Retta, wanita itu seketika menghentikan aksinya. Kemudian menatap lekat wajah Retta. 


“Siapa dia Gerald?” Retta yang melihat Gerald sudah lepas dari cengkeraman wanita di depannya itu langsung melayangkan pertanyaan. Dia begitu penasaran kenapa tiba-tiba wanita itu menuduhnya selingkuh dan begitu barbar memukul Gerald. 


“Kamu mau tahu siapa aku?” Wanita itu menatap ke arah Retta. Pandangannya diliputi kobaran kebencian pada Retta. 


“Sudah-sudah, ayo sebaiknya kita pergi.” Gerald menarik tangan wanita itu agar tidak menjelaskan apa-apa pada Retta. Dia mendorong tubuh wanita itu untuk keluar dari lobi hotel. 


“Aku mau menjelaskan hubungan kita Gerald. Agar wanita murahan ini tahu.” Wanita itu meronta ketika Gerald terus mendorong tubuhnya. Tak mau pergi dari hotel milik keluarga Retta itu. 


Retta membulatkan matanya. Dia tidak menyangka di hotel miliknya ada yang berani-beraninya mengatakan akan hal itu. Murahan? Darah Retta seketika mendidih mendengar wanita yang tidak dikenalkanya itu mengatakan akan hal itu. “Siapa yang Anda maksud wanita murahan? Saya?” tanya Retta. Suara Retta kali ini begitu kencang hingga membuat semua yang melintas di lobi semakin penasaran dengan apa yang terjadi. 


“Jangan coba-coba Anda mengatakan hal itu!” Retta benar-benar muak dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang datang tiba-tiba itu. 


“Lalu sebutan apa yang pas untuk kamu.” Wanita itu langsung melepaskan diri dari Gerald. Dia langsung meraih rambut Retta dan menjambak Retta dengan sekuat tenaga. 


Rylan yang melihat hal itu langsung panik dan berlari. Meninggalkan keponakannya begitu saja. Untung saja tepat di belakang Rylan ada Shera yang masuk ke hotel setelah diberitahu pegawainya bahwa adiknya sedang ribut di lobi hotel. Dia langsung meraih tubuh Lora. Membawanya untuk pergi. Tak mau sampai keponakannya itu melihat hal mengerikan yang sedang terjadi. 


Rylan yang menghampiri Retta langsung berusaha melepaskan cengkeraman wanita yang menjambak Retta. Wanita itu cukup kuat menjambak Retta, hingga susah sekali dilepaskan. 


“Ach ….” Retta berteriak kesakitan. Tak tinggal diam, Retta pun membalas. Dia gantian menjambak rambut wanita yang sudah dengan tidak sopannya itu menjambak. Dia tidak terima diperlakukan seenaknya seperti itu. “Kamu yang wanita murahan!” Retta melayangkan makiannya.


“Retta sudah.” Rylan melihat jelas Retta begitu beringas. Dia benar-benar baru tahu bagaimana beringasnya Retta yang membalas wanita di depannya.


“Aku akan membalas wanita kurang ajar ini yang berani-beraninya mengatakan aku wanita murahan.” Retta tak mau melepaskan sama sekali apa yang dilakukannya. 


“Tolong lepaskan!” Rylan meminta wanita itu melepaskannya. Dia menatap Gerald yang hanya diam saja melihat kejadian di depannya. Tak mau berusaha melepaskannya. “Pinta dia melepaskannya!” perintah Rylan. Tangannya terus berusaha memegang tangan wanita itu untuk melepaskannya. 


Gerald juga berusaha melepaskan cengkeraman di rambut Retta. Berusaha menjauhkan tubuh wanita itu dari Retta. 


“Lepaskan aku Gerald. Aku akan memberikan pelajaran pada wanita murahan ini.” Wanita itu terus menjambak Retta. 


“Apa kamu bilang? Wanita murahan!” Retta tak terima. Dia terus membalas. Menjambak lebih kuat.  


“Iya, wanita murahan. Panggilan itu memang pantas disematkan padamu. Wanita perebut suami orang!” Wanita itu terus berusaha menarik rambut Retta.